Penta XI SMALAPALA


Bau hujan ini selalu mengingatkan saya pada satu fase hidup saya. Masa SMA. Ya, masa dimana saya mempunyai hobi baru. Sebenarnya, bukan sesuatu yang benar-benar baru buat saya. Karena saya sudah sangat menikmati hobi ini sejak SD. Hobi naik gunung, hiking.

Sejak SD saya aktif di kepramukaan, yang membuat saya sering merasakan nikmatnya berada di alam terbuka. Beralaskan matras, menyatu dengan bumi, dan beratap langit. Menikmati indahnya malam melalui tenda prisma yang saya buat bersama kawan-kawan, dan merasakan hembusan angin yang menyapa pagi, siang, dan malam kami selama beberapa hari. Dan secara kebetulan di SMA, saya langsung jatuh cinta pada Sub Seksi SMALAPALA (SMA 5 Surabaya Pecinta Alam), yang 3 tahun berikutnya akan mengakomodir kegemaran saya berada di alam terbuka dan melakukan aktivitas-aktivitas yang “sedikit ekstrim”.

Masih membekas betul dalam ingatan saya ketika masa PENA V (Pekan Pengenalan Almamater SMA V), saya dikenalkan dengan organisasi ini. Semua alat pendakian, pemanjatan, dan ORAD dipajang disana. Tenda dome, figure of 8, carabiner snap, carabiner screw, kermantel, prusik, jumar, pule, harness, chock stopper, peta topografi, kompas prisma, dan beberapa foto pendakian, itu semua membuat adrenalin saya mendidih. Saya seperti menemukan rumah kedua setelah Pramuka, dengan perabot yang jauh lebih “eksklusif” menurut saya. Alat-alat tersebut bukan sama sekali baru buat saya. Karena di Pramuka pun saya sudah mengenali beberapa alat tersebut. Dan walhasil, resume yang saya buat saat itu yang paling banyak adalah tentang Ekstra Kulikuler SMALAPALA. Sebuah Ekstra Kulikuler yang, bisa jadi, sedikit banyak mempengaruhi sikap saya hari ini.

Bersama 9 orang lainnya, saya akhirnya mengikuti Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) Penta XI. Mereka adalah Muhammad Baiquni –seorang laki-laki bertubuh tegap, besar, dan tinggi, kami memanggilnya dengan nick name “Dede” (1101)–, Rio Aga Pranata –seorang laki-laki pendiam, berambut lurus, tinggi, dan tegap, kami memanggilnya “Papa” (1102)–, Daniel Pradiptya –seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus, Chinese, yang tanggal lahirnya sama persis dengan saya, namun selisih setahun, kami memanggilnya “Bitink” (1103)–, Okky Ade Purisetya ­–seorang laki-laki tinggi, besar, berkulit hitam yang sangat berbeda dengan kembarannya yang memiliki kulit putih bersih, kami memanggilnya “Kluwek” (1104) –, Tommy Ferdinanto –seorang laki-laki, banyak bicaranya, suka mendebat, cukup sportif, dan pribadi yang menyenangkan (1105) –, Hadi Bastian –seorang laki-laki, teman sekelas saya, matanya sipit, tidak terlalu tinggi, kami memanggilnya “Owoz” (1106) –, Rizky Eriandani –seorang perempuan lemah lembut, kalem, berkulit putih, manis, lebih tinggi dari saya, kami memanggilnya “Dhaniq” (1107) –, Saya (1108), Aprilia Ika Tantri –seorang perempuan berhidung bangir, lebih rendah dari saya, rambutnya lurus dan selalu panjang, sangat pendiam, introvert, kami memanggilnya “Coolkazt” (1109) –, dan Maria Emmaculata Wawowalo –seorang perempuan, baik hati, yang jatuh cinta dengan kegiatan kepecintaalaman karena terispirasi dari kakaknya, berkulit sawo matang, suaranya serak-serak basah, kami memanggilnya “Emma” (1110) –.

Sebelum berangkat DIKLAT yang “sesungguhnya”, kami juga harus lulus DIKLAT kelas. DIKLAT kelas ini merupakan pemberian dasar mountaineering, SAR, ORAD, Survival, Climbing, tali temali, dan pengenalan alat. Selain itu juga kami, calon peserta DIKLAT wajib lulus tes kesehatan dan tes fisik. Kami harus sanggup berlari sejauh 10 km tanpa berhenti, naik turun tangga sekolah 20 kali tanpa berhenti, push up, sit up, dan back up 50 kali tanpa berhenti, juga melakukan pull up 5 kali (untuk putri) tanpa berhenti. Yang terakhir ini, saya tak pernah mampu melakukannya, tapi nilai saya untuk selain itu cukup lumayan juga.

Tadinya, banyak teman yang ingin bergabung dengan SMALAPALA. Waktu itu sekitar 24 orang. Singkat kata, kami lah orang-orang yang mampu bertahan dalam derasnya teman-teman yang berguguran. Banyak faktor. Faktor orang tua, faktor pelajaran di sekolah, faktor “ribet”, dan lain-lain.

Sekitar 2 atau 3 minggu sebelum DIKLAT, senior kami, Angkatan X, memanggil kami ke tengah lapangan sekolah pada hari Sabtu pukul 13.00. Sabtu yang sangat panas waktu itu. Kami bersepuluh berbaris rapi, mengenakan scraft putih, di tengah lapangan sekolah. Kontan saja, kami jadi tontonan seisi sekolah. Malu? Tidak. Kami tidak pernah malu dengan apa yang sudah kami pilih waktu itu. Bergabung menjadi keluarga besar SMALAPALA. Hari itu kami dihajar mati-matian oleh senior kami untuk pertama kalinya. Mereka mencaci kami karena tipisnya rasa persaudaraan diantara kami. Mereka memearahi kami atas keegoisan diri kami sendiri. Mereka menghancurkan dinding “keakuan” kami. Mereka bilang, “Kalau kalian adalah satu angkatan, maka jangan ada lagi yang tidak peduli dengan kawannya. Ke depan, yang akan kalian hadapi adalah alam. Alam sangat tidak mudah diprediksi. Jika persaudaraan kalian tipis, kalian bisa mati di gunung atas ego kalian. Kalian itu satu tubuh.” Kata salah seorang senior yang sekarang menjadi PNS di Dirjen Pajak. “Jika tidak sanggup menjadi saudara, SILAHKAN MUNDUR sekarang!” Teriak salah seorang senior perempuan, yang sekarang juga menjadi seorang PNS di Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia dan sekarang sedang bertugas di Pekanbaru.

Satu persatu badan kami di dorong mundur dari barisan. Kami berusaha menahan tubuh kami agar tak terlalu jauh mundur ketika kami didorong, dan kami berusaha kembali membuat sebuah barisan lurus. Entah apa yang teman-teman saya pikirkan, yang saya tahu hanya yang ada dalam pikiran saya, yaitu apapun yang akan terjadi saya akan tetap bertahan untuk SMALAPALA. Saya sudah jatuh cinta dengan hobi saya tersebut jauh sebelum saya mengenal SMALAPALA.

Acara “dibariskan” itu diakhiri dengan sebuah hukuman yang tidak masuk akal. Kami harus melakukan push up sebanyak “120 kali” tanpa henti. Kami juga tidak tahu mengapa kami mau melakukannya. Saya memberi tanda kutip pada kata 120 kali karena saya punya alasan. Sebenarnya itu tidak murni 120 kali. Masing-masing kami hanya melakukan push up sebanyak 30 kali, tapi kami tetap berposisi push up sampai kami semuanya menyelesaikan push up yang ke 120. Caranya seperti ini; setelah kami semua berposisi push up, teman yang paling kanan push up sebanyak 10 kali, kemudian dia berhenti (tetap dalam posisi push up) dan diikuti teman di samping kirinya sebanyak 10 kali, begitu seterusnya, hingga orang ke sepuluh, setelah itu kami push up lagi bersama-sama sebanyak 20 kali. Jadi total masing-masing hanya melakukan 30 kali push up, namun terasa agak berat sebab kami harus bertahan dalam posisi push up sampai 120 hitungan.

Tibalah saat hari H, setelah kami menerima raport semester 1 sehari sebelumnya. Pagi kami sudah berkumpul. Diawali dengan pengecekan barang. Diharapkan semua peserta DIKLAT tidak meninggalkan satu pun barang yang panitia list. Saya lupa beberapa hal, yang saya ingat hanya kami diminta untuk membawa; matras, baju ganti 3 pasang (kami harus membawa dan memakai celana lapangan), kaos kaki, senter + batere dan lampu cadangan, ponco, tali pramuka, jirigen, parang, kompor + paraffin, survival kit (2 bungkus mie, gula, garam, beras ½ kilo), panci nesting, mie 10, benang nylon + jarum kasur, korek api, kresek, jaket, sepatu tentara (panitia tidak memaksa kami memiliki sepatu hiking, karena harganya yang cukup mahal), dan yang terpenting tas carrier 120 L.

Tas carrier yang “tidak layak” akan dibuang oleh senior kami. Benar-benar dibuang dihadapan kami waktu itu. Namun mereka menyediakan gantinya. Dialah si dingin April yang harus merelakan “harga dirinya” karena tasnya dibuang di hadapan kami sebab tidak layaknya tas tersebut. Tas yang layak kami gunakan untuk DIKLAT memang harus memiliki frame. Jika tidak, maka punggung kita akan terasa sangat sakit dan akan “menjadi beban” kawan-kawannya. Hal itu baru saya sadari setelah saya mengikuti DIKLAT tersebut.

Hari itu, kami juga diminta tanda tangan diatas kertas bermaterai bahwa apa pun yang akan terjadi saat DIKLAT, kami tidak akan menuntut pihak SMALAPALA sedikit pun. Kami juga seperti kembali mau melakukannya seperti kerbau dicocok hidungnya. Yang ada di pikiran saya waktu itu, tidak akan terjadi apa-apa pada diri saya dan teman-teman saya, rombongan kami pasti diikuti dokter (salah seorang senior saya sudah lulus menjadi dokter) jadi jika terjadi apa-apa pasti dia tidak akan tinggal diam, dan rombongan kami akan baik-baik saja karena kami sudah melatih fisik kami sebelumnya dan juga rasa persaudaraan kami sudah mulai tumbuh sehingga tidak mungkin egoime itu tumbuh di tengah perjalanan nanti. Saya berusaha berkhusnudzon pada panitia, saya sendiri, dan teman-teman saya.

Singkat kata, ada beberapa hal yang bisa saya petik dalam perjalanan DIKLAT saya tersebut. Bahwa ketika kita berada di alam, dengan tingkat stressing yang cukup tinggi, baik dari alam, dari senior, maupun dari teman-teman seperjuangan, kita aka benar-benar menjadi “DIRI KITA SENDIRI”. Saya salah ketika saya berpikir bahwa ego kita tidak akan muncul saat kami sudah merasa kami seperjuangan. Di alam lah justru hal tersebut terbukti BENAR. Rela meringankan beban saudaranya, tetap tenang dan logis meski perut lapar dan haus, cuaca tidak mendukung, dan mata seakan tak kuat menahan kantuk, dan self controlling yang cukup atas dinamika kelompok yang terjadi yang memang hal tersebut sengaja diciptakan oleh senior kami. Juga kecerdasan memanipulasi otak (atau bahasa halusnya manajemen diri) kita untuk tidak terjebak dalam ketakutan-ketakutan yang akan terjadi. Hal-hal diatas membuat kita tidak melakukan hal-hal bodoh seperti menyakiti diri kita sendiri, menjadi beban teman, dan lain-lain.

Dan apakah saya termasuk orang yang mampu berhasil memanipulasi otak saya? Ya, saya mampu melakukannya (bukan sombong, cuma congkak, hehe). Setelah 3 hari DIKLAT berjalan, saya sering ditunjuk sebagai leader kelompok besar maupun kelompok kecil, karena senior berpikir saat itu saya lah yang masih ON dengan apa yang diperintahkan senior. Dan mengapa saya berhasil melakukannya? Jawabannya hanya satu. Karena saya menganggap ini sebuah KESENANGAN, bukan beban. Saya sangat menikmati DIKLAT saya yang 5 hari. Saya sangat menikmati long march yang kami lakukan sejak berangkat DIKLAT. Saya sangat menikmati membantu Dhaniq meringankan sedikit beban di punggungnya (kami rata-rata membawa beban seberat 10 kilo tiap tas). Saya sangat menikmati makanan yang disuguhkan alam, karena sejak hari kedua kami harus survival, makan makanan yang disediakan alam untuk kita. Waktu itu kami makan hati pisang, tumbuhan pakis, dan bakal daun tumbuhan palem. Saya juga sangat menikmati berjalan diantara hutan bambu, lereng dan jurang, menanjak, licin karena hujan. Bahkan saya sangat menikmati tidur beralaskan matras dalam bivak yang kami buat dengan ponco. Mencium aroma tanah bercampur air dan tanaman liar yang tidak sengaja terinjak oleh badan kami yang berusaha kami rebahkan segenap jiwa. Dan saya menikmati kebersamaan saya dengan teman-teman saya. Saya tidak pernah berpikir untuk menggeser mereka keluar dari perjalanan DIKLAT ini. Yang saya pikirkan adalah berusaha bersamanya, meski saya harus menyeretnya bahkan harus menggendongnya.

Dan yang paling menyenangkan dalam perjalanan itu adalah ketika kami “berbuka puasa” dengan 2 ekor kelinci. Setelah survival dengan tanaman, ceritanya kami melakukan animal survival. Kelinci ini tidak semata kami dapatkan di hutan. Kami mendapatkannya dari senior kami.

10 orang dibagi dalam 2 kelompok. Karena salah satu kelinci berbadan lebih besar, maka kami dibagi dalam 2 kelompok kecil yang tidak sama. 6 dan 4. Saya masuk kedalam kelompok yang 4 orang. Dalam kelompok itu saya sendiri perempuan. Mulailah kami menyembelih kelinci itu. 2 orang teman saya tak sanggup “mbeteti” sang kelinci malang. Maka saya minta mereka mencari daun dan ranting kering untuk bahan bakar kelinci kami. Ya, saya berencana membakarr kelinci tersebut. Setelah kelinci benar-benar mati, mulailah saya (yang sebenarnya tidak berani melakukan ini) menguliti kelinci tersebut. Setelah itu, saya membelah perutnya (saya sering melihat papa saya melakukannya saat Idul Adha, pada seekor kambing yang telah disembelih). Saya ambil semua “jeroan” yang ada didalamnya, dan meminta salah satu teman saya yang lain untuk membersihkan bagian dalam organ tubuh kelinci tersebut. Sebelumnya saya membuang empedu dari hati kelinci tersebut dengan hati-hati. Setelah itu, saya nyalakan api pada ranting-ranting yang telah dikumpulkan 2 orang kawan saya. Mulailah saya membakarnya. Saya beri sedikit garam agar ada rasanya. Semua saya lakukan sendiri. Mulai menguliti, membelah dada, hingga membakarnya. Ketiga orang teman saya sudah tidak dapat diajak berkomunikasi. Yah, betapa dahsyatnya tekanan yang diberikan alam dan tekanan dari senior pada kami. Sehingga pikiran kami blank seperti komputer yang terkena virus.

Ranting-ranting yang dikumpulkan kedua teman saya sebenarnya tidak benar-benar kering, sebab seharian ini hujan mengguyur sepanjang perjalanan kami. Namun dengan sedikit kesabaran, jadi juga api yang saya inginkan cukup untuk membakar kelinci kami. Jeroan yang sudah dicuci pun akhirnya saya bakar. Saya berpikir, tak ada waktu untuk merebusnya. Sebab perlu beberapa menit untuk menunggu air mendidih dan kemudian baru memasukkan jeroan tersebut ke panci. Dan terlalu ribet kalau kami juga harus memasaknya dengan panci. Sebab panci kami kotor karena getah pohon pisang, santapan sarapan yang harus kami makan pagi harinya.

Jadi, tak ada pilihan lain selain semuanya saya bakar, kalau tidak mau disuruh senior makan daging kelinci mentah-mentah. Daging dan jeroannya. Saya tidak berani mencicipi saat saya membakarnya. Saya hanya berusaha menjadikan kelinci ini ada rasanya dan enak untuk dimakan sebagai menu “buka puasa” kami selama 3 hari survival dengan tumbuhan.

Dan, taraaaaaaaaaaaaa… Jadi juga hidangan kelinci bakarnya. Senang melihat hasil yang cukup memuaskan mata. Tidak terlalu gosong, namun juga tidak mentah. Kelompok kami sudah siap untuk berbuka. Tapi, apa yang terjadi adalah diluar dugaan kami. Ternyata kelompok kedua belum berhasil “mematangkan” kelincinya alias belum siap untuk dimakan dalam waktu yang disediakan oleh senior. Dan ini merupakan siksaan bagi kami. Karena kami harus membayarnya dengan push up. Ya, PUSH UP. Setiap kali kami melakukan kesalahan, kami menebusnya dengan push up. Sampai-sampai ketika kami sudah sampai di sekolah pun, hutang push up kami, totalnya mencapai 1260 kali push up. Saya menyumbang 60 nya.

Dan perjalanan DIKLAT kami sampai juga pada hari kelima. Hari dimana sebuah “kesenangan” akan berakhir. Hari dimana kami layak menjadi anggota keluarga besar SMALAPALA. Hari bergantinya scraft putih menjadi scraft biru bertuliskan SMALAPALA Penta XI. Pukul 00.00 hari itu (menurut senior, karena kami tidak diijinkan memakai jam tangan, pen.) kami dibariskan berjajar disamping aliran sungai. Suara gemericik air memecah suasana. Waktu itu, baju kami basah, kaos kaki kami basah, sepatu kami pun basah. Dan bentuk telapak kaki kami sudah berkerut tak karuan (5 hari DIKLAT, hujan terus mengguyur sehingga kaki kami tidak pernah kering). Kami diminta melepaskan carrier yang kami bawa. Dingin menusuk tulang. Satu persatu kami diminta masuk ke dalam sungai dan kemudian melakukan perjalanan menaiki bukit seorang diri tanpa teman seorang pun. Di bukit itu, kami diberi wejangan tentang ke-SMALAPALA-an oleh para senior kami. Para senior angkatan Penta -3 (negatif 3) pun datang memberikan support dalam bentuk wejangan bagi kami, anggota barunya, adik kecilnya. Mereka adalah senior yang usianya 14 tahun lebih tua dari kami, saat itu menghadiri acara puncak DIKLAT Penta kami.

Di situlah letaknya. Di situlah letak kekaguman saya pada SMALAPALA. Suasana kekeluargaan yang cukup kental. Suasana gotong royong yang tidak mengenal batasan usia. Saya pun tidak tahu mengapa kami bersedia melakukan “pengorbanan” ini (waktu itu saya belum mengaji).

Dan adzan Shubuh terdengar dari kejauhan. Dari desa terdekat dari bukit tempat kami dilantik. Beberapa teman melakukan sholat Shubuh berjamaah. Saya tidak ikut karena pada saat DIKLAT, saya sedang mengalami siklus perempuan. Sebuah ketidaknyamanan yang sangat menguntungkan. Setelah sholat Shubuh berjamaah, kami dilantik. Ada janji yang kami ucapkan. Beberapa yang kuingat betul adalah soal keimanan pada Tuhan (Allah), kesetiakawanan, dan mencintai lingkungan alam dan berupaya untuk melestarikannya.

Scraft putih kami diambil, lalu dibakar. Diganti scraft biru. Ada lambang SMALAPALA di tengahnya. Perasaan bangga itu menyeruak dalam dada saya. Dalam keadaan mengginggil karena hawa dingin dan baju, jilbab, celana, serta sepatu yang basah, saya berjanji akan mengingat episode hidup saya ini sampai mati.

Oia, setelah scraft biru ada di leher kami, para senior melakukan push up. Itu tradisinya. Yakni sebagai bentuk syukur kepada Allah, atas keberhasilan kegiatan yang telah diselenggarakan, kami melakukan push up bersama-sama. 20 kali saja cukup. Untuk mengakomodir senior yang sudah lama tidak mencium tanah. (^_^)

Sahabat, ini sebuah mindset berpikir. Jika Anda berpikir bahwa Anda mampu melakukannya, maka Anda pun akan mampu melakukannya. Jika Anda berpikir bahwa apa yang Anda lakukan adalah sebuah kesenangan, maka raga Anda akan ikut senang dalam bekerja seberat apapun ujian melanda Anda. Padahal waktu itu saya belum pernah belajar mengenai Cara Berpikir Positif, tapi saya sudah mengetahui dampak dari berpikir positif itu melalui pengalaman saya diatas. Dalam buku Terapi Berpikir Positif, disampaikan sebuah cerita bahwa ada 3 orang yang dihukum. Mereka masing-masing dimasukkan dalam sebuah ruangan sempit. Sebelum memasuki ruangan tersebut, mereka dibisiki bahwa dalam ruang itu akan dimasukkan sedikit demi sedikit racun, sehingga jika mereka menciumnya dalam waktu beberapa jam saja, mereka akan meninggal dunia. Kemudian mereka masuk ke dalamnya. Besoknya masing-masing ruang dibuka. 2 orang tewas dan 1 orang sekarat. Padahal racun tersebut tidak pernah diberikan sebelumnya. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya kekuatan pikiran. Pikiran dapat membuat Anda mati tercekat seperti cerita yang baru saja saya tuliskan.

***

Sidoarjo

Lupa kapan menuliskannya

 

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: