Jika Cinta Menjadi Gila – 2


“Tunggu, tunggu, Ri… 5 tahun yang lalu? Perasaan, baru 6 bulan kemarin kamu bilang kalau kamu bangga padanya. Bangga pada Aryo suamimu. Saat itu kamu akan ke Jakarta untuk mempresentasikan hasil karyamu, bukan?” tanyaku padanya, mengingatkan kembali apa yang dia sampaikan barusan. Sebuah pertentangan antara fakta 6 bulan lalu dengan apa yang diungkapnya barusan.

“Ya……. Tetap saja….. Bangga itu dulu, Shof.” jawabnya kembali mengambang.

“Dulu??? Aku nggak ngerti omonganmu,” ucapku sejurus kemudian sambil menggelengkan kepala. “Katamu, kamu nggak bahagia sejak 5 tahun yang lalu. Padahal kamu mengatakan bahwa kamu bangga padanya, 6 bulan yang lalu. 6 bulan yang lalu, Ri,” aku mengulang kalimat 6 bulan yang lalu sampai 2 kali. Memberi penekanan pada kali keduanya. “Kalau kamu bangga terhadapnya, artinya kamu bahagia berada di samipingnya,” lanjutku kemudian.

“Ah… Ya nggak gitu juga kali, Shof,” sanggahnya. “Bangga itu tidak identik dengan bahagia. Bangga itu tidak sejajar dengan cinta.”

Aku terdiam sejenak. Mencoba mencerna apa yang baru saja terlontar dari dalam mulutnya. “Lha, terus… Apa maksud banggamu waktu itu, Ri?”

Dia diam. Mungkin juga sama seperti aku. Sedang mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan yang baru terlontar dari mulutku. “Sudahlah Shofia. Jangan kamu ungkit masa lalu itu. Sangat menyakitkan bagiku, Shof,” ujarnya kemudian.

“Bukan… Bukan itu maksudku, Ri. Aku hanya ingin pernikahan sahabatku tidak hancur di tengah jalan,” aku mengatakannya dengan bersungguh-sungguh.

Aku teringat peristiwa waktu kami kelas 2 SMA dulu. Dia menelepon ke rumah, menanyakan kapan aku pulang. Saat SMA, aku dan Eri –Quenery, sahabatku ini– terpisah sekolah. Dia tetap bersekolah di kota tempat tinggal kami, sedangkan aku melancong ke luar kota dan terpaksa ngekos di kota itu untuk menghemat tenaga. Waktu itu papa dan mama segera menelepon telepon selulerku. Mereka bilang Eri meneleponku dengan nada cemas dan bertanya kapan aku akan pulang. Aku langsung berpikir apa yang terjadi padanya? Apakah orang tuanya akhirnya jadi bercerai?

Segera setelah itu, karena hari masih sore, aku mengemasi barangku. Kubawa seragam untuk besok, buku pelajaran sekolah, dan sepatu. Aku menelepon rumahnya dan mengatakan aku pulang sekarang. Kita janjian ketemu di kedai es krim yang tak jauh dari rumahnya 1 jam berikutnya. Dan benar saja, 1 jam kemudian kami bertemu di kedai itu. Disanalah tangisnya pecah. Dia kecewa dengan keputusan orang tuanya yang memilih mengakhiri pernikahan mereka. Dia menanyakan padaku, apa yang harus dia lakukan. Sebentar lagi kelas 3, harus ujian. Dia tidak ingin masalah orang tuanya ini mengganggu belajarnya.

Setelah tumpah semua uneg-unegnya sambil berusaha terus menenangkannya, aku berkata “Yang sabar, ya Ri. Semua pasti ada hikmahnya.”

Dia kembali menangis di bahuku, sampai saat itu tercetus ucapan dari mulutnya, “Aku berjanji tak akan menyakiti anak-anakku nanti dengan sebuah kata, cerai. Aku tak ingin membuat anak-anakku kecewa seperti aku kecewa hari ini. Perceraian ini sangat menyakitkan buatku. Tak adakah cara lain selain bercerai?”

Saat mengucapkan kalimat terakhirnya, matanya menatap kosong bangku dihadapan kami. Matanya berkaca-kaca seperti hendak tumpah lagi air yang menggenang di pelupuklnya. Hidung dan lingkaran matanya memerah karena tangis yang pecah sebelumnya. Bahkan sebelum kami bertemu di kedai es krim ini.

Aku tak menjawab. Waktu itu aku masih bau kencur untuk mengomentari semua yang dia rasakan. Aku hanya diam saja sambil merengkuhnya. Kami membiarkan Macedonia yang telah terhidangkan di atas meja lumer mencair tak tersentuh tangan kami. Kami hanya butuh tempat bicara yang nyaman. Dan saat itu, tempat yang nyaman adalah kedai es krim.

“Ri…” panggilku.

“Ya…”

“Masih ingat janji yang kau ucapkan 10 tahun yang lalu di Dolomonti?” Aku berusaha megingatkan peristiwa di kedai es krim itu.

“Yang mana?”

Ah… Ternyata dia melupakannya. Padahal aku mengingat peristiwa itu sebagai peristiwa bersejarah dalam persahabatan kami. Karena aku mengorbankan waktu dan tenagaku untuk pulang ke rumah hanya sekadar ingin menemuinya yang sedang gundah itu.

“Saat papa dan mamamu becerai,” tembakku langsung.

Dia sedikit kaget degan menyentakkan tubuhnya sedikit ke belakang. “O… Itu… Kenapa memang?” tanyanya.

“Hmmmmmmmmmmmffffff…” aku menghela nafas. “Sekarang kau bertanya kenapa? Bisa-bisanya Ri, kau melupakan janji yang sudah kau buat sendiri,” ujarku setelahnya.

 

***

To be continued

Tagged: , ,

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan β„’

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilΓ©t/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: