Dari Balik Kaca Jendela


Sedari awal aku berharap bisa duduk di sebelah kiri dekat jendela. Aku ingin mendapati pemandangan indah sepanjang perjalanan nanti, pikirku.

Aku jadi teringat sebuah petuah bijak. Jika kau berpikir tentang keberhasilan, maka kau akan mendapatkan keberhasilan itu. Minimal setengahnya. Pun dalam perjalanan kali ini. Beberapa jam sebelum berangkat aku memikirkan posisi wuenak itu secara terus menerus di pikiranku.

Maka, tak kusiakan saat seorang ibu yang kuketahui usianya 64 tahun itu menawariku duduk di sebelahnya, dekat jendela, di deret nomor 2, di belakang sopir. Pas. Tepat. Seperti apa yang kupikirkan. Seperti yang kuinginkan. Alhamdulillah. Allah mendengar do’aku.

Seperti yang kusampaikan diatas, dalam perjalanan ini, aku hanya ingin menikmati pemandangan yang terhampar dari Semarang menuju Surabaya. Biasanya, pemandangan sepanjang perjalanan itu kulihat dari dalam mobil kuda atau xenia-milik mertua-. Dan ternyata lanskap itu lebih eksotik saat aku menikmatinya dari atas bis. Apalagi ditemani hujan yang mengguyur tepat saat besi kotak itu membawa sekitar 30-an penumpangnya. Semakin eksotis saja.

So, aku sengaja tak memberi ‘kesempatan’ kepada ibu yang duduk di sebelah untuk berbicara denganku. Bahkan sekadar berbasa-basi tentang tujuan kami -sebagaimana ‘teman-teman’ perjalananku sebelumnya-. Dan aku memakai taktik jitu untuk menghindari pembicaraan dengannya: aku hanya melihat ke arah luar jendela, sebelah kiri. Aku tak menoleh sedikit pun ke arahnya. Aku sengaja menjadi autis dengan panorama yang ada. Dan itu cukup membangun tembok gahar di antara kami. Seperti tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur. Haha. Aku berhasil.

Dari Balik Kaca Jendela - 1

Pikiranku terus berputar menyulam kata saat kotak besi itu memasuki daerah Rembang. Kabupaten yang tepat berada di pinggir pantai Utara Pulau Jawa. Kabupaten yang dilewati oleh angkutan umum yang aku naiki. Kabupaten yang memiliki berhektar-hektar lahan tambak garam yang lokasinya tepat di sebelah kiri jalan raya Pantura.

Beberapa bulan lalu, aku menikmati tambak garam itu dalam penglihatan yang berbeda. Kemilau putih garam mengkristal dan menyilaukan mata. Terlebih saat matahari dengan teriknya menyapu bumi. Matahari mampu melenyapkan air dan menyisakan NaCl yang asin rasanya. Indah…

Para petani garam dengan suka cita memanen kristal putih itu dengan garu berukuran panjang. Mereka seperti berhati-hati saat mengeruk garam yang melekat diatas tanah tambak. Bubuk-bubuk yang dihasilkan dari proses pengerukan itu membentuk gunungan kecil di pinggir, di tengah, atau di sudut tambak.

Kemarau adalah ‘surga’ bagi petani garam. Setidaknya, mereka bisa mengisi pundi-pundi rupiah untuk kehidupan di musim penghujan seperti sekarang ini.

Ya… Sampai beberapa bulan ke depan, petani garam tak bisa memanen hasil tambak yang telah mereka buat. Kini, tambak-tambak itu tak hanya tergenang oleh air laut, tapi juga oleh air hujan. Tak ada sinar matahari yang panasnya sangat mereka harapkan, membuat mereka ‘menganggur’ tak bekerja.

Dari Balik Kaca Jendela - 2

Air hujan yang mengalir ke selokan –letaknya antara jalan dan tambak- mennghasilkan buih. Itu menandakan kadar garam masih cukup tinggi disana. Buih-buih itu terkumpul di sebuah sudut  selokan. Sebuah sudut yang tak sengaja tercipta akibat tak ratanya ‘selokan darurat’ itu.

Aiiih… Ingatanku segera melayang ke satu atau dua tahun silam. Saat aku masih menjadi guru IPA kelas 1. Aku pernah mengajarkan beberapa manfaat yang bisa diambil dari sinar Matahari. Pasti seru mengajak anak-anak itu, murid-murid mungilku, studi lapangan ke tambak garam.

Haha… Aku tertawa sendiri dalam hati. Bibirku tak kuasa tertarik 2 centi ke kiri dan ke kanan. Hmmm… Dari balik kaca jendela itu, aku merindukan sesuatu. Merindukan menjadi guru.

NB : Si ibu yang duduk di sebelahku baru kusapa setelah bus rehat sementara di daerah Tuban. 3 jam bersamanya akan aku tuliskan di lain waktu. Insya Allah.

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 5 Januari 2012
16:53
Hujan itu… (masih sama?)

Tagged: , , , , , ,

2 thoughts on “Dari Balik Kaca Jendela

  1. Pojoklambe 5 Januari 2012 pukul 5:26 PM Reply

    Ninggal komen aaahh….

    Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: