Yang Tersisa dari Sabtu Seru


Alarm jiwa petualang saya segera berbunyi saat beberapa hari yang lalu, seorang teman menawarkan kepada saya untuk membantu mendampingi siswi-siswinya belajar di alam. Kali ini belajar tentang membudidayakan tanaman mangrove. Saya diminta mendampingi karena beberapa alasan. Salah satu alasannya adalah karena saya seorang perempuan. Maklum, yang melakukan kegiatan ini adalah kelas 3 putri.

Jadilah, hari Sabtu tanggal 19 Maret 2011 kemarin, saya mendampingi mereka belajar di alam. Perjalanan dimulai pukul 07.30 dari Insan Kamil menuju tempat perahu bertambat di salah satu sungai kecil di Sidoarjo. Sungai kecil itu bernama “Kali Kemambang”. Perahu yang membawa kami itu ditumpangi 27 siswi, 4 guru, 1 pemandu yang kebetulan adalah seorang wali murid, 3 orang bolo dewo – nya pemandu, dan satu orang “nahkoda” perahu.

Di awal perjalanan, bau menyengat hidung kami. Bau busuk sampah yang dihanyutkan warga ke aliran sungai. Seperti bau got mampet yang sangat tidak sedap di hidung. Jijay Bajay Kuch Kuch Hotahai lah… Untung saya bawa masker penutup hidung yang adanya adalah “hasil rampasan” dari seorang kawan yang tidak ikut dalam rombongan. Sebenarnya bukan untuk menutup hidung siy, lebih tepatnya penutup wajah. Agar tidak GOSONG terbakar sinar matahari. Haha..

Perjalanan itu kami tempuh selama satu jam, mungkin lebih beberapa menit. Waktu-waktu itu adalah waktu dimana air laut sedang pasang, sehingga perahu tidak karam akibat pendangkalan sungai. Namun tetap saja perahu kami sering berhenti akibat ulah sampah dan enceng gondok yang nyangkut di baling-baling penggerak kapal.

Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang cukup menyegarkan mata. Hijau. Tanpa kebisingan kendaraan yang padat di antara jalan-jalan kota Sidoarjo. Rasanya, “beban” koreksi, analisis soal, dan cucian dan setrikaan yang menumpuk di rumah, hilang lenyap, menguap dengan pemandangan alami ini. Hehe.. Jadi curhat, OOT.

Kiri kanan sungai adalah daerah tambak. Entah itu tambak ikan, udang, atau kepiting. Kami juga sempat melihat beberapa hewan yang tak kami temui di kota. Burung camar, biawak atau kami menyebutnya nyambik, ikan-ikan kecil, ular, dan burung gaok. Saya juga baru tahu ada nama burung seperti itu. “Biasanya burung gaok keluar di malam hari,” kata pemandu.

Kami juga menemui beberapa bangunan. Ada bangunan yang sangat sederhana, ada pula bangunan yang menandakan itu bekas Fasum. Apakah itu bekas sekolah, bekas balai pertemuan, bekas klinik, atau bekas PusTu (puskesmas pembantu). Tak jelas. Tapi yang pasti, beberapa diantaranya seperti telah lama tak berpenghuni alias kosong.

Anak-anak mulai resah. Maklum, anak kelas 3 ini, baru kali ini merasakan “perjalanan menjemukan” -karena yang terlihat hanya air, semak-semak, dan enceng gondok- selama satu jam lebih dengan perahu yang hanya beratap terpal biru. PANAS. Gerah. Dan waktu itu, angin seakan enggan menyapa kehadiran kami.

Pukul 10 tepat kami tiba di SMP Satu Atap Desa Kepetingan. Ternyata desa ini tidak se ekstrim yang saya bayangkan. Sebab di desa itu, rumah sebagian besar penduduknya telah terbuat dari semen, lantainya pun keramik cantik. Bahkan listrik sudah mengalir di desa ini sejak zaman presiden Suharto. Maklum, desa ini sudah berpenghuni sejak 1927. Jadi bisa dikatakan cukup sejahtera.

Tidak seperti Desa Kalikajang yang pernah saya datangi dengan murid-murid saya setahun yang lalu saat kegiatan P2D (Pengembangan Potensi Diri). Saya pernah mengunggah foto-foto kegiatan P2D itu disini. Desa Kalikajang baru berpenghuni sejak 1989-an. Tidak ada listrik di sana. Warga menggunakan solar cell untuk kebutuhan listrik di malam hari yang hanya mampu bertahan selama maksimal 6 jam saja. Tidak lebih, bahkan mungkin berkurang jika pemakaian wattage nya lebih besar.

Desa Kepetingan dan Kalikajang memiliki kesamaan. Tidak ada Puskesmas Pembantu (PusTu) atau hanya sekedar klinik bersalin. Tapi keadaan Desa Kepetingan masih lumayan, karena ada sekolah SD dan SMP Satu Atap. Sedangkan di Kalikajang, tidak ada. Mereka harus menempuh perjalanan cukup jauh dengan perahu jika akan bersekolah di pagi hari.

Hey… Ini bukan mimpi. Ini terjadi di Kabupaten saya. Kabupaten yang kaya dengan pabrik, tambak, dan perumahan.

Setelah menikmati snack —berupa makanan khas desa setempat— yang disuguhkan oleh penduduk sekitar, kami memulai kegiatan melakukan pembibitan mangrove. Kami juga dikenalkan beberapa jenis mangrove, menikmati pengambilan tanah rawa, dan menanam bakal mangrove itu pada plastik hitam polybag.

Awalnya anak-anak merasa jijik mengambil tanah rawa dan memasukkannya ke plastik polybag. Tapi semakin lama, anak-anak malah semakin menikmatinya. Kotor, tak menjadi masalah. Malah girang. Melumuri seluruh tangan mereka dengan lumpur rawa, kemudian mencoretkan tangan itu ke wajah teman mereka. Lucu sekali melihatnya. Rasanya, ingin sekali saya terlibat dalam ‘kegiatan’ seru itu. Meski panas terik matahari menyengat tubuh-tubuh mungil  mereka tapi mereka menikmati kebersamaan yang ada.

Setelah membibit, kami bersih diri. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu untuk menanam bibit mangrove yang telah berusia 6 bulan di tepi laut. Perjalanan ini hanya 20 menit dari tempat tertambatnya perahu. Dengan menyusuri sungai yang semakin melebar.

Sampai di lokasi penanaman, ternyata air laut belum akan surut. Kami —para guru— tak berani melepas anak-anak untuk turun menanam bibit. Ketinggian air mencapai leher orang dewasa. Alam sedang tidak berpihak kepada kami. Akhirnya kami batalkan acara menanam bakau itu. Tapi, sekali lagi hasrat anak-anak untuk bermain, kembali timbul. Mereka ingin berenang di daerah muara itu. Dengan beberapa pertimbangan dan kami tak ingin mengecewakan mereka, akhirnya kami mengijinkan mereka “menyeburkan” diri ke laut asalkan memakai pelampung dan life vest yang ada di perahu.

“Seruuuuuu. Asin, Ustadzah!!!” teriak mereka heboh. Dan sekali lagi saya juga ingin terlibat dalam ‘kegiatan’ itu. Rasanya, ingin menceburkan diri saya di sana dan bermain bersama mereka. Tapi, hasrat itu lagi-lagisaya tahan. Sehingga kala itu saya hanya menjadi penikmat kehebohan yang terjadi, bukan pelaku utamanya. Hiks…

20 menit lamanya, mereka berendam di air payau. Baju hingga jilbab mereka basah. Mereka seakan tak peduli dengan basahnya baju mereka. Yang penting jiwa mereka senang terpuaskan. Alhamdulillah, bisa membawa mereka bermain dan belajar di tempat itu.

Satu hal yang membuat perjalanan kali ini semakin berkesan buat saya, ketika pemandu mengatakan kepada saya bahwa sebenarnya di dunia ini tidak ada yang namanya pengangguran. Yang ada hanyalah orang malas yang tak mau menjemput rezeki yang sudah Allah tebarkan di muka bumi. Saya tertohok juga dia mengatakan demikian.

Saya jadi teringat ayat dalam Al-Qur’an Surat Al-Mulk ayat 15;

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya.”

Ayat diatas jelas menerangkan bahwa atas nikmat Allah, bumi ini dijadikan mudah untuk kita —manusia— agar bisa memenuhi berbagai kebutuhan hidup kita. Maka tidak ada istilahnya nganggur tidak melakukan aktivitas apapun dan hanya menunggu datangnya panggilan ‘kerja’. Karena sesungguhnya bekerja bagi seorang Muslim adalah berkarya.

Surat Al-Mulk ayat 15 ini juga mensyariatkan untuk berjalan di muka bumi dalam rangka mencari rezeki. Yang artinya tawakkal itu tidak lantas meninggalkan kerja dan usaha.

Jadi, pegangguran dan permasalahan ummat lainnya adalah adalah permasalahan dan tanggung jawab kita bersama. Apalagi kita yang mengaku dirinya generasi baru, maka menyerukan (memotivasi) masyarakat untuk selalu berkarya adalah kewajiban kita semua. Sebab janji Allah itu pasti. Dijadikan bumi ini mudah.

Dan saya yang hanya guru SD ini, sesadar-sadarnya bahwa hakikat pendidikan hari ini adalah tidak hanya menyiapkan pribadi yang unggul akademisnya, tapi juga menyiapkan mental dan spiritual siswa-siswi saya dengan keadaan kekinian di 20 tahun yang akan datang. Dimana kita tidak dapat memprediksi pekerjaan apa saja yang tersedia pada saat itu, persaingan, dan permasalahan sosial lainnya. Menjadikan pribadi mereka tangguh, luar dan dalam. Menjadikan mereka problem solver. Sehingga tidak ada lagi nanti istilah pengangguran, yang ada hanya pekarya, pekerja, dan pengusaha. Semoga. ^_^

Oia, satu hal lagi yang ingin saya lakukan berkaca dari perjalanan kali ini… Tiba-tiba, saya kembali ingin menjadi aktivis lingkungan.  ^_^

 

***

 

Diselesaikan di

Sidoarjo, 22 Maret 2011

06:58 PM

Dengan “Suaraku (Berharap)”-nya Hijau Daun dan “I Will Survive”-nya Cake ^_^

Note:

Selama 1 hari, masih terasa goyang-goyangnya perahu yang membawa kami ke sana.

Tagged: , , , , ,

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: