Berkah Ukhuwah [Eps. Pak Agus]


Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menyimpan sebuah nama yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan saya. Terutama nama itu menjadi sangat berbekas dengan tagline Ukhuwah Islamiyah. Ceritanya begini :

Waktu itu adalah awal bulan Syawal 1427 H atau akhir Oktober 2006, saat masa-masa mama saya mencapai titik kritis. Badannya sangat lemah dan keringat dingin terus mengucur. Sedangkan tubuhnya tak lagi mampu mencerna makanan yang dikonsumsi dengan baik, sehingga mama kesulitan untuk Buang Air Besar.

Tubuhnya memucat. Sel kanker telah menggerogoti dan memakan tidak hanya bermetastase ke beberapa organ tubuh mama tapi juga “memakan” sel darah merahΒ  mama dengan cepat. Sehingga lagi-lagi Hb mama drop.

Papa kebingunan dengan keadaan ini. Mama tak mau dibawa ke RS lagi. Sedangkan papa ingin “memberjuangkan” mama hingga titik darah penghabisan. Papa berusaha merayu mama untuk mau dibawa ke RS. Mama kan punya ASKES. Sehingga tak perlu mengeluarkan banyak dana untuk mengamarkannya di RS pemerintah.

Mama bersikukuh tetap berada di rumah apapun kondisinya. Saya sebagai anaknya tak mampu berkata lagi. Saya sangat tahu keinginan mama dan kegigihan papa. Saya tak menyalahkan keduanya. Sampai akhirnya suami saya memberikan sebuah gambaran pada papa tentang arti sebuah perjuangan. Akhirnya, papalah yang “menang”. Kami meminta Om saya untuk ikut-ikutan memberi pengertian kepada mama agar mau dibawa ke RS. Om pun mengamini alasan-alasan yang kami sampaikan kepadanya. Dan Om bersedia untuk ikut membujuk mama.

Saya tidak tahu bagaimana cara Om dan Tante meyakinkan mama untuk mau berangkat ke RS. Yang pasti, siang itu mama kami bawa kembali ke RS setelah hanya beberapa hari di rumah. Suasana waktu itu masih Lebaran. RS pun sepi orang.

Hb mama ketika di cek, hanya tinggal 6. Padahal beberapa hari yang lalu ketika keluar dari RS yang sama, Hb mama masih 11. Ya Allah, Ya Rabb. Begitu cepat Hb mama turun.

Walhasil kami harus ke bank darah di dalam RS untuk “membeli” darah. Ternyata bank darah sedang dalam keadaan kosong. Semua stok darah habis. Hanya ada beberapa kantong saja, dan itu tidak cocok dengan golongan darah mama saya yang B. Dan memang begitulah siklus bank darah. Setiap Lebaran, stoknya selalu habis. Karena banyak yang berpuasa sebulan sebelumnya sehingga jarang ada yang donor pada bulan Ramadhan itu.

Lagi-lagi kami kebingungan. Papa saya O. Saya sendiri B, tapi saya tak bisa donor sedang hamil muda. Om saya, yang bergolongan darah B, sedang sakit. Jadilah kantong pertama untuk mama saya adalah darah dari suami saya yang kebetulan juga bergolongan darah B, darahnya dalam keadaan baik, dan dia dia sedang dalam kondisi fit. Alhamdulillah. Kami punya beberapa jam untuk mencari pendonor lain.

Saya yang saat itu sudah 6 tahun “meninggalkan” Sidoarjo, juga tidak tahu harus mencari kemana. Akhirnya, saya putuskan untuk menghubungi 3 teman saya. 1 orang teman SMP saya, 1 orang teman SMALAPALA saya di Surabaya, dan 1 orang akhwat adik kelas saya yang asli Surabaya (sebentar lagi dia akan menikah) yang sedang pulkam. Saya pikir Sidoarjo-Surabaya tidak terlalu jauh. Hanya 22 Km saja. Dan teman-teman SMALAPALA pasti segera menyebarkan informasi ini kepala bala kurawanya yang jumlahnya sudah mencapai ratusan waktu itu.

Dan benar saja, 2 orang teman hadir ke RS dengan terlebih dahulu mengirim pesan kepada saya. Dua-duanya teman SMP saya. Ya, hitung-hitung silaturrahmi sekaligus reunian. Mereka mengenal mama saya, kok. Kan mereka berdua sering main ke rumah saya waktu SMP dulu.

Setelah mereka masuk ke ruangan untuk pengambilan darah, tiba-tiba ada seorang mengirim pesan kepada saya, kira-kira begini bunyinya, “Saya Agus. Saat ini sudah berada di RSUD Sidoarjo. Saya akan donor untuk ibu Anda. Boleh saya tahu namanya?”

Pesan itu saya balas, “Saya sekarang berada di depan bank darah RSUD Sidoarjo, Akhii. Langsung saja menuju kesini.”

Saya lupa dimana suami saya waktu itu. Yang saya ingat, saya sendirian menemui “tamu-tamu” istimewa saya yang ingin menyumbangkan darahnya untuk mama.

Beberapa menit kemudian hadir sesosok pria berusia sekira 30-35 tahunan. Bertubuh tambun. Tingginya sekitar 165 – 170 an. Rambutnya tebal ikal. Dengan memakai jaket dan membawa tas kerja. Dahinya menghitam. Celananya ngatung tepat sebaris dengan mata kaki. Detil sekali saya memperhatikannya? Ya, sebab saya merasa tak pernah berjumpa dengannya sebelum sore itu. Jadi saya memperhatikan setiap detil yang bisa tertangkap oleh mata telanjang saya.

“Assalamu’alaikum. Pak Agus?” tembak saya langsung ketika beliau mendekati bank darah. Sambil menangkupkan kedua tangan di dada tanda memberi salam.

“Wa’alaikumsalam. Betul, mbak,” jawabnya.

“Sebentar ya, Pak. Di dalam masih ada 2 orang teman saya. kita tunggu di luar saja,” ujar saya tanpa berbasa basi. Baru setelah duduk santai, saya mengucapkan terima kasih kepada beliau. “Terima kasih, Pak sudah mau hadir untuk membantu kami.”

“Ibunya sakit apa?”

“Kanker kandungan. Tapi sudah metastase ke limpa dan hatinya, Pak,” jawab saya.

“Ooo..”

“Bapak dari mana?” tanya saya memecah keheningan.

“Dari Surabaya.”

“Wah, maaf nih, Pak. Sudah jauh-jauh mau datang ke Sidoarjo.”

“Tak apa. Kebetulan saya sekalian pulang. Rumah saya disini juga.”

“Di Surabaya, kerja Pak?” pertanyaan bodoh dari orang yang sedang gundah dengan kondisi mamanya.

“Iya.”

“Di Rumah Sakit juga, ya Pak?” tanya saya sambil melirik ke arah jaket yang dikenakannya yang bertuliskan RSU Dr. Soetomo.

Beliau mengangguk.

“Dokter?”

Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Dia sibuk dengan HP yang ada di tangan kanannya. Entah dia tak mau menjawab pertanyaan saya, atau dia tak mendengarnya. Saya pun tak hendak mengulangi apa yang telah keluar dari mulut saya. Toh, itu juga hanya sekedar basa basi.

“Bapak tahu dari siapa tentang berita ini?” tanya saya beberapa menit kemudian. Lagi-lagi untuk memecah keheningan.

“Saya tahu dari teman saya. Teman dari temannya teman mbak, Favian. Kenal dengan dia bukan?” tanyanya.

“Favian?”

“Iya. Katanya satu kampus dengan dia di Bandung. Mbak kuliah di Bandung juga bukan?”

“Iya, betul. Tapi saya tak kenal Favian,” jawab saya.

“Ya. Tak mengapa. Meskipun mbak tak kenal dengan Favian atau saya, yang pasti saya ingin donor. Sudah waktunya saya donor memang,” katanya menjelaskan kepada saya.

“Subhanallah, Pendonor tetap ya, Pak?” tanya saya.

“Insya Allah.”

“Sejak kapan?” tanya saya lagi.

“Sejak SMA kelas 3,” saya bisa membayangkan sudah berapa lama beliau berkecimpung di dunia donor darah. Sudah berapa liter darahnya “disumbangkan” untuk orang lain. Dan sudah berapa banyak nyawa “terselamatkan” dengan sumbangsihnya itu. Kalau usianya 30 saja, berarti sudah 13 tahun dia menjadi aktivis donor darah. Jika jarak antar setiap donor darah adalah 3 bulan, berarti dalam setahun dia telah memberikan 4 kantung darahnya untuk orang lain. Kalau dikalikan 12, berarti sudah 52 kantung. Subhanallah.

Menghitung itu, saya bersyukur. Alhamdulillah ada orang yang memiliki kepekaan sosial yang cukup tinggi hari ini. Sekaligus berdo’a kepada Allah agar Bapak Agus ini senantiasa dimudahkan segala urusannya di dunia dan di akhirat nanti.

Tak lama, kedua teman saya keluar dari ruangan pengambilan darah. Saya bilang kepada petugas bahwa ada yang akan donor lagi untuk mama saya. Mama Misca Muslikah. Si petugas menerima Pak Agus dengan baik.

Setelah dia mendonorkan darahnya, dia meminta kepada saya untuk diantarkan ke ruangan tempat mama saya dirawat. Sesampainya di kamar mama, waktu itu mama sedang tidur, dia berkomat-kamit memanjatkan do’aΒ  agar mama saya diberikan jalan yang terbaik. (Mungkin itu do’anya. Saya tak menanyakan. Berkhusnudzon saja)

Setelah itu, dia pamit kepada kami. Saya dan papa. Saya bilang, saya tak mengantarnya ke gerbang RS. Saya hanya akan mengantarnya sampai ke depan pintu kamar saja. Ini juga sekedar berbasa basi lagi, tentunya dia akan paham dengan kondisi kami. Sebelum punggungnya perlahan meninggalkan kamar tempat mama dirawat, saya kembali menyampaikan terima kasih kepadanya diiringi do’a untuknya semoga Allah melapangkan segala urusannya.

Hasrat saya untuk mengetahui siapa dia, mengantarkan saya mengetahui nomor ponsel milik Favian. Dan ketika saya konfirmasi, Favian punΒ  tak mengenal siapa Pak Agus itu.

Dan disitulah letak indahnya ukhuwah Islamiyah yang benar-benar dapat saya rasakan. Saya tak mengenalnya secara fisik, tak pernah bertemu sebelumnya, tak pernah tahu siapa namanya, dan seketika itu juga saya kehilangan kontak dengannya. Tapi dia datang ke RS tempat mama saya dirawat untuk memberikan sedikit yang bisa ia berikan.

Jazakumullahu khoiran jaza, Pak Agus. Siapapun anda, anda telah membantu meringankan kami. Juga kepada rekan-rekan yang telah mendonorkan darahnya untuk almarhumah mama saya tercinta. Meski darah antum belum sampai ke dalam tubuh mama saya, insya Allah niat antum telah dicatat oleh Allah.

Dan tepat ketika kantong darah keempat habis, darah milik Pak Agus tadi (insya Allah) mama saya dijemput oleh malaikat Izrail.

 

***

Sidoarjo, 19 April 2011

03:17 PM

Untuknya yang disana, terima kasih telah banyak menginspirasi saya.

 

NB : Saya tak telalu kaget dengan beberapa kawan saya yang ikut mendonorkan darah. Sebab secara fisik, kita pernah bertemu sebelumnya. Tapi untuk Pak Agus ini, sungguh sesuatu yang benar-benar baru dalam kehidupan saya waktu itu. Saya tiba-tiba teringat padanya ketika 2 hari yang lalu di akun FB saya ada yang meng-add saya dengan nama Agus. Saya pikir saya akan bertemu kembali dengannya. Tapi setelah saya memperhatikan dengan seksama beberapa fotonya, ternyata bukan Agus yang pernah saya temui 5 tahun yang lalu.

Dan ketika saya ceritakan ini kepada salah seorang teman saya, dia meminta saya menuliskan tentang Pak Agus ini.

Oia, kami berhasil mendapatkan 12 kantong darah B. 8 kantong sisanya, kami serahkan pada bank darah untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya. 8 kantong itu 7 dari keluarga besar SMALAPALA dan 1 dari masnya teman SMP saya.

Terima kasih Andy Setyobudi dan temannya, Widyana Anjar dan kakaknya, Mas Arif, Om Blacky, Cak Pay, Pak Cib, Pak Agus, Mas Icha, dan 2 orang adik kelas di SMA 5 Surabaya yang saya tak sempat menanyakan namanya, atas sumbangan darah dan empati yang telah diberikan kepada keluarga kami.

Tagged: , , , , , , , , , ,

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan β„’

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilΓ©t/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: