Fauzan Dikhitan


Dua bulan yang lalu, saya dan Abu Fauzan berencana mengkhitankan Fauzan saat liburan sekolah. Alasannya karena kakak kedua saya akan “pulang kampung” dan akan mengkhitankan anak laki-lakinya (nomor dua) di Sidoarjo.  Maka sejak dua bulan yang lalu, saya mencoba mengkomunikasikan perihal khitan alias sunat, kepada Fauzan yang usianya kurang dari 5 tahun.

Setelah membincang beberapa kelebihan-kekurangan masing-masing metode khitan dengan Abu Fauzan dan kakak saya, akhirnya kami memutuskan mengkhitan 2 anak laki-laki itu dengan metode SMART Klemp. Hari Jum’at (23 Desember 2011) saya menghubungi teman-teman yang bisa memberikan informasi tentang dokter yang melayani khitan dengan metode SMART Klemp di Sidoarjo. Selain menebar SMS, saya juga bertanya pada dukun Google tentang informasi seputar SMART Klemp, tempat praktek dokter, dan besar biayanya.

Dari SMS yang masuk, beberapa teman merekomendasikan 1 nama dokter. Dr. M. Lutfi yang berpraktek di rumahnya di Perumahan Tenggulunan Mega Asri. Mereka bilang, bahwa dokter tersebut cukup terampil dan terbiasa memakai metode ini untuk mengkhitan.

Hari (Jum’at) itu Abu Fauzan datang pukul 10 malam.  2 jam kemudian kami putuskan untuk mencari tempat praktek dr. Lutfi sambil cari -atau beli?- makan malam untuk Abu Fauzan. Pukul 12 kami putar-putar Kota Sidoarjo.

Setelah makan sepiring rawon di Jl. Gajah Mada, mobil melaju ke kawasan pasar Larangan. Dari informasi yang saya dapatkan, rumah dr.Lutfi tak jauh dari “markas” LMI (Lembaga Manajemen Infaq). Singkat cerita, kami sangat mudah menemui tempat praktek dokter itu dengankata kunci “Markas LMI”.

Berdasarkan papan nama dokter, kami memperoleh informasi bahwa di pagi hari dokter membuka prakteknya pukul 05.30 hingga pukul 06.30. Maka Sabtu (24 Desember 2011) pukul 05.50 saya dan Abu Fauzan kembali ke tempat praktek dr. Lutfi untuk menanyakan prosedurnya.

Sesampainya disana kami ditemui istri sang dokter. Kami berbincang terkait jadwal khitan hari itu. Kami bertanya apakah kami bisa mendaftarkan anak kami siang, sore, atau malam hari ini. Setelah melihat daftar khitan di buku pasien, si istri menjelaskan bahwa jadwal khitan sore hari sudah penuh. Dia menyarankan untuk dijadwalkan malam hari di hari yang sama. Sebab, besok (25 Desember 2011) jadwal khitan sudah penuh dari pagi hingga sore. Maklum saja, sedang liburan semester. Istri dokter juga memberikan alasan yang sangat masuk akal. Kalau khitan di malam hari, saat biusnya habis, diharapkan si anak dalam kondisi tidur. Hal ini bermanfaat untuk meminimalisir rewel.

Kami pun setuju. Akhirnya kami menyepakati jadwal khitan untuk Fauzan dan Fajar adalah hari Sabtu, 24 Desember 2011 pukul 19.3o. Oia, biaya yang dipatok untuk sunat dengan metode  ini adalah Rp 500.000,-. Dan untuk melepas klemp nya di hari ke-4 dikenai biaya Rp 50.000,-

Sabtu sore pukul 17.00 saya mendapat pesan dari dokter Lutfi, bahwa jadwal khitan Fauzan dan Fajar dimajukan 30 menit. Karena pasien sebelumnya mengurungkan niat untuk mengkhitankan anaknya.

Maka, setelah sholat Maghrib, saya, Abu Fauzan, Fauzan, Ning Elok dan ketiga anaknya; Lathifa, Fajar, Firdaus, pergi ke tempat praktik dokter Lutfi.

Kami tak menunggu terlalu lama untuk dipanggil. Sekitar 10 menit dan Fauzan mendapat giliran pertama.

Saya ikut masuk mengantarkan Fauzan ke dalam. Fauzan masih tenang saat diminta naik ke atas meja periksa yang lebih mirip tempat tidur itu. Setelah celananya dilepas, dokter meminta saya untuk memegangi lutut Fauzan sedangkan Abu Fauzan memegangi tangannya.

Setelah menyiapkan anastesi, dokter memakai handscoon. Fauzan mulai berontak tidak mau. Dia berkali-kali berteriak, “Abiii… Gak mau dipotong… Gak mau dipotong…”

Saatnya dokter menyuntikkan anastesi. Suntikan itu membuatnya menangis cukup keras sehingga tak mengeluarkan suara. Rasanya, ada yang mengiris dan menyayat hati saya. Wajar lah… Saya kan ibunya.

5 menit kemudian, saya diminta untuk mencubit kulit kemaluannya yang yang harus dibuang. Dokter meyakinkan saya, “Sudah tidak terasa ‘kan, Bu?” Saya hanya mengangguk. Tak mengeluarkan suara. Tak tega melihat Fauzan menangis seperti tadi.

Kemudian, dokter mulai bekerja dengan alatnya. Fauzan kembali berontak. Dokter tak bisa bekerja dengan leluasa. Akibatnya Fauzan harus kembali dipegangi tangan dan lututnya. Saya kembali mendapat bagian memegangi lutut Fauzan.

Pertama, membuka kulit yang menutupi ujung kemaluan. Kemudian, dokter memasang klemp. Karena rontaan Fauzan cukup bertenaga, ada akibat yang terjadi, klemp yang terpasang agak miring hingga dokter membutuhkan waktu yang agak lama untuk memperbaiki posisi klemp. Fauzan berteriak-teriak, “Sakiiit… Sakiiit…”

Koq sakit? Begitu pertanyaan saya dalam hati. Saya iseng bertanya kepadanya, “Apanya yang sakit, Nak?”

“Tangan dan lututnya yang sakit…” Ujarnya dengan tangis yang luar biasa mengiris hati.

Kemudian, Abi Fauzan memberi sedikit penjelasan pada Fauzan, “Kalau Fauzan bergerak-gerak, Abi dan Ummi harus memegangi Fauzan. Tapi kalau Fauzan bisa tenang, Abi dan Ummi gak perlu memegangi Fauzan.”

Dengan penjelasan dari Abinya itu, Fauzan menjadi sedikit tenang. Saya dan Abu Fauzan pun tak lagi memegangi lutut dan tangannya.

Setelah klemp terpasang, kemudian dokter mengambil pisau bedah. Sret… Sret… Dokter memotong dengan sigap dan sangat cepat kulit yang memang harus dibuang. Darah yang keluar sangat sedikit. Setelah dokter membuang kulitnya dan membersihkan darahnya, dokter memberi 5 tetes baby oil di alat itu.

Proses khitan sudah selesai. Fauzan tidak menangis. Fauzan boleh pakai celana saat pulang. Dokter memberikan obat penghilang rasa sakit dan antibiotik. Masing-masing diminum 3×1/2 tablet. Dokter juga bilang, bius akan hilang 3 sampai 4 jam ke depan. Setelah itu mungkin dia akan menangis karena mulai merasakan sakit. Saya jadi teringat operasi sectio 5 tahun yang lalu.

Kemudian dokter juga berpesan kepada saya. Setelah BAK (Buang Air Kecil), tabung (klempnya) diberi baby oil sebanyak 3 sampai 5 tetes. Tak perlu menggunakan betadine, ribet katanya.

Setelah Fauzan selesai, ganti Fajar yang masuk ke ruangan. Fajar jauh lebih cepat proses khitannya dari Fauzan. Tak sampai 15 menit. Ya.. Fajar telah berusia 9 tahun. Dan sudah “lebih siap” secara mental.

***

Hari Ahad dini hari -pukul 01.00-, Fauzan mulai rewel. Efek anastesi sudah mulai hilang. Saya memindahkan tempat tidurnya kemudian meminumkan obat pengurang rasa sakit berbentuk sirup. Obat dari dokter tidak saya minumkan karena Fauzan belum bisa minum obat berbentuk tablet.

Setelah meminumkan obat itu, saya mengelus-elus badannya dan memegang tangannya saat tidur untuk menguatkan hatinya.

Hari Ahad ini, Fauzan sudah BAK sebanyak 2 kali. BAK pertama, dia menangis kuat sekali. “Periiiih…” begitu katanya diulang-ulang. BAK kedua, dia mengompol di karpet karena dia tak mau kesakitan saat BAK di toilet. Tapi tetap saja, dia merasakan perih setelah semua air seninya keluar. Dia sampai menjinjit dan mencengkeram lengan saya. Saya memeluknya demi memberikan kehangatan dan simpati atas rasa sakitnya itu.

Semoga besok dia sudah mulai enjoy dan tidak perih lagi saat BAK.

***

Apakah tidak ada gundah dalam diri saya saat Fauzan akan dikhitan? Ah, tentu saja ada. Perasaan saya campur aduk. Cemas, bingung, khawatir, senang terutama bagaimana membesarkan hatinya. Karena saya seorang wanita dan seorang ibu yang tak pernah merasakan apa yang dia rasakan setelah dikhitan.

Kini kekhawatiran saya bertambah. Saya sangat cemas saat memintanya untuk BAK dan mandi. Takut kalau dia meronta dan merintih kesakitan. Saya juga khawatir hari dimana klemp akan dilepas. Dia akan meronta-ronta lagi, tidak ya? Semoga saja tidak.

Oia, sepulang khitan kami berpesta es krim. Kokong dan Yang Ti Fauzan (Papa dan ibu saya) telah menyiapkan beberapa kotak es krim untuk kami sebagai “hadiah” untuk Fauzan dan Fajar. Walau niat belinya untuk hadiah kepada mereka berdua, tapi kami semua kebagian. Hehehe… Terima kasih Kokong… Terima kasih Yang Ti…

***
Gubug Jingga Di Dalam Hujan
Sidoarjo, 25 Desember 2011
21:42
Hujan yang tak berhenti di suatu masa

Tagged: , , , , , , , , ,

5 thoughts on “Fauzan Dikhitan

  1. aan 26 Desember 2014 pukul 11:42 AM Reply

    maaf bu mau tanya alamat lengkap dokter Lutfi apakah bisa, matur nuwun.

    Suka

    • Lailatul Qadr 28 Desember 2014 pukul 8:59 PM

      Waaah… Maaf. Saya Lupa. Kalau gak salah lokasinya di perumahan belakang pasar Larangan.

      Suka

  2. fauzanmm 27 Februari 2012 pukul 10:31 AM Reply

    wooo, saya aja dkhitan waktu klas 6 SD mbak,,😀

    Suka

    • Lailatul Qadr 28 Februari 2012 pukul 12:34 AM

      Kalah donk, sama jagoanku…?

      Suka

  3. sirfatah 8 Februari 2012 pukul 4:05 AM Reply

    pengalaman yg bgs utk dibagikan. saya sangat setuju mengkhitan anak seja dini, kalau tdk slh itu sunah rosul ya, tapi mungkin perlu mempersiapkan mental anak spy lebih siap & tdk memaksakan bila blm mau.

    Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: