Sekolah Saya


Kemarin saya (lagi-lagi) mengantarkan siswa saya untuk mengikuti Seleksi Olimpiade Sains Kuark 2011. Sebuah ajang kompetisi sains yang diadakan oleh sebuah komik yang intens menyajikan dan membahas tentang sains tingkat SD. Tempat penyelenggaraannya adalah di MINU Pucang Sidoarjo. Sebuah sekolah swasta Islam berbasis Nahdliyin. Sekolah itu adalah tempat saya bersekolah dulu saat saya SD.

Dulu, sekolah ini dipandang sebelah mata –tidak sebonafide sekarang– oleh kebanyakan orang di Sidoarjo. Contohnya, tidak ada satu anak pun di lingkungan saya yang anaknya disekolahkan di MINU Pucang, kecuali keluarga kami. Saya dan kedua kakak saya semua alumni MINU Pucang. Seingat saya, teman-teman saya dulu anak tukang sampah, tukang air, tukang cuci, buruh pabrik kecil, penjahit, dan supir angkot. Paling banter anak Polisi. Ada siy, adik kelas saya yang anak seorang pengusaha sarung tenun. Itu pun karena dia keturunan Arab, sehingga masih memandang sangat perlu pendidikan berbasis agama.

Dulu, sekolah saya ini hanya ada 6 lokal, 1 ruang guru, 1 musholla yang dindingnya terbuat dari triplek dan alasnya dilapisi plastic tebal bermotif, dan 1 kamar mandi. Setiap lokal adalah satu jenjang pendidikan, kelas 1, 2, 3, dan seterusnya. Isi setiap lokal (jenjang) tidak banyak hanya 20 sampai 30 orang. Baru tahun saya saja, jumlah muridnya sampai 42 siswa sehingga harus dipisah menjadi kelas A dan B, masing-masing berisi 21 siswa.

Jumlah siswa yang sedikit itu bukan karena pihak sekolah membatasi muridnya, tapi karena tidak ada yang mendaftar ke sekolah kami. Mirip dengan cerita Laskar Pelangi. Padahal sekolah itu berada di tempat yang sangat strategis, pada jalur utama kabupaten Sidoarjo, di Jl. Jenggolo. Alasannya memang karena fasilitas. Fisik maupun non fisik.

Dulu di halaman tengah sekolah saya ada pohon tanjung besar. Halaman belakang sekolah itu juga sangat luas. Hanya tanah. Sehingga ketika terjatuh, terjerembab, kami tidak merasakan sakit seperti ketika kami terjatuh di paving. Maka, bau petrichor adalah bau yang memiliki romantisme tersendiri bagi saya. Saat Persami dan mengikuti Ujian Pencak Silat, sering kali tanah dan hujan menjadi sahabat baik kami.

Kini pohon tanjung itu tidak ada, tertutup oleh semen dan lantai keramik. Lapangan tanah pun kini sudah tertutup paving seluruhnya. Lokal dan kamar mandi sudah berubah jumlahnya, menjadi puluhan. Mushollanya sangat kokoh dan nyaman.

Kemarin, saya bertemu teman SD saya yang sekarang menjadi guru disana. Khurrotul Azazi namanya. Saya banyak mengobrol dengannya. Juga dengan guru-guru SD saya yang masih mengajar. Mereka bertanya mengapa saya tidak memilih mengajar di sana. Saya jawab, “Mana mau sekolah ini menerima saya. Gak butuh guru seperti saya, kayanya.”

Kami tertawa bersama. Lalu saya diminta melamar saja kesana. Karena tahun ini ada guru yang akan keluar. Saya hanya tersenyum menjawabnya. Tiba-tiba seorang guru saya menanyakan, “Berapa siy, gaji guru disana? Koq, kamu mau mengajar disana?”

Saya tak menjawab. Saya malah balik bertanya, “Memangnya gaji guru disini berapa, Bu?”

Dia menyebutkan angka 2 kali lebih dari gaji saya mengajar saat ini.

Seketika itu juga, pikiran saya melayang pada teman-teman seperjuangan saya di Insan Kamil. Gaji kami yang lulusan S1 saja hanya 900 ribu, itu sudah termasuk tunjangan transportasi, jumlah jam mengajar, dan lain-lain. Sebenarnya dengan kondisi teman-teman saya, bisa saja mereka memutuskan untuk keluar dari Insan Kamil dan memilih mendaftar menjadi guru disana (atau mungkin di sekolah swasta lain di kota kami).

Tapi itu tidak dilakukan oleh mereka. Tidak ada keinginan sedikitpun dari teman-teman seperjuangan itu untuk keluar. Kalau pun ada, itu hanya mencoba peruntungan untuk mengikuti tes menjadi abdi Negara. Mengikuti tes seleksi CPNSD. Selain itu, saya yakin TIDAK ADA.

Seolah-olah mereka nyaman saja bekerja di sekolah itu. Mengajar dari pagi sampai sore, dari Senin sampai Jum’at ditambah Hari Sabtu dari pukul 7 hingga pukul 12. Meski ada keluhan lelah, capek, tapi itu adalah keluhan wajar. Karena semangat mereka mengajar segera pulih ketika yang lain senantiasa saling memberi memotivasi.

Biarlah gaji sedikit, yang penting berkah. Dan mereka meyakini ada gaji-gaji lain dari Allah yang tidak akan ternilai harganya. Ada hadiah-hadiah lain dari Allah yang jika dikalkulasikan tak aka nada yang mampu menandinginya. Dan hadiah dan gaji itu tidak akan terduga oleh mereka kapan datangnya.

Pada akhirnya, saya berdo’a untuk saudara-saudara seperjuangan saya di Insan Kamil, semoga setiap lelah yang mereka cucurkan di dunia pendidikan ini, memperberat timbangan amal mereka nanti di yaumil akhir. Dan semoga mereka tetap istiqomah untuk memberi yang terbaik dari dirinya untuk sekolah dan terlebih untuk dakwah. Saya pun harus seperti itu.

***

Surabaya, 20 Pebruari 2011

03:44 PM

Diselesaikan di lantai 2 rumah ibu mertua saya di Surabaya

Tagged: , , , ,

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: