Alhamdulillah, Harga Sembako Naik Lagi


Yu, iki piro?” Tanya seorang ibu dalam bahasa Jawa pada seorang tukang sayur. Berbagai macam sayuran, lauk pauk, dan buah segar tergelar di depan pos kamling yang letaknya tak jauh dari rumah kontrakan kami. Si ibu mananyakan harga ayam potong yang telah terbungkus plastik yang isinya setengah kiloan.

Telulas,” Yu Ni –nama penjual itu– menjawab sambil lalu demi melayani pembeli lain yang menunggu untuk dihitung berapa uang yang harus dibayar dari belajaan yang dibelinya.

Byuh… Mundak tho?”

Mundak maneh o’, Bu…” Yu Ni menanggapi –dengan logat Semarangan yang selalu diakhiri dengan kata o’– pertanyaan si ibu yang sebenarnya hanya retoris belaka.

Sembarang-sembarang lagi mundak kabeh iki. Endog, daging, gula. Paling duwur beras, yo Yu?” lanjut si ibu yang usianya sekira 40 tahunan namun masih tetap terlihat cantik itu. Senyatanya dia telah mengetahui bahwa harga sembako sedang melangit. Terbukti, dia menyebutkan kata daging pada kalimatnya. Tapi dia tetap ingin mendapat dukungan dari orang lain, demi memastikan kebenaran fakta yang baru saja diungkapnya.

Saya yang sedang berbelanja sayur, mendengar obrolan santaidi kalangan ibu-ibu itu ikut berkomentar, “O ya?” Saya juga ingin memastikan bahwa pendengaran saya tidak salah.

“Iya, mbak. Telur sekarang sudah tiga belas setengah. Beras malah naik lebih tinggi lagi,” keluh si ibu itu lagi. “Arep natal be’e,” imbuhnya.

“Wah… Saya belum beli beras lagi. Beras saya masih banyak. Jadi belum tahu kalau sudah naik lagi. Telur juga masih ada. Sudah sepuluh hari tidak beli telur,” jawab saya dengan nada polos seperti memberi pengumuman bahwa saya jarang masak. Hehe.

“Nanti kalo sudah beli lagi, jangan kaget kalau harganya pada naik semua, ya…” si ibu memberi warning kepada saya. Saya cuma bisa nyengir kuda mendengar peringatan itu.

Ora arep natal, Bu. Iki wong mulih kaji. Malih dadi larang kabeh,” Yu Ni menyahut.

“O… Iyo. Wong iki sik November, yo? Natal ‘kan sik sak wulan setengah maneh. Sik suwe, yo Yu Ni?” si ibu memilih satu bungkus ayam dan sebungkus tempe. “Iki karo iki limolas lak wis?” tawar si ibu pada Yu Ni.

Yu Ni hanya tersenyum. Saya tidak tahu dia mengiyakan atau tidak. Saya tak berani melihat ekpresi berikutnya. Setelah saya membayar Rp 15.000 untuk sekilo buah belimbing, sepaket sayur asam, 2 bungkus ikan asin, sebungkus jahe, dan 2 batang es lilin, saya pamit pulang.

Saya tak pernah tahu berapa harga masing-masing barang belanjaan saya. Saya tak tega menawar. Apalagi saat kondisi seperti ini.

***

Naiknya harga sembako bagi ibu-ibu selalu menjadi bahan pembicaraan yang sangat mengasyikkan. Bukan untuk ngobrolin harga yang entah kapan turunnya, tapi untuk membicarakan tempat mana yang menjual sembako dengan harga sedikit lebih miring. Bagi ibu rumah tangga yang sekaligus bertanggung jawab atas sirkulasi keuangan keluarga, pintar-pintar memilih tempat belanja bisa menghemat beberapa puluh ribu rupiah. Dan penghematan ini bisa dipergunakan untuk keperluan lainnya, misalnya untuk membeli garam atau kecap.

Naiknya harga sembako di pasaran sangat variatif penyebabnya. Yang paling sering adalah adanya event tertentu yang menyebabkan konsumsi sembako meningkat tajam. Seperti Ramadhan, Idul Fitri, kepulangan jama’ah haji, natal, kenaikan BBM, juga kenaikan gaji PNS dan atau peningkatan UMR. Tak jarang kenaikan harga dipicu oleh musim, misal kemarau panjang, musim penghujan dengan curah hujan yang cukup tinggi, atau kegagalan panen.

Dampak dari kenaikan harga ini, tentu saja berimbas pada masyarakat kecil. Dengan penghasilan pas-pasan, dan dengan kebutuhan dasar yang semakin meningkat, menyebabkan mereka kembali putar otak untuk memenuhi semua itu.

Maka benarlah, sebuah lelucon yang sempat terlontar dari mulut sahabat saya, bahwa tahu-tempe bisa menyebabkan darah tinggi. Mengapa? Karena setiap hari sang ibu selalu menghidangkan tahu dan tempe untuk keluarganya –karena tak sanggup membeli daging ayam–dalam berbagai variasi makanan. Kok bisa? Iya, karena akibat hidangan serba tahu dan tempe itu, sang ayah marah-marah, “tahu lagi… tempe lagi…” ^_^. Meski hanya lelucon, tapi bisa saja hal itu terjadi bukan? Tapi semoga tidak dengan keluarga kita, ya!

Sebagai seorang muslim, himpitan ekonomi ini tak menjadikan diri saya terpuruk. Atau menyesali keadaan bahkan mengisi hidup dengan kesia-siaan. Yang lebih parah adalah mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Na’udzubillah. Meski tak dapat dipungkiri lagi bahwa hari ini tak jarang tersiar kabar di media massa bahwa himpitan ekonomi menyebakan seseorang memilih mengakhiri hidupnya. Caranya pun berbagai macam ; menggantung diri, membakar diri, menenggak racun, menjatuhkan diri, dan sebagainya.

Keadaan ini –meningkatnya harga sembako– pada akhirnya bagi saya menjadi bahan renungan, muhasabah, dan meningkatkan rasa syukur kepada Allah. Betapa banyak dari saudara kita yang hidupnya jauh dari apa yang kita rasakan hari ini. Betapa banyak dari mereka yang hidup dalam serba kekurangan. Betapa banyak dari mereka yang hidupnya jauh dari kata layak. Mengais sampah demi mencari sisa-sisa nasi yang tak habis dimakan, memunguti butir-butir beras yang terbuang karena ada karung yang tak sengaja bocor, memakan daging yang masih menempel pada tulang-tulang ayam di restoran-restoran cepat saji yang tak dihabiskan oleh pengunjungnya, dan seterusnya.

Belum lagi kalau kita menyaksikan saudara-saudara muslim kita di belahan dunia lain. Di Afghanistan, di Palestina,  di Somalia, di mana saja. Jangankan untuk makan, untuk bernafas dan menghirup udara bebas saja mereka susah. Apalagi untuk hal lain.

Lalu, apakah mereka menyerah? Apakah mereka mengeluh?

Pada sebagian orang mungkin ya. Tapi juga banyak yang mengatakan tidak untuk menyerah dan mengeluh. Masih banyak dari mereka, yang hidupnya jauh dari kata layak itu, tetap bekerja. Meski harus mengganjal perut dengan batu, sebagaimana Rasulullah lakukan saat perang khandaq dulu. Tetap bersabar dengan takdir yang telah digariskan dengan terus berusaha tanpa mau meminta dan menghiba. Tetap memaksimalkan kerja meski dengan mengencangkan ikat pinggang agar kebutuhan keluarga terpenuhi.

Hmmmffff… Kembali lagi pada diri ini. Ah, semua keluh kesah yang pernah terucap sejatinya karena masih menggantungkan diri pada materi, masih menurutkan unsur kehewanan yang ada dalam konstitusi manusia, dan masih ada pengharapan pada dunia. Padahal, ada Dzat maha dahsyat pemilik materi, ada unsur yang seharusnya bisa menjadi pengendali itu semua –unsur ketuhan–, dan bahwa kehidupan dunia hanyalah sejenak saja.

Pada akhirnya, sabar dan syukur selalu tersaji untuk menjadi sebuah pilihan. Momen apapun sejatinya adalah wahana manusia untuk menjadi insan yang lebih baik dengan semakin mendekat kepada-Nya. Semoga.

Yayayaya… Tak ingin berpanjang lagi : Alhamdulillah, harga sembako naik lagi.

NB : Yang menulis tidak lebih baik dari yang membaca. Hanya sekadar berbagi sebagai pengingat diri.

***
Gubug Jingga Di Dalam Hujan
Semarang, 15 November 2011
11:59
Episode “Tukang Sayur”. ^_^

Tagged: , , ,

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: