Anakku Selalu Menjadi Juara Di Hatiku


Hari Ahad, 24 Januari 2012, anakku Fauzan Azhima ‘Abdurrahman mengikuti lomba yang diadakan oleh SDIT Insan Kamil Sidoarjo. Sekolah itu sedang mengadakan acara open house  yang merupakan rentetan kegiatan Penerimaan Siswa Baru Tapel 2012-2013. Ada 2 lomba yang diselenggarakan, mewarnai dan menyusun puzzle. Anakku itu tak tahu bahwa diam-diam aku mendaftarkannya menjadi salah satu peserta lomba menyusun puzzle.

Kami -aku, Abu Fauzan, Fauzan- datang agak siang, maklum banyak pekerjaan rumah tangga yang harus saya selesaikan, sehingga Fauzan mendapat nomor lomba 70. Sesampainya disana, kami tak menunggu lama untuk lomba dimulai.

Karena peserta yang dipanggil masih peserta nomor-nomor awal, maka aku dan suamiku mengajak Fauzan untuk melihat bazaar. Siapa tahu ada sarapan, maklum saja dia belum menyantap makanan berat sejak pagi.

Ajakan kami ditolak mentah-mentah olehnya. Dia bilang, “Nanti kalau nomor 70 dipanggil, gimana?”Haha… Ternyata dia cukup khawatir tak bisa mengikuti lomba.

Baiklah, kami meninggalkannya di arena lomba setelah berusaha meruntuhkan kegigihannya untuk tetap bertahan di sana. Aku berpesan padanya, “Ummi dan Abi cuma sebentar. Cari sarapan untuk mas Fauzan. Mas Fauzan di sini saja, ya. Jangan kemana-mana. Insya Allah Ummi temani mas Fauzan berlomba nanti.”

Dia mengangguk tanda setuju. “Ummi belikan mas Fauzan sarapan, ya,” pintanya sembari berteriak saat kami telah melangkah beberapa meter dari tempatnya duduk.

Setelah mendapatkan makanan yang tepat untuk dijadikan sarapan sekaligus makan siang di bazaar itu, kami segera menyusul Fauzan di arena lomba. Sesampainya disana, aku bertanya padanya, “Nomor Mas Fauzan sudah dipanggil?”

“Belum, Mi…” jawabnya sambil merapikan kertas berbentuk lingkaran berwarna biru bertuliskan 70 yang tersemat di dadanya itu.

Mataku memandang sekeliling. Ah… Masih lama… nomor 45 saja masih bermain dengan kawan-kawannya. Begitu pikirku dalam hati. Lalu kusuapi dia dengan makanan yang baru saja kubeli.

Setelah tak menghabiskan seporsi makanan itu, aku memintanya menghampiri seorang panitia dan memintanya bertanya, ‘kapan nomor saya dipanggil?’

Dengan keberaniannya, dia bertanya pada panitia bernama Ustadz Fathur Rohman. Kemarin, dia sedang membawa toa. Jadi Fauzan mudah mengenalinya sebagai panitia. Aku tak tahu pasti apa yang ditanyakannya. Namun tak lama kemudian, dia sudah berbaris untuk segera mengikuti lomba.

Wealaaaaaaaaaaaaah… Rupanya panitia mengacak nomor peserta. Peserta yang sudah siap, boleh berlomba. Panitia akan mencoret nomor peserta di daftarnya jika peserta telah mengikuti lomba. Ya, kebijakan itu diberlakukan untuk mempermudah pekerjaan mereka. Sah-sah saja. Sebab sebelumnya, peserta dengan nomor awal banyak yang ‘menghilang’ ketika dipanggil. Mungkin sedang jalan-jalan dengan orang tuanya di bazaar.

Dan…. Perlombaan pun dimulai. Fauzan lebih memilih puzzle bergambar kendaraan berat kesukaannya. Sedari tadi dia hanya melirik puzzle bergambar itu.

Hitunganpun selesai di angka 3. Fauzan berlari menuju keping-keping puzzlenya. Dia menemukan pojok gambar lalu meletakkannya di ‘nampan’ puzzle. Begitu seterusnya. Dari jarak beberapa meter aku berusaha mengambil videonya dengan kamera HP dan berteriak, “Ayo… Fauzan… Ayo… Fauzan…”

Seorang bapak gemas melihat Fauzan. Si bapak berusaha membantu Fauzan dengan mencarikan keping puzzle yang bisa diletakkan di pojok nampan. Haha… Kulirik Abu Fauzan yang duduk tak jauh dari tempat Fauzan berlomba. Dia tersenyum melihat wajahku yang berpaling padanya sesaat setelah si bapak membantu Fauzan. Ayahnya ajha gak ribet mo bantuin, koq orang itu yang mau-maunya bantuin anak kami? Begitu senyum kami bercakap-cakap sejenak. Senyum penuh cinta.

Waktu terus berjalan. Fauzan masih sibuk dengan potongan-potongan gambar. Sesekali dia melirik lawannya yang hampir menyelesaikan menyusun puzzle. Lawannya itu tinggal memasukkan beberapa potongan lagi di nampan puzzle. Mengetahui hal itu Fauzan tetap berusaha, dan aku tetap memberikan semangat kepadanya. Tapi apatah dikata. Lawan Fauzan lebih cepat menyelesaikan puzzlenya. Hingga dia menjadi juaranya.

Hebatnya Fauzan.

Meskipun tahu dia tertinggal dari lawannya, Fauzan tetap berusaha menyelesaikan puzzle nya dengan baik. Sedang lawan yang lain telah meninggalkan keping-keping puzzle yang berserakan di lantai. Fauzanku tetap khusyu’ dengan kepingan-kepingan puzzle itu.

Ku biarkan dia tetap berusaha menyelesaikan puzzle bergambar alat-alat berat. Aku pun tak berusaha membantunya. Aku hanya memberikan stimulus dengan berkata, “Lanjutkan, Nak. Susun puzzlenya sampai selesai. Cari potongan gambar yang tepat.”

Tak lama…. Taraaaaaaaaaaaaaaaa… Fauzan berhasil menyelesaikan puzzle itu. “Horeeeeee!!!” Teriaknya. Sebagai ‘hadiah’, aku peluk dia erat. Dia bertanya, “Fauzan jadi juara, ya Mi???”

Mendengar pertanyaannya itu, aku segera menjawab, “Iya… Juara di hati Ummi.” Sembari membuka jemari lebar memintanya meloncat untuk melakukan toast di tanganku.

Fauzan rupanya belum tahu konsep lomba dan juara. Tak mengapalah… Dengan berjalanya waktu insya Allah dia akan tahu. Melihat usahanya menyelesaikan menyusun puzzle tanpa merasa sedih karena ‘kalah’, hal itu sudah sangat membuatku bahagia. Artinya, dia memiliki daya juang yang tinggi juga.

Ah… Fauzan… Fauzan… Kau akan selalu menjadi juara di hati Ummi, nak. Love you, my son.

Setelah lomba itu, dia segera menghabiskan separo botol minuman air mineral 320 ml. Ck… Ck… Ck…

 

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 25 Januari 2012
07:00
Mencoba menyusun puzzle kehidupanku

Tagged: , , , , , , ,

6 thoughts on “Anakku Selalu Menjadi Juara Di Hatiku

  1. ika 19 Februari 2012 pukul 11:33 AM Reply

    two thumbs up buat fauzan….salam sayang dari ammah Ika :-bd

    Suka

    • Lailatul Qadr 19 Februari 2012 pukul 5:00 PM

      Insya Allah, nanti disalamkan, Ammah…

      Suka

  2. mugirahayu 25 Januari 2012 pukul 8:00 AM Reply

    benar bu… menjadikan anak selalu juara di hati kita adalah bentuk penghargaan dan kasih sayang tiada batas seorang ibu untuk anaknya… semangat !

    http://mugiekonomi.wordpress.com/2012/01/12/nak-tidak-ada-yang-sempurna-namun-kau-sempurna-untuk-ibu/

    Suka

  3. Fitri Susanti 25 Januari 2012 pukul 7:17 AM Reply

    yup, setuju no. seorang anak selalu jadi kebanggaan di hati ibu nya. Subhanallah Fauzan. .. hebat🙂

    Suka

    • Lailatul Qadr 25 Januari 2012 pukul 12:05 PM

      Aamiin… Terima kasih, Pit…

      Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: