Buaya Itu Bukan Reptilia


Ini sebenarnya adalah percakapan saya dengan anak saya Fauzan, menjelang tidur tadi malam. Dengan logatnya yang masih cadel itu, dia meminta saya untuk bercerita. Seperti biasanya. Tapi kemarin, saya mencoba memintanya untuk beralih peran. Dia menggantikan saya untuk bercerita menjelang tidur. Saya berperan sebagai dia. Alhamdulillah, dia menyanggupi peran ini.

Saya pura-pura akan tidur saat dia mulai “mendongeng”. Beginilah kalimat lucu yang keluar dari mulut mungilnya. “Ummi, Mas Fauzan akan cerita. Pada suatu hari, ada ikan hiu. Ikan hiu itu adalah hewan mamalia. Seperti jerapah, gajah, sapi, kambing. Kucing juga mamalia. Anjing juga mamalia. Kelinci juga mamalia,” begitu dia menjelaskan. Tanpa jeda. Lancar sekali.

Saya ingin menggali lebih dalam tentang ini. “Kalau harimau bagaimana, Mas?” tanya saya.

“Mmmm… Harimau, ya Mi?” tanyanya untuk memastikan.

Saya tahu dia sedang berfikir. Mencari jawaban dari dalam otaknya. Menyambung-nyambungkan neuron untuk mendapatkan informasi valid, menurutnya. Menurut usianya. “Harimau itu, termasuk hewan mamalia juga, Mi. Tapi dia termasuk hewan yang ganas.” jawabnya kemudian dengan menebalkan bunyi huruf R.

“Betul. Hebat… Luar biasa jawaban Mas Fauzan. Lalu, mengapa Mas Fauzan menyebutnya hewan ganas?” tanya saya semakin detail. Saya hanya ingin mengetahui alasannya saja.

“Karena dia memakan hewan lain. Dia juga punya gigi taring, Mi,” jelasnya. Saya melihat dia mengedip-kedipkan matanya. Berusaha mengumpulkan informasi yang tercecer. Mulutnya tidak berhenti berkomat-kamit ingin mengatakan sesuatu, tapi belum tahu kalimat apa yang tepat untuk mengungkapkan isi otaknya.

“Benar, sekali. Lalu kalau ular bagaimana?” tanya saya berikutnya sambil menahan kantuk yang mulai menyerang.  Harapanku, dia akan menjawab, ‘ular itu juga hewan yang ganas’.

“Ya, iya. Ular itu mamalia,” jawabnya. Diluar dugaan saya. Dia menyambung informasi dengan mengembalikan pada topik pembicaraan kita di awal tadi. Meski jawabannya tidak tepat.

Saya tersenyum. Kemudian saya mulai memberi informasi lain padanya. “Mas Fauzan, ular itu bukan termasuk mamalia. Ular itu termasuk reptilia.”

“Reptilia?”

“Iya, reptilia.” Jawab saya. “Banyak hewan yang termasuk ke dalam golongan ini, Mas,” saya mencoba menjelaskan semampu saya dengan bahasa yang mudah dia pahami.

“Golongan?” tanyanya bingung.

Saya tidak memfasilitasi kebingungannya tentang ‘golongan’ itu. Saya biarkan dia terbengong-bengong. Sebab, belum saatnya saya memberikan pemahaman tentang klasifikasi hewan kepadanya. “Hewan yang termasuk golongan reptilia itu adalah ular, cicak, tokek, iguana, komodo,” lanjut saya kemudian. Saya ingin menyampaikan contohnya dulu. Sebab, anak-anak seusia dia butuh contoh yang nyata.

“Tokek itu yang bunyinya, tekeeeek… tekeeeek… Itu ya, Mi?” tanyanya sembari menirukan suara tokek. Dia sebenarnya sangat takut dengan suara hewan ini. Namun informasi ‘baru’ dari saya tadi, seakan menghapus rasa takutnya.

“Iya, betul Mas… Nah, kalau buaya bagaimana?” saya mencoba mengetesnya kali ini. Apakah dia paham dengan penjelasan singkat mengenai reptilia tadi.

Dia berujar, sambil mikir, “Yaaaaa… Ya Iya… Buaya itu bukan termasuk reptilia.”

“Bagaimana, Mas? Tolong diulangi!” pinta saya spontan.

“Yaaaaa… Ya Iya… Buaya itu lho, Mi… Bukan termasuk reptilia,” jawabnya sama dengan kalimat sebelumnya. Hanya saja kali ini ada tambahan penekanan pada subyek kalimatnya, buaya. Dia merasa sangat yakin jika buaya itu bukanlah reptilia.

“Lalu, buaya itu termasuk apa?” tanya saya berikutnya sambil meguap. Memastikan apakah ada konsep yang salah.

“Buaya itu termasuk hewan yang ganas, Mi. Mulutnya lebar. Giginya tajam-tajam. Ya kan, Mi?” jelasnya diakhiri dengan kalimat tanya yang lebih berkesan ‘Ummi itu tidak tahu jika buaya itu bukan reptilia.’

“Buaya itu suka memangsa hewan lain. Sama seperti harimau, Mi. Berbeda dengan gajah dan jerapah yang termasuk mamalia,” imbuhnya.

Saya tersenyum mendengar penjelasannya. Sayang, hari sudah larut malam. Saatnya untuk tidur. Kalau saja waktu itu masih sore, saya akan meladeninya sampai dia paham. Seperti saat saya menjelaskan tentang Energi kepadanya beberapa bulan yang lalu.

Anak saya, Fauzan Azhima Abdurrahman. 17 Maret 2011 nanti genap berusia 4 tahun. Suatu hari nanti, ketika dia bertanya kembali tentang Mamalia dan Reptilia, saya akan berikan penjelasan yang bisa diterima otaknya yang luar biasa itu. Dan tentu saya akan menjelaskan padanya, bahwa Buaya itu termasuk reptilia.

Oia, satu hal lagi. Dia cadel bukan karena belum bisa membunyikan huruf R, tapi cadelnya karena dia gagap. Banyak yang ingin diceritakan, namun kemampuan bahasanya masih sangat sederhana.

***

Sidoarjo, 08 Pebruari 2011

04:34 PM

Ditemani jingga di langit InKam dan si jingga di parkiran menunggu berkelana bersama saya

Tagged: , , , , , ,

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: