Kondangan TERMAHAL Buat Saya


Kamis, 02 Juni 2011, saya dan suami mendapat 2 undangan walimahan teman kami. Undangan yang pertama datang dari teman SMA saya, yang kebetulan kami tergabung dalam keluarga besar SMALAPALA, dan undangan kedua datang dari teman kuliah suami yang kebetulan juga dia dan suami adalah teman se-geng saat kuliah dulu. Jam undangan pun sama, pukul 11.00 Waktu Indonesia Barat.

Maka, kami memutuskan untuk mendatangi undangan teman SMA saya terlebih dahulu, di gedung Graha Sativa Bulog Surabaya. Alasannya karena acara walimahan di gedung, terbatas waktu. Disamping juga karena lokasi Bulog lebih dekat dari arah Sidoarjo daripada Ketintang tempat undangan walimahan kedua.

Kami berangkat lebih awal dari jam yang tertera pada undangan. Harapannya adalah segera setelah undangan pertama kami penuhi, kami dapat melanjutkan ke undangan walimahan berikutnya. Dan di situlah awal tulisan ini bermula.

Motor kami memasuki area Gedung Graha Sativa sekitar pukul 11.00. Untung tak dapat diraih, Malang lewat Jombang. Hehehe… Salah ding. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Selesai memarkirkan motor, sepatu Abu Fauzan lepas (sedikit) dari solnya. Awalnya yang sebelah kanan. Abu Fauzan bilang, “kita beli lem dulu”. Depan Graha Sativa memang ada toko retailer. Sambil berharap di toko tersebut dijual lem Ca***l, kami berjalan ke arah luar dari tempat acara. Dalam perjalanan ke toko retailer itu ternyata tidak hanya sepatu sebelah kanan saja  yang terlepas (sedikit) dari solnya, tapi juga sepatu sebelah kiri. Bahkan ssepatu benar-benar terlepas dari solnya. Akibatnya, Abu Fauzan terpakasa berhenti dan meminta saya untuk berjalan sendiri ke toko retailer tersebut.

Dengan sandal high heels setinggi 5 cm, saya berjalan ke arah toko yang berjarak 50 meter dari tempat Abu Fauzan menghentikan langkahnya. Sesampainya disana, saya bertanya pada mas-mas penjaga toko dengan menyebutkan salah satu merk produk perekat yang berguna untuk merekatkan sepatu dengan solnya. Si mas bilang, mereka tak punya lem semacam itu. Yang mereka punya hanya lem yang merekatkan benda-benda keras dan dia menyebutkan merk A****o. Tentu saja, lem ini tidak “kompatibel” untuk sepatu dan solnya.

Kemudian saya menelepon suami dan mengatakan apa yang saya cari tidak ada. “Apakah dicoba beli lem itu atau beli sandal japit saja”, tanya saya kepada Abu Fausan. Alih-alih Abu Fauzan memilih pilihan kedua. Membeli sandal jepit. Untung saja, sandal jepit yang dijual di toko retailer itu agak sedikit “bagus” modelnya.

Jadilah, di kondangan pertama, suami saya memakai sandal jepit yang saya beli itu. Malu? Ya enggak. Lha wong nggak disengaja. Lagian saya tak kenal siapa mereka, tamu yang datang. Cuek ajha lagi.

Itulah sebabnya di undangan yang pertama, suami tak mau bersalaman dengan kedua mempelai di pelaminan.  Agar tidak jadi pusat perhatian. Hehehe…

Untungnya lagi, tamu undangan di acara walimahan teman saya ini cukup banyak alias bejibun. Saya saja sampai tak mau bergerak. Disamping karena tamu laki-laki dan perempuan tak dipisah juga karena saya tidak bisa bergerak. Maju dikit nyenggol orang, ke kanan dikit nyenggol lagi dan begitu seterusnya.  Sehingga tak banyak tamu yang menjatuhkan pandagannya ke arah bawah, memperhatikan “sepatu” suami.

Susana yang cukup crowded di acara walimahan itu –alhamdulillah semoga berkah– membuat saya ingin segera menyelesaikan undangan tersebut. Alhasil, setelah menyicipi sate, martabak, dan es buah, saya langsung mengajak Abu Fauzan pulang. Saya juga tak mau makan banyak, karena disana tidak disediakan tempat duduk alias kursi. Tapi dengan cueknya, saya masuk ruangan khusus keluarga mempelai hanya untuk duduk untuk menghabiskan makanan yang sudah saya ambil. Sorot mata keluarga tertuju pada saya. Tapi saya dengan cueknya melahap ketiga jenis makanan tersebut. Jadi cukuplah saya wira wiri masuk ke ruangan khusus keluarga itu untuk duduk numpang makan.

Well, begitu keluar gedung, tujuan kami berikutnya tentu saja bukan rumah Mempelai kedua. Melainkan sebuah mall yang terletak antara Graha Sativa dan Ketintang. Yup, yang tahu Surabaya, pasti menunjuk Royal Plaza sebagai tempat yang tepat untuk mencari toko sepatu, dan membeli sepatu yang pas di hati suami.

Di Royal Plaza, kami memasuki satu toko sepatu ke toko sepatu lain. Dan saya baru tahu, ternyata harga sepatu pria cukup mahal. Tepok jidat saya, melihat harga sepatu yang harganya hampir sejuta. Selama menikah dengannya baru satu kali saya membeli sepatu untuknya. Selain itu, dia beli sendiri. Hehehe… Soal begini, saya bukan istri yang baik (mungkin juga soal-soal yang lain, ya? Halah… Malah curcol). Gak tega juga mo’ ngeluarin duit segitu banyak hanya untuk beli sepatu.

Karenanya, kami memutuskan untuk membeli sepatu di toko sepatu B**a yang harganya relatif lebih terjangkau dari toko sepatu lain. Selain juga kualitas barangnya relatif lebih bagus. Tapi teteeeeeep… Mahal.

Ya sudahlah. Mungkin memang Abu Fauzan perlu sepatu “tambahan” untuk aktivitasnya sebagai dosen bulan Juli nanti.

Segera setelah kami dapatkan sepatu itu, kami menuju lokasi walimahan kedua. Di tempat itu, alhamdulillah, kami lebih “dimanusiakan”. Sebab banyak meja kursi yang dapat kami manfaatkan untuk makan sebagaimana yang Rasulullah contohkan.

Rencana awalnya, kami bisa datang di Ketintang pada pukul 12.00 atau 12.30 an.  Maksudnya adalah untuk memberikan ruang untuk suami berinteraksi kembali dengan teman-teman semasa kuliahnya dulu. Sembari berbagi informasi dan pengetahuan baru. Lumayan lah, untuk membuka pikirannya. Cukup lama juga dia tidak berinteraksi dengan mereka di dunia nyata. Praktis 2 tahun semenjak dia di negeri orang itu.

Rencana awal tadi berubah karena kejadian sepatu jebol plus acara jalan-jalan ke mall yang di luar rencana. Akhirnya, Abu Fauzan tak dapat menjumpai kawan-kawannya. Yang dia temui hanyalah nama-nama yang hadir sebelum kami. Untungnya pengantin masih ada di pelaminan. Untungnya lagi masih banyak makanannya. Hehehe…

Oia, pasti ada pertanyaan kan, mengapa Abu Fauzan memilih sepatu itu?

 

Sebenarnya sepatu itu bukan sepatu murahan. Itu juga sepatu mahal. Tapi memang tidak pernah dipakai selama 2 tahun lamanya. Terakhir kali dipakai bulan Mei 2009 lalu, sebelum berangkat ke Malaysia saat hadir di undangan pernikahan teman sekantor saya.  Dan sampai kemarin, sepatu itu berada di rak sepatu.

Karena harganya yang menguras kocek itu, tentu saja sepatu itu jarang sekali digunakan. Hanya digunakan untuk memenuhi undangan walimahan atau undangan farewell party teman suami di RS PT. Badak Bontang dulu.

Padahal sebelum saya serahkan sepatu itu kepada Abu Fauzan, saya membersihkan debu pada beberapa bagian sepatu. Saya tak menaruh curiga sama sekali bahwa sepatu itu “enggan” untuk dibawa kondangan. Saya pikir dia baik-baik saja, alias tidak sedang dalam keadaan tidak sehat. Ternyata, pikiran saya salah. Sepatu itu benar-benar ogah menemani suami menghadiri undangan walimahan teman kami.

Begitulah… Baru kali  ini saya mendatangi kondangan termahal selama hidup saya. Kondangan termahal dengan bonus tambahan, sepatu untuk suami.

Finally, manusia hanya bisa berencana, tapi Allah jua lah yang menentukan. Dan sebaik-baik rencana adalah rencana Allah.

Wallahu’alam

 

***

Sidoarjo, 05 Juni 2011

07:58 PM

Sebuah episode sepatu buaya.

Tagged: , ,

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: