D.E.N.D.A.M


“Dhan, kenapa pake lempar-lempar batu siy?” tanyaku pada Dhani yang duduk tak jauh dariku di tengah hutan itu.

“Yeeeeeeee… GR. Siapa juga yang lempar batu,” kata Dhani yang kemudian menyeruput air minum dari botolnya.

Lha, iya. Za dan Dhani kan ada di sebelah kananku. Lemparan batu itu dari arah kiri dan kena ujung sepatu kiriku. Lalu siapa ya, yang melempar? Di hutan ini, hanya ada kami bertiga. Kami sudah berjalan jauh dari arena base camp. Dan jalur ini memang bukan jalur umum. Tak mungkin ada orang yang melewatinya. Dan lagi, kalau ada orang tentu saja kami sudah melihat pancaran senternya sebelum orang tersebut mendekati kami. Begitu logikaku mencoba bernalar.

Ah, mungkin ada biji pinus yang jatuh dari pohon dan mengenai kaki kiriku. Begitu intuisiku berbicara.

“Yuk, jalan lagi,” ajak Za leader perjalanan ini.

“Bentar lagi, Za,” pintaku sambil menenangkan debaran jantungku yang masih berdegub kencang bertanya-tanya siapakah yang melempar batu ke arahku.

Selisih beberapa detik kemudian… Lagi, ada batu yang terlempar dari arah sebelah kiri. Kali ini lebih besar kerikilnya. Dan mengenai kaki, bukan sepatu seperti sebelumnya.

“Za… Gak usah lempar-lempar batu kaya gitu lah,” kataku menuduh Za melempar batu ke arahku.

“Kenapa siy, May? GR banget dari tadi,” jawab Za. “Udah, ah. Yuk berangkat lagi,” lanjutnya.

Aku berdiri sambil begidik. “Za, senternya dinyalain ya!?” pintaku padanya.

Za memang meminta untuk tidak menyalakan senter malam ini. Maklum saja, bulan sedang menampakkan bentuknya yang sublim. Hmmm… Memang menyenangkan melakukan pendakian di malam bulan purnama di Bulan Juli seperti ini. Cuaca yang pas untuk mendaki. Tidak hujan, meski dingin sangat menggigit di malam hari.

Perjalanan kami lanjutkan kembali.

Jarum jam menunjukkan pukul 9 lebih. “Za, depan bukannya udah camp setan, ya?”

“Hu um,”

“Mau nge camp dimana, kita?” tanyaku padanya dengan terengah-engah sambil terus berjalan dengan carrier yang masih bertengger nyenyak di punggung. Kemiringan jalur ini cukup lumayan menguras tenaga memang.

“Dhan, kita nge camp dimana?” Za meminta pendapat Dhan.

“Disini ajha gimana, Za? Aku ngantuk,” sarannya tanpa tedeng aling-aling. Parah memang mendaki dengan sahabatku yang satu ini. Dia mudah sekali terserang kantuk. Dan kalau sudah datang rasa kantuknya, begitu nempel langsung deh molor. Benar-benar pelor.

“Gila, Za. Jangan disini. Disini gak ada pohon. Nanti kalau angin bertiup kencang, kita bisa terbang. Lagian mana ada yang datar disini,” sanggahku.

“Lha…. Daripada nge camp di depan. Depan kan udah camp setan. Emang kamu mau nge camp disana?”

“Ya, enggak lah,” aku menyeringai ogah.

“Ya, sudah. Aku juga sudah ngantuk,” kata Dhan.

“Sudah… Sudah… Aku putuskan kita cari tanah agak datar di depan. Kita nge dome di sana,” kata Za memutuskan. Kami masih sambil terus mendaki.

“Ya, maksudku kalau tadi kita berangkat gak kesorean…. dan gak nyasar dulu… mungkin kita sudah melewati camp setan… dan kita bisa berisitirahat lebih tenang kan?”

“May… May… Yang sudah ya, sudah,” Za menyetop pembicaraanku untuk tidak kembali ke masa lalu. “Sekarang kita nge camp disini ajha,” ujar Za kemudian. Ada sedikit lahan datar yang cukuplah untuk 1 tenda dome kami yang tidak terlalu besar itu.

Tak lama, dome sudah berdiri dengan rapi. Lahannya pas sekali. Tak berlebih ataupun kurang. Kami pun langsung masuk ke dalam kantung tidur masing-masing.

Za dan Dhan sudah pulas saat telinga ini tiba-tiba mendengar suara asing dari kejauhan. Seperti suara lembaran seng terjatuh dari puncak gunung. Padahal di atas tidak ada rumah. Jantungku berdegub kencang. Aku berusaha menutup telinga demi tak ingin mendengar suara-suara aneh itu. Tapi ternyata suara itu seakan tak ingin hilang dari telingaku. Aku membuka mataku. Kulihat sekeliling. Dengan agak setengah sadar, aku melihat tenda dome ini berwarna merah darah. Aku terperangah. Tenda dome yang siang tadi kumasukkan ke dalam carrier Za kan berwarna silver. Bukan merah.

“Dhan… Dhan…” Ku panggil Dhan dan menggoyangkan tubuhnya. Aku ingin menguatkan apa yang telah kulihat. Tapi Dhan tidak juga terbangun. “Dasar kebo,” gumamku.

“Za… Za… Bangun..” Ku panggil Za berulang kali dengan menggoyangkan tubuhnya. Sama seperti yang kulakukan pada Dhan sebelumnya.

Tumben Za tidak terbangun. Aku merinding. Aku kembali membaringkan tubuhku dan berusaha tenggelam ke dalam sleeping bag hitam yang kupakai. Tapi mataku tak bisa terpejam juga.

Kembali kupanggil Za dan Dhan. Kali ini Za terlebih dahulu kubangunkan karena Za relatif lebih mudah terjaga daripada Dhan. Kuhadapkan tubuh Za yang sedang miring ke arah dinding dome ke atas.

Haaa??? Wajah Za biru lebam. Kubuka sleeping bag yang dipakainya sampai terlihat tangannya di depan dada. Dingin teraba disana. Seperti es.

“Za… Za…” Aku masih berusaha membangunkannya.

Tak juga melihatnya bergerak, perhatianku beralih ke arah Dhan. “Dhan… Dhan… Banguuun…. Dhan… Za membiru…” aku terus menggoyangkan tubuh Dhan sambil mengatakan apa yang kutemui. Kuharap dia segera bangun. Atau jangan-jangan, Dhan pun sama seperti Za? Sudah dingin dan membiru?

Ah, keringat dingin mengucur deras dari keningku. Padahal udara di luar sangat dingin malam ini. Aku berusaha tenang sambil memejamkan mata dan mengambil nafas dan berharap semoga ini hanya perasaanku saja.

Aku buka mataku lagi dan melihat sekeliling. Yang kudapati masih sama, dinding dome ini berubah menjadi merah darah. Dan suara-suara seng terjatuh itu kembali terdengar sangat riuh di telingaku. Kali ini malah terasa semakin dekat jaraknya dengan lokasi kami mendirikan dome ini.

“Za… Dhan… Bangun!!!” aku meneriaki mereka dan menggoyangkan tubuh mereka semakin kencang.

Dingin? Seperti es. Sedangkan yang kupegang adalah sleeping bag yang menyelimuti tubuh mereka dari luar. Ada apa dengan kedua sahabatku ini? Apa yang harus kulakukan?

Dome itu tiba-tiba mendingin. Aku seperti berada dalam lemari es yang besar. Suhunya seakan dibawah 0 derajat celsius.

Aku harus keluar dari sini. Kalau tidak, aku bisa mati, pikirku.

Mati? Apakah kedua sahabatku ini sudah mati membeku?

Mati? Aku belum siap untuk mati. Aku tak mau mati. Aku harus keluar dari sini.

Secepat kilat ku robek pintu dome. Aku tak sempat mencari reslitingnya. Aku ingin keluar. Aku menggigil, tanganku dingin, kudukku merinding.

Kraaak…. “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah……..”

 

In Memoriam

Lintang Mayapada

Stanza Buana

Surya Aditya Ramdhani

15 Juli 2011

“Ha.. Ha.. Ha.. Biar tahu rasa. Makanya, jangan suka nyakitin hati orang.”

Dia berdiri di depan prasasti itu sambil tersenyum sinis tanpa membuka kacamatanya.

 

***

Semarang, 08 Agustus 2011

12:46 PM

Terinspirasi sejak Shubuh pagi tadi.

 

Tagged: , , , , ,

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan β„’

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilΓ©t/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: