Yang Telah Pergi dan Tak Kembali : Bpk. H. Abdul Kodir


Jam di atas televisi di ruang keluarga jarum panjangnya menunjuk antara angka 1 dan 2, sedangkan jarum pendek menunjuk angka 9, ketika sebuah suara keluar dari speaker masjid Al-Mukhlasin yang letaknya tepat berada di depan rumah orang tua saya di Sidoarjo. Kalau sudah begini, jantung saya selalu berdegub dengan kencang. Pasti ada yang meninggal barusan, pikir saya. Memang baru 1 kali nama keluarga saya disebutkan disana. Yakni saat mama saya meninggal dunia sesaat setelah adzan Shubuh di akhir Oktober tahun 2006. Tapi, suara ini seperti meninggalkan trauma tersendiri untuk saya. Entah mengapa. Mungkin karena saya masih takut untuk mati.

Diawali dengan salam. Lalu kemudian, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun. Telah meninggal dunia, Bapak Haji Abdul Kodir. Pucang Indah blok K-12, pada pukul 08.30 malam. Insya Allah, jenazah akan dimakamkan besok pada pukul 08.30 pagi.” Dan pengumuman itu dibacakan sebanyak 2 kali. Untuk memperjelas informasi yang disampaikan.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun… Pak Kodir. Guru ngaji saya,” gumam saya berikutnya. Lalu memanggil papa saya yang sudah ada di dalam kamar. “Pa, Pak Kodir seda,” kata saya di depan pintu kamar papa.

“Innalillahi… Pak Kodir? Pak Kodir blok K?” tanya papa dari dalam kamar.

Inggih,” jawab saya.

Nang Rumah Sakit tah?”

Mboten ketingale,” jawab saya dengan logat Jawa. Beliau memang tidak meninggal di RS. Sebab jika meninggal di RS pasti akan disebutkan lewat speaker itu. Seperti mama saya dulu.

Papa saya bergegas merapikan diri menuju rumah duka.

***

Pak Kodir, begitu kami memanggilnya. Beliau adalah guru ngaji kami. Saya dan kedua kakak perempuan saya. Sebelumnya, kami sudah pernah belajar membaca huruf-huruf hijaiyah itu pada sebuah keluarga kaya bersuku Bugis. Dan keluarga ini tak pernah mengharap suatu apapun dari kami. Merea hanya ingin membagi ilmunya untuk anak-anak tetangga. Maklumlah, mereka belum dikaruniai putra. Sehingga kehadiran kami di rumah mereka sangat membahagiakan keluarga itu.

Cukup “keras” juga mereka mengajari kami yang masih anak-anak ini. Tapi tak mengapa, karena kami akhirnya mendapatkan ilmu yang tidak tanggung. Ya, bacaan Al-Qur’an kami menjadi bagus. Saya bisa membaca Al-Qur’an dengan tahsin (baik) saat berusia 5 tahun.

Namun kemudian, kami harus berganti guru. Sebab keluarga Bugis itu harus pindah. Maklum, sang suami adalah PNS Kejaksaan, yang mengharuskannya “mencicipi” belahan lain bumi Indonesia.

Nah, guru ngaji kami berikutnya adalah Pak Kodir ini. Pak Kodir tak kalah seriusnya mengajarkan kepada kami baca tulis Al-Qur’an. Bedanya, kalau di tempat sebelumnya, kami diharuskan membaca sesuai dengan makhorijul hurufnya, tanpa mengetahui detail hukum-hukum bacaannya. Di tempat Pak Kodir, kami baru mendapatkannya. Sehingga saat usia saya 7 atau 8 tahun, saya hafal hukum-hukum tajwid.

Selain itu, istrinya yang qori’ah juga senang membantu kami memberi pelajaran tambahan untuk menjadi qori’ah. Harinya dikhususkan di hari Jum’at. Itu pun jamnya pukul 8 malam.

Suatu waktu juga kami diharuskan setor hafalan juz 30. Ini dilakukan setiap bulan sekali. Lama amat? Ya, jaman itu hafalan tidak terlalu dipusingkan.

Terkadang juga saat mengaji, diselingi dengan cerita-cerita para Nabi dan Rasul.

Ilmu lain yang saya dapatkan ketika belajar dengan beliau adalah tentang kaligrafi. Kami diajarkan menulis Arab dengan indah. Walau sebenarnya untuk saya pribadin yang waktu itu masih kecil lebih cenderung ke arah mengekspresikan diri lewat warna. Tak jago siy. Hanya ikut-ikutan saja.

Pak Kodir yang berbasis Nahdliyin juga sering memberi kami air putih ‘berkah’. Air yang dimasukkan ke dalam sebuah wadah dan diberi tulisan do’a-do’a. Kami waktu itu percaya saja, bahwa air itu akan membantu kami untuk membuka pikiran kami saat belajar. Dan lagi, kami juga haus setelah mengaji selama 1 jam lebih.

Saya tidak terlalu mengerti apa profesi beliau sebenarnya. Pernah saya dengar, beliau itu seorang PNS, seorang pengusaha tambak, dan ada yang mengatakan beliau adalah PNS yang juga seorang pengusaha tambak yang sukses. Saya tak mengerti mana benar. Sebab, itu tak penting bagi saya. Yang penting adalah beliau itu guru ngaji saya. Itu saja sudah cukup mendefinisikan profesi beliau yang sesungguhnya.

Pak Kodir juga merupakan salah satu imam Masjid Al-Mukhlasin. Meski kontroversial apa yang beliau lakukan ketika menjadi imam untuk sholat tarawih saat Ramadhan.

Kepergiannya malam tadi, semakin memperpanjang daftar “kehilangan” imam sejak masjid ini berdiri. Sejak kepergian Pak Dwi, Pa Karji, dan Pak Syamsuri beberapa waktu yang lalu.

Dan pagi ini, saya ingin mengenang segala jasa beliau kepada saya yang tak ternilai harganya. Sebuah ilmu tentang akhirat. Tentang Al-Qur’an. Semoga semua pembelajaran yang beliau berikan untuk kami, murid-muridnya, menjadi amal sholih beliau yang pahalanya akan terus menerus mengalir tanpa akan pernah berhenti.

Ya Allah, terimalah ruh Pak Kodir, guru kami, di sisi-Mu, ampuni segala dosa-dosanya, lapangkan alam kuburnya, berikan rahmat-Mu padanya. Dan berikan kekuatan dan kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkannya.

Kabulkanlah doa-doa kami, ya Rabb.

 

***

Sidoarjo, 19 April 2011

03:26 AM

Mengenang guru ngaji kami.

NB : sampai beberapa waktu lalu, Pak Kodir masih mengajar anak-anak mengaji.

do9� a X���sama-sama menjadi guru pejuang. Guru yang benar-benar bisa menjadi ujung tombak negara. Percayalah, jika tidak mendapatkan “tambahan” di dunia, maka Allah akan menggantikannya di akhirat kelak. Bukankah ketika seseorang meninggal dunia maka terputuslah semua kecuali tiga hal. Dan salah satu halnya adalah ilmu yang bermanfaat. Dan  berbagi ilmu kepada murid-murid adalah suatu amal jariyah yang pahalanya akan terus menerus mengalir kepada kita. Insya Allah.

 

Jika mereka yang diceritakan oleh kedua adik saya itu adalah murid Anda, apakah Anda (atau kita) tidak merasa malu dengan situasi semacam ini? Jika tidak malu, dimanakah letak iman kita? Bukankah malu adalah bagian dari iman?

Maka, Wahai para guru…. Jangan lupa untuk menanamkan kejujuran pada murid-murid Anda. Alangkah indahnya jika semakin banyak orang jujur di negara Indonesia tercinta ini.

 

***

Sidoarjo, 14 April 2011

10:44 AM

Hanya celotehan di tengah gundah yang menyergap di dada.

NB : Maaf, jika Anda tidak menangkap poin penting pada postingan ini. Karena begitu banyak yang ingin diungkapkan. ^__^

Tagged: , , , ,

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: