Menyesal Selalu Datang di Akhir


Menyesal memang tak akan pernah datang diawal. Yang namanya menyesal selalu datang di akhir.

Kejadian ini sebenarnya sudah lama terjadi. Saat usia Fauzan sekira 13 atau 14 bulan. Waktu itu, kami sedang bertamu ke rumah salah seorang kolega suami, drg. Ilham Noor Madina namanya. Di sebuah komplek perumahan umum di Kota Bontang, Kalimantan Timur. Waktu itu Fauzan lagi senang-senangnya berdiri di pangkuan saya sambil melonjak-lonjak. Waktu itu pula saya sedang memakai rok hitam yang bahannya agak licin.

Nah, di tengah “keseruannya” melakukan aktivitas itu, tiba-tiba tangan saya terlepas dari tubuhnya, sehingga dia terpeleset jatuh dari pangkuan saya. Dan entah bagaimana kejadiannya, karena begitu cepat terjadi hanya dalam beberapa detik, tubuh Fauzan jatuh di lantai dengan terlebih dahulu hidungnya mencium pojok meja kaca di ruang tamu itu.

Fauzan menangis sangat kencang sampai suaranya menghilang. Begitulah dia, kalau kesakitan, tangisnya tak bersuara. Darah mengucur dari wajahnya tepat di tulang hidung. Abu Fauzan langsung mengambil Fauzan yang sudah saya gendong. Ditariknya Fauzan dari pelukan saya, ditidurkan di pangkuannya dan melihat darah yang mengucur itu. Dengan sigap, tuan rumah mengambil kasa dari kotak P3K di rumahnya dan memberikan antiseptik pada suami saya.

Saya tertegun melihat kejadian itu. Saya hanya berdiri mematung. Takut terjadi apa-apa padanya. Bagaimana kalau tulang hidungnya patah? Bagaimana kalau terjadi perdarahan di dalam? Dan bagaimana kalau Fauzan tiba-tiba tak bisa bernafas?

Pucat wajah saya memikirkan anak saya yang sedang dalam gendongan Abinya. Abinya berusaha menghentikan perdarahan yang terjadi. Dipencetnya hidung Fauzan dan luka itu. Ternyata Fauzan tidak menjerit. Abu Fauzan bergumam, “tulang hidungnya baik-baik saja, sepertinya. Semoga.”

Ada sedikit lega di dalam hati saya. Tapi tetap, jatung saya seakan berhenti sejenak. Bingung. Dan tiba-tiba pusing.

Darah yang keluar dari wajah Fauzan tak kunjung berhenti. Masih mengucur. Sampai 1 kotak kasa itu habis. Tuang rumah mengambilkan tissue. Sambil tetap merawat luka Fauzan dengan lemabaran-lembaran tissue itu, saya kena ‘semprot’ suami tentang keteledoran saya menjaga Fauzan. Bla… Bla… Bla… Saya tak ingat satu pun apa yang dikatakannya. Yang saya pikirkan hanya Fauzan, Fauzan, dan Fauzan.

15 menit kami bejibaku dengan darah dan luka di hidung Fauzan. Akhirnya tangis Fauzan reda juga. Darah yang mengalir pun telah berkurang. Lalu kami pamit pulang. Saya ingin dia segera dibawa ke RS, untuk memastikan hidungnya benar-benar tak terjadi seperti apa yang saya bayangkan. Tapi menurut suami, tak perlu. Kita lihat perkembangannya 15 sampai 30 menit lagi. Beri ASI saja untuk menenangkannya. Saya percaya padanya. Dia kan orang medis juga.

Kami pulang dengan terlebih dahulu mampir ke apotek untuk membeli penghilang rasa sakit yang “aman” untuk bayi 10 bulan. Alhamdulillah, sebelum sampai di rumah dia tertidur. Kecapean menangis atau mungkin memang waktunya tidur? Saya tidak tahu. Yang pasti dia tertidur dengan rasa sakit di hidungnya.  Sepanjang perjalan dari rumah drg. Ilham ke rumah kontrakan kami, saya menutupi wajah Fauzan dengan jilbab saya. Takut lukanya terkena debu jalanan dan terjadi infeksi.

Begitu sampai, kami memantau perkembangan luka Fauzan dan melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada wajahnya atau kulitnya setiap menit. Alhamdulillah, tidak seperti yang saya bayangkan. Fauzan baik-baik saja. Tak ada perubahan yang terjadi. Darahnya pun segera membentuk benang-benang pembekuan darah. Alhamdulillah.

Peristiwa diatas adalah peristiwa yang tak akan pernah saya lupakan dalam hidup saya. Keteledoran yang menyebabkan anak mengalami sesuatu yang tidak diinginkan. Alhamdulillah, Allah masih melindunginya sehingga tak terjadi hal yang tidak diinginkan. Dan saya berjanji setelahnya menghindarkan hal-hal yang membahayakan dirinya, seperti listrik, kompor, minyak panas, benda tajam, dan sebagaianya. Dan saya berusaha untuk selalu menjadi orang tua yang sigap dengan aktivitas anak. Insya Allah.

Dan hari ini, luka itu masih ada bekasnya. Tepat diatas hidungnya membentuk garis mendatar sekira 1 cm.

Maafkan Ummi, ya Nak. Atas keteledoran yang telah Ummi lakukan. Ummi menyesal belum menjadi orang tua yang sigap untukmu.

 

***

Sidoarjo, 16 April 2011

07:55 AM

Abis baca postingan seseorang, jadi keinget kejadian ini. Semoga bisa diambil hikmahnya.

Tagged: , , , ,

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: