Separuh Hatiku (Hampir) Hilang


Kejadian semalam masih menyisakan kepala pusing dan sakit perut pagi ini. Semalam di rumah, terjadi kepanikan luar biasa. Ceritanya begini :

Adzan Maghrib berkumandang. Seperti biasa, tanpa dikomando, Fauzan anak saya yang baru berusia  4 tahun 9 bulan itu, langsung menuju masjid. Beberapa menit seusai sholat Maghrib, terdengar suara tangisan –menurut cerita papa saya– Fauzan. Kokong menghampirinya dan bertanya padanya apa yang terjadi. Dia hanya diam sambil terus menangis. Di sebelah Fauzan ada seorang anak perempuan yang lebih kecil darinya. Anak itu memberikan laporan kepada papa bahwa Fauzan terjatuh karena ulah seseorang (dia menunjuk anak laki-laki lain yang bertubuh jauh lebih besar dari Fauzan).

Sesampai di rumah, Fauzan langsung menghampiri saya yang masih terduduk di Musholla rumah untuk berdzikir. Dia memeluk saya erat sambil menangis. Saya elus punggungnya. Sambil bertanya, mengapa dia menangis. Kembali Fauzan hanya diam.

Saya biarkan tangisnya sampai sedikit mereda. Lalu saya tanya lagi. Barulah saya tahu kalau dia terjatuh saat bermain di masjid selepas sholat Maghrib. Saya bertanya, “Yang mana yang sakit, Nak?”

Dia memegang kepala bagian belakang sambil mengucapkan, “Ini.”

Deg… Langsung terbersit dalam hati, semoga tak terjadi apa-apa.

Lalu saya minta Fauzan minum. Selepas minum, dia kemudian menghabiskan makan malamnya.

Selesai makan malam, Fauzan terlihat lemas. Dia hanya duduk diam. Biasanya Fauzan cukup cerewet, kali ini tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Mendekati waktu Isya’ dia bilang, “Ummi, Fauzan pusing. Fauzan gak ke masjid dulu, ya.” Dia minta kelonggaran untuk melaksanakan sholat Isya’ di rumah bersama saya karena kepalanya terasa pusing.

Saya mengiyakan permintaannya.

Adzan Isya’ berkumandang. Segera saya mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Isya’ dan mengajak Fauzan berjama’ah. Lagi, dia ‘nawar’ untuk mengijinkannya tak berjama’ah dengan saya. Nanti setelah saya sholat, baru dia sholat sendirian.

Baiklah, tak mengapa. Saya pikir, Fauzan belum dewasa dan dia masih memiliki keinginannya untuk melaksanakan sholat Isya’ meski tidak berjama’ah. Wajar kalau dia ‘nawar’, karena selama ini saya selalu mengatakan kepadanya bahwa sholat laki-laki itu berjama’ah di masjid. Mungkin kali ini dia merasa sangat pening. Saya juga melihat bibirnya pucat. Sepertinya dia menahan sakit.

Saya biarkan dia berbaring di ruang keluarga, sedangkan saya melaksanakan sholat Isya’. Setelah salam dan berdzikir sejenak saya menghampirinya –masih dengan mukena di tubuh saya–. Saya bertanya, “Masih pusing, nak?”

Dia hanya mengangguk pelan. Beberapa detik kemudian, byooooorrrrr… Fauzan muntah.

Masya Allah… Saya mulai panik.

Segera saya lepas mukena dan membersikan muntahannya serta mengajaknya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saya bersihkan badannya dengan air dan sabun mandi. Tidak mengguyur, hanya membasuh saja.

Setelah tubuhnya bersih, dia langsung berbaring di kamar, sedang saya bersiap memakai jilbab dan jaket untuk segera membeli obat ke apotek terdekat. Tidak ada stok obat (pereda nyeri) di rumah. Saat akan mengenakan kaus kaki, terdengar suara dari dalam kamar, “Ummi, mau muntah lagi.”

Saya langsung berlari ke kamar dan membawanya ke kamar mandi. Di kamar mandi, dia muntah lagi. Akhirnya, saya putuskan untuk membawanya ke UGD. Saya takut terjadi apa-apa. Sebab, dia habis terjatuh, kepalanya terbentur lantai, kepalanya pusing, lalu muntah. Memang tidak ada memar atau bercak darah di kepalanya, tapi namanya orang tua, saya cukup panik dengan keadaannya.

Segera saya pakaikan baju ke badannya, kemudian mengambil dompet, HP dan kunci mobil. Saya minta ibu ikut serta dengan saya menuju UGD. RS mana yang saya tuju? Tentu saja RSUD Sidoarjo. Apa pertimbangannya? Pertama, karena RSUD adalah RS rujukan dari beberapa RS di Sidoarjo, termasuk RS DKT yang jaraknya lebih dekat dari rumah. Kedua, ada salah satu teman saya yang bekerja disana dan dia sedang shift malam. Mungkin bisa sedikit membantu menenangkan saya.

Selama dalam perjalanan, Fauzan muntah lagi 2 kali. Begitu tiba di UGD, Fauzan langsung digeledek perawat yang sedang berjaga. Saya diminta untuk mendaftarkan Fauzan di front office.

Subhanallah… Di rumah dia terlihat lemas, di jalan muntah-muntah dan terlihat lunglai, tapi begitu masuk UGD, matanya berbinar. Seperti tidak merasakan apa-apa. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan dia sempat bilang, “Fauzan masuk di kamar 6, ya Mi?”

Saya mengiyakan.

“Yang di sebelah sini, pasti kamar nomor 7,” lanjutnya.

Saya tersenyum mendengar ocehannya. Alhamdulillah, semoga tak terjadi apa-apa pada anak saya. Begitu batin saya berbisik. Seorang mahasiswa kedokteran yang sedang koas di RSUD Sidoarjo memeriksa kondisi Fauzan. Dia bertanya nama, umur, bagaimana kejadiannya, bagian mana yang sakit, dan siapa saya dan ibu saya. Semua pertanyaan calon dokter itu dijawab dengan fasih, lancar, dan bersemangat oleh Fauzan. Sekali lagi saya membatin, Alhamdulillah, semoga tak terjadi apa-apa pada anak saya.

Setelah calon dokter tadi melakukan semua pemeriksaan; denyut jantung, tekanan darah, berat badan, keadaan perut, melihat kepala, dan memeriksa mata, seorang dokter jaga (dokter umum) mendatangi Fauzan. Memeriksa kembali keadaannya dan mengatakan, “Tidak apa-apa, mbak. Dibawa pulang saja. Anaknya sehat.”

“Muntahnya, dok?” saya bertanya padanya.

“Nanti saya kasih resep.”

“Tidak perlu di rotgen?” tanya saya lagi.

“Tidak perlu. Nanti kalau di rumah muntah lagi setelah minum obat dan muntahnya sangat sering, baru bawa kesini lagi,” jelas dokter. “Dijaga ya, mbak kepalanya. Jangan terbentur lagi,” lanjut dokter. Dokter juga sempat menyalahkan saya dengan mengatakan, “Ibune kerjo terus, sih.”

Saya menghela nafas atas apa yang dokter katakan. Saya juga hanya bisa menjawab, “Baik, dok. Terima kasih atas saran dan pengingatannya.”

Resep telah dibuat, vometa syrup (untuk muntahnya) dan ibuprofen syrup (untuk penghilang nyeri). Ternyata kedua obat itu tidak ada di apotek UGD RSUD Sidoarjo. Saya harus membelinya di apotek luar.

Selesai menyelesaikan administrasi, saya mengajak anak dan ibu saya pulang.

Di tempat parkir, saat saya berusaha membuka pintu mobil, Fauzan muntah lagi. Dan ini kembali membuat saya panik. Saya langsung menggendongnya kembali masuk ke UGD. Saya menemui dokternya dan mengatakan, “dokter, anak saya muntah lagi.”

Dokter bilang, “Yaw wis, masukkan dulu.” Saya masukkan lagi Fauzan di bilik 6.

Tak lama kemudian, dokter masuk ke bilik kami. Memeriksa fisiknya lagi : matanya, kepalanya, denyut jantungnya, lalu mengatakan, “Sudah, mbak. Gak papa. Bawa pulang saja. Tapi, ya itu tadi. Kalau muntahnya jadi lebih sering, ada darahnya, bawa kesini lagi. Jangan ditunda.”

Meski dada saya berkecamuk akbiat pernyataan dokter itu, saya mencoba tsiqoh dengan apa yang beliau sampaikan. Saya tak memiliki ilmu dalam hal ini.

Akhirnya saya kembali membawa anak saya pulang ke rumah.

***

Begitulah peristiwa semalam. Sebuah peristiwa yang membuat separuh hati saya hilang (ngiris ati). Keadaan panik luar biasa karena kondisi Fauzan.

Selain peristiwa itu, sebenarnya ada beberapa peristiwa yang terjadi beruntun yang menyebabkan kepanikan dalam diri saya menumpuk. Pertama, saat saya hendak membawa Fauzan dengan Kuda, ternyata salah satu lampu depan mobil tidak menyala. Saya takut ditilang polisi hingga menyebabkan waktu yang dibutuhkan lebih lama untuk tiba di tempat tujuan. Kedua, saat akan meminjam motor tetangga, semua motor tetangga kanan kiri sedang dipakai. Sedangkan motor papa hanya Honda CB, yang saya tidak bisa mengoperasikannya. Justru kalo GL atau Tiger, saya malah bisa mengendarainya. Ketiga, saat akan menggunakan mobil papa, Daihatsu Charade tua, ban mobilnya gembos. Walhasil, papa harus memompa dulu dengan pompa manual. Tentu saja hal ini membutuhkan waktu yang agak lama. Keempat, di Jl. Gajah Mada terjadi kemacetan. Maklum saja, weekend dan sedang tanggal muda. Jl. Gajah Mada Sidoarjo selalu ramai saat-saat seperti ini. Ditambah lagi ada pengalihan jalan yang menyebabkan volume kendaraan meningkat di jalan itu semalam. Kelima, saya sempat menyerempet kaki pengendara lain, hingga saya dimaki olehnya dan mobil papa ditendang. Saya sudah meminta maaf dan mengatakan saya terburu, anak saya sakit dan harus segera saya bawa ke UGD. Sebenarnya bukan alasan itu yang menyebabkan saya keserempet. Tapi karena saya tak memakai kaca mata dan belum hafal dengan Keenam, saat akan pulang (saat di parkiran RS dan Fauzan muntah lagi) kunci pintu mobil tidak bisa terbuka dan bahkan rusak. Hal ini membuat ibu pulang terlebih dahulu naik angkot untuk menjemput papa. Ketujuh, saya kehabisan pulsa. Sehingga saya tak bisa menghubungi abinya di Semarang untuk meminta advice bagaimana baiknya. ATM yang ada di UGD hanya ATM Bank Jatim, sedangkan tabungan saya di bank lain, meski saya bisa mengambil tunai karena ATM saya bisa digunakan untuk ATM Bersama. Pun tidak ada penjual pulsa di UGD, hingga praktis saya tak bisa menghubungi siapapun. Kedelapan, ternyata saat papa akan menjemput saya dengan motor CB nya, lampu motor pun tidak menyala. Hingga Papa harus pinjam motor tetangga. Alhamdulillah, motor tetangga sudah ada saat itu.

Well, Menjadi orang tua itu tidak mudah. Perkataan dokter soal “dijaga kepalanya” dan “kerja”, membuat saya kembali tercenung. Sebaik-baik penjagaan adalah penjagaan Allah. Kita sebagai manusia biasa pasti ada lalai dan lengahnya. Sedangkan Allah tidak. Allah tidak pernah tidur, tidak pernah lupa, tidak pernah lengah, dan selalu mengawasi setiap gerak gerik makhluk-Nya, hatta itu hanya dalam hati.

Sebagai orang tua yang hanya manusia biasa tak bisa menjaga anak setiap detiknya. Pun begitu pula gurunya saat nanti dia bersekolah. Orang tua dan guru hanyalah makhluk-Nya yang memiliki keterbatasan. Maka tak ada do’a yang pantas dipanjatkan selain do’a agar Allah senantiasa menjaga anak-anak kita. Baik menjaga jiwanya agar senantiasa ingat kepada-Nya, dan menjaga raganya agar terhindar dari segala marabahaya : penyakit, terjatuh, dan sebagainya.

Begitu pula dengan ikhtiar. Sebuah usaha untuk benar-benar menjaga anak-anak kita tidak boleh diabaikan begitu saja. Ikhtiar dengan tidak melupakan do’a untuk penjagaan mereka, adalah sebuah keniscayaan. Keduanya harus dilakukan secara beiringan dan berkesinambungan. Tak boleh ada yang timpang atau berat sebelah. Sebab ketimpangan tidak baik untuk masa depannya. Semoga Allah senantiasa menjaga anak-anak kita dan murid-murid kita.

Terakhir, seorang teman mengingatkan kepada saya melalui sebuah pesan singkat ke HP saya, setelah peristiwa menegangkan semalam. Dia mengingatkan untuk selalu mengingat Allah dalam keadaan apapun, pun saat keadaan panik luar biasa. Mengambil wudhu lalu melaksanakan sholat sunnah, begitulah pesannya. Atas pengingatan itu, saya ucapkan jazakumullahu khairan katsiir.

Pagi ini, Fauzan sudah dalam keadaan seperti biasa. Alhamdulillah. Tak kata kata selain kata itu, sebagai bentuk syukur yang tak terkira atas kesehatan dan penjagaan yang telah Allah berikan kepada kami.

***
Gubug Jingga Di Dalam Hujan.
Sidoarjo, 3 Desember 2011
10:37
Masih pening dan sakit perut (seperti kram)

Tagged: , , , , , , , ,

8 thoughts on “Separuh Hatiku (Hampir) Hilang

  1. brazkie 8 Desember 2011 pukul 11:06 AM Reply

    mirip2 gegar otak ya

    Suka

    • Lailatul Qadr 8 Desember 2011 pukul 11:18 AM

      Takutnya begitu, Pak…

      Suka

  2. Santi Pramita 6 Desember 2011 pukul 1:46 PM Reply

    Maaf ya umi…waktu itu aq gak connect klo mau pnjm motor. Padahal khn ada motor satunya lagi….:'(

    Suka

    • Lailatul Qadr 6 Desember 2011 pukul 1:54 PM

      Hayyyyaaaaaaaaaaaaa… Gak papa, mbak San… Santai ajha… Alhamdulillah Fauzannya sehat…

      Suka

  3. titintitan 6 Desember 2011 pukul 12:48 PM Reply

    lah? gak di smarang lg teh?
    dokternya gituh bgt.. ikut sedih dengrnya😦

    alham, fauzan g knpa2..

    Suka

    • Lailatul Qadr 6 Desember 2011 pukul 1:03 PM

      Gak di Semarang lagi… Sekarang balik ke Sidoarjo lagi… hehehe…

      Suka

  4. Ibnu Muslich CH 3 Desember 2011 pukul 6:41 PM Reply

    moga fauzan baik-baik saja,
    dan perlindungan Allah selalu menyertai.

    Suka

    • Lailatul Qadr 3 Desember 2011 pukul 7:49 PM

      Aamiin…
      Jazakallah…

      Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: