Tujuh Pun Akhirnya Pergi


Jantungku berdebar dengan kencang. Ah… Apa yang tertulis untukku pagi ini ya?

“Aku yang salah. Maafkan aku”

Deg… Dua kalimat singkat yang punya banyak makna di detik ini. Disertai beberapa kalimat panjang yang seolah memberikan keterangan jelas dan detil tentang arti sebuah maaf.

Dulu, aku yang sering mengatakannya padanya. Tapi kini, itu yang tertulis pagi ini untukku darinya.

Satu… Dua… Tiga… Mereka satu persatu terbang meninggalkanku sendiri. Mereka yang berkarakter lemah beberapa hari belakangan ini.

“Jangan pergi. Tetaplah disini,” ujarku lirih pada mereka dengan separuh badan yang sudah dingin.

Empat.

“Ku mohon, tetaplah disini…” aku berusaha menarik Empat untuk menemaniku yang semakin menggigil. Tapi Empat punya energi yang sangat kuat sehingga aku tak mampu menahannya.

Mataku tak sengaja bersibobrok dengan si Tujuh. Dia menyeringai. “Kan sudah kukatakan dari awal. Dimana otakmu, Jingga?”

Kali ini aku tak kuasa menahan air mata atas cacian si Tujuh. Dimana otakku? Ya, dimana otak yang seharusnya bisa kugunakan lebih optimal? Dimana kuletakkan logika yang harusnya lebih sering berbicara?

“Tidak… Masih ada Lima dan Enam, juga kau yang masih disini,” tanganku yang melemah memegang erat sekuat tenaga si Lima dan Enam.

“Lihat saja, nanti. Lima dan Enam akan meninggalkanmu. Apalagi aku,” Tujuh kembali menyeringai. Di balik kacamatanya yang tebal itu kulihat bola mata putihnya telah memerah.

Lima.

Ah, lima pun terasa semakin berat untuk tanganku mencoba meraihnya.

“Lima… Tetaplah disini… Ku mohon..”

Tak ada kata yang keluar. Dia hanya diam. Membiru. Lalu kemudian terbang. Sekuat tenaga pun aku meraihnya, tapi aku tak mampu. Aku melepasnya. Dengan tubuhku kembali tersentak ke bumi.

Detik ini, harapanku hanya pada Enam.

“Kau tak akan pergi seperti yang lainnya, bukan?” bisikku pada Enam.

Dia membelai kepalaku. Tersenyum manis padaku. Ah, Enam masih berpihak padaku rupanya. Aku sedikit lega. “Jangan menguap seperti yang lainnya, ya?” pintaku padanya.

“Dik… Aku harus pergi. Tak ada lagi harapan untukmu,” katanya lembut. Selembut, semanis, dan seanggun wajahnya.

Deg… Tak ada harapan lagi untukku. Padahal baru saja akan kuucapkan kata ‘terima kasih’ padanya yang masih tetap bertahan di detik ini.

“Sudah kukatakan padamu berulang kali, Jingga. Hanya orang gila yang akan beratahan,” Tujuh kembali berceracau dengan sangat keras di telinga. Aku sampai begidik mndengar ceracaunya.

“Dik… Aku pergi…” Enam pun akhirnya tak mampu kutahan lagi. Aku semakin mendingin. Paling tidak, dia uluk salam perpisahan padaku. Setidaknya, ini sedikit menghangatkanku walau hangatnya itu hanya teraba dalam 10 hitungan saja.

Aku semakin membeku. Kini tinggal tangan kiriku yang masih hangat. Tangan kiri dan sebagian wajahku.

“Tujuh… Berilah aku waktu…. Sebentar saja…” Pintaku pada Tujuh dengan suara yang tinggal beberapa desibel saja. Aku menyerah.

“Untuk apa?”

Untuk apa? tercekat aku dengan pertanyaan itu. Ya, untuk apa? tidak ada gunanya mengulur waktu bukan. Toh, memang tak akan pernah ada jenak lagi untukku. Kata itu dulu juga sering aku ucapkan padanya.

“Untuk menikmati sakitku,” jawabku sekenanya.

“Berapa lama?” Tanya Tujuh mau sedikit berkompromi denganku.

“Satu menit saja. Seperti yang biasa aku lakukan bersamanya.”

“OK. Hitungan mundur dariku, ya?”

“Tujuh, aku tidak suka di-OK-in. Kau tahu bukan?” ujarku sembari mengulur waktu.

“Baiklah. Aku ulangi,” katanya. “Hitungan mundur dariku, ya?” lanjutnya sedikit lebih lunak dari nada sebelumnya.

“Iyah…” jawabku semakin melemah.

“3… 2… 1…” Tujuh menghitung mundur. Sama seperti yang sering dia lakukan sebelumnya.

Aku terdiam dan membisu. Dalam dingin yang semakin menyesap ke seluruh tubuhku ini aku harus menahan diri. Mencoba berkilas balik pada sebuah rendesvous yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Waktuku hanya 60 detik saja. Aku tak merasakan lagi hangatnya seperti waktu itu. Ya, 60 detik itu akan berlalu sebentar lagi. 60 detik untuk memutar semua slide puisi dan prosa yang pernah tercipta. 60 detik untuk…..

Done…” kata Tujuh membuyarkan lamunanku. Padahal aku masih ingin ada 60 detik 60 detik lainnya.

Hmmmmffffff… Aku dan Tujuh menghela nafas berat, panjang, dan lama. “Kau juga berat, kan?” tanyaku mengusir kebelumtuntasan apa yang sedang ada dalam benakku.

“Jingga, semuanya akan mudah. Percayalah padaku,” kata Tujuh menghiburku. Seringainya yang jahat itu melunak sejenak demi untuk membuatku merasa ringan.

“Baik, pergilah sekarang. Terima kasih telah membersamaiku detik-detik ini,” ujarku semakin lirih dan mungkin hanya Tujuh saja yang mendengarnya.

Tujuh perlahan-lahan terasa semakin berat dalam genggaman kirikuku. Tujuh melayang perlahan meninggalkan tubuhku yang semakin membiru dan membeku. Tujuh itu pun akhirnya pergi bersama yang lain.

Aku kembali menjadi satu. Satu yang dingin. Satu yang kembali ke masa itu.

“Masa depan itu hanya ada aku dan dia. Bukan kau.”

 

***

Semarang, 07 Agustus 2011

09:20

Dengan “Kiss The Rain”

Dibuat di tanggal 7, harusnya bulan 7 di jam 7 lebih 7 menit, harusnya…. Hehehehe…

Tagged: , , , ,

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: