Memperbaiki Orientasi Beramal Sholih


Hari ketiga mengikuti pelatihan di sekolah, pembicara yang datang kembali adalah seorang pribadi yang sangat luar biasa. Pemilik Yayasan Al-Uswah di Pasuruan. Ustadz Baihaqi namanya. Putra-putrinya berjumlah 7 orang. Jika beliau datang ke sekolah kami, beliau selalu memberikan motivasi ruhiyah yang sangat istimewa. Kalau saya menyebutnya beliau itu Sang Pencerah. Beliau berhasil mendobrak dada-dada kami, terlebih saya. Karena sepanjang beliau memberikan taujihnya, saya menangis. Adrenalin saya seakan terpompa. Tubuh saya menggigil mendengar apa yang beliau sampaikan. Sebenarnya, bukan hal yang sama sekali baru buat kami, terlebih buat saya. Namun ketika beliau yang menyampaikan itu, terasa dada ini penuh sesak dengan rasa bersalah, rasa berdosa, dan rasa kurang ketika saya berada dalam lembaga pendidikan ini.

Sedikit yang saya tangkap dari apa yang beliau sampaikan akan saya coba tuangkan dalam bentuk tulisan dibawah ini. Memang tulisan ini tidak menggambarkan betapa luar biasanya apa yang beliau sampaikan kepada kami. Namun, paling tidak ini adalah upaya saya dalam memaksimalkan “penerimaan” saya terhadap apa yang beliau sampaikan dengan menuliskannya kembali, semampu saya.

Beraktivitas apapun di dunia ini akan membuat kita inkonsisten terhadap keimanan kita kepada Allah. Sudah menjadi fitrah manusia manakala iman bisa naik bahkan bisa anjlok sampai titik nadzir, na’udzubillah. Kadang juga sempat terlintas pikiran-pikiran “nakal” dan “liar” pada diri kita. Pikiran nakal dan liar itu terkadang hadir pada diri sesorang manakala seseorang tersebut sedang ditimpa ujian. Bahkan pula saat seseorang tersebut sedang dalam puncak “kejayaannya”.

Namun, ketika kita dalam dunia pendidikan terlebih lembaga pendidikan ini membawa misi da’wah konsistensi keimanan ini merupakan sebuah keniscayaan. Sebuah kewajiban bagi individu-individu yang telibat didalamnya. Yang perlu kita pahami adalah kita berada di lembaga ini adalah dalam rangka melahirkan generasi-generasi misionaris pembawa aqidah yang akan bertebaran di muka bumi ini.

Jika individu-individu yang terlibat dalam da’wah ini “bermasalah”, artinya baik secara ruhiyah, psikologi, sosial, maupun kelembagaan, maka apa yang kita sampaikan kepada siswa tidak akan pernah diterima dengan baik. Kita harus yakin, bagaimanapun stakeholder (murid, walimurid, dan orang-orang yang melihat aktivitas kita) akan melihat, memperhatikan, bahkan mengukur kinerja kita di dalam lembaga ini.

Oleh karena itu, konsistensi ibadah sangat diperlukan untuk memanaje konsistensi keimanan kita kepada Allah, sebagai guru. Oleh karena itu ada cara untuk menjaga konsistensi ibadah ini, yakni :

1. Meluruskan niat.

Kisah seorang sahabat yang mengurungkan niatnya untuk membunuh musuhnya saat musuh tersebut sudah dalam keadaan “terdesak”, mungkin bisa menjadi salah satu contoh kita untuk senantiasa meluruskan niat. Kita ingat, sahabat tersebut tiba-tiba diludahi wajahnya oleh musuhnya, dan ketika sahabat lain bertanya padanya mengapa ia tidak membunuh musuhnya tersebut saat itu juga, dia menjawab, “Aku khawatir apakah semangatku membunuh itu karena didorong niat yang lurus daam berperang di jalan Allah swt. ataukah karena didorong oleh kemarahan dan emosiku karena ia meludahi wajahku.”

Dari kisah tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sekelas sahabat pun sangat memperhatikan niat ini. Apalagi kita yang hanya seorang muslim biasa. Maka ini seharusnya menjadi sesuatu yang mutlak yang diperlukan dalam setiap aktivitas kita.

Mari kita cermati firman Allah dalam Surat Al-Kahfi/18 : 103-104.

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”

Allah swt. akan mencatat semua amal kita adalah sia-sia belaka ketika kita mengira bahwa kita telah berbuat baik untuk Islam, terlebih untuk lembaga ini. Jangan ada orientasi lain ketika kita malakukan amal dan ibadah di dunia ini.

Hari ini, yang harus menjadi dogma bagi kita adalah menjadi guru adalah sebuah pilihan. Bukan hanya sebagai sebuah pelarian. Bahasa kasarnya, daripada tidak bekerja, lebih baik kerja jadi guru saja. Mindset berpikir ini harus diubah total. Karena jika pikiran kita masih seperti ini, maka akan berimbas pada kinerja kita dalam mendidik siswa.

2. Meluruskan Orientasi Amal dan Kinerja

Cerita Nabi Khidir as. dan Nabi Musa as. bisa menjadi tauladan kita. Mari kita baca kembali firman Allah dalam Surat Al-Kahfi/18 : 77-78.

“Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”. Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”

Disana telah jelas pelajaran yang bisa diambil tentang sebuah keikhlasan sekaligus kejelasan orientasi hidup dalam “amal dan kinerja”. Ketika orientasi kita sudah berubah maka, kita wajib meluruskan kembali orientasi kita tersebut. Nabi Khidir as. tidak segan untuk meminta Nabi Musa as. tidak berguru padanya lagi ketika orientasi amal dan kinerja Nabi Musa as. sudah berubah.

Tidak ada kata lain selain berpisah pada orang yang memiliki orientasi amal dan kinerja yang sudah tidak sejalan lagi dengan kita, begitulah Nabi Khidir as. mengajarkan kepada kita, umat Islam. Maka sebagai Muslim yang lurus, hendaknya kita selalu meluruskan orientasi amal dan kinerja ini.

3. Berprasangka baik (khusnu-dzon)

Berprasangka baik akan memperpanjang nafas kita dalam beramal sholih, apalagi dalam mengajar. Berprasangka baik kepada Allah akan memperpanjang langkah-langkah kita sehingga langkah-langkah lebih teratur dalam setiap kinerja kita.

Ada banyak hal yang terjadi dalam hidup ini yang tidak sesuai dengan keinginan, harapan, dan keimanan kita. Maka disinilah terlihat kualitas seseorang ketika ia menghadapi situasi dan dinamika kehidupan, bagaimana pun bentuknya dengan berbaik sangka (khusnudzon). Baik sangka kita kepada segala ketentuan Allah swt. adalah bukti lurus dan jernihnya aqidah dan keyakinan kita kepada-Nya. Sebab itu Allah pun akan berbaik sangka kepada kita sesuai dengan prasangka baik kita kepada-Nya.

Dan momentum berbaik sangka kepada Allah ini ada picunya, yaitu manakala:

a. detik-detik menjelang kematian

b. detik-detik pertama tertimpa musibah berat

c. detik-detik terbakar api kemarahan

Momentum-momentum diatas akan membangkitkan baik sangka kita kepada Allah.

4. Jangan Pernah Merasa Berjasa

Pada sebuah lembaga, apalagi sebuah lembaga pendidikan, rasa ini harus dikikis habis. Rasa Merasa Berjasa terhadap apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah dikerjakan, apa yang sudah diberikan, dapat merusak nilai ibadah itu sendiri.

Mari kita cermati firman Allah swt. dalam surat Al-Hujurat/49 : 16-17

“Katakanlah (kepada mereka): “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar”.”

Allah swt. akan membalas setiap amal yang kita lakukan , meskipun sesungguhnya seluruh kebaikan dan amal sholih yang kita lakukan itu tidak akan pernah sebanding dengan luas dan besarnya nikmat dan karunia Allah swt. yang kita rasakan. Oleh karena itu, jangan pernah merasa “berjasa” dengan banyaknya harta kekayaan yang kita sumbangkan, banyaknya amal, tenaga, dan fikiran yang kita kontribusikan. Tetapi sadarilahdan syukurilah akan besarnya hidayah-Nya, sehingga dengan itu kita tergerak untuk melakukan banyak kebaikan dan amal sholih.

Ingatlah apa yang sudah Allah swt. sampaikan dalam surat Ali ‘Imron/03 : 188, yang artinya :

Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.”

Ayat diatas jelas mengingatkan kepada kita bahwa akan ada siksa Allah swt. bagi mereka yang “merasa gembira” dengan apa yang telah mereka kerjakan, sedangkan amal itu tidak berarti apa-apa bagi Allah swt.

5. Merasa “Pantas” dengan Jabatan Tersebut

Jabatan terkadang menjebak kita saat jabatan tersebut dipahami sebagai suatu kemulyaan. Mari kita perhatikan firman Allah swt. dalam surat Al-Baqarah/2 : 247, yang artinya:

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.”

Allah swt. lah yang memilih orang yang memang pantas mendapatkan dan menduduki suatu jabatan tertentu. Bukan karena upaya dari orang tersebut. Jabatan adalah sebuah amanah. Bukan hanya sebuah kemulyaan.

6. Jangan mensyaratkan Amal Sholih Kita dengan Syarat-Syarat Tertentu

Banyak amal-amal kebaikan yang tertunda atau bahkan tidak terlaksanakan karena kita mensyaratkannya dengan hal-hal yang tdai semestinya. Misalnya, “saya akan piket jika ada insentif untuk guru piket” atau “saya akan bersungguh-sungguh menjadi guru, jika saya sudah menandatangani surat kontrak saya dengan Lembaga A,” dan seterusnya.

Syarat-syarat inilah yang akan membuat amal sholih yang akan kita kerjakan menjadi “bersyarat” dan akan tertunda. Jika, jika, dan jika. Padahal kata “jika” aka nada kata “maka” dan dalam ilmu fisika ini adalah hubungan sebab-akibat. Nah, jika tidak ada sebab, maka tidak akan terjadi akibat. Padahal melakukan amal sholih, tidak harus menimbulkan akibat terutama bagi dirinya sendiri. Amal sholih harus dipahami bahwa sesuatu yang harus kita lakukan sebagai bentuk syukur kita atas samudra nikmat yang telah Allah swt. berikan kepada kita.

Dan dalam beramal sholih, meski tidak ada akibat langsung kepada diri kita sebagai pelaku, pasti akan ada dampak dari amal sholih itu bagi orang-orang di sekeliling kita, orang-orang yang bahkan tidak ada hubungannya dengan diri kita. Percayalah. Sebab Allah Maha Adil.

7. Jangan Hentikan Kebaikan Itu Sekalipun terhadap “Musuh”

Adalah hal yang “wajar” menurut pikiran dangkal kita, jika akhirnya Abu Bakar Ash-Shiddiq bersumpah untuk menghentikan bantuan pada beberapa orang keluarga beliau yang terlibat secara langsung dalam isu sekandal antara Aisyah, istri Rasulullah saw. sekaligus putrinya, dengan Sofwan. Ternyata hal tersebut langsung dijelaskan oleh Allah swt. dengan turunnya surat An-Nuur/24 : 22 yang artinya :

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam kisah ini, ada sedikitnya 3 pelajaran yang bisa kita ambil, yaitu :

1. Meski kita sudah berbuat baik kepada orang lain, tetap saja ada yang tidak senang dengan apa yang sudah kita lakukan. Meskipun kebaikan itu kita lakukan terus menerus, tetap ada penilaian orang yang tidak terima terhadap apa yang telah kita lakukan. Namun kita tidak boleh berburuk sangka atas apa yang sudah menimpa kita tersebut. Ini sebagai “ajang” pengampunan dosa kita oleh Allh swt. jika kita mampu bertahan pada kondisi ini.

2. Mempertahankan kesolidan, keutuhan keluarga, adalah sebuah keutamaan. Abu Bakar Ash-Shiddiq ditegur langsung oleh Allah swt. saat beliau mengancam menghentikan bantuannya kepada kerabatnya. Karena boikot ini akan menghancurkan keutuhan keluarga besar Abu Bakar. Padahal Allah swt. sangat memperhatikan silaturrahmi di antara keluarga. Keutuhan keluarga is NOMERO UNO.

3. Jangan mengungkit-ungkit amal ibadah yang telah kita lakukan. Dengan merencanakan pemboikotan itu, artinya Abu Bakar telah mengungkit-ungkit “pemberian”nya kepada orang lain. Bagaimana pun perlakukan orang lain, sekalipun itu musuh, kepada kita maka jangan pernah mengungkit apa yang sudah kita lakukan, korbankan, perjuangkan, dan berikan untuknya. Hal ini akan mengotori “nilai” ibadah yang sudah kita lakukan dan Allah swt. akan menghapusnya, menganggap sia-sia, mencatat tidak ada, dan semuanya.

Ketujuh hal diatas harus selalu kita perhatikan agar amal sholih dan ibadah kita senantiasa berorientasi pada Allah swt. I hope so. Amiin.

Tagged: ,

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: