Antara Observasi Psikologi, Buku SBUAK, dan Harapan


Beberapa bulan belakangan ini, saya magang di sebuah lembaga psikologi yang bermarkas di Waru Sidoarjo. Pemiliknya adalah seorang yang sangat dekat dengan saya. Ibu Heni Widyaningsih, seorang psikolog jebolan UNPAD yang telah malang melintang berpuluh tahun di dunia psikologi anak.

Beberapa kali saya diajak untuk melakukan observasi psikologi. Bukan untuk menjadi observer sungguhan. Melainkan hanya bertugas mengambil foto anak yang sedang diobservasi dan merekam kegiatan mereka selama observasi berlangsung. Sedangkan psikolog yang asli (gak pake KW), benar-benar melakukan pemindaian terhadap aktivitas anak. Observasi psikologi dilakukan dalam rangka Penerimaan Siswa Baru maupun untuk penjurusan (di tingkat SMA).

Saat (membantu) melakukan observasi psikologi untuk beberapa sekolah (TK, SD, SMP, SMA) saya belajar tentang banyak hal. Mulai dari mengenali kemandirian anak, menelaah motorik kasar dan halus, sampai mempelajari bentuk-bentuk kepercayaan diri dan penerimaan diri anak terhadap lingkungan baru. Untuk anak usia remaja, saya mempelajari cara belajar anak, cara kerja, dan sikap penghargaan kepada orang lain. Juga sekaligus mendapatkan ilmu tentang tarbiyatul aulad. Disadari atau tidak, apa yang terjadi pada diri seorang anak hari ini tak bisa lepas dari pola pendidikan orang tuanya di masa lalu.

Sudah ratusan anak saya observasi (termasuk anak saya yang akan masuk TK A). Meskipun saya tidak memiliki kafaah di bidang psikologi, namun dengan keterlibatan saya di dunia pendidikan selama 3 tahun, dan ikutan menjadi observer ‘gadungan’ membuat empati saya timbul saat melalukan observasi kepada mereka.

Nah. Kali ini saya hanya ingin membahas observasi untuk anak-anak (bukan remaja).

Macam-macam tingkah mereka saat observasi berlangsung. Ada yang bersembunyi di balik baju ibunya. Ada juga yang tak mau menjawab pertanyaan observer melainkan jika pertanyaan itu ditanyakan oleh ibu atau ayahnya. Ada yang menangis meraung-raung sambil memukul ayah atau ibunya. Ada yang membentak-bentak. Dan sebagainya.

Tapi banyak juga yang cukup percaya diri dengan ‘lingkungan baru’. Mereka yang easy kid ini, cenderung mudah menerima perintah, kooperatif, dan cepat menyelesaikan hal-hal yang diminta pemandu. Seakan dia nyaman saja dengan lingkungan barunya dan menganggap orang lain sebagai sahabatnya. Orang yang telah lama mengenalnya.

Saat Berharga Untuk Anak Kita (SBUAK)Mungkin inilah maksud Ustadz Fauzil Adhim dalam bukunya “Saat Berharga untuk Anak Kita” yang menyebutkan bahwa kedekatan emosi yang aman antara orang tua dan anak akan berpengaruh terhadap penerimaan diri, harga diri, dan percaya diri anak. Sementara kepercayaan diri sangat berpegaruh terhadap kecakapan anak untuk menyesuaikan diri secara tepat dengan lingkungan.

Saya jadi teringat akan dua peristiwa yang bagi saya cukup mengenaskan selama saya menjadi observer gadungan.

Pertama, ada seorang ibu yang justru memarahi anaknya (sebut saja Cinta) saat dia tak mau diobservasi. Di depan kami; observer, pemandu, dan anak-anak lain, Cinta dimarahi habis-habisan. Selain itu dia juga dibanding-bandingkan dengan anak lain dengan nada jengkel, “Lihat itu temannya. Semuanya gak ada yang ditungguin mamanya. Kamu ajha yang manja.Minta ditungguin.”

Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, saat Cinta sudah mulai merasakan kedekatan emosi dengan observer, yang ditunjukkan dengan menempelkan tubuhnya ke tubuh observer, si Ibu melotot sambil berkata, “Ngapain itu nempel-nempel gitu badannya sama Ustadzah? Kaya’ cicak ajha.”

Masya Allah… Si Ibu bukannya membantu meningkatkan kepercayaan diri Cinta, dia malah menjatuhkannya di depan banyak orang. Si Ibu justru meluluhlantakkan bangunan kepercayaan yang telah Cinta tata selama berjam-jam, hanya untuk bisa merasa aman dengan lingkungan barunya. Lebih parah, si ibu sempat ngatain Cinta seperti cicak. Si ibu bahkan memberikan ancaman pada Cinta untuk tak usah sekolah kalau dia tak mau kooperatif saat dites.

Kalau sudah seperti itu, instruksi apapun tak akan mampu dilakukannya dengan baik. Karena Cinta sedang merasa jiwanya terancam, Cinta sedang dalam keadaan tidak tenang, tidak nyaman, dan khawatir atas kemampuan (maupun ketidakmampuannya) yang akan ‘diperlihatkan’ kepada kami. Maka, tak ada kata lain selain menunda melakukan observasi sampai keadaan jiwa Cinta menjadi lebih baik.

Sungguh, jiwa anak akan menjadi kerdil jika perlakuan-perlakuan seperti ini yang diberikan oleh orang tuanya. Meskipun potensi IQnya tinggi tetapi jiwanya kosong. Di masa depan bisa jadi dia menjadi anak yang labil, tak bisa mengambil keputusan, dan mungkin hanya akan menjadi anak yang linglung dan mudah terombang ambing terkena arus lingkungan. Atau, jika bukan menjadi anak yang seperti itu, Cinta bisa menjadi remaja yang pemberontak yang selalu mengibarkan bendera permusuhan kepada siapa saja.

Ya Allah, Ya Rabb… Bimbinglah hamba untuk senantiasa belajar mendidik anak hamba. Berikanlah kemampuan untuk mampu memberikan pendidikan yang terbaik untuknya. Dan berilah hamba kesabaran yang luas dalam menghadapinya.

Kedua, seorang ayah secara tiba-tiba bercerita kepada kami —observer— bahwa istrinya seorang pekerja keras. Si istri bekerja berangkat pagi dan pulang malam. Sampai di rumah capek, lelah, dan langsung tidur. Tidak sempat becanda dengan anak-anak. Bahkan kadang pulang ke rumah saat anak-anaknya sudah pada tidur. Begitu setiap hari dari Senin sampai Jum’at. Sedangkan Sabtu, si Ibu masih harus masuk kerja meski hanya setengah hari.

Saat cuti melahirkan, si Ibu hanya mengambil cuti selama 2 minggu. Saat sudah sehat kembali, si Ibu mulai aktif bekerja lagi walau tetap ia memberikan hak ASI pada anak-anaknya selama 2 tahun.

Nada bicara Bapak itu sebenarnya bisa dikategorikan ‘sedang mengeluh’. Si Bapak seakan protes dengan istrinya dengan melaporkan hal itu kepada kami. Mungkin dia berharap, kami bisa memberikan masukan untuk istrinya lain waktu. Karena sejatinya, istrinya itu juga pernah bertanya kepadanya, “Mengapa sih, Yah… Anak-anak lebih sering manggil ayah daripada ibu?”

Pun telah dijawab oleh suaminya, “Itu karena ayah yang lebih sering berada di rumah, Bu.”

Tapi istrinya itu datar saja menanggapi jawabannya yang seolah menyindir, “Makanya, Ibu tak usah bekerja di luar rumah.” Atau “Makanya, luangkan waktu untuk anak.”

Hmm… Sebagai orang tua, kita memang harus meluangkan waktu untuk anak kita. Sungguh, longgarnya waktu yang kita punya tak membuat kita dekat secara emosi dengan anak-anak. Banyak yang melakukan aktivitas bersama-sama tapi pikiran mereka masing-masing melayang kemana-mana. Tidak menjadi utuh menjadi sebuah keluarga. Sehingga meski fisik bersama, tapi jiwa berada di tempat lain yang berbeda.

Saya juga sedang mempelajari ini. Saya jadi teringat sebuah kisah yang ditulis oleh Ustadz Fauzil dalam bukunya (yang saya sebut diatas).

Dikisahkan seorang lelaki datang menghadap Umar bin Khattab saat menjadi Khalifah. Ia bermaksud mengadukan anaknya yang telah berlaku durhaka kepadanya. Kemudian Umar mendatangkan anak tersebut dan memberitahukan pengaduan ayahnya.

Anak itu bertanya pada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak mempunyai hak-hak dari bapaknya?”

“Ya, tentu,” jawab Umar tegas.

Anak itu bertanya lagi, “Apakah hak-hak anak itu, wahai Amirul Mukminin?”

“Memilihkan ibunya, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan Al-Qur’an kepadanya,” jawab Umar menunjukkan.

Anak itu berkata mantap, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melakukan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seseorang dari bangsa Ethiopia dari keturunan yang beragama Majusi. Mereka menamakan aku Ju’al (kumbang kelapa), dan ayahku belum pernah mengajarkanku satu huruf pun dari al-Kitab (Al-Qur’an).”

Umar menoleh kepada lelaki itu dan berkata tegas, “Engkau telah datang kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu. Padahal, engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak berbuat baik kepadanya sebelum dia berbuat baik kepadamu.”

Kisah ini secara langsung memberi peringatan kepada diri saya pribadi untuk menjadi ibu yang baik yang dipilihkan suami untuk anak saya. Hingga saya dan suami tak melanggar hak anak atau bahkan disebut oleh Umar bin Khaththab sebagai bentuk mendurhakai anak.

Memang, Umar tidak menjabarkan bagaimana kriteria ibu yang ‘tepat’ untuk memenuhi hak anak tapi cukuplah pesan Rasulullah Saw. tentang 4 kriteria perempuan yang akan dinikahi. Insya Allah, saya berusaha selalu menuju ke arah sana. Semoga.

Terakhir, saya ingin mencantumkan paragraph terakhir dari buku “Saat Berharga untuk Anak Kita”,

Semoga kita kelak bisa melihat anak-anak yang dadanya dipenuhi kasih sayang, tangannya kokoh menegakkan kebenaran, dan sikapnya tegas memegang prinsip. Semoga pula anak-anak kita menjadi pengantar kita masuk ke surga-Nya yang tertinggi. Allahumma aamiin…

 

Sumber Gambar.

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 12 Februari 2012
09:49
Do’akan Saya… Do’akan Saya… Do’akan Saya…

Tagged: , , , , , , ,

8 thoughts on “Antara Observasi Psikologi, Buku SBUAK, dan Harapan

  1. pisces 28 Mei 2012 pukul 10:26 AM Reply

    waah., sulit juga untuk menuntun anak supaya menjadi manusia yang sehat lahir batin ya bu. secara teori saya sudah belajar untuk menjadikan anak-anak sebagai dirinya sendiri yang sehat, namun secara praktek, saya masih bingung bagaimana menghadapi anak, apakah tindakan saya termasuk memanjakannya atau tidak. oya bu, menurut ibu, hal-hal yang bisa diobservasi dari anak apa saja? dan apakah sebelum mengobservasi, kita harus menentukan perilaku yang akan diperhatikan? saya bingung untuk melakukan observasi besok.

    Suka

    • Lailatul Qadr 31 Mei 2012 pukul 5:17 PM

      Wah.. Maaf, saya baru balas..
      Yang perlu diperhatikan bnyk faktor. Terlalu panjang untuk dijelaskan. Insya Allah next time ya..

      Suka

  2. ismail 15 Februari 2012 pukul 11:20 AM Reply

    hmm… gitu ya!!

    Suka

  3. choirul 15 Februari 2012 pukul 9:56 AM Reply

    menurut saya pendidikan orang tua itu penting lho… bukannya menyalahkan orang tuaku yang g lulus SD sih…. tapi aku kayaknya juga gitu, soale dulu aku tuh g pede…
    tapi orang tuaku memberikan hakku lho, namaku bagus, aku diajari Al Qur’an, disekolahkan…. ibuku juga sip….
    sekarang sih karena udah gede ya pede aja… ha ha ha

    semoga bisa jadi orang tua yang baik kelak ya… aamiin

    Suka

    • Lailatul Qadr 15 Februari 2012 pukul 10:04 AM

      Betul, Mas…

      satu lagi, yang membuat kita bisa ‘eksis’ sampai hari ini mungkin bukan karena murni keberhasilan kita… sebenarnya, orang tua mungkin telah menanam benih-benih sewaktu kita masih kecil… disamping itu, ketulusan mereka mendo’akan kita yang mengantarkan kita sampai pada pemahaman seperti sekarang…

      Allahu’alam bish showab…

      Suka

  4. Indriana 12 Februari 2012 pukul 9:32 PM Reply

    Hmm..sedih ya, lihat orangtua seperti itu. Dan di luar sana, banyak sekali anak-anak yang bernasib seperti itu. Padahal, seandainya para orangtua tahu apa yang terjadi di dalam otak anak dan dampak apa yang akan mereka terima, mungkin mereka akan ngeri. Berjuta-juta sambungan neuron akan putus dan neuron-neuron akan mati…dan mati pulalah kecerdasan-kecerdasan yang telah terbentuk…

    Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: