Hambar


Hambar, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring) berarti tidak ada rasa alias tawar dan tidak bergairah. Atau dalam thesaurus (padanan atau kedekatan kata) Bahasa Indonesianya adalah adem, basi, boyak, cahang, campah, cemplang, dingin, dan tawar.

Kata ini menggelitik telinga saya untuk membuat sebuah tulisan yang terkait langsung dengan kata ini. Sebuah kata yang akhirnya memberi banyak makna di sore hari.

Ya, sore hari menjelang Ashar  kemarin saya dikejutkan oleh sebuah pernyataan yang karena satu dan lain hal saya tak bisa menuliskannya disini.  Yang pasti setelah beberapa jenak itu pikiran dan perasaan saya terasa terkuras habis karenanya. Seperti magnet dengan dua kutub berbeda  dan berdekatan, saling tarik menarik. Dan momentum energinya begitu besar, sehingga saya terkulai kehabisan tenaga.

Akibatnya ba’da Ashar, ketika jemari saya mulai menggerayangi sebuah sendok yang beradu dengan gelas berisi air teh dan gulanya, serta bumbu dapur dan bahan baku untuk masakan makan malam, jemari itu seakan tak ada daya sama sekali. Meluncur saja secara otomatis. Bumbunya ini, itu, dibeginikan, lalu dibegitukan. Kosong pikiran saya. Entahlah mengapa. Meski cooking time kali ini juga ditemani oleh suami yang datang dengan cerita yang terus saja meluncur dari mulutnya.

Well, makan malampun tiba masanya. Saya belum memenuhi piring saya dengan makanan yang sudah saya hidangkan. Sebab saya ingin mendahulukan Fauzan yang katanya juga sangat lapar kemarin malam. Bagaimanapun, seorang ibu pasti mendahulukan anak-anaknya, bukan?

Tibalah episode hambar itu datang. “Mi, sayurnya hambar. Tidak ada rasanya. Dadar jagungnya juga,” kata suami ketika sudah menghabiskan tiga sendok suapan ke mulutnya.

“Ah, masa sih?” tanya saya meragu. Perasaan, tadi sudah saya cicipi semuanya ada rasanya kok, tidak hambar. Menurut saya. Tapi mengapa, ketika makanan itu dimakan dalam satu paket nasi, sayur, dan lauknya malah jadi hambar? Aneh.

Saya tidak percaya begitu saja, karena Fauzan anak saya, tetap lahap dengan makanan yang saya suapkan ke mulutnya sesendok demi sesendok.

“Sambalnya juga hambar, Mi” kata suami sejurus kemudian.

Innalillaahi.. Kenapa ini? Padahal sambal terasi yang saya buat tadi juga sudah saya cicipi berkali-kali. Perasaan sudah sedikit pedas, asin, dan manis. Tapi kok dia bilang hambar?

Lagi-lagi saya belum terlalu percaya dengan apa yang disampaikannya. Saya belum makan juga. Jadi saya pikir masih penilaian subyektif. Tapi penilaian dari suami ini mau tidak mau menampar saya sebagai seorang chef di rumah ini. Jujur saja. Memasak makanan dan rasanya hambar seperti kali ini belum pernah terjadi sebelumnya. Paling juga keasinan, kemanisan, kepedesan, atau keaseman. Bahkan sambal saja yang dirasakan lidahnya hanya pedas, tak berasa apa-apa.

Ya Allah, ya Rabb. Kok, bisa???

Dan penilaian dari suami ini menjadi mutlak kebenarannya saat saya meracik nasi, sayur, lauk, dan sambalnya ke atas piring saya. Dan dengan basmallah saya mulai memasukkan sesendok demi sesendok makanan itu. Terbukti sudah. Makanan yang saya masak tidak ada rasanya, hanya pedas karena sambal terasi saja. Hambar semua.

Belum selesai kekagetan saya habis, suami bertanya, “gulanya habis kah, Mi?”

Saya jawab tidak, karena memang masih banyak gula dalam ‘lemari’ penyimpan makanan kami. “Kenapa?” tanya saya berikutnya.

“Tehnya kok, kurang manis juga?”

Innalillahi… Kok bisa ya? Padahal segelas besar teh yang biasa saya suguhkan untuknya itu selalu terdiri dari 2 sendok teh gula. Pun kemarin sore itu. Saya tidak lupa menambahkan 2 sendok teh gula ke dalamnya. Tapi mengapa rasanya jadi berbeda?

Berjuta pertanyaan menggelayuti pikiran saya kemarin malam. Mengapa? Mengapa? Dan Mengapa? Adakah yang salah dengan lidah kami atau dengan diri saya sendiri?

Yang jelas, episode hambar ini akan selalu saya ingat. Karena ia bukanlah lagu dari daerah  Kalimantan Selatan (hambar-hambar pisang), atau bukan juga tentang nama perempuan Jawa (hambarwati), atau bukan juga tentang lagu Padi (hambaran langit maha sempurna… bertahta bintang-bintang di angkasa…). Ia adalah sepenggal kisah di sore hari di akhir bulan Juli ini.

Saya hanya bisa beistighfar, semoga setelah ini tidak ada lagi episode hambar lagi. Sebab tak enak hidup tanpa gairah.

Astaghfirullahal ’adziim…

*kesimpulannya yang aneh.

***

Semarang, 27 Juli 2011

23:05

Ditulis sejak kemarin malam, tapi baru kelar malam ini.

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: