Namanya Juga Anak-Anak


“Mas Fadhil, topinya bagus. Boleh Ustadzah minta?” tanya saya pada seorang murid saya. Sebenarnya hanya sebuah candaan yang meluncur begitu saja dari mulut saya karena melihat topinya yang lucu. Saya dengan ingin ngisengin M. Arya Fadhil Ridwan, murid saya.

“Ini belinya di Jatim Park 2 lho, Ustadzah.”

“Iya, Ustadzah tau. Nah itu ada tulisannya,” lanjut saya sambil memegang dan memutar -mutar topi tersebut. Menunjuk tulisan “JATIM PARK 2. BATU SECRET ZOO.”

“Boleh, Us. Tapi aku bilang mamaku dulu, ya,” ujarnya lucu. “Di rumah juga ada boneka. Nanti aku bawain 1 sekalian,” lanjutnya.

“Iya, bawakan untuk Ustadzah 1, ya,” jawab saya dengan mengerlingkan mata dan tersenyum padanya sambil mengembalikan topi ke atas meja miliknya.

Peristiwa ini terjadi kemarin, saat anak-anak selesai istirahat dan akan mengerjakan soal Bahasa Inggris untuk Ujian Akhir Semester 2.

Pagi tadi, mas Fadhil ke meja saya. Dia bilang, “Ustadzah, mama bilang boleh topinya untuk Ustadzah. Mama bilang, maaf nggak bisa membelikan yang baru. Sekarang topinya masih dicuci. Besok kalau sudah kering, akan dibungkus sama mama dan deberikan pada Ustadzah.”

Saya tercengang mendengar penjelasannya. Sungguh, saya hanya bermaksud main-main dengan ucapan saya. Tidak serius seperti yang ditangkapnya.

Saya jadi teringat kisah salah seorang rekan guru di sekolah saya. Waktu itu dia meminta siswanya yang masih duduk di kelas 2 SD, untuk membawa  salah satu benda yang dituliskannya di papan tulis. Payung, topi, kacamata hitam, jaket tipis, jas hujan.

Salah satu muridnya bertanya, “Membawa berapa barang, Ustadzah?”

“Minimal 2 barang, Nak.”

“Apa itu minimal, Ustadzah?”

“Minimal itu paling sedikit. Jadi besok paling sedikit masing-masing anak membawa 2 barang yang Ustadzah tuliskan di papan tulis. Mengerti?” Tanyanya kepada siswanya.

“Mengertiiiii…” Jawab semua anak di kelas.

“Saya bawa payung dan jas hujan, ya Ustadzah,” sahut salah satu muridnya.

“Kalau saya bawa kaca mata hitam dan jaket, ya Ustadzah,” kata yang lainya lagi.

Begitu seterusnya sampai kelas menjadi crowded. Lalu tiba-tiba….

“Kalau saya cuma punya payung, gimana Ustadzah?” lagi, salah seorang siswa lainnya menyeletuk.

“Ya sudah. Kalau begitu yang satu lagi, bawa kue yang banyak,” ujarnya dengan maksud bercanda.

Besoknya, yang terjadi adalah beberapa siswa malah hanya membawa satu barang yang tertulis di papan tulis dan membawa banyak kue. Bahkan saat malam hari, cerita teman saya tadi, dia ditelpon beberapa wali murid dan menanyakan kebenaran berita yang dibawa anaknya bahwa besok membawa kue yang banyak. Kue yang banyak. Bukan Payung, topi, kacamata hitam, jaket tipis, atau jas hujan.

Kue yang banyak. Banyaknya itu seberapa? Kue apa? Untuk apa? Begitu tanya wali murid yang menelepon di malam harinya. Maka dia sendiri kerepotan menghadapi wali murid dan para siswa.

Sering kita sebagai orang dewasa merasa bahwa anak-anak mengerti apa yang kita maksudkan. ‘Kan dia sudah besar. Sudah kelas 5 SD misalnya. Harusnya dia tahu, mana yang benar dan mana yang salah. Sudah tak perlu lagi menjelaskan dengan detail apa yang kita, orang dewasa, maksudkan. Begitu dalih kita sebagai orang tua atau gurunya saat melihat anak kita melakukan kesalahan.

Anak-anak, tetaplah anak-anak. Dan anak-anak butuh bimbingan sampai dewasa hingga dia benar-benar mampu membedakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Tentu saja tiap jenjang usia, bimbingan yang diberikan pun akan berbeda. Selain jenjang usia, sebagai orang dewasa yang bijak, kita juga harus melihat karakteristik psikologi anak per anak. Karena setiap anak adalah istimewa. Tak bisa disamakan.

Jangan sampai apa yang kita katakan, yang sesungguhnya salah, justru dianggap mereka benar. Begitu pula sebaliknya. Becanda dengan anak-anak pun harus memperhatikan konten dan bahasa pembicaraan. Jangan sampai maksud becandaan kita dimaknai yang sebenarnya oleh anak-anak seperti kisah saya dan kisah teman saya tadi.

Hmmmmffff…. Seketika itu juga, saya bilang kepada mas Fadhil. “Maaf, mas Fadhil. Ustadzah kemarin hanya becanda. Kalau mas Fadhil keberatan memberikan topinya untuk Ustadzah, tidak usah dipaksakan.”

“Enggak kok, Ustadzah. Nggak pa pa. Lagian aku nanti mau kesana lagi pas liburan sekolah,” katanya bersemangat.

Ya, Allah ya Rabb… Ampunkan hamba yang telah salah dalam berujar ini. Semoga mas Fadhil selalu memiliki niat untuk berbagi dengan sesama sampai dia dewasa nanti. Dan semoga niat baiknya ini akan menjaganya dari api neraka. Jaga selalu hati mas Fadhil ku, ya Rabb…

 

***

Sidoarjo, 01 Juni 2011

03:40 PM

Dengan perut lapar dan mata mengantuk. Menyempatkan diri untuk menulis yang baru saja dialami siang tadi.

About these ads

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s