Surat Terbuka untuk Mr. Tukul


Kepada

Yang saya hormati

Mr. Tukul

 

Assalamu’alaikum wr wb.

Mr. Tukul yang baik hati dan tidak sombong, bagaimana kabarnya? Masih tetap setia dengan mbak Susi kan?

Mr. Tukul, anak saya Fauzan meminta saya menulis surat kepada Anda. Oia, ijinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Emohi Rino Lailatul Kodar, seorang ibu rumah tangga biasa. Anak saya baru 1, namanya Fauzan Azhima Abdurrahman.  Usianya 4 tahun lebih 7 bulan. Meski masih kecil, tapi dia cukup kritis. Makanya, saya diminta untuk menuliskan ini kepada Anda.

Kata Fauzan, tindakan mengolok orang lain (pada iklan salah satu provider telekomunikasi yang Anda bintangi) itu tidak baik. Apalagi dilakukan berkali-kali. Fauzan memang tidak pernah melihat acara talk show yang Anda bawakan di salah satu televisi swasta yang tayang diatas pukul 10 malam itu. Saya mengira, dari sanalah tag line ini muncul. Anak saya itu hanya tahu, di iklan yang Anda bawakan tersebut, Anda berkata “Ndeso” dengan nada dan ekspresi mengejek pada 3 orang yang sedang bekerja membangun rumah Anda. Fauzan ingin mengatakan kepada Anda, bahwa mencela atau mengumpat itu haram hukumnya. “Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela” (QS. Al-Humazah : 1)

Mr. Tukul, saya memang mengajarkan sesuatu tentang kebaikan dan keburukan pada anak saya yang berusia 4 tahun itu. Salah satu tindakan kurang baik yang saya amati dan saya sampaikan padanya adalah mencela, mengumpat, mengolok, atau ngatain orang lain. Bahkan Allah akan membuat celaka bagi mereka, orang-orang yang suka mencela.

Sebagai orang tua, saya melihat keadaan lingkungan sekitar dan fenomena yang terjadi di Negara kita. Rupanya sekarang ini, mencela alias mengumpat menjadi hal yang wajar dan lumrah. Bahkan jika orang yang diumpat merasa tersinggung, justru ia akan disalahkan oleh masyarakat. Wong guyon koq, ditanggepi serius..!. Begitu kebanyakan dalih si pengumpat –dan orang-orang yang melumrahkan umpatan– untuk melegitimasi “makiannya” kepada orang lain.

Mungkin kita yang sudah dewasa ini tahu, bahwa apa yang Anda lakukan dalam iklan itu hanya sekadar guyonan untuk mencairkan suasana. Tapi, saat iklan itu dilihat oleh anak kecil seperti anak saya di waktu-waktu diperbolehkan untuk menonton televisi, ini akan menjadi sebuah pembenaran baginya untuk mengolok kawannya. Orang dewasa ajha boleh mengolok, masa anak-anak tidak boleh?

Mungkin Anda bisa berargumen bahwa adalah orang tua berkewajiban untuk mendampingi dan membimbing putra putrinya saat sedang menonton televisi. Saya sangat sepakat dengan argumen Anda, dan insya Allah saya sudah melakukannya. Hanya saja, saya khawatir tidak banyak orang tua yang bisa intens untuk mengawasi dan mendampingi putra putri mereka saat anak-anak itu sedang menonton televisi.

Kalau begitu, tidak usah menonton TV atau sekalian tidak usah punya TV…! Kalau yang ini, saya tidak setuju. Sebab, tak bisa dipungkiri beberapa program televisi sangat baik untuk anak-anak sebagai sarana pembelajaran. Dari sana anak-anak bisa termotivasi dan mendapat pengetahuan baru. Jadi, menyarankan untuk tidak menonton TV atau tak usah punya TV, rasanya kurang tepat.

Mr. Tukul yang baik, coba Anda bayangkan jika di sebuah tempat ada beberapa anak sedang bermain kelereng. Salah satu diantara ternyata mereka tidak pandai menyentil biji kelereng untuk masuk ke dalam lubang. Kemudian beberapa kawannya mengolok dia, “Ndeso…!” Sepulang dari bermain, si anak yang memiliki kecenderungan introvert merasa dirinya bodoh, ndeso, katrok dalam segala hal. Nyentil gundu ajha gak bisa. Kemudian di otaknya terus terstimulus bahwa dia ndeso, dia tidak bisa melakukan apa-apa, dia katrok, dan seterusnya. Walhasil dia bisa menjadi manusia yang tidak memiliki semangat untuk maju. Bisa Anda bayangkan bagaimana masa depannya?

Berlebihan? Ah, rasanya tidak terlalu berlebihan dengan ilustrasi saya diatas. Karena sudah tak asing di telinga kita ada berita di Koran, di internet, maupun televisi, tentang percobaan bunuh diri seseorang  atau percobaan membunuh orang lain yang bercikal dari olokan, ejekan, celaan, dan makian. Jadi ilustrasi saya diatas sedikit banyak ada benarnya.

Mr. Tukul, saya lebih khawatir lagi terhadap bangsa ini, saat semua bisa merasa “lebih baik” dengan mengumpat dan membuat celaan, maka bangsa ini tak lebih akan menjadi bangsa yang lambat berkembang. Bukankah seharusnya kita lebih baik menjadi bangsa yang suka memotivasi? Bangsa yang senantiasa menebarkan semangat kepada semua orang untuk bisa maju dan lebih baik? Bangsa yang mampu saling menghargai hasil kinerja orang lain di tengah kemajemukannya?

Mr. Tukul… Alangkah indahnya, jika kata-kata “Ndeso…!” dalam iklan itu diganti dengan “Ayo belajar bareng” atau apalah yang lebih bernada memotivasi daripada bernada mengumpat. Tentu ini akan memberi dampak positif ketika kata-kata itu. Paling tidak, saya punya 3 sisi positif.

Pertama, memacu orang lain untuk selalu belajar. Tak peduli apa pekerjaannya. Tak peduli berapa usianya. Asalkan dia mau belajar, pasti dia bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Misalnya, cara pemasangan listrik dengan benar. Jika tidak didapatkan dari guru, kita bisa mencarinya di internet. Kedua,  memanusiakan manusia dengan tidak mencemooh suatu hasil kerja. Tukang batu akan merasa lebih dimanusiakan dengan diajak berbicara baik-baik oleh majikannya. Maka akan tercipta sebuah hubungan yang harmonis antara pekerja (Para Tukang) dan para pemilik modal (Mr. Tukul). Ketiga, menebarkan manfaat. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain? Dengan memberikan semangat kepada orang lain, berarti dia menebarkan manfaat pada orang tersebut. Artinya, sang motivator dapat gelar “sebaik-baik manusia” (HR. Muslim) dan si penerima motivasi dapat gelar yang tak kalah baiknya, “mereka yang mau memperbaiki diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’du : 11).

Yah… Mr. Tukul. Mungkin Anda juga hanya sebagai “korban” ide kreatif pembuat iklan. Tapi, saya yakin Anda juga bisa memilih dan memilah, mana yang tidak pas (pantas) untuk disampaikan dan mana yang lebih tepat untuk ditayangkan. Kalau Anda tak pernah berpikir untuk saya dan anak saya, pikirkanlah untuk masa depan bangsa kita tercinta ini.

Mr. Tukul, saya mohon maaf atas surat yang saya buat ini. Mungkin dalam surat ini banyak yang membuat Anda dan teman-teman kreatif tidak berkenan. Saya “terpaksa” melakukan ini karena permintaan anak saya Fauzan Azhima Abdurrahman yang masih kecil itu.

Terima kasih telah membaca surat saya. Besar harapan saya ada perubahan pada kalimat yang Anda sampaikan di iklan tersebut.

Wassalamu’alaikum wr wb.

 

Semarang, 19 Oktober 2011

00:25

Emohi Rino Lailatul Kodar

Tagged: , , , ,

83 thoughts on “Surat Terbuka untuk Mr. Tukul

  1. ki kenyut 13 April 2014 pukul 10:12 PM Reply

    yg trpenting shlat 5 wktu, urus diri sbaik mgkin, dan lbh bagus mnjauhi masalah dr pd komen mnmbah masalah….

    Suka

  2. brazkie 6 Desember 2011 pukul 5:01 PM Reply

    semua memang hanya permainan, tapi permainan yang meninggalkan bekas/pengaruh keburukan bukanlah permainan yang layak ditertawakan, ingatlah bahwa setiap laku kita akan dimintai pertanggungjawaban.

    terima kasih atas surat terbuka ini bu

    Suka

    • Lailatul Qadr 6 Desember 2011 pukul 6:36 PM

      sama-sama ^__^

      Suka

  3. Tukul Arwana 15 November 2011 pukul 9:42 AM Reply

    anda sendiri sudah masuk dalam permainan juga. Kenapa harus pakai Mr. Tukul di depan namanya. Sama aja melegitimasi peran Tukul. Intropeksi diri lebih baik.

    Suka

    • Lailatul Qadr 15 November 2011 pukul 8:01 PM

      Terima kasih telah mengingatkan…
      Juga terima kasih telah berkomentar…. ^__^

      Suka

  4. Ashwin Hendik R 15 November 2011 pukul 9:30 AM Reply

    dewasa ini…
    seyognyanya kita sebagai bangsa yang bermartabat,kita harus menghargai karya dan apresisi orang lain sebagai maha karya yang luar biasa..
    harusnya kita kembali pada diri kita sendiri dan tergantung bagaimana kita menerapkan karya-karya tersebut dalam kehidupan kita masing-masing
    hanya orang-orang yang tidak doyan humor saja yang mengatakan humor itu haram..
    MERDEKA
    TETAP NKRI..
    GANYANG MALAYSIA

    Suka

    • Lailatul Qadr 15 November 2011 pukul 8:04 PM

      Saya tidak mengatakan humor haram. Adakah disana tulisan itu? Saya hanya menuliskan bahwa olok-olokan itu yang haram.
      Terima kasih telah berkomentar

      Suka

    • Ashwin Hendik R 19 November 2011 pukul 6:02 PM

      humor itu sebagian seni..
      segala sesuatu bisa d buat seni…
      itu juga hanya sebuah humor,bukan realita sebenarnya…

      Suka

  5. yudha 4 November 2011 pukul 5:57 AM Reply

    setuju
    smga qta mnjdi mnusia yg mngambil pljrn n mnjdi insan yg lbh baik dr hri kmrin
    aamiin

    Suka

    • Lailatul Qadr 4 November 2011 pukul 9:01 AM

      Aamiin…
      Terima kasih, telah berkunjung.. ^__^

      Suka

  6. Mukti Amini (@muktiamini) 1 November 2011 pukul 6:38 AM Reply

    bagus. ulasannya tajam tapi tidak mnggurui. semoga anak2 kita terselamatkan dari budaya2 yang tidak kondusif

    Suka

    • Lailatul Qadr 1 November 2011 pukul 6:57 AM

      Aamiin…
      Terima kasih, Bunda… Telah mampir ke Gubug saya… Saya akan mencoba semapu saya…

      Suka

  7. Wulida Rochman 28 Oktober 2011 pukul 4:52 PM Reply

    jempolll guuuedheee deh buat fauzan😀

    wah…,, sudah seharusnya pemerintah nyortirin yg kek beginiaaan…

    Suka

    • Lailatul Qadr 28 Oktober 2011 pukul 8:10 PM

      Alhamdulillah, Am… Terima kasih…

      Yang pasti Am, ini tidak hanya tugas pemerintah. Tapi tugas kita semua. ^__^

      Suka

  8. tidak-simpatik 28 Oktober 2011 pukul 4:25 PM Reply

    iklan-iklan disini memang tidak ada yang mendidik dan selalu menonjolkan hal2 yang jelek dan sama sekali tidak berkesan. yang membuat iklan mestinya orang yang berpendidikan tetapi kenyataan karyanya berbeda dengan pendidikannya. itulah indonesia.

    Suka

    • Lailatul Qadr 28 Oktober 2011 pukul 8:09 PM

      ^__^

      Tapi tak boleh pesimis, ya…? Karena masih banyak yang peduli dan memilih untuk tidak bersikap plagmatis atas keadaan bangsa ini. Masih banyak yang ingin berjuang dan bekerja dengan sebaik-baiknya untuk Indonesia.

      Suka

  9. Fitri Susanti 28 Oktober 2011 pukul 10:51 AM Reply

    Sepakat !!!, media seharusnya memberikan edukasi untuk penontonnya, bukan sebaliknya.

    Salam buat ‘ponakan’ Fauzan si cerdas – dari ammah ipit ,ya No🙂

    Suka

    • Lailatul Qadr 28 Oktober 2011 pukul 10:58 AM

      Terima kasih telah mampir, Pit… Insya Allah disampaikan…

      Suka

  10. Seseorang Banget 28 Oktober 2011 pukul 10:22 AM Reply

    Ada protective factors dan ada risk factors yang akan selalu mengiringi perkembangan individu dari bayi hingga lanjut usia. Coba baca ecological theory-nya Bronfenbrenner. Dan sesungguhnya protective factors yang ada dalam diri individu inilah yang akan menjadi sangat penting untuk keberhasilannya. Karena risk factors tidak bisa qt kendalikan, maka kendalikanlah apa yang bisa dikendalikan. Sistemik dan butuh waktu panjang untuk mengubah lingkungan. Terimakasih.

    Suka

    • Lailatul Qadr 28 Oktober 2011 pukul 10:28 AM

      Terima kasih telah mampir dan memberi masukan…

      Suka

  11. rara 28 Oktober 2011 pukul 9:40 AM Reply

    Hebat jeng….subhanallah
    Dari awal iklan itu muncul aq jg gak simpatik. Banyak nilai negatifnya dibanding yg positif.

    Suka

    • Lailatul Qadr 28 Oktober 2011 pukul 9:50 AM

      Alhamdulillah… Terima kasih, sudah mampir Mbak Rara… ^__^

      Suka

  12. […] Tanggapan “Surat Terbuka Untuk Mr. Tukul” Okt27 by Lailatul Qadr Beberapa hari terakhir, blog saya ramai dikunjungi orang (ya iyalah orang, masa setan?). Saya memang sedang gencar mempromosikan tulisan ini kepada beberapa teman saya di akun jejaring sosial facebook dan twitter. Dan sampai 27 Oktober hari ini, sudah lebih dari 1.000 orang yang membaca surat yang saya buat itu. Sila lihat ini. […]

    Suka

  13. Ika 26 Oktober 2011 pukul 11:48 AM Reply

    Hmm..sebenarnya slama ini nggak pernah memperhatikan iklan ini kalo ditvgkan ditv, pas baca surat ini baru ngeh juga… terutama dampak yg ditimbulkan dr tyangan tersebut buat anak2, apalagi yg namanya anak2 biasanya akan mudah sekali menyerap informasi yg ditygkan secara visual. Mungkin bagi manusia dewasa hal ini dianggap wajar saja, krn memang org dewasa sdh memiliki kemampuan untuk menilai suatu itu baik/buruk beda halnya dgn anak2 terutama untuk anak2 balita..mrk blm memiliki kemampuan akan hal itu apapun yg masuk kedlm memori mrk akan dianggapnya sama saja dan bisa jd sama baiknya…Tp ya itulah yg terjd saat ini, semuanya butuh kerjasama dan kerja keras antar berbagai elemen spy generasi muda bangsa ini dpt mnjdi generasi yg berkualitas baik dr segi akhlaq maupun ilmu..salam buat fauzan yo rin🙂

    Suka

    • Lailatul Qadr 26 Oktober 2011 pukul 3:39 PM

      Insya Allah, Mbak…

      Terima kasih, telah meninggalkan jejak disini… ^__^

      Suka

  14. Verininta kusmaya 25 Oktober 2011 pukul 9:38 PM Reply

    Setujuuuu buuuuu…. Saya juga sependapat dan gak suka bgt dg iklannya…. Kasar bgt ngomongnya…

    Suka

    • Lailatul Qadr 26 Oktober 2011 pukul 6:29 AM

      Kalo yang berkomentar ibu-ibu pasti setuju deh… ^__^

      Suka

  15. audwin 25 Oktober 2011 pukul 11:54 AM Reply

    menurut saya sih sebenernya ini juga masih bisa di bilang wajar… karena emang trade marknya tukul seperti itu… dari saat dia membawa acara di empat mata juga sudah ada kata2 seperti itu kan?? malah lebih parah… sudah KATROK, NDESO, IDUP LAGI…. itu sering di ucapkan sma si tukul kan? tapi mungkin kata2 ini hanya sebuah cambukan untuk para penonton lebih semangat.. itu sih hanya dari sudut pandang saya😀

    Suka

    • Lailatul Qadr 25 Oktober 2011 pukul 7:05 PM

      Terima kasih telah berkomentar. ^__^

      Suka

  16. wahyudi 25 Oktober 2011 pukul 11:48 AM Reply

    Izin share artikel ini di FPnya XL..! Saya sangat setuju sekali dg isi surat ini..!

    Suka

    • Lailatul Qadr 25 Oktober 2011 pukul 6:53 PM

      Sila… Dengan senang hati.

      Suka

  17. Cupu 25 Oktober 2011 pukul 9:24 AM Reply

    1 kata untuk penulis surat itu “LEBAY” :payah:

    Suka

    • Lailatul Qadr 25 Oktober 2011 pukul 6:53 PM

      Terima kasih, atas komentarnya… ^__^

      Suka

  18. naurazain 24 Oktober 2011 pukul 10:43 PM Reply

    mb,.. ndeso itu kan iconnya mas tukul saja, gimana yah, bingung juga nih saya ngejelasinnya. bukan saya membela mas tukul loh dan bukan dikarenakan saya penggenamanya juga. menurut saya mas tukul itu hanya produk komersil saja mb bagi sipemilik dolar, justru mas tukul itu sangat bersahaja banget. saya pernah melihat biografi perjuangan beliau disalah satu TV swasta beberapa tahun yang lalu,disaat namanya mulai naik daun. tapi maap saya lupa distasiun yang mana. pokoknya soro banget mb, dan bener-bener kalo mas tukul itu memanglah ” ndeso” segala udah pernah dilakukan katanya untuk bertahan hidup. dan inilah hasil kerjakerasnya, dari kere sampai dengan sukses sekarang. jadi saya mohon banget mb jangan salahkan mas tukul ya mb

    Suka

    • Lailatul Qadr 25 Oktober 2011 pukul 6:01 AM

      mbak Naura yang baik hati, diatas sudah saya sampaikan :

      1. Mr. Tukul toh bisa memilih. menggunakan kalimat yang baik atau yang buruk.
      2. Bukan kata “ndeso” yang saya sorot, mbak… Tapi olok-olok an yang Mr. Tukul sampaikan pada orang yang lebih “lemah”. Ini kan bullying. Saya hanya kasihan kepada anak-anak yang orang tuanya tidak peka.

      Tapi, terima kasih telah membaca. Sekali lagi, saya terpaksa menuliskan ini karena anak saya Fauzan meminta saya menulis surat untuk Mr. Tukul atas aksi olok-olok an pada iklan tersebut.

      Suka

    • naurazain 25 Oktober 2011 pukul 9:16 AM

      hehehe,…. berarti komentar saya ngak nyambung dong ya,… ( biasa nih tante naura, kl komentar selalu pakai hati🙂 )

      Suka

    • Lailatul Qadr 26 Oktober 2011 pukul 8:01 AM

      Whatever lah, mbak… Gak papa koq… Namanya juga orang berkomentar…

      Suka

  19. Galih 24 Oktober 2011 pukul 4:18 PM Reply

    banyak bgt nih….
    ijin nyimak dulu……….

    Suka

    • Lailatul Qadr 24 Oktober 2011 pukul 9:51 PM

      Sudah terbaca??

      Suka

  20. tikaELF 24 Oktober 2011 pukul 8:29 AM Reply

    Waahh…tulisan yg super keren! Harus ada yg menegor begini biar disensor. Adek saya 4thn mulai ktularan tuh😦 Sedih….memaki orang lain dijadikan ajang hiburan.

    Suka

    • Lailatul Qadr 24 Oktober 2011 pukul 9:50 PM

      Semoga adiknya bisa segera disembuhkan ya… ^__^

      Terima kasih telah mampir…

      Suka

  21. priyo adi 23 Oktober 2011 pukul 7:03 PM Reply

    kadang anak kecil mmg lebih kritis ya?
    Trnkasih mba’, smoga surat ini wacana untuk brbagai media dan pembuat iklan…

    Suka

    • Lailatul Qadr 23 Oktober 2011 pukul 10:09 PM

      Iya… Anak-anak memangsangat luar biasa…

      Suka

  22. endang 23 Oktober 2011 pukul 11:33 AM Reply

    betul itu buk… sekalipun saya belum menikah tapi saya mempunyai keponakan yg umurnya tidk berbeda jauh dr anak ibu.
    sayangnya bahasa indonesia yg sesungguhnya sudah banyak yg di campur2.
    semoga ini menjadi perhatian dan pembelajaran untuk setiap org.

    Suka

    • Lailatul Qadr 23 Oktober 2011 pukul 1:03 PM

      Terima kasih atas dukungan kepada surat ini, Pak…

      Suka

  23. murator 21 Oktober 2011 pukul 11:00 PM Reply

    pilihan yg bijak sekarang adalah:buang jauh2 untuk menyalakan tv,bawa anak2 keluar rumah,ajarkan mereka bermain,bersosialisasi dan mengenal alam/lingkungan…

    Suka

    • Lailatul Qadr 22 Oktober 2011 pukul 9:29 AM

      Terima kasih atas sarannya…
      ^__^

      Suka

  24. Alvha 21 Oktober 2011 pukul 9:09 PM Reply

    Assalamualaikum Mbak Rino.. Mantap nih si Umi..kembaran waktu kuliah dulu, hehe. Kalau dipikir2 sekarang ini memang zaman sudah benar2 kacau ya Umi. Yang salah disanjung2 yang benar dicela2. Tapi “the show always must go on”. Dan tugas kita sebagai orang tua lah untuk berusaha sekuat tenaga membentengi “Kertas Putih” kita agar tidak terkena coretan2 yang tidak perlu. Selama masih ada orang yang baik dan peduli terhadap masa depan seperti Umi, aku yakin masih ada harapan untuk kebaikan bagi kita semua. Amin.

    Suka

    • Lailatul Qadr 22 Oktober 2011 pukul 9:28 AM

      Wa’alaikumsalam, Alvha…
      Masih kembar kah kita??? Hehehe…
      Terima kasih, ya… Semoga bangsa ini bisa menjadi bangsa yang lebih baik… Aamiin.
      Terima kasih telah berkunjung…

      Suka

  25. Deni Indra Kelana 21 Oktober 2011 pukul 6:54 PM Reply

    Sepakat dengan Fauzan Bu, salut dengan kekritisannya. sekarang memang banyak acara tv (beserta pembawa acara dan pengisi acaranya, tentunya) yang kurang mendidik, kalau tidak mau dibilang menjerumuskan anak-anak bangsa ke perilaku yang jauh dari tuntunan nilai budaya yang positif… dan yang lebih mengherankan lagi, acara-acara seperti ini disukai banyak orang dan didukung para pemasang iklan…

    Suka

    • Lailatul Qadr 21 Oktober 2011 pukul 7:14 PM

      Terima kasih, Pak…
      Semoga bisa didengar oleh mereka penggiat industri kreatif…

      Suka

  26. dewaarjuna 21 Oktober 2011 pukul 1:49 PM Reply

    saya suka quote “Wong guyon koq, ditanggepi serius..!”
    dewasa ini emng udah jamak olok2an, lihat saja acara komedi di tv, isinya olokan semua, klo perlu dirinya sendiri mencerca diri sendiri.. seperti tidak ada bahan lainnya saja.. (hal ini sebenernya juga sdah dikritisi oleh seniman komedi dari era lama) tpi miris juga jaman sekarang udah parah..

    Suka

    • Lailatul Qadr 21 Oktober 2011 pukul 7:11 PM

      Hmmmmffff…
      Cuma bisa mengelus dada, saya…

      Suka

  27. nanangrusmana 21 Oktober 2011 pukul 1:46 PM Reply

    Jika kita perhatikan acara televisi kita, jujur saja sebenarnya yang mendidik pada kebaikan hanya sekian persen saja, amat sangat sedikit sekali, mungkin kurang dari 10 persen dari total time /jam tayang per hari , jika dibandingkan dgn total jam anak anak kita berada depan televisi, tentunya sebuah perbandingan yg amat tidak sebanding, sebab waktu anak2 nonton televisi, sebagian besar lebih dari 3 jam/hari..
    Sebuah kondisi yg perlu perhatian kita semua. Tukul ? Hanyalah satu diantara kasus lainnya yg berjamur di semua stasiun televisi kita….
    Salam Hangat.

    Suka

    • Lailatul Qadr 21 Oktober 2011 pukul 7:08 PM

      Betul, Pak… Kita memang harus bisa enjadi konsumen yang cerdas…

      Saya harus menulis ini, karena sudah berjanji pada anak saya itu untuk menuliskan surat ini kepada Mr. Tukul, Pak…

      Salam… ^__^

      Suka

  28. rian mokachi 21 Oktober 2011 pukul 12:56 PM Reply

    rinooo…bagus bgt suratnya..
    aq jadi bisa memulai untuk ngajari si kecil nih… harus bisa memilah mana yang baik n buruk.. mudah2an mr,tukul bacanya ga emosi ya..hahaha..
    btw fauzan pinter bgt ya noo..diajarin apa ajaaa? bagi pin donk no.. =)

    Suka

    • Lailatul Qadr 21 Oktober 2011 pukul 7:06 PM

      Alhamdulillah… Aku cuma berusaha menjadi ibu yang baik untuk anakku, Yan…

      Suka

  29. mebigina 21 Oktober 2011 pukul 12:56 PM Reply

    sepakatttt….moga dibaca juga sama KPI, ama operator selulernya juga….iklan versi kemarin pesan moralnya juga jelek

    Suka

    • Lailatul Qadr 21 Oktober 2011 pukul 1:24 PM

      Iklan-iklan itu malah semakin tidak kreatif ya???

      Suka

  30. anazkia 21 Oktober 2011 pukul 10:57 AM Reply

    Saya baru lihat iklan ini, Mbak. kemarin sempet nanya ke temen di FB pas bikin status. Hmmm… nanti ajdi trend lagi deh😦

    Suka

    • Lailatul Qadr 21 Oktober 2011 pukul 11:09 AM

      Hasil nge share tulisan ini, saya dapat laporan bahwa sudah ada fenomena di sebuah Kota di Kaltim, anak-anak mengolok orang tuanya yang gak paham tentang internet…

      Trend yang tidak baik, tho mbak Anaz…?

      Suka

  31. Nurwana Syah 21 Oktober 2011 pukul 10:12 AM Reply

    terima kasih telah melakukan pengingatan kepada publik terutama buat para ibu agar lebih care terhadap tumbuh kembang anaknya. terima kasih juga telah renu telah membantu meningkatkan kesadaran buat kita para Ibu dlm memilah tontonan buat anak. good inspiration. sebagai Ibu, kami berharap badan sensor lebih berkerja aktif dlm menyajikan tontonan yang mempunyai nilai-nilai pengajaran positif

    Suka

    • Lailatul Qadr 21 Oktober 2011 pukul 11:07 AM

      Sama-sama, Mbak Wana…

      Suka

  32. Badai 21 Oktober 2011 pukul 12:11 AM Reply

    semoga saya bisa berubah..
    Amiin…

    Suka

    • Lailatul Qadr 21 Oktober 2011 pukul 1:38 AM

      good job, Mas…

      Suka

  33. D'Alfath 21 Oktober 2011 pukul 12:11 AM Reply

    Assalamualaikum…
    Yang sangat saya kagumi disini adalah kejelian penulis melihat fenomena2x sosial yang terjadi di negeri ini. Salah satunya adalah iklan yang di bintangi oleh tukul arwana.
    Karena sepertinya, zaman sekarang banyak sekali dari kita di negeri ini yang justru menganggap hal2x yang sebenarnya tidak baik menjadi sebuah lelucon yang bisa membuat kita terpingkal2x.
    Yang lebih parah lagi,kita malahan juga doyan di bodoh-bodohi melalui acara2x TV yang tidak bermanfaat, dan terlalu jauh lari dari realita. Anehnya kita tau betul akan hal itu, tetapi kita malah menikmatinya.
    kata produser: “acara seperti itu komersil dan suka di tonton oleh masyarakat”.
    kata masyarakat di dalam hati: ” bagaimana ga di tonton, orang tidak ada pilihan lain”.

    yaah, sorry nih. jadi curhat. 🙂

    Suka

    • Lailatul Qadr 21 Oktober 2011 pukul 1:27 AM

      Wa’alaikumsalam wr wb.
      Sebuah dilema, ya…?

      Terima kasih telah berkunjung… Curhat juga GPP koq… ^__^

      Suka

  34. joniITMedia 20 Oktober 2011 pukul 6:21 PM Reply

    bagus bu suratnya, ijin share di fan page-nya tukul arwana ya?

    Suka

    • Lailatul Qadr 20 Oktober 2011 pukul 6:34 PM

      sila… monggo…
      terima kasih sudah mampir…

      Suka

  35. Cornelis Ogi 20 Oktober 2011 pukul 2:51 PM Reply

    Saya sangat setuju dengan ungkapan mbak yang “lebih baik” dengan mengumpat dan membuat celaan, maka bangsa ini tak lebih akan menjadi bangsa yang lambat berkembang benar sekali mba…
    Kita masih perlu banyak belajar untuk menjadi orang yang mendahulukan orang lain daripada diri sendiri, mementingkan orang lain daripada mementingkan dirisendiri… semua itu proses…

    Suka

    • Lailatul Qadr 20 Oktober 2011 pukul 5:56 PM

      Sulit ya, menekan ego kita???

      Suka

  36. mylathief 20 Oktober 2011 pukul 11:38 AM Reply

    sayangnya, acara humor di televisi kita semakin hari semakin tak kreatif.. MEngolok-olok pemeran lain, seringnya olokan fisik, adalah senjata untuk menutupi kekurangkreatifan itu… Bahkan acara2 non humor macam dasyat pun tak lepas dari adegan ini

    Suka

    • Lailatul Qadr 20 Oktober 2011 pukul 5:55 PM

      Semakin tidak kreatif, ya Mas???

      Suka

  37. Cak-Sobari Harus Sabar 20 Oktober 2011 pukul 9:47 AM Reply

    saya suka dan salut dg cara mbak mengingatkan
    sederhana dan penuh kelembutan
    semoga apa yg sampeyan lakukan bs menjadi cara dan budaya kita dalam mengingatkan dan ikut mengotrol masyarakat kita.

    Suka

    • Lailatul Qadr 20 Oktober 2011 pukul 5:52 PM

      Aamiin…
      Terima kasih sudah ikut mendukung apa yang saya tuliskan disini. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran.

      Suka

  38. anotherorion 20 Oktober 2011 pukul 9:23 AM Reply

    Banyak iklan yang dibuat emang cuma buat ngolok2 produk orang lain mbak, makanya aku yo sebel karo iklane sule kae

    Suka

    • Lailatul Qadr 20 Oktober 2011 pukul 5:49 PM

      Olok-olokan produk membuktikan bahwa kreatifitas kini sedang terkungkung hanya dalam perlawanan melawan produk sejenis. Semakin tidak kreatif ya, Mas Priyo..?

      Suka

  39. Yaufani Adam 20 Oktober 2011 pukul 8:08 AM Reply

    setuju bu, smg pak tukul membacanya

    Suka

    • Lailatul Qadr 20 Oktober 2011 pukul 5:47 PM

      Aamiin…
      Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari tulisan ini… ^__^

      Suka

  40. Bambang Priantono 20 Oktober 2011 pukul 4:47 AM Reply

    Kita sebagai orangtua juga harus pintar-pintar juga mengingatkan anak mana yang baik dan mana yang tidak baik, sama seperti Mas Iwan bilang, anak-anak adalah peniru ulung. Surat ini seharusnya disebar juga sebagaimana surat terbuka kepada Ustadz Solmed.

    Suka

    • Lailatul Qadr 20 Oktober 2011 pukul 5:07 AM

      Iya, Mas Bambang. Anak-anak ibarat spons juga. Tantangan berat orang tua di jaman ini adalah teknologi.
      Suwun wis mampir mrene… ^__^

      Suka

  41. Iwan Yuliyanto 20 Oktober 2011 pukul 12:13 AM Reply

    Surat yang sangat menyentuh hati setiap orang tua.
    Betul, mbak, anak adalah peniru yg ulung.

    Faktanya, seringkali badan sensor iklan kebobolan atau lalai dalam hal yg kelihatannya sepele namun sebenarnya punya daya rusak yang hebat.

    Untuk menyikapi eksternal, protes tetap jalan, lebih baik juga kalo ditujukan ke lembaga perlindungan konsumen.

    Untuk menyikapi internal, kita sbg orang tua harus lebih hati-hati menghadapi kenyataan ini (kelalaian badan sensor), untuk itu sepertinya wajib bagi orang tua untuk mendampingi sang anak ketika menonton televisi. Bila ada hal yg kurang berkenan atau menyimpang, sebaiknya langsung dijelaskan bagaimana sikap yg benar.

    Suka

    • Lailatul Qadr 20 Oktober 2011 pukul 12:32 AM

      Sekaligus untuk mengingatkan saya pribadi sebagai orang tua.
      Terima kasih untuk pengingatannya, Pak Iwan… ^__^

      Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: