Arsip Tag: PO Jaya Utama

Lika Liku Menuju Jakarta


Well… Perjalanan hari ini adalah perjalanan ketiga saya dari Surabaya ke Jakarta begitu juga sebaliknya dalam satu bulan terakhir. Sebuah informasi mendadak membuat saya harus meninggalkan Surabaya untuk menuju Ibu Kota Negara.

Perjalanan Pertama

Perjalanan pertama saya ke Jakarta kali itu, saya memilih naik Kereta Api eksekutif Gumarang dari Surabaya Pasar Turi menuju ke Jakarta Gambir. 315 ribu harga tiketnya. Berangkat tepat waktu dan sampainya pun tepat waktu.

Beberapa hari kemudian, saya kembali ke Surabaya. Waktu itu, Tiket kereta sudah mengalami kenaikan tarif akibat libur Lebaran. Untuk mengulang jalur yang sama rasanya berat di ongkos. Maka saya putuskan naik kereta ekonomi AC, Gajah Wong, dari Jakarta (Pasar Senen) ke Jogjakarta. Ongkos yang harus saya keluarkan adalah 200 rb an. Saya sudah lupa berapa harga tepatnya.

Ada hikmah yang bisa diambil dari perjalanan naik kereta itu. Saya bisa melihat pemandangan selama perjalanan Jakarta-Jogjakarta yang biasanya saya nikmati pada malam hari, alias dalam keadaan gelap gulita. Kemarin itu, saya bisa melihat kota-kota yang dilalui dalam keadaan terang benderang. Bahkan saat melewati terowongan yang cukup panjang, perbedaan gelap terangnya jadi sangat terasa di mata. Sebuah pengalaman perdana yang baru saya nikmati “sensasinya”.

Nilai plus naik kereta belakangan ini adalah, ketepatan waktunya. Tidak seperti beberapa tahun lalu. Bisa dikatakan, tepat waktu hanya milik mereka yang berduit, yang bisa naik kereta api eksekutif. Tapi sekarang, Baca lebih lanjut

Sport Jantung yang Bikin Kepala Pening Tujuh Keliling


Semalam, tak ada pilihan lain selain menaiki bis malam “Panda” yang merupakan milik Perusahaan Otobus Sinar Mandiri Mulia (SMM). Sebab, jadwal keberangkatan PO. Jaya Utama baru saja terlewatkan oleh saya. Hffffffhhh… Harus bersiap untuk sport jantung lagi niy…

PO. Sinar Mandiri Mulia

Ya, semalam saya dan anak saya (kembali) melakukan perjalanan dari Semarang ke Surabaya. Daaaaaan… saat itu, yang telah bersiap sedia di depan pintu masuk terminal Terboyo adalah Bus Panda.

Penumpang yang telah ada di atas bus baru 7 orang. Untungnya, saya mendapatkan tempat yang paling saya idamkan. Kursi paling depan, di belakang sopir.

Tempat duduk ini adalah tempat duduk paaaaaaling istimewa menurut saya. Selain deretan kedua di sebelah kiri. Nyaman rasanya saat melihat “pemandangan” selama perjalanan melalu kaca depan, walau cuma melihat dalam gelap -karena perjalanan dilakukan pada malam hari-. Paling tidak, itu yang saya rasakan saat saya ber-bismania dengan PO. Harapan Jaya, PO. Kramat Djati, dan PO. Rosalia Indah.

But… Pengalaman semalam membuat semua mimpi indah saya, duduk di belakang kursi sopir, terhapus. Fiuuuuuhhhh… Jantung saya sampai terasa benar-benar terlepas dari tempatnya. Dag dig dug duer rasanya. Beberapa kali pak sopir -yang sudah sangat lihai dan ma’rifat dengan kondisi jalan itu- mengerem mendadak. Beberapa kali juga pak sopir berkumis tebal itu memainkan klaksonnya. Beberapa kali pak sopir tambun itu mepet-mepet ke kiri meminta jalan kepada kendaraan di belakangnya. Dia berusaha menyalip kendaraan itu meskipun jarak yang akan dilaluinya cukup sempit.  Beberapa kali pengendara motor yang akan disusulnya seakan mau ‘ditutul‘ oleh hidung bus berwarna hijau tersebut. Gimana gak sport jantung, coba?

Kondisi badan yang agak kurang sehat, rasa kantuk yang menguasai mata, ransel berisi laptop yang harus senantiasa dalam pengawasan, juga Fauzan yang sedang tidur di pangkuan, membuat konsentrasi saya seperti benar-benar tercabik. Hayayaya… Ingin rasanya berteriak, “Pak Sopiiiiiiiiiiiir… Anda sedang membawa banyak nyawa disini…!”

Tapi, apalah daya… Saya sudah mengingatkan. Tapi pak sopir tetap saja keukeuh berkelakuan sama. Hanya satu yang bisa saya lakukan. Mulut ini, tak berhenti komat kamit berdo’a, memperbanyak shalawat, dan berdzikir apa saja yang bisa menenangkan hati dan jiwa. Sambil sesekali kepala tertunduk akibat kantuk yang tak bisa ditahan lagi.

Perjalanan dari Semarang ke Tuban, hanya ditempuh selama 3 jam oleh pak sopir dahsyat nan spektakuler tersebut. Jalanan memang sedang cukup lengang, disamping kondisi jalan yang lebar dan mulus. Tapi, kalau cara nyalipnya seperti orang dikejar anjing begitu, ‘kan bikin kita, penumpangnya, deg deg serrrrr….? Sudah 2 kali ini, saya menaiki bus Panda dari Semarang ke Surabaya dengan ‘pengalaman’ yang tidak jauh beda.

Pantas saja banyak kecelakaan bis yang terjadi belakangan. Kejar setoran dan pendeknya waktu tempuh yang harus dijalani oleh para sopir, membuat mereka ‘menomorduakan’ nyawa-nyawa penumpang yang sedang menjadi tanggungannya. Mereka jadi ugal-ugalan di jalan. Padahal, seorang sopir memiliki tanggung jawab yang besar atas nyawa mereka yang menjadi ‘tanggungannya’.

Ah… Jangankan sopir yang dimintai pertanggungjawaban atas orang lain, diri kita sendiri saja, nanti juga akan dimintai pertanggungjawaban. Untuk apa waktu kita habiskan, untuk apa seluruh tubuh kita melakukan kegiatan, untuk apa harta kita belanjakan, untuk apa ilmu kita amalkan, dan seterusnya, dan sebagainya. Lho, jadi nyasar kemari idenya??? Whadeva lah…

Yang jelas sih… Naik bis semalam benar-benar memacu detak jantung saya. Sport jantung yang sesungguhnya, deh. Membuat debarnya jauh lebih kencang dari biasanya. Dan sebagai akibat dari kekagetan dan kekhawatiran (yang menyebabkan jantung berdebar lebih kencang) yang terjadi bertubi-tubi selama 6 jam lebih (sedikit) itu, kepala saya pening tujuh keliling. Seperti baru saja ditonjokin sama preman pasar. Hallah… Emang pernah ditonjokin preman pasar? Peniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing sekali. Dan peningnya itu, baru hilang setelah pukul 3 sore. What a great headache.

 

 

Sumber gambar

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo,  24 Februari 2012
18:54
Dikejutkan

Dari Balik Kaca Jendela


Sedari awal aku berharap bisa duduk di sebelah kiri dekat jendela. Aku ingin mendapati pemandangan indah sepanjang perjalanan nanti, pikirku.

Aku jadi teringat sebuah petuah bijak. Jika kau berpikir tentang keberhasilan, maka kau akan mendapatkan keberhasilan itu. Minimal setengahnya. Pun dalam perjalanan kali ini. Beberapa jam sebelum berangkat aku memikirkan posisi wuenak itu secara terus menerus di pikiranku.

Maka, tak kusiakan saat seorang ibu yang kuketahui usianya 64 tahun itu menawariku duduk di sebelahnya, dekat jendela, di deret nomor 2, di belakang sopir. Pas. Tepat. Seperti apa yang kupikirkan. Seperti yang kuinginkan. Alhamdulillah. Allah mendengar do’aku.

Seperti yang kusampaikan diatas, dalam perjalanan ini, aku hanya ingin menikmati pemandangan yang terhampar dari Semarang menuju Surabaya. Biasanya, pemandangan sepanjang perjalanan itu kulihat dari dalam mobil kuda atau xenia-milik mertua-. Dan ternyata lanskap itu lebih eksotik saat aku menikmatinya dari atas bis. Apalagi ditemani hujan yang mengguyur tepat saat besi kotak itu membawa sekitar 30-an penumpangnya. Semakin eksotis saja.

So, aku sengaja tak memberi ‘kesempatan’ kepada ibu yang duduk di sebelah untuk berbicara denganku. Bahkan sekadar berbasa-basi tentang tujuan kami -sebagaimana ‘teman-teman’ perjalananku sebelumnya-. Dan aku memakai taktik jitu untuk menghindari pembicaraan dengannya: aku hanya melihat ke arah luar jendela, sebelah kiri. Aku tak menoleh sedikit pun ke arahnya. Aku sengaja menjadi autis dengan panorama yang ada. Dan itu cukup membangun tembok gahar di antara kami. Seperti tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur. Haha. Aku berhasil.

Dari Balik Kaca Jendela - 1

Pikiranku terus berputar menyulam kata saat kotak besi itu memasuki daerah Rembang. Kabupaten yang tepat berada di pinggir pantai Utara Pulau Jawa. Kabupaten yang dilewati oleh angkutan umum yang aku naiki. Kabupaten yang memiliki berhektar-hektar lahan tambak garam yang lokasinya tepat di sebelah kiri jalan raya Pantura.

Beberapa bulan lalu, aku menikmati tambak garam itu dalam penglihatan yang berbeda. Kemilau putih garam mengkristal dan menyilaukan mata. Terlebih saat matahari dengan teriknya menyapu bumi. Matahari mampu melenyapkan air dan menyisakan NaCl yang asin rasanya. Indah…

Para petani garam dengan suka cita memanen kristal putih itu dengan garu berukuran panjang. Mereka seperti berhati-hati saat mengeruk garam yang melekat diatas tanah tambak. Bubuk-bubuk yang dihasilkan dari proses pengerukan itu membentuk gunungan kecil di pinggir, di tengah, atau di sudut tambak.

Kemarau adalah ‘surga’ bagi petani garam. Setidaknya, mereka bisa mengisi pundi-pundi rupiah untuk kehidupan di musim penghujan seperti sekarang ini.

Ya… Sampai beberapa bulan ke depan, petani garam tak bisa memanen hasil tambak yang telah mereka buat. Kini, tambak-tambak itu tak hanya tergenang oleh air laut, tapi juga oleh air hujan. Tak ada sinar matahari yang panasnya sangat mereka harapkan, membuat mereka ‘menganggur’ tak bekerja.

Dari Balik Kaca Jendela - 2

Air hujan yang mengalir ke selokan -letaknya antara jalan dan tambak- mennghasilkan buih. Itu menandakan kadar garam masih cukup tinggi disana. Buih-buih itu terkumpul di sebuah sudut  selokan. Sebuah sudut yang tak sengaja tercipta akibat tak ratanya ‘selokan darurat’ itu.

Aiiih… Ingatanku segera melayang ke satu atau dua tahun silam. Saat aku masih menjadi guru IPA kelas 1. Aku pernah mengajarkan beberapa manfaat yang bisa diambil dari sinar Matahari. Pasti seru mengajak anak-anak itu, murid-murid mungilku, studi lapangan ke tambak garam.

Haha… Aku tertawa sendiri dalam hati. Bibirku tak kuasa tertarik 2 centi ke kiri dan ke kanan. Hmmm… Dari balik kaca jendela itu, aku merindukan sesuatu. Merindukan menjadi guru.

NB : Si ibu yang duduk di sebelahku baru kusapa setelah bus rehat sementara di daerah Tuban. 3 jam bersamanya akan aku tuliskan di lain waktu. Insya Allah.

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 5 Januari 2012
16:53
Hujan itu… (masih sama?)

Mengeja Kata

menulis apa yang kubaca

Indonesian Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog gerakan yang menginspirasi dan Memotivasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrinasiprincess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

roda2blog.com

ngobrol soal motor sampai kolor

leniaini

goresan kata konstelasi impian

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan n pengalaman

Resistance Kata

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

La Rêveur Vrai

Melangkahkan Kaki Kemana Angin Mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

me, myself, and i

Just another WordPress.com weblog

Writessionate

scripta manent - verba volant

Backpacker Cilet-cilet

| Blogging | Traveling | Adventure |

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

j4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

mysukmana

saya punya cerita :))

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

A FREEDOM OF WRITING

Dg Situru'

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ase7adventure

You Never Know The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

a submodalities

Just anothe Place....

Peta Pemikiran

mapping your mind, mapping your life..

Elam Sanurihim Ayatuna

it's always a good time...

Ika Koentjoro's Blog

Menulis untuk berbagi inspirasi......

maman official blog

be better, be different, keep smile

SAVING MY MEMORIES

another home of my mind

PERJALANAN

Just My Thoughts

Imazahra's Journey

Berjalan, Belajar, Berbagi :)

Sastra Pencerahan

: pengarang telah mati

yisha

impian angan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.668 pengikut lainnya.