Kelahiran Anak Pertama – 1


Hari ini, 4 tahun yang lalu….

Hari ini Sabtu, pukul 04.30 saya bangun tidur dan langsung mandi di kamar mandi Rumah

Sakit. Setelahnya, saya segera melaksanakan sholat Shubuh. Hari ini saya akan menjalani operasi cesar anak saya yang pertama setelah ditunggu beberapa minggu tak ada tanda-tanda dia akan segera keluar. Kepalanya belum masuk panggul. Diindikasi bayi besar -lebih dari 4 kg- karena hasil USG ukuran lingkar kepalanya besar. Waktu itu saya bingung, mengapa bisa besar. Kenaikan berat badan saya tidak terlalu signifikan. Sampai akan melahirkan, saya hanya naik sekitar 13 kg dari sebelum hamil. Saya pun tidak menjadi gendut. Hanya perut saja yang semakin membuncit.

Untuk masa hamil, akan saya tulis di lain waktu.

Dua hari sebelumnya, hari Kamis malam, saya dan suami -yang baru datang sore harinya- berkonsultasi ke dokter spesialis kandungan. Dengan berbagai pertimbangan, kami memilih operasi.

Esok siangnya, hari Jum’at, setelah sholat Jum’at saya didaftarkan masuk ke UGD. Namanya juga operasi yang direncanakan, jadi setelah daftar di UGD, saya keluar ruangan jalan-jalan ke mall. Saya tiba di RS saat akan Maghrib. Dan perawat meminta saya untuk mulai berpuasa. Padahal tidak disuruh pun saya sudah melakukannya. Saya terakhir makan nasi, itupun hanya 5 sendok makan, hari Jum’at pagi. Saya tidak merasa lapar sejak sehari sebelumnya.

Kembali ke laptop… Eh, ke fokus semula. Operasi cesar. Setelah mandi, dan bebenah diri, saya didatangi 2 orang perawat. Berdua mereka membawa nampan berisi seperangkat peralatan. “Ibu, ibu akan dikuras isi perutnya. Jadi, jangan ditahan ya. Jika nanti ibu akan BAB terus-terusan, itu yang harus dilakukan” kata perawat itu kepada saya.

“Ya, suster. Saya tahu,” jawab saya.

“Anak pertama, ya Bu?” tanyanya sambil “merawat” saya. Saya jawab dengan anggukan kepala. Mereka mulai memasang selang infus, juga memasukkan obat untuk membuat saya mengeluarkan semua isi perut saya.

Saat itu saya hanya didampingi suami saya. Kami berangkat ke RS hanya berdua saja. Tidak ada yang tahu kecuali papa saya. Mertua pun tidak kami beri tahu. Tapi ketika 2 orang perawat itu masuk, saya minta dia untuk keluar ruangan. Ini adalah urusan perempuan.

Rasa mulas ketika diberi obat itu ternyata tidak seperti dugaan saya. Biasa saja. Atau karena saking cueknya saya, sampai saya tak mau melebih-lebihkan rasa mulas itu? Atau karena memang tidak banyak isi dalam perut saya? Saya tidak tahu.

Maka, pukul 08.30 saya digeledek masuk ruang operasi. Saya diminta mengganti pakaian saya dengan baju operasi. Di ruang ganti itu saya sendiri. Tidak ada perawat. Saya sengaja memintanya. Saya bisa ganti baju sendiri tanpa bantuan. Saya juga minta izin tetap menggunakan jilbab saya.

Ruangan operasi itu putih semua. Saya diberi selang-selang di tubuh saya.

Pukul 09.15, dokter anastesi memasuki ruangan. “Jangan bergerak, ya Bu. Kami akan menyuntikkan anastesi. Agak sakit memang. Kami akan menekuk punggung ibu,” jelasnya. Kemudian 2 asisten anastesi memberi pengarahan pada saya untuk memiringkan badan ke kanan, sambil menekukkan kaki dan punggung ke arah dada, istilah jawanya melungker.

Beberapa saat kemudian, anastesi dimasukkan. Sakit? Iya. Saya sampai berteriak, “Subhanallah…”

“Sudah bu, kembali ke posisi semula. Lurus ya,” kata perawat yang lain. “Jangan tegang, bu. Santai saja,” lanjutnya.

Kemudian, saya diberi penutup dada. Besi berbentuk seperti gawang, dan ditutup dengan kain hijau. Tak lama setelahnya, bagian pinggul kebawah mati rasa. Perlahan anastesi itu menjalar ke lutut, ke kaki, hingga ujung jari. Waktu itu saya berusaha menggerakkan ujung jempol kaki saya, tapi ternyata tak berhasil. “O… Ini yang namanya, mati rasa itu,” pikir saya. Tapi bagian dada keatas, sadar. Sesadar sadarnya. Sehingga saya bisa merekam semua kejadian sebelum dan saat operasi berlangsung.

Saya pun masih mengingat percakapan dokter spesialis kandungan dengan perawat yang ada di sana. Dalam ruang itu mungkin ada 5 atau 7 orang. “Pagi, dok…” sapa salah satu diantara mereka.

“Pagi,” jawab sang dokter ramah.

“Wah, sepatu baru niy,” kotan saya menengok ke arah sumber suara yang ada di sebelah kiri ranjang operasi. Itu adalah canda perawat yang lain yang sedang menggoda dokter. Saat itu sang dokter mengenakan sepatu boots karet tinggi berwarna hijau kehitaman dan alasnya kuning.

“Kok, tahu?” timpal si dokter.

“Tau lah, dok. Itu masih ada harganya,”

Semua yang ada di ruang itu ikut tertawa. Saya pun ikut tertawa mendengarnya. Sang dokter lupa membuang harga yang tertulis di sepatu itu.

“Hahahaha… Iya. Sengaja saya tak melepasnya. Biar kalian semua tahu kalau ini sepatu baru saya,” katanya berkelakar. Diikuti tawa semua perawat. Setelah berkelakar, dia mengenakan handscoon -sarung tangan yang terbuat dari karet- sambil menghampiri saya. Sebuah masker sudah melingkar di lehernya.

“Assalamu’alaikum, dok,” sapa saya. Saya sudah mengenalnya dengan baik. Dia dokter kandungan yang selama ini merekam jejak kehamilan saya yang pertama itu.

“Wa’alaikumsalam. Sudah siap, mbak? Tidak usah tegang, ya. Santai saja.”

Saya tersenyum mendengar pernyataan dokter yang bermaksud menghibur saya itu.

Tak lama, sepertinya semua perawat da dokter sudah mengelilingi saya. Lampu operasi dinyalakan. Dan kemudian, ada suara “Bismillahirrohmaanirrohim..”

Terdengar bunyi besi bertemu besi. Klontang. Klontang. Juga bunyi kres kres, suara kulit digunting. Beberapa saat kemudian, “Dorong yang kuat… Dorong yang kuat…” Dua orang menghampiri bagian dada saya. Beberapa kali mendorong, rupanya tak membuahkan hasil. Sehingga saya mendengar suara lagi, “Saya tak kuat, dok. Ganti yang dia saja yang mendorong.”

Sekarang, orang yang berada di bagian dada kiri saya berganti dengan yang lain. “Siap?”

“Siap, dok.”

“Ok. Dorong yang kuat… Dorong lagi… ” dan… berhasil.

Saya tidak tahu apa yang tengah terjadi di bawah sana. Tapi terdengar desahan, “Alhamdulillah.”

Saya pun mengucapkan hamdalah. Rupanya si jabang bayi sudah keluar. Saya melihat sekeliling saya, saya melihat jam. Pukul 09.35. Lalu saya melihat sekeliling saya. Saya melihat monitor yang ada disamping, denyut jantung saya meningkat. Tekanan darah juga meninggi. Sampai terdengar bunyi cukup keras. Tiiit… Tiiit… Tapi, saya tidak merasakan apa-apa. Biasa saja.

Kemudian saya ditunjukkan seorang bayi. “Ibu, ini putranya. Laki-laki, ya? Selamat,” perawat menggendong bayi itu dan menunjukkan kelaminnya kepada saya beberapa saat.

“Iya, terima kasih, suster. Alhamdulillah. Tapi kok, tidak nangis?” tanya saya polos.

“Nanti juga nangis, Bu. Ibu tenang saja. Sekarang ibu tidur, ya,” seseorang mendekati infus saya, dan memasukkan sesuatu. Sedetik kemudian saya tertidur. Tidak tahu apa yang terjadi kemudian.

Pukul 11.10, saya terbangun. Saya melihat sekeliling. Ternyata saya sudah dipindahkan dari ruang OK Bersalin. Dan sekarang saya sudah berada di ICU untuk observasi. Masih dengan anastesi yang menjalar di seluruh tubuh saya. Tidak terasa apa-apa.

Ranjang sebelah saya, seorang ibu yang mungkin juga baru operasi dan sudah hilang anastesinya. Dia mengerang, “Haduuuuuuh… Haduuuuh… Sakit… Sssshhhhh… Ssshhhh…” begitu terus yang diucapkan. Saya mencoba mengajaknya ngobrol. Mengalihkan perhatiannya agar tidak mengerang-erang seperti itu.

“Sesar juga, bu?”

“Iya. sssshhhh….”

“Jam berapa?” Tanya saya.

“Jam delapan. Sssssshh… Sakit…” Jawab beliau sambil terus mengerang. “Mbak siy, enak. Belum hilang anastesinya. Nanti juga kalau hilang anastesinya, mbak akan merasakan seperti saya.” Begitu lanjutnya seakan mencibir keadaan saya yang lebih enak dari keadaannya. Dia lupa bahwa beberapa menit sebelumnya dia juga masih dalam “bayang-bayang” anastesi.

“Iya, ibu benar.” Jawab saya.

Saya menikmati ketiadaan rasa itu, hingga beberapa menit kemudian, saya mencoba menggerakkan ujung jari kaki saya. Ternyata, bisa. Saya langsung berpikir, pasti tak lama lagi, saya akan merasakan seperti yang ibu itu rasakan.

Dan benar juga. Pukul 11.30 anastesi dalam tubuh saya sudah benar-benar hilang. Sakit? Iya. Seperti luka gores yang sangat dalam dibagian bawah perut. Saya beristighfar berkali-kali. Sambil menghela nafas.

Tiba-tiba monitor di belakang saya berbunyi keras lagi. Tiiiit… Tiiiit… Sampai seorang perawat mendekati saya. Dan bertanya, “Ibu sesak nafas?”

“Tidak.”

“Pusing?”

“Tidak.”

Kemudian perawat itu meninggalkan saya. Tak lama dia kembali dan memasukkan obat dalam cairan ifus saya sambil kembali mengatakan, “Ibu boleh tidur lagi.” Kemudian, lagi-lagi saya tak tahu apa yang terjadi kemudian.

Sampai saya terbangun pukul 16.35 karena mendengar ada seseorang memanggil-manggil saya. “Dik… Dik…” tak ada suara lain selain suaranya. Juga tak ada suara erangan ibu tadi. Saya tak tahu.

Dia yang memanggil saya itu ternyata adalah suami saya. Dia mencoba membangunkan saya. Rupanya, dia berhasil diperbolehkan masuk ke ruang ICU itu. Karena dokter memberikan ijin kepadanya.

Ketika saya tersadar kembali itu, ada selang oksigen di hidung saya. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. “Ini apa, Mas?” tanya saya kepadanya.

“Oksigen, Dik. Tadi kamu ditidurkan lagi. Tensimu tiba-tiba naik. Dokter khawatir kamu terjadi apa-apa. Alhmadulillah… Kamu bisa bertahan.” Katanya menjelaskan. “Sekarang apa, yang kamu rasakan?” lanjutnya.

“Sakit di perut.”

“Oia, tadi aku foto anak kita. Ini fotonya,” katanya sambil menunjukkan Siemens miliknya dan memperbesar foto yang diambilnya beberapa jam yang lalu. “Mirip siapa?” dia berusaha mengalihkan rasa sakit setelah hilangnya anastesi itu dengan mengajak berbincang mengenai bayi kami.

“Tidak tahu. Belum terlalu kelihatan. Sekarang jam berapa, ya? Aku mau al-ma’tsurat an saja.” Kataku kepadanya.

“Yuk.. Sama-sama.”

Kami baca dzikir itu perlahan-lahan. Dibaca penuh. Sambil meringis. Jadilah ruangan itu ada lantunan dzikir. Bukan hanya erangan sakit.

Pukul 17.15, dia pamit. Mandi dan siap-siap ke masjid di RS itu. Saya mengiyakan. Dia berpesan, “Nanti kalau sudah boleh miring-miring, langsung saja dilakukan ya. Tahan rasa sakitnya. Biar bisa segera pulih.”

Saya mengangguk. Setelah kepergiannya, seorang perawat mendatangi saya. “Ibu boleh miring-miring sekarang,” katanya.

Alhamdulillah… Saya gunakan kesempatan itu sebaik mungkin. Sebentar miring ke kanan. Sebentar miring ke kiri. Sebentar lurus. Miring lagi. Begitu seterusnya. Tak sakit? Saya bunuh rasa sakit itu perlahan. Saya bilang dalam hati saya, “Tidak sakit… Tidak sakit… Tidak sakit…”

Sesaat setelah adzan Maghrib, saya kembali didatangi 2 perawat. Mereka hendak “memandikan” saya. Menyeka. Dan sekaligus mengganti pakaian operasi yang masih saya kenakan.

Saya bertanya, “Kapan saya bisa keluar dari ICU, sus?”

“Sebentar lagi, bu. Perawatnya sedang sholat semua. Mungkin setengah delapan,” jawabnya. “Nanti ibu akan langsung dibawa ke kamar ibu,”

“Bayi saya bagaimana?”

“Sehat, ibu. Alhamdulillah.”

Rasanya, waktu berjalan sangat lama menunggu adzan Isya’ berkumandang. Seperti janji Suster, pukul 19.00, saya kembali digeledek menuju kamar saya.

Bersambung…

***

Sidoarjo, 17 Maret 2011

10:41 AM

Seperti baru kemarin saya melahirkannya.

Tagged: , , , , , ,

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: