Raport Tengah Semester 2 Hingga Keharmonisan dalam Keluarga


Hari ini saya kembali bersyukur dengan profesi yang saya jalani selama 1+2 tahun belakangan ini. Ya, profesi yang membuat saya banyak belajar tentang kehidupan dan pendidikan anak.

Kemarin adalah hari saat murid-murid saya menerima rapor sisipan Semester 2. Di awal sambutan, saya menyampaikan bahwa rapor sisipan akan segera dibagikan. Apabila Ayah dan Bunda ada kepentingan lain, diperbolehkan untuk meninggalkan kelas tanpa harus berkonsultasi dengan Walas (Wali Kelas). Namun jika di dalam rapor itu kami beri catatan kecil, mohon disediakan waktu untuk berkonsultasi. Kali ini pun saya harus puas tanpa dibantu pendamping kelas yang “ikut membantu” proses konsultasi ini. Maklum, pendamping kelas saya masih baru. Dan tentu dia sedang belajar menghadapi Wali Murid, yang baginya hal ini sama sekali baru.

Tak banyak catatan kecil itu saya bagikan. Hanya kepada 5 orang saja yang saya anggap masih perlu banyak bimbingan di sekolah dan di rumah, perlu apresiasi lebih, perlu perhatian lebih, dan perlu identifikasi “permasalahan” lebih detail. Dan dari kelima orang itu, hanya 4 saja yang mengambil rapor.

Sebelumnya, izinkan saya menceritakan tentang apa yang selalu terjadi pada diri saya ketika hari penerimaan rapor tiba. Seperti sebelum-sebelumnya, setiap kali penerimaan rapor, tangan saya selalu dingin. Kaki saya gemetar. Lidah saya kelu. Meskipun sudah sering “tampil” di hadapan banyak orang, tetapi tetap saja saya grogi tidak karuan. Jantung berdetak lebih kencang dari biasanya. Tapi itu hanya terjadi 5 sampai 10 menit diawal sambutan. Setelahnya, saya bisa mencairkan suasana ketegangan dalam kelas dan selanjutnya sambutan saya mengalir seperti air dan renyah seperti kerupuk yang cukup sinar matahari dan baru saja digoreng. Alhamdulillah.

Saya tidak akan membahas proses penerimaan rapor itu disini. Tapi ada satu hal yang menarik dari kejadian kemarin yang akan saya ungkap lewat tulisan kali ini. Umumnya, wali murid yang datang mengambil rapor kalau bukan Bunda, ya Ayah. Atau malah Paman, Bibi, Kakak, Nenek, atau Kakeknya. Jarang sekali yang datang adalah sepasang. Apalagi sepasang suami istri, Ayah dan Bunda. Padahal kami sebagai Wali Kelas sangat ingin yang ada di hadapan kami adalah orang tua anak-anak kami secara KOMPLIT, 1 paket. Agar kami bisa mengetahui pandangan Ayah dan Bunda tentang siswa, proses belajar, pelajaran, dan saya sebagai gurunya serta mengetahui tuntutan mereka terhadap kami. Kalau pun mereka datang berdua, biasanya Ayah “mendorong” Bunda untuk berhadapan dengan Walas.

Adalah Bapak Handoko dan Istri, yang kemarin datang 1 paket. Meski anaknya tidak termasuk ke dalam 5 orang yang mendapat catatan kecil dari saya, tapi mereka mau menunggu sampai kami memanggil mereka berdasarkan urutan kedatangan (setelah yang 5 tadi tentunya). Saya sudah menyiapkan mental saya untuk dikritik habis-habisan oleh paket komplit ini. Tentang metode pembelajaran kah, tentang menangani anak kah, tentang pemberian rewards and punishment kah, dan lain sebagainya. Namun ternyata keluarga ini cukup mampu “menempatkan diri” sebagai orang tua. Sehingga kami tak membicarakan proses pembelajaran. Justru yang kami bicarakan adalah kerja sama dalam meningkatkan motivasi belajar anak-anak terutama untuk berangkat ke sekolah di pagi hari.

Ini yang menjadi diskusi hangat kami siang hari kemarin sampai 30 menit waktu tak terasa terlewati. Memberikan beberapa solusi yang mungkin bisa diterapkan di kelas. Tanpa mengkritisi sedikitpun kesepakatan-kesepakatan yang telah saya buat dengan murid-murid saya. Orang tua yang baik.

Dan sesuatu menarik terjadi di tengah diskusi kami. Rambut sang istri tiba-tiba keluar mengintip dari balik jilbabnya, dan reflek tangan suami memasukkan anak rambut itu kembali ke dalam jilbab sang istri. Beberapa detik kemudian, suami juga mendapati ada kotoran remah makanan di pipi sang istri, dan seketika itu juga sang suami membersihkan remah makanan tersebut dengan jempolnya. Terlihat si istri malu-malu dengan perlakuan suaminya yang spontan tadi di hadapan kami. Terbukti sang istri tiba-tiba tak mampu melanjutkan kalimatnya. Saya hanya tersenyum. Berpura-pura tak memperhatikan apa yang sedang terjadi pada pasutri itu.

Cukup romantis, saya fikir. Padahal usia pernikahan mereka mungkin telah memasuki sewindu. Pasutri ini saling memperhatikan satu sama lain meski mereka sedang berbicara dengan orang ketiga. Suami paham istrinya tak mungkin memasukkan anak rambut ke dalam jilbabnya sendiri dengan tangannya. Sebab kedua tangan sang istri sedang memegang tubuh anak kedua mereka yang senang melonjak-lonjak di pangkuan istrinya. Dan si istri malu diperlakukan seperti itu karena hal tersebut dilakukan di hadapan kami, guru anaknya.

Harmonis sekali keluarga ini. Karenanya saya tak menemukan sedikit pun “kekurangan” dalam diri putra pertama mereka selain motorik halusnya yang kurang dalam menulis. Selebihnya, ia sangat sopan, menghargai teman, menghormati Ustadz-Ustadzahnya, hafalannya banyak, ngajinya cepat (sekarang sudah jilid 6), mudah menerima pelajaran, alasan yang dikemukakan ketika berpendapat selalu logis (dalam kapasitas berpikir anak-anak), sportif, jujur, sangat percaya diri, berjiwa besar, mampu menjadi “asisten” saya yang baik dalam membimbing teman-temannya yang “kurang”, mau berbagi, dan penolong. Juga masih banyak sifat-sifat baik dalam darinya yang tak bisa saya terjemahkan satu persatu dalam bentuk kata disini.

Dialah Muhammad Prahand Al-Fatih, kami memanggilnya Mas Fatih. Dibesarkan dari keluarga harmonis yang membuat dirinya lebih taft dibanding dengan usianya.

Semua kejadian ini, kembali meneguhkan hati saya betapa cintanya saya dengan profesi saya saat ini. Menjadi guru. Dan setiap proses yang saya lalui kemarin, hari ini, dan nanti adalah selalu dan selalu belajar. Tentang apa saja. Termasuk tentang menjaga keharmonisan dalam berumah tangga.

Terima kasih kepada Mas Fatih, Ayah Bunda keluarga Bapak Handoko, dan kepada semua Wali Murid Kelas I A SDIT Insan Kamil Sidoarjo (2010-2011) yang telah hadir dalam penerimaan raport sisipan kemarin. Semoga 2 bulan yang akan datang, prestasi dan motivasi belajar anak-anak kita lebih baik lagi.

Aamiin…

Tak lupa, saya juga menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena saya masih manusia biasa yang selalu saja banyak kekurangan, kesalahan, ketidaktelitian, ketidakcermatan, dalam mendidik, memberi ponten, bertutur kata, dan semua interaksi saya baik di dalam maupun di luar kelas dengan anak-anak dan juga kepada mereka. Maafkan saya. Maafkan kami.

 

***

Sidoarjo, 03 April 2011

03:08 PM

Sidoarjo yang sedang hujan

Tagged: , , , , , , ,

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: