Setelah adu hidung, Fauzan langsung menarik-narik hidungnya. “Biar bangir,” katanya.
***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 16 April 2013
19:06
Pagi ini saya cukup dikagetkan dengan hadirnya sebentuk kertas uwel-uwel di dalam lemari pakaian saya. Sebuah kertas bekas yang sudah lecek karena si pemberi berusaha melipatnya dengan baik, tapi tak sempurna. Sebut saja kertas itu dengan sebutan “surat”.
Saat surat itu saya buka, mata saya langsung tertuju pada sebentuk gambar yang letaknya hampir di tengah kertas. Sebuah gambar telapak tangan yang di dalamnya terdapat gambar wajah, dan saya yakin gambar itu adalah gambar wajah saya.
Haru menyeruak seketika saat saya menyelami satu per satu huruf yang tertulis. Huruf-huruf yang mulai rapi meskipun masih tanpa spasi, huruf-huruf yang ditulis dengan pelibatan jiwa, huruf-huruf yang kita semua tahu maknanya. Dan ini adalah surat yang saya temukan di lemari pakaian tadi pagi. (foto menyusul karena tak terbawa pagi ini)
Sebenarnya, surat yang saya temukan pagi ini bukan satu-satunya surat yang dibuatnya semalam. Ada satu surat lagi yang ditulisnya sesaat setelah
Dan ini lah surat yang ditulisnya malam kemarin.
Surat pertama dan kedua, gambarnya sama, hanya beda tulisan.
***
Dear Fauzan,
Terima kasih untuk kedua surat diatas. Ummi mencintaimu sepenuh hati, Nak. Maafkan Ummi jika Ummi belum maksimal mendampingimu setiap hari. Tapi Ummi janji, ini tak akan lama. Semoga kau bersabar dalam keadaan ini.
Loving you, Son.
Ummi
***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 06 Februari 2013
10:12
Romantic February.
24 Desember 2012
Pukul 9 lewat 10 menit, motor Supra Fit keluaran tahun 2006 keluar dari pagar sebuah rumah di Jl. Kerinci Raya blok F4/EXX, Malang. Pengendaranya adalah saya dan anak saya Fauzan. Dengan berbekal google maps kami berencana menuju kota wisata Batu. Liburan kali ini, kami isi dengan menikmati berbagai wahana di Jatim Park 1.
Keluar kompleks Perumnas itu, kami menuju Jl. Raya Sulfat, Jl. Sunandar PS, Jl. Ciliwung, Jl. S. Parman, lalu ke Jl. Borobudur, dan berbelok di Jl. Soekarno Hatta. Di ujung jalan itu, ada kampus UB, sebuah PTN di Kota Malang. Dari kampus itu, I think everything is gonna be okay karena kampus tadi jadi patokan saya untuk menuju Terminal Landungsari.
Sepanjang jalan cukup ramai, liburan akhir semester ditambah libur akhir tahun, membuat perjalanan Malang – Batu merayap. Saya sendiri tak terpengaruh dengan situasi macet itu. Saya menikmati perjalanan karena baru kali ini saya ke Batu ‘sendiri’.
Kira-kira satu jam kemudian kami tiba di lokasi Jatim Park 1. Mencari arena parkir motor yang ternyata letaknya lebih dekat dengan loket masuk. Tak lama kemudian kami mengantri untuk membeli tiket masuk.
Ada pilihan paket dengan berbagai macam harga disana. Ah, saya tak mau gambling dengan paket Jatim Park 1, Jatim Park 2, dan Eco Green Park nya. Saya fokus ke satu tujuan saja dulu : Jatim Park 1. Kalau begini kan kami tak perlu terburu-buru dalam bersenang-senang. Rp. 130.000 untuk 2 orang. 2 lembar gelang kertas sudah di tangan dan saatnya masuk ke tempat wisata.
By the way, 2 tahun lalu, kami pernah kesana. Tapi saat itu kami hanya mencoba beberapa wahana saja. Penyebabnya adalah karena Fauzan ingin mencoba berenang di lokasi Jatim Park 1 itu. Selesai berenang pun hujan mulai turun. Sehingga kami tidak puas menjelajahi satu per satu permainan yang mengasyikkan yang ada di JP1.
Singkat cerita, having fun di Jatim Park 1 kali ini sangat menyenangkan. Sayangnya, karena kami cuma berdua saja, saya tak sempat mencicipi wahana yang lebih memacu adrenalin seperti tornado, jet coaster, dan pendulum. Fauzan belum boleh naik, sedangkan saya tak mungkin meninggalkannya sendirian menunggu saya.
Oia, yang paling mengesankan Fauzan adalah saat dia bermain sendiri di arena permainan anak-anak yang kami temui pertama kali, saya lupa namanya. Dia berteriak, “Ummiiiii… Takuuuuuuuut…! Tapi seru, Ummiiiiii…” Dan kalimat itu diucapkannya berulang sampai permainan itu selesai. Orang-orang yang menunggui anaknya sampai ngakak melihat tingkah polah dan ekspresi Fauzan kala itu.
Sebuah wahana aquarium juga menorehkan kesan tersendiri baginya. Menurut saya dan dia, konsepnya lucu, Toilet Aquarium. Sampai sekarang dia akan terbahak ketika mengingat itu.
Ini beberapa oleh-oleh dari perjalanan saat itu.
24 Januari 2013
Lembaga tempat saya mengabdikan diri sebagai guru, mengadakan sebuah acara Family Gathering. Acara diadakan di Jatim Park 2 alias Batu Secret Zoo. Sebuah tempat wisata yang juga ingin kami kunjungi sebulan sebelumnya. Dan itu artinya, dalam sebulan terakhir, saya dan Fauzan 2 kali ke Kota Batu untuk bersenang-senang. Hal yang belum pernah kami lakukan sebelumnya.
Saat acara itu disosialisasikan kepada para guru dan karyawan, batin saya bersorak, Batu… We are coming again…! Hehe… Lagi-lagi lebay.com. Ah, abaikan, yang penting saya gembira.
Pukul 07.05 (jam di tangan saya) bis mulai berangkat dari pelataran Ruko Green Park Regency Sidoarjo. Berjalan beriringan sebanyak 3 bis. Semua guru mulai dari jenjang TK, SD, dan SMP, juga seluruh karyawan beserta keluarganya berangkat bersama-sama. Di dalam bis, setelah berdo’a pemimpin rombongan memimpin dzikir Al-ma’tsurat pagi. Itulah mengapa saya sangat mencintai keluarga besar ini.
Pukul 10 lebih, kami tiba di Jatim Park 2.
Dan baru pukul 11 lewat 3 menit, gelang kertas sudah terlingkar di tangan kanan sebagai pertanda kami boleh memasuki arena Jatim Park 2 itu.
Hujan lagi-lagi mengguyur Kota Batu baru beberapa menit ketika kami ‘berhasil masuk’ ke arena. Untung saya membawa jas hujan untuk ‘mengamankan perjalanan’. Maka, hujan sederas apapun tak menghalangi aktivitas kami menikmati pemandangan hewan-hewan yang ada disana. Fauzan sendiri mulai tertarik dengan hewan-hewan itu karena dia sudah mulai bisa membaca. Acap kali dia melafalkan dengan keras saat dia membaca nama hewan dan asal negaranya. Suaranya yang cukup lantang itu, membuat orang-orang yang berseliweran melirik padanya. Tapi dia cuek saja dengan lirikan-lirikan itu. Dia tetap membaca dan membaca.
Selepas menikmati berbagai jenis binatang, kami bermain di wahana-wahana yang ada. Lagi-lagi seperti sebulan sebelumnya, saya harus mengalah kepadanya. Saya tak bisa menikmati animal coaster dan tsunami yang tampak begitu memacu adrenalin itu. Hihihi… Dasar emak-emak yang masa kecilnya kurang bahagia.
Bagi Fauzan, ke Jatim Park 2 ini kurang memuaskannya. Karena saat berada di sana, hujan mengguyur cukup deras sehingga banyak wahana yang tidak bisa beroperasi. Dan lagi, karena kami berangkat dengan rombongan, maka waktu yang sempit menjadi kendala tersendiri. Tak semua wahana kami coba, tak seperti di Jatim Park 1 hampir semua wahana yang sesuai dengan usianya, bisa dia nikmati.
Kami keluar pukul 14.30. Makan siang diluar, lalu ke tempat parkir bis. Dan saya sempat mengabadikan momen ‘romantis’ ini sebelum bis meninggalkan Batu Secret Zoo.
Oia, saya punya tips perjalanan niy, bagi sesiapa yang mencoba berpetualang berdua dengan anak berusia 5 – 6 tahun.
1. Jika musim hujan seperti sekarang, sebaiknya siapkan jas hujan untuk masing-masing kepala.
2. Bawa day pack alias ransel bukan tas biasa yang dicangklong 1 sisi di pundak.
3. Bawa air putih yang cukup. Agar tidak ‘diambil’ petugas, bawa air putih itu dalam botol minum, bukan botol air minum dalam kemasan ya…
4. Jika musim panas, tak ada salahnya membawa topi dan sun glasses, kacemuke juga boleh. Sungguh, itu akan menyamankan anda.
5. Kalau ke Batu, membawa jaket, kaos kaki, dan kaos tangan untuk anak, sangat disarankan. Tapi yaaaa… tergantung kebiasaan si anak, siy. Kalau betah dingin, peralatan diatas gak penting.
6. Bawa baju ganti untuk anak sebagai bentuk siap siaga. Siapa tahu pakaian anak basah, sehingga harus ganti kalau tak ingin dia malah jatuh sakit.
7. Karena saya memakai kaos kaki, maka saya menyediakan 2 sampai 3 pasang kaos kaki ganti di dalam tas saya. Kaos kaki yang basah membuat kita masuk angin dan ini akan membuat saya tak bisa menikmati perjalanan.
Nah, mungkin itu sedikit yang bisa saya bagi hari ini. Semoga bermanfaat. Happy weekend, guys…
***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 27 Januari 2013
08:37
Ditulis di tablet Samsung Tab 2 sambil ‘membunuh’ waktu.
Sebenarnya, ada tulisan lain yang lebih menarik yang ingin saya posting siang ini, Bray n Sist. Tapi saya pending sejenak untuk mengumpulkan sedikit data. Hehe…
Kali ini ada yang sedikit ingin saya ‘buka’ dalam tulisan ini. Sepulang sekolah tadi, saya bertemu dengan wali kelas Fauzan. Beliau mengatakan bahwa Fauzan kemarin bercerita kepada teman-teman dan gurunya di depan kelas. Yang dia sampaikan saat itu adalah, bahwa saya dan Abinya sudah berpisah. “Abiku dan Ummiku sudah berpisah, lho. Abiku disana, dan Ummiku disini,” katanya.
Salah seorang guru bertanya kepadanya, “Terus, Mas Fauzan bagaimana? Gak sedih?”
“Ya sedih, sih. Tapi… Aku gak papa. Karena aku bisa kapan saja ketemu Abiku. Kadang, aku ikut Abiku di rumahnya. Terus, aku dijemput Ummiku. Kadang aku dijemput Abiku di mall. Trus, besoknya lagi, aku dijemput ummiku di mall juga,” kata dia sambil penuh ekspresi seperti biasanya.
“Besok, aku pengen ketemu Abiku. Aku mau dijemput di sekolah. Aku mau di rumah Abi sampe hari Minggu. Nanti Ummi yang jemput aku disana,” lanjutnya. Lagi-lagi dia bercerita dengan enjoy tanpa beban.
Semua temannya mungkin tak mengerti maksud cerita Fauzan. Tapi tentu saja kedua orang dewasa yang ada di kelas itu mengetahui dan memahami maksud dari cerita anak saya.
Sebelumnya, saya memang bercerita kepada Wali Kelasnya, bahwa pernikahan saya dan Abu Fauzan telah berakhir. Saya harus mengatakan ini kepada beliau, sebab menurut saya, guru juga terlibat dalam perkembangan anak. Maka saya harus menyampaikan kondisi tidak menyenangkan ini kepada gurunya dengan tujuan untuk bersama-sama menguatkan Fauzan. Artinya, guru dan kami orangtuanya, bersinergi untuk sama-sama menguatkan anak. Walau orang tuanya berpisah, Fauzan tetap bisa merasakan kedekatan, keberadaan, dan kehadiran kedua orangtuanya meskipun tidak setiap hari.
Perpisahan, memang telah terjadi dalam rumah tangga kami. Mengapa sampai terjadi, saya tak akan pernah membahasnya. Meskipun demikian, kami bersepakat bahwa keadaan ini tak membuat kami saling membenci bahkan putus komunikasi sama sekali. Utamanya jika berhubungan dengan Fauzan. Saya dan Abu Fauzan selalu bertukar informasi demi kebaikan Fauzan. Telepon, SMS, whatsapp, menjadi sarana untuk bertukar informasi setiap saat terkait anak kami.
Kami sepenuhnya sadar, bahwa bagaimanapun ada anak yang akan menjadi korban atas keadaan ini. Tapi, kami tak ingin anak kami menjadi seseorang yang tak kami inginkan di masa depannya. Semoga dengan ikhtiar ini, Fauzan tetap akan menjadi seorang yang punya kepribadian tangguh walau dibesarkan dari keluarga yang harus berpisah di tengah jalan.
By the way, siang ini sepulang sekolah (sesaat setelah saya bertemu Wali Kelasnya) dengan begitu romantisnya Fauzan memberi saya bunga. Bunga itu, sebelumnya dia sembunyikan dibalik punggungnya sebelum diberikan kepada saya. Setelah bunga ini di tangan saya, dia menciumi muka saya sampai ‘habis’ sambil mengatakan, “Aku sayang Ummi”. So sweet ya?
***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 18 Januari 2013
14:38
Sayang jika saya melewatkan menulis ini.
Ceritanya, semalam saya dan Fauzan sedang jalan-jalan ke “tempat rahasia” kita berdua. Sebelum pulang, kami menikmati makan malam di sebuah rumah makan dengan tagline “Rasa Bintang 5, Harga Kaki 5”. Disitu, saya minta dia untuk mengamati seorang pelayan yang bertugas membersihkan meja.
Saya berkata padanya, “Lihat itu, Nak! Si Mas itu bisa cepat sekali membersihkan meja yang kotor.”
“Ooo… Itu namanya dia sudah terampil, Mi. Dia terampil membersihkan meja. Kalau dia gak terampil, dia gak akan bisa secepat itu.”
Sedikit kaget dengan apa yang dia sampaikan, iseng-iseng saya bertanya, “Terampil itu bagaimana, sih Nak?”
“Terampil itu adalah sering melakukan pekerjaan. Sehingga dia bisa cepat melakukan pekerjaan itu,” begitu penjelasannya.
Terus terang saya saat itu lama mencerna apa yang dia sampaikan kepada saya, loading data di kepala saya sedikit lambat. Ada yang berkecemuk di otak saya. Pertama, karena saya berusaha ‘mencari’sumber asal kata terampil yang dia ungkapkan tadi. Kira-kira dari mana dia mendapatkan kata-kata itu. Kedua, karena saya berusaha mencerna penjelasannya yang menurut saya penjelasan yang luar biasa dari seorang anak berusia 5 tahun 10 bulan. Ketiga, saya sebenarnya ingin berusaha menggali lebih jauh lagi tentang kata terampil itu, tapi saya bingung melanjutkan obrolan itu.Istilah kerennya speechless.
Akhirnya, percakapan tentang si pelayan itu, berhenti sampai disitu saja.
Pembicaraan menarik berikutnya terjadi di atas becak saat pulang ke rumah. Dia berkata, “Ummi, kata Zahir temanku, manusia itu diciptakan dari tanah. Padahal kan enggak ya, Mi? Yang diciptakan dari tanah itu kan cuma Nabi Adam.”
“Hmmmm…..” Belum sempat saya menjawab, Fauzan sudah bertanya lagi.
“Kalau begitu, Mi… Manusia itu diciptakan dari apa? Dari kulit?”
“Hehe… Ya bukan kulit saja, Nak. Begini… Dalam Al-Qur’an disebutkan, bahwa penciptaan manusia itu dari sari pati tanah, bukan tanah yang seperti itu,” kata saya sambil menunjuk tanah di pinggir jalan.”Kemudian dari setetes air mani, kemudian air mani itu berubah menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, lalu diberi Allah tulang, lalu dibungkus lagi dengan daging dan kulit. Maka jadilah manusia yang sempurna di dalam rahim ibunya,” saya melanjutkan penjelasan dengan sedikit panjang..
“Oooo…. Begitu ya, Mi? Kalau begitu Zahir itu salah, kan Mi? Gitu dia ngeyel ajha aku kasih tahu.”
“Hmmm… Mungkin Zahir belum tahu.”
“Tapi dia itu ngeyel. Bilang manusia terbuat dari tanah kaya’ gitu.”
“Nah… Mungkin maksud Zahir sari pati tanah, kali…?”
“Enggak, Mi. Dia bilang dari tanah kaya’ gitu.”
“Hehehe… Ya sudah… nanti Fauzan jelaskan lagi sama Zahir tentang proses penciptaan manusia. Katanya cita-cita Fauzan ingin jadi ustadz yang dokter. Makanya… nanti harus bisa menjelaskan ini dengan baik ke orang lain. Tapi, menjelaskannya gak usah pake nangis ya…” kata saya sambil mengusap-usap kepala Fauzan yang sedang bersandar di pangkuan saya.
Begitulah percakapan saya semalam dengan Fauzan. Percakapan sederhana yang semoga saja dia dia mampu memahaminya. Someday, you will read this, Son…
***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 14 Januari 2013
11:57
After lunch…
Pagi, Bray n Sist…! Pagi ini, saya lagi happy. Si Jingga berkeranjang, kemarin sudah berkandang kembali di rumah. Seminggu sebelumnya dia memang terpaksa menginap di sekolah. Dan pagi ini, saya sudah beraktivitas lagi dengannya.
Pukul 05.30, Fauzan masih belum bisa ditinggal. Barulah 10 menit kemudian saya dan si Jingga berkeranjang ini mulai mengukur jalanan. Berangkat dari rumah di Pucang Indah, saya tak melawan arus untuk sampai di alun-alun Kabupaten Sidoarjo. Saya memilih memutar, melewati fly over di depan SMAN 1. Hitung-hitung, buat pemanasan lah…
Sampai di alun-alun, hampir pukul 6. Seorang teman ternyata sudah menunggu lumayan lama disana, sudah 2 kali putaran katanya. Lalu, kami berdua menyusuri jalanan Sidoarjo yang mulai ramai dengan orang-orang yang hendak melakukan aktivitas refreshing di pagi hari.
Dari depan DPRD Kabupaten Sidoarjo, kami menuju Jl. Pahlawan lalu berbelok ke arah Selatan di perumahan Taman Pinang Indah. Dari sana kami menuju Desa Sepande, lalu terus mengikuti aspal hitam yang seakan tak pernah berujung itu. Yang pasti siy, saya menikmati sekali pemadangan yang terhidang disana. Sisi kiri jalan yang kami lewati banyak ditanami tebu. Sedangkan sisi kanannnya rumah-rumah berjajar tak beraturan.
Saya takjub ketika roda melewati 3 sungai; 1 sungai besar, dan 2 sungai kecil. Sungai-sungai kecil itu mengapit sungai besar untuk irigasi sawah-sawah yang terhampar disana. Takjub karena pemandangan itu tak pernah saya temui sebelumnya, dan takjub juga karena hamparan langit diatasnya yang tampak sendu. Sungguh sebuah perpaduan alam yang eksotik di mata saya. Sayangnya, saya tak sempat mengabadikan keindahan momen itu.
Desa-desa yang kami lewati tadi, adalah desa tua. Saya menemui beberapa bangunan lama, khas jaman Belanda. Tiang-tiang penyangga rumah yang besar, atap yang tinggi, tembok yang tebal, dan halaman depan rumah yang cukup luas.
Lalu, roda kembali berputar menyusur aspal hitam yang lagi-lagi tak berujung. Suguhan perkebunan tebu masih memanjakan mata. Tak lama kemudian, teman saya bilang, “Satu belokan lagi, kita sampai di Pabrik Gula Tulangan.”
Perjalanan yang menarik… Begitu pikir saya. Dia bercerita kepada saya, bahwa Kabupaten Sidoarjo adalah Kabupaten yang memiliki 4 Pabrik Gula. Dan jumlah itu cukup besar untuk wilayah Sidoarjo yang tidak luas. 4 Pabrik Gula itu adalah PG Tulangan, PG Krembung, PG Candi, dan PG Watoe Tulis. Saya seolah kembali ditarik ke masa lalu oleh penjelasan kawan saya ini. Saya ingat, almarhumah mama saya juga pernah bercerita soal Belanda yang membangun 4 Pabrik Gula di wilayah Sidoarjo.
Tepat di depan pabrik gula Tulangan, kami berhenti sejenak. Menikmati segelas susu di depan pagar PTPN X. Rupanya, kawan saya sudah haus. Mungkin sudah berratus robu kalori yang terbakar dan membuatnya kehausan.
Sekitar 5 menit setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Saya sudah hilang arah waktu itu. Tak bisa mendeteksi, kami berjalan ke arah mana. Hehehe.. Pokoknya, roda sudah berada di jalan Tanggulangin dan kami berjalan ke arah Timur.
Pukul 07.45, kami tiba di alun-alun lagi. Makan semangkuk bubur kacang hijau, lalu pulang.
Perjalanan yang menarik, Bray n Sist… Menikmati Sidoarjo, kota tempat saya dibesarkan dari atas si Jingga berkeranjang. Selamat berhari Minggu, ya Bray n Sist… Semoga harimu indah.
***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 13 Januari 2013
10:08
Sudah hampir seminggu ini saya kembali terserang batuk. Awalnya, hari Kamis minggu lalu, badan saya demam. Saya yang hari itu membawa si Jingga berkeranjang ke sekolah, sampai tak sanggup membawanya pulang saking sakit dan lemasnya seluruh badan saya.
Hari Jum’at dan Sabtu saya habiskan di rumah, tak sanggup datang ke sekolah. Demam yang tak turun-turun meski saya sudah minum obat yang dijual bebas di pasaran, ditambah pusing yang saya rasa, membuat saya tak mampu beranjak lama dari tempat tidur.
Untung saja, ada kakak saya dan anak-anaknya yang datang ke rumah. Mereka datang karena memanfaatkan momen liburan sekolah. Kalau tidak ada dia, pasti anak saya –Fauzan– tidak ada yang mengurus. Bayangkan saja, untuk berdiri dan ke kamar mandi saja, saya terhuyung-huyung mau jatuh, apalagi untuk memasakkan makanan untuk Fauzan. Oia, waktu itu papa dan ibu saya sedang berlibur ke Pacitan, desa kelahiran papa saya.
Hari Ahad, barulah agak enakan badan saya, bahkan sempat memposting ini. Dan ternyata, setelah demam hilang, datanglah batuk menyerang.
Seorang kawan menyarankan meminum obat batuk dengan merk tertentu. Saya pun menuruti saran tersebut. Kebetulan, Ibu dan papa yang sudah datang hari Jum’at malam, sedang keluar rumah. Jadi, saya bisa sekalian titip.
Dasar sayanya ‘bandel’. Obat batuk itu tak saya minum secara rutin. Begitu agak enakan, ya saya tinggalkan saja obat itu di rumah. Jadinya, sudah hampir seminggu ini, batuk saya masih saja tetap bertahan.
Sebenarnya, saya punya alasan untuk tak meminum obat batuk tersebut adalah secara rutin. Alsasamnya adalah karena efek obat yang dapat menyebabkan kantuk. Duuuh… Kalau sudah mengantuk, maka pekerjaan saya pasti akan tertunda. Seperti sekarang ini.
Ya… Beberapa saat yang lalu saya minum obat batuk dan sekarang efek ngantuknya menggoda saya untuk sejenak memejamkan mata.Heuuuuuuuu…. Mana bantal…? Mana bantal…? Mana bantal…? Ngantuk banget niy…
***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 11 Januari 2013
13:57
A-Yo Girls!!! read this blog and .. can you leave a comment in this blog?? thank you!!
Let's share and we have fun!
Enak, Nikmat & Halal
My Passion In Life
sebuah catatan untuk kedua anakku tersayang
Tulisan curahan hati
Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com
Just anothe Place....
mapping your mind..
it's always a good time...
Menulis untuk berbagi inspirasi......
be better, be different, keep smile
another home of my mind
Just My Thoughts
Berjalan, Belajar, Berbagi :)
: pengarang telah mati
eNPe berbagi pengetahuan n pengalaman
impian angan
tidak ada yang tidak mungkin
Tilawah, Tazkiyah, Ta'lim