Menempa Ketabahan Laksana Bunda Hajar


Perempuan itu sesekali terhuyung di atas unta yang ditunggangi suaminya. Sudah berhari-hari mereka menempuh perjalanan dari Baitulmaqdis tanpa tujuan pasti. Peluh yang mengalir ke wajah tak ia pedulikan, asal sang bayi terlindung dari sengatah matahari gurun pasir.

Hajar tak pernah mimpi dipersunting oleh nabiyullah Ibrahim. Kebahagiaan mereka bertambah ketika Hajar mengandung. Namun, setelah Ismail lahir, Hajar mulai merasakan beratnya hidup berdampingan dengan Sarah, istri tertua.

Kepiluan Sarah, yang belum juga memperoleh kuturunan, mendorong dirinya menghadap Ibrahim. Ia meminta agar Hajar dan Ismail ditempatkan jauh dari pandangannya. Allah swt yang maha penyimpan hikmahkemudian mewahyukan kepada Ibrahim untuk membawa Hajar beserta putranya menjauhi Sarah.

Totalitas Ketaatan

Gurun tandus di Mekkah yang mereka lintasi, sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan. Debu dan angin panas menampar tak bersahabat. Di bawah sebatang pohon, unta berhenti. Ibrahim turun dan memapah Hajar yang penat tak terkira. Sekantung kurma dan air yang sedikit tersisa ia serahkan kepada istrinya itu. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Hajar, yang tak ingin mengganggu suaminya dengan mempertanyakan alasan mereka berhenti di bawah pohon itu, tetap tenang sambil membuai Ismail.

Ketika menyadari Ibrahim beranjak bersama untanya, Hajar tersentak. Tidak mungkin suaminya tega meninggalkan ia dan anaknya di tengah gurun yang mencekam ini. Refleks ia meraih jubah Ibrahim.

“Wahai suamiku, hendak kemana engkau?” Hajar tak mampu menyembunyikan kecemasannya. Nabi Ibrahim tercenung sesaat, lalu meneruskan langkahnya tanpa menoleh.

“Wahai suamiku, apakah engakau akan meninggalkan kami di lembah tak berpenghuni ini?” Suara Hajar bergetar. Tak sanggup ia membayangkan hidup berdua dengan bayinya di tempat yang sangat berbahaya itu. Ia pun menghiba dengan tetap mengikuti Ibrahim, satu tangannya menopang Ismail agar tidak jatuh.

Sekali lagi pertanyaan Hajar tidak dijawab oleh Ibrahim. Ia tak kuasa memandang wajah istrinya yang penuh air mata, terlebih Ismail yang tidur nyaman dalam dekapan ibunya.

“Suamiku, apakah ini perintah Allah?” tiba-tiba Hajar bertanya lirih.

Barulah Ibrahim berani melihat istrinya, Ia mengiyakan seraya berkata, “Bertakwalah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya. Dia-lah yang memerintahkan aku membawamu kesini dan Dia-lah yang akan melindungimu di tempat yang sunyi ini. Sungguh kalau bukan perintah dan wahyu-Nya, tidak sekalipun aku tega meninggalkan kamu disini beserta putra yang sangat aku cintai ini. Percayalah wahai Hajar, Allah Yang Maha Kuasa tidak akan menelantarkan kamu berdua tanpa perlindungan-Nya. Rahmat dan barokah-Nya menyertaimu selamanya. Insya Allah.”

Mendengar ucapan Ibrahim, sadarlah Hajar bahwa tak ada yang bisa ia lakukan kecuali taat. “Kalau begitu, kami yakin Allah tidak akan menelantarkan kami,” bisik Hajar pasti. Ketenangan dari lubuk hatinya tumbuh. Dilepasnya Ibrahim dengan penuh linangan air mata.

Ibrahim pun menanggung beban mental. Air matanya mengalir memikirkan apa yang bisa dilakukan Hajar di gurun tak berpenghuni itu. Ia memohon kepada Allah, “Wahai, Tuhanku. Aku telah tempatkan sebagian keturunanku di dekat rumah-Mu (Baitul Haram) di lembah yang sunyi dari tanaman dan manusia agar mereka mendirikan sholat dan beribadah kepada-Mu. Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan yang lezat, mudah-mudahan mereka bersyukur kepda-Mu.”

Keyakinan  Diiringi Ikhtiar

Hajar berusaha meneguhkan hatinya yang kalut. Disusuinya Ismail yang sering menangis karena udara panas. Bekal makanan habis. Hajar bertambah panic ketika air susunya tak lagi keluar. Sementara Ismail tak berhenti menangis.

Ia memejamkan mata, melempar pandangan ke kejauhan yang panas, barangkali ada sesuatu yang mengarahkannya pada air. Lupa akan penatnya, ia letakkan bayinya, lalu berlari ke bukit Shafa. Ia berharap Allah menunjukkan air disana. Namun, harapannya pupus.

Hajar menoleh kea rah bukit Marwah. Gelombang air seolah terlihat olehnya. Tanpa berpikir panjang, ia mempercepat langkah menuju Marwah yang berjarak 420 meter dari Shafa. Lagi-lagi, ia tak memperoleh apapun. Kembalilah ia ke Shafa, lalu ke Marwah, begitu seterusnya.

Meski kelelahan fisik dan mental mendera, ia tetap yakin Allah akan menolongnya. Tapi dimana ia harus mengambil pertolongan itu? Tiba-tiba samar ia mendengar suara. Hajar berbisik pada dirinya sendiri, “Diam!” sambil menajamkan telinganya.

Ternyata benar ia mendengar suara. “Aku telah mendengar apakah disana ada pertolongan?” katanya. Ia melihat sosok malaikat Jibril mengais pasir dengan kakinya (atau dengan sayapnya sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, kemudian memukulkan kakinya di atasnya. Dari situ memancarlah air beningyang membuat Hajar menangis syukur, perjuangannya tak Allah sia-siakan.Ia menciduk air dengan tangannya. Ismail pun minum sepuasnya.

Jibril berkata, “Jangan takut terlantar. Sesungguhnya disinilah Baitullah akan dibangun oleh anak ini (Ismail) bersama ayahnya. Dan sesungguhnya Allah tidaka akan menelantarkan hamba-Nya.”

Allah mengabulkan doa yang dipanjatkan Ibrahim. Wilayah itu akhirnya berkembang dengan pesat. Keturunannya pun begitu dimuliakan.

Berkaca pada Hajar

Dari kisah yang tiada bandingannya itu Allah memberi pelajaran kepada hamba-hamba-Nya melalui seorang manusia biasa. Tak ada manusia yang Allah cintai yang akan diberi cobaan sekedarnya.

Surga Allah memang tidak murah. Maka, bagi kita yang kadang tak sanggup menanggung ujian, berkacalah pada Hajar, perempuan dengan ketabahan diri mumpuni.

  •  Dialah seorang hamba, istri, dan ibunda sejati, yang membuktikan bahwa ketaatan kepada Allah adalah yang utama. Kepatuhan kepada suami dan perjuangannya mempertahankan hidup sang anak, membuatnya layak Allah abadikan dalam ritual sa’I yang abadi sampai akhir zaman.
  • Tawakkal dan keyakinannya yang total akan janji Allah menjadikannya tidak pernah bergantung pada manusia, tidak berputus asa, tidak berkeluh kesah, apalagi menyalahkan siapapun. Skenario Allah ia jalani dengan ikhlas dan sabar.
  • Walau tahu akan ditolong Allah, ia tidak pernah berhenti berikhtiar. Dan ternyata Allah memberi rezeki bukan dari tempat yang diikhtiarkannya melainkan dari arah yang tak disangka-sangka.
  • Manfaat perjuangannya sangat mengispirasi mental jutaan manusia, bahkan jerih payahnya itu telah memberi manfaat bagi umat Islam, yaitu air zam-zam yang barokah.

Diambil sepenuhnya dari Majalah Ummi No. 7/XXII/November 2010/1431 H halaman 14 – 15.

Tagged: , , ,

2 thoughts on “Menempa Ketabahan Laksana Bunda Hajar

  1. Judhianto 22 September 2011 pukul 6:33 PM Reply

    Ibrahim adalah contoh sempurna kepatuhan kepada Allah.
    Ritual Haji & Idul Adha mengabadikan pentingnya Ibrahim dalam Islam.

    Tetapi adakah? tafsir lain tentang kisah Ibrahim? Saya punya tafsir lain tentang itu, silakan berkunjung ke tulisan berikut:
    Islam Anti Nalar. Benarkah?

    Suka

    • Lailatul Qadr 23 September 2011 pukul 3:22 AM

      Terima kasih telah berkunjung.

      Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: