Tanggapan “Surat Terbuka Untuk Mr. Tukul”


Beberapa hari terakhir, blog saya ramai dikunjungi orang (ya iyalah orang, masa setan?). Saya memang sedang gencar mempromosikan tulisan ini kepada beberapa teman saya di akun jejaring sosial facebook dan twitter. Dan sampai 27 Oktober hari ini, sudah lebih dari 1.000 orang yang membaca surat yang saya buat itu. Sila lihat ini.

Ternyata, blog saya masuk ke dalam 100 blog yang paling sering dikunjungi di wordpress statistic selama 2 hari. Meski tidak dalam posisi puncak, tapi saya cukup tercengan dengan kenyataan tersebut. Sehari setelah saya memposting tulisan itu, blog saya berada pada posisi 38 dan esok harinya blog saya berada pada posisi 68.

Surat terbuka yang saya tulis ternyata masuk ke dalam sebuah forum. Namanya juga tulisan, pasti ada pro dan kontra-nya. Ya, wajar saja. Negara ini memang Negara demokrasi dan menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Saya baca dengan seksama ulasan pro dan kontra dalam forum-forum itu.

Seperti salah satu tanggapan yang saya tuliskan sebelumnya, bahwa fenomena mengolok ini (utamanya dengan kata “Ndeso!”) telah mewabah ke anak-anak kecil di lingkungan kita. Seorang ibu menyapa di chat box saya di FB. Beliau mengatakan bahwa di Kota X, sudah banyak anak-anak yang mengolok orang tuanya dengan kata, “Ndeso!”. Para orang tua yang tidak tahu banyak mengenai internet itu dengan serta merta mendapat perlakuan tidak baik dari anaknya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Semoga anak-anak kita tidak termasuk di dalamnya. Ada juga yang mengatakan bahwa adiknya pun sudah ikut-ikutan bilang “Ndeso!” kepada kawan-kawannya. Terbukti juga tulisan saya diatas. Tanpa disadari oleh mereka, ini adalah salah satu bentuk bullying lho. Hati-hati!

Lantas, ada juga yang berkomentar bahwa dia adalah “pelaku” penyebar virus mengolok ini. Tanpa sadar dia telah ikut menyebarkan penyakit di masyarakat. Dan dengan membaca surat tersebut, dia akhirnya tersadar dan berusaha untuk tidak melakukannya lagi. Alhamdulillah, artinya “pesan” yang ingin saya sampaikan kepada Mr. Tukul, kena juga kepadanya.

Ada juga seorang ibu yang saya sapa (juga di media chat box FB) kemudian memintanya untuk membaca tulisan saya. Rupanya selain si ibu setuju dengan apa yang saya sampaikan, si ibu ternyata juga memikirkan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan. Sebuah ketakutan akan masa depan bangsa jika bangsa ini dibesarkan dengan ejekan, olokan, dan makian. Betapa si ibu harus memberikan imun kepada anaknya yang sudah kelas 5 SD itu, saat pertama kali iklan salah satu provider telekomunikasi tersebut tayang. Si ibu harus menyampaikan pada putrinya panjang lebar perihal olok-olokan.

Hmm… Saya sebagai mantan guru sempat berpikir. Hari ini “kerjaan” guru semakin bertambah. Bagaimana tidak, seorang guru harus peka terhadap anak didiknya. Apalagi jika virus mengolok ini sudah benar-benar menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru negeri. Sang guru harus memberi pengingatan berkali-kali pada peserta didiknya untuk tidak melakukan hal ini. Wahai guru, bertahanlah! Karakter bangsa ini juga bergantung pada siapa mereka belajar. Teruslah untuk mengingatkan anak-anak kita! Barangkali ada orang tua mereka yang tidak peka.Maka sudah menjadi tugas Anda sebagai orang tua mereka di sekolah untuk mengenyahkan virus ini. Semangat ya!

Ada pula yang setuju apa yang saya tulis, tapi tidak setuju dengan firman Allah yang saya sampaikan dalam surat tersebut. Untuk yang satu ini, saya akan tanggapi, bahwa saya seorang Muslim, dan saya bangga dengan identitas keislaman saya. Maka firman Allah yang tulis diatas adalah sebagai penguat bahwa agama saya sangat menjunjung tinggi akhlaqul karimah, salah satunya bahwa Allah sangat tegas untuk hal olok-mengolok ini. Dan lagi, ayat tersebut utamanya sebagai pengingat untuk diri saya pribadi. Karena semakin saya kaji Al-Qur’an maka semakin saya memahami untuk apa agama ini Allah turunkan, yakni sebagai penyempurna ajaran-ajaran Rasul sebelumnya.

Selain itu, ada juga yang menangkap tulisan saya dengan menangkap kata ndeso sebagai bahan utama tulisan saya. Dari kata itu saja, sudah banyak pro dan kontra. Bahkan XL sendiri sudah membuat surat balasan/jawaban tertanggal 14 Oktober 2011, perihal: Penjelasan XL mengenai iklan “Super Ampuh 24 Jam” versi Tukul. Satu hal saja yang ingin saya sampaikan terkait kata itu, karena saya tidak ingin berlama-lama bedebat soal ndeso. Bagi saya, esensinya sama, bahan EJEKAN, OLOKAN, MAKIAN.

Ada juga yang meminta saya sebagai orang tua untuk bijak dan selalu mendampingi anak saya saat menyaksikan televisi, mengenyahkan TV dan mengajak anak bermain di luar, atau meminta saya untuk mengganti kepada siapa seharusnya surat ini ditujukan. Untuk ketiga hal tersebut, saya baru bisa melaksanakan yang pertama, yakni mendampingi anak saya saat menonton televisi. Untuk yang kedua, saya belum bisa membuang TV saya karena ada beberapa manfaat yang bisa saya peroleh dari televisi. Namun demikian, saya sudah berusaha untuk lebih sering mengajaka anak saya bermain di luar rumah. Bermain bola, bermain pasir, mengenal tumbuhan, dan lain sebagainya. Dan untuk mengganti kepada siapa seharusnya surat itu ditujukan, saya belum bisa memenuhinya. Salah alamat? Maybe… Gak pa-pa lah nyasar.

Yang mencengangkan ada sebuah pertanyaan dari seorang teman, untuk apa saya membuat surat itu. Saya sampaikan padanya bahwa saya “terpaksa” harus menuliskan itu kepada Mr. Tukul, karena saya ingin memenuhi permintaan anak saya Fauzan, sebagaimana yang saya tulis di awal dan di akhir surat. Dia memang hanya seorang anak kecil biasa. Usianya baru 4 tahun 6 bulan, tapi saya tidak ingin apa yang dirasakannya, apa yang dipedulikannya, apa yang ingin disampaikannya, apa yang menjadi kekritisannya menguap begitu saja. Dan juga karena saya telah berjanji padanya untuk mau menulis surat terbuka kepada Mr. Tukul (walau dia tidak tahu apa maksud dari surat terbuka).

Saat dia besar nanti, semoga dia mau membaca apa yang telah saya tulis disini. Ummi sudah memenuhi janji Ummi kan, Nak?

Well… Saya juga bukan orang yang benar-benar baik, sempurna. Saya hanya manusia biasa, bukan malaikat, atau setengah dewa. Saya akui saya juga banyak kesalahan. Maka ijinkan saya meminta maaf, pada semua pihak yang merasa tersinggung dengan surat saya itu. Point penting yang ingin saya kampanyekan di akhir tulisan ini adalah :  STOP MENGEJEK!

Semoga Allah memberkahi bangsa kita tercinta, Indonesia. Aamiin.

 

***
Gubug Jingga Di Dalam Hujan
Semarang, 27 Oktober 2011
09:00

2 thoughts on “Tanggapan “Surat Terbuka Untuk Mr. Tukul”

  1. Nagara 15 April 2014 pukul 4:38 PM Reply

    Salam. Setelah membaca artikel diatas beserta relasi artikel “Surat untuk Mr.Tukul”. Saya sangat berapresiasi sekali pada sikap Fauzan yang masih berumur 4 tahun. Fauzan bisa membedakan antara mana yang baik dan mana yang tidak baik pada umur 4 tahun. Tapi kemudian muncul pertanyaan dalam diri saya “Dewasa sekali Fauzan sampai bisa berpikir akan makna hinaan dalam kata ‘ndeso’?” Beberapa kali orang menyebut kata “ndeso” dan saya masih belum paham juga. Hampir setiap orang melakukan sesuatu ada saja yang nyeletuk “ndeso” di sekitar saya. Awalnya saya berpikir, ada apa dengan “ndeso”? Bayangan saya “ndeso” itu ya desa, dan desa adalah suatu tempat yang jauh dari kota dan polusi, suasananya masih hijau dan asri, lalu kenapa dengan kata itu? Tapi ternyata saya salah. “ndeso” ternyata merupakan sebuah kata dengan makna sindirin yang “dulu” sering digunakan orang yang merasa “ngota” dan menghina orang yang lugu polos (tidak tau apa-apa dan gagal melakukan sesuatu) adalah “ndeso”. Ini lah yang digunakan tukul sebagai pelawak dalam merendahkan dirinya. Dari situ saya mengambil kesimpulan betapa jeniusnya Fauzan dalam memaknai kata “ndeso”. Atau mungkin saya yang telmi (telat mikir)?. Kembali lagi soal kritik mbak terhadap Mr Tukul dalam “Surat Terbuka untuk Mr. Tukul” membuat saya ingat akan aturan yang dibuat KPI (Komisi Penyoaran Indonesia). Baik aturan yang mereka buat maupun instansi yang dibuat untuk mengatur sebuah penyiaran televisi kadang bertolak belakang dengan market mereka yang sebenarnya bertujuan untuk menaikan rating. Lalu bagaimana sikap kita dong? Saya juga bingung. Saya juga bapak dua anak, masa depan mereka mulai terbaca. Zaman didepan sudah bisa ditebak. Mau tidak mau, suka tidak suka, anak cucu kita akan menghadapi masa depan yang kita takuti. Satu-satunya penyelamat adalah orang tua sendiri. Iya, anak kita sendiri adalah tanggung jawab kita sendiri, bukan guru, wali kelas, apalagi Mr. Tukul. Salam. Maaf komentar terlalu panjang.

    Suka

    • Lailatul Qadr 16 April 2014 pukul 10:02 AM

      Salam…

      Sebenarnya, yang saya tangkap waktu Fauzan bilang kata ‘ndeso’ adalah untuk mengolok, adalah ketika dia melihat ekspresi Tukul ketika mengatakannya. Mungkin Fauzan pernah mengalami palajaran sebelumnya di sekolahnya. Sehingga dia menarik kesimpulan sendiri atas kata-kata yang diucapkan Tukul sebagai ejekan…

      Anak saya, Fauzan, memang cerdas linguistik. Sehingga saya pribadi pun sering dikomentari apabila salah berucap.

      Terima kasih, sudah mampir dan memberi komentar di blog sederhana ini. Semoga sharing ini menambah pengetahuan kita sebagai orangtua…

      Salam…

      Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: