Seorang Malaikat Bernama Mama


Tiba-tiba aku ingin menuliskan tentang mamaku. Seorang mama yang sangat luar biasa. Tidak pernah sekalipun marah kepadaku. Dengan kesabaran dan ketelatenannya dalam mendidik kami anak-anaknya, juga dalam mendidik siswa-siswinya.

Mama saya seorang PNS guru. Mengajar di sebuah Sekolah Menengah Pertama Negeri di Sidoarjo. Nama mama saya, Misca Muslikah. Cantik kan? Se cantik orangnya. Kulitnya merah, seperti Noni Belanda. Rambutnya pun merah. Sangat penyabar, penyayang, penyantun (bahkan mama saya sudah menjadi donatur sebuah yayasan yatim piatu dari mulai berdiri sampai bulan mama saya meninggal, sekitar 20 tahun tak pernah absen), tidak pernah mengeluh sedikitpun, pendiam (tidak seperti saya yang sangat ekspresif), sopan terhadap siapapun, tidak membedakan orang-orang di sekitarnya. Meski pun mama sering disakiti oleh orang-orang disekitarnya, namun telaga maaf mama selalu terbuka lebar untuk siapapun.

Saya pernah mendapatkan cerita dari bu Dhe saya tentang mama. Mama saya dulu waktu masih gadis dan tinggal di kos-kosan selalu dikerjai temannya. Mama masak tiap pagi, sambil menunggu dingin, mama mandi. Tapi ketika mama selesai mandi masakan yang mama masak sudah ludes dimakan teman-temannya. Mama tidak marah. Mama hanya diam saja. Hal ini tidak terjadi satu atau dua kali. Ini sering terjadi padanya. Bahkan suatu saat ketika pulang sekolah, mama lapar dan ingin makan sisa masakannya tadi pagi, mama harus menahan laparnya karena ternyata sisa masakannya juga ludes dimakan teman-temannya.

Mama tidak pernah sekalipun membentakku. Pun juga tidak pernah memujiku. Bagi mama, sebuah keburukan tidak untuk dieksploitasi berlebihan, begitu juga kegembiraan bukan untuk dirayakan dengan begitu mewahnya. Biarlah semua yang terjadi untuk pembelajaran kami, anak-anaknya, juga kita sebagai sebuah keluarga.

Mama tidak pernah mengeluhkan betapa sakitnya sel kanker kandungan menggerogoti tubuhnya hingga sel itu metastase ke limpa dan pankreasnya. Tidak pernah mengeluhkan sakitnya saat kemoterapi dijalaninya. Rambut rontok, tubuh kurus kering, muntah dan mual yang terus menerus keluar saat kemoterapi dijalaninya. 8 seri kemoterapi dan 12 seri minum obat alkeran. Obat untuk menghancurkan sel kanker dari dalam tubuhnya.

Mama saya juga tidak pernah mengeluh tidak punya uang untuk memberi kepada keluarga. Mama selalu ringan dalam berbagi. Apapun bentuknya. Berapapun jumlahnya. Dan kami, anaknya tidak pernah tahu, apa saja yang sudah mama sumbang selama ini. Baru kami tahu ketika mama meninggal, begitu banyak yayasan yang datang memberi ucapan bela sungkawa.

Mama juga tidak pernah menggunjingkan orang lain. Bahkan ketika tetangga-tetangga memusuhinya, mama tetap berbaik sangka kepada mereka.

Mama saya juga seorang yang kreatif. Memberdayakan tetangga untuk ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Meski pendiam bahkan introvert, namun mama saya sangat sempurna kehidupan sosialnya. Banyak sekali orang yang sangat senang berada di dekatnya. Bahkan ketika mama saya tidak ada mereka selalu menanyakan kemana mama saya pergi.

Suatu hari, seorang ibu renta datang ke rumah sambil menangis sebulan setelah mama saya meninggal. Dia menangis karena tidak tahu kalau mama saya meninggal. Siapakah ibu itu, pikir saya. Ternyata dia adalah pengemis tua di depan sekolah mama. Mama tidak pernah melewatkan satu haripun untuk memberinya sekeping uang. Kecuali jika mama tidak masuk sekolah. Begitu pun guru-guru yang lain merasa sangat kehilangan, sebab tidak ada lagi permen diatas meja mereka setiap pagi yang diberikan oleh mama saya.

Itulah mama saya. Mama yang sangat luar biasa. Malaikat di rumah kami. Matahari yang tak pernah redup sinarnya bagi kami. Meski mama meninggal di usianya yang baru 52 tahun (4 tahun yang lalu), tapi buat kami mama selalu hidup diantara hiruk pikuk jaman kami.

Bisa, tidak ya… Saya seperti mama saya…??? Sebuah pertanyaan besar yang selalu menghinggapi saya, ketika saya mulai tidak ikhlas menjalani kehidupan saya, yang baru 27 tahun ini.

***

Sidoarjo, Awal Januari 2011

lantai 3

SDIT Insan Kamil

13.11

(ditemani bangu kosong saat ustadz/ustzdah rehat dari pelatihan)

Tagged:

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: