Kisah Dibalik Paspor Saya


Saya adalah pemilik paspor umum dengan nomor S 134492 yang dikeluarkan oleh Dinas Imigrasi Samarinda Tahun 2008, yang kebetulan paspor saya berurutan nomor serinya dengan nomor paspor anak saya  S 134493. Setahun yang lalu saya disibukkan dengan nomor paspor saya itu. Ketika dokumen imigrasi kami diproses oleh pihak Imigresen Malaysia ternyata paspor saya denied. Paspor saya ditolak. Alasannya, karena ada nomor paspor yang sama yang telah masuk ke Malaysia terlebih dahulu tapi dengan nama yang berbeda.

Awalnya, suami tak terlalu mempedulikan hal ini. Sebab saya tak akan mengikutinya kesana, jadi tak terlalu masalah jika data keluarga ini tak jadi dimasukkan di imigrasi Malaysia. Tapi, kemudian menjadi masalah ketika saya hendak mengunjungi suami saya di bulan Juni 2010.

Saya berusaha mencari tahu ke Dinas Imigrasi di Indonesia perihal kesamaan nomor paspor ini. Saya tak habis pikir, dokumen pribadi resmi yang dikeluarkan negara mengapa bisa memiliki nomor ganda. Oleh pihak imigrasi Surabaya, saya malah dibeginikan, “Ibu, Malaysia tidak bisa mengklaim bahwa nomor paspor ibu sama dengan nomor paspor orang lain. Paspor ibu ini sah,” katanya setelah melihat paspor saya.

“Lalu, bagaimana solusinya, Pak? Saya bulan Juni nanti akan mengunjungi suami saya. Saya tidak mau tertahan pihak imigrasi disana gara-gara nomor paspor saya sudah pernah masuk sebelumnya.”

“Ibu harus minta surat resmi dari imigrasi Malaysia.”

Walllaaaaaaaaaaah. Masa saya harus ketangkep dulu, baru saya dapat pembelaan negara?

Akhirnya, suami saya “mendesak” imigrasi Malaysia untuk melihat data atau minimal nama yang tercantum dalam nomor paspor itu, selain nama saya. Mereka bersikukuh tak akan memberikan data yang merupakan dokumen negara tersebut. Tapi entah bagaimana caranya, suami saya berhasil mendapatkan nama beliau. Beliau, yang bernomor paspor sama dengan saya itu adalah Ibu EVIE ARIADNE SHINTA DEWI. Dari mbah Google saya mendapati bahwa beliau adalah seorang PNS dosen di Universitas Padjadjaran Bandung. Beliau memang sedang mengambil S3-nya di Malaysia.

Dan berbekal data inilah, kemudian saya mendapatkan akun facebook, email, dan nomor ponsel beliau. Sebenarnya pun, paspor atas nama beliau itu sudah habis masa berlakunya. Sebab paspor itu adalah paspor Dinas yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri yang hanya berlaku selama 2 tahun.

Dari beberapa kali berinteraksi dengannya dan mondar-mandir ke Dinas Imigrasi serta berdiskusi dengan beberapa teman yang menjadi PNS di Dinas tersebut, saya mendapatkan beberapa kesimpulan, diantaranya :

1. Paspor Dinas, berbeda dengan paspor umum. Dan sangat mungkin terjadi penomoran yang sama. Paspor Dinas dikeluarkan oleh DepLu, sedangkan paspor umum dikeluarkan oleh Dinas Imigrasi. Paspor Dinas hanya berlaku untuk 2 tahun sejak tanggal dikeluarkan sedangkan paspor umum berlaku selama 5 tahun sejak tanggal dikeluarkan.

2. Sejak ada penomoran ulang paspor oleh Dinas Imigrasi negara kita, beberapa TKI tertahan di imigrasi bandara negara tempat tujuan mereka bekerja. Saya mendapatkan berita ini dari “orang dalam” Dinas Imigrasi Surabaya. Jadi, lagi-lagi sangat mungkin nomor paspor anda sama dengan nomor paspor orang lain.

3. Sekarang paspor Dinas sudah dihapuskan keberadaannya. Dan yang berhak mengeluarkan paspor hanya Dinas Imigrasi. Sebab, akhirnya ibu Evie ini mondar-mandir ke Malaysia menggunakan paspor umum miliknya.

4. Semua paspor yang dikeluarkan tahun 2008 pasti berseri “S”, dan seri ini beberapa kali memang mendapatkan masalah di luar negeri.

Lalu, bagaimana akhirnya saya bisa pergi ke sana tanpa tertahan oleh pihak imigrasi Malaysia?

Pada hari H, saya nekad berangkat dengan anak saya. Saya menyiapkan beberapa amunisi, diantaranya mengisi full pulsa ponsel saya, registrasi nomor untuk dapat digunakan di Malaysia, dan memiliki nomor kontak orang KBRI di Malaysia yang juga teman ibu Evie ini yang siap membantu saya kapanpun. Setelah sebelumnya saya telah menghubungi beliau terlebih dahulu tentunya. Saya juga telah mencetak tiket pesawat untuk pulang. Sehingga jika sewaktu-waktu ditanya akan berapa hari saya sudah siap untuk menjawabnya.

Dan setibanya disana, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Padahal saya sudah menyiapkan mental saya untuk tertahan di bandara selama 4 jam, seperti yang dialami oleh seseorang dalam blog ini. Alhamdulillah, saya hanya ditanya tujuan ke Malaysia, berapa lama berada disana,, dimana akan tinggal selama berada disana sekalig, dan hanya diminta menunjukkan tiket pesawat untuk pulang. Alhamdulillah, semua bisa saya lewati dengan lancar tanpa suatu hambatan yang berarti.

Kisah dokumen ganda ini membuat saya tersenyum saat Gayus Tambunan memiliki 2 paspor dengan nama berbeda. Saya sebagai orang awam ini, cuma tertawa geli dengan sistem pendokumentasian data penduduk Indonesia hari ini. Entah apanya yang salah. Yang pasti, sebagai warga negara yang baik, saya hanya ingin punya 1 KTP, 1 SIM A, 1 SIM C, 1 NPWP, 1 Paspor, 1 KK, 1 Akta Kelahiran, 1 surat nikah (pegangan istri), 1 ijazah SD sampai PT, dan Insya Allah saya sama sekali tak berniat untuk membuat palsunya, meski suatu hari nanti saya punya kesempatan ataupun akan “dipaksa” untuk melakukannya.

 

***

Sidoarjo, 21 April 2011

02:55 PM

Ditulis dengan semangat nasionalis di Hari Kartini

*gak nyambung…

Tagged: , , , , , , ,

8 thoughts on “Kisah Dibalik Paspor Saya

  1. evieariadne 18 Februari 2012 pukul 8:49 PM Reply

    Yth Bu Lailatul Qadr, apa kabar?

    Assalamulaikum Wr wb,

    Subhanallah baru sekarang saya baca tulisan tentang paspor kita yang bernomor sama ini. Itupun secara tak sengaja ketika sedang tracing nama saya sendiri di google (sekedar ingin melihat seberapa banyak nama saya masuk di dunia maya), saya menemukan blog ibu.

    Alhamdulillah saya turut senang dengan proses di imigressen yang ternyata lancar ya…padahal waktu itu, karena email dari suami ibu saya sampai langsung datang ke Deplu (kebetulan banyak teman2 alumni yang dinas disana) sekedar ingin meminta kejelasan dan bagaimana caranya agar ibu tidak dipersulit saat ke Malaysia.

    penjelasan dari teman2 saya di bagian pengurusan Paspor DInas Deplu saat itu memang menyatakan bahwa bisa saja terjadi nomor paspor dinas dan paspor hijau sama untuk orang yang berbeda, hal itu terjadi karena dikeluarkan oleh instansi yang berbeda. (saya waktu itu sempat melontarkan kritik, kenapa tidak dibuat sistem online antar instansi penerbit pasport saja agar tidak muncul dua nomor yang sama, dan mereka jawab belum ada regulasi yang mengatur itu he he he….jawaban klise nampaknya).

    Saya juga sampaikan pada mereka bahwa bagaimana kalau kasus ini menimpa TKW/TKI kita yang bisa saja tidak memiliki kapasitas & kapabilitas seperti saya atau ibu Lailatul yang sanggup menelusuri kerancuan ini hingga memperoleh solusi terbaik? jawaban mereka (teman2 saya itu) hanya tersenyum.

    Baiklah ibu, senang rasanya bisa menyambung silaturahiim, salam hormat untuk bapak dan salam hangat untuk si kecil Fauzan….:)

    wasalam

    Dr. Evie Ariadne Shinta Dewi, Dra., M.Pd.

    Suka

    • Lailatul Qadr 19 Februari 2012 pukul 9:03 AM

      Wa’alaikumsalaam wr wb.

      Terima kasih atas responnya, Ibu Evie. Di blog saya kemarin memang muncul pencarian dengan menggunakan keyword ‘Evie Ariadne’. Dan saya sama sekali tidak menyangka bahwa Ibu sendiri yang sedang tracing di google. ^__^

      Senang bisa menjalin silaturrahiim dengan ibu dan terima kasih atas kerjasamanya tempo hari. Insya Allah, salamnya akan disampaikan.

      Wassalaamu’alaikum wr. wb.

      Suka

    • Rudi 6 September 2013 pukul 10:35 AM

      Assalamualikum. . . Ibu laila.
      Mau tanya nih, jika qt buat passpor k negara tujuan malaysia, sedangkan saya udah di negara malaysia dan berhubung ada undangan keluarga yang ada di singapore, bagaimana caranya dan persyaratan apa saja untuk bisa ke singapura. Agar tidak terhambat di bagian imigrasi. Trimakasih. . . .wassalam

      Suka

    • Lailatul Qadr 6 September 2013 pukul 12:59 PM

      Wa’alaikumsalaam Pak Rudi.
      Setahu saya, kalau hendak ke Singapura dari Malaysia, tinggal masuk saja dengan membawa paspor. Kan hanya jalan2. Tak perlu pakai visa.

      Suka

    • Rudi 6 September 2013 pukul 10:39 PM

      Oh begitu ea ibu laila, saya pikir harus pakai persyaratan lg untuk masuk ke negara lain selain negara pertama yg saya tuju. Maaf bu, ini pertama kali saya ke luar negri. .. . Hehehe.
      Trima kasih ibu laila atas jawabannya, smoga ibu sekeluarga diberi kesehatan. . . .amin

      Suka

    • Lailatul Qadr 6 September 2013 pukul 10:56 PM

      Aamiin.. Terima kasih, Pak Rudi untuk doanya… Terima kasih juga sudah mampir di blog saya.

      Suka

    • Rudi 6 September 2013 pukul 10:59 PM

      Sama sama ibu laila. Kapan2 saya mampir lg ke sini. . .:-)

      Suka

    • Lailatul Qadr 6 September 2013 pukul 11:16 PM

      Monggo Pak Rudi. Saya sudah lama gak posting.

      Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: