Proses Kreatif Dimulai dari Rumah


Kadang sebagai orang tua kita tak menyadari betapa kreatifnya anak-anak kita. Permintaannya untuk membantu menyapu halaman, mengeringkan pakaian, mencuci gelas dan piringnya sendiri, mengiris bawang seperti yang kita lakukan, atau menyetrika dan atau melipat pakaiannya, sering kita abaikan. Macam-macam lah alasannya. Nanti tambah kotor lah, kurang bersih lah, pecah semua lah, tidak rapi lah, sampai “Jangan… Nanti kenyos setrika…!”

Fauzan with Sands

Fauzan with Sands

Belum lagi kalau anak sudah mandi lalu dia main bola, main pasir, main kucing, atau apa saja, selalu saja lidah ini tak kelu untuk mengucapkan kata “Jangan…” atau “Tidak boleh…” Bahkan tidak cukup itu, setiap larangan yang kita berikan sering tanpa alternatif pilihan atau solusi atas rasa ingin tahunya yang tinggi. Sebenarnya, hal itu kita lakukan tanpa kita sadari, karena kita tak ingin anak kita yang sudah rapi jali itu terlihat kotor dan tampak dekil lagi. Padahal iklan salah satu detergen pernah membuat tagline, ‘gak kotor, gak belajar‘.

Hmmmfff… Kalau aku pribadi yang memang suka sekali melihat anakku aktif dan proaktif, lebih sering membiarkannya melakukan hal yang diinginkan. Misalnya, saat aku melipat baju -yang sudah kering sebelum disetrika- dan dia ingin membantu, maka aku biarkan dia melipat bajunya sendiri. Awalnya, aku memberi contoh kepadanya bagaimana cara melipat baju yang benar. Memang tidak langsung sekali ‘jadi’. Aku harus berkali-kali mengulang caranya. Baru deh kemudian dia bisa melipat baju dengan baik. Kalau soal menyetrika, aku berikan pemahaman kepadanya bahwa untuk anak-anak setrika itu berbahaya. Sebab ada aliran listrik dan menghasilkan panas yang bisa membuat kulitnya terbakar.

Sehabis Mandi Hujan

Sehabis Mandi Hujan

Kalau soal bermain setelah mandi, ya sama saja. Kubiarkan dia bermain bola kapanpun dia mau. Nanti kalau sudah puas bermain bola, ya mandi lagi. Mudah kan??? Bahkan anakku pernah mandi hujan sesaat setelah dia selesai mandi sore. Mandi hujan memang memiliki sensasi tersendiri, sebuah pengalaman seru mencumbui alam.  Hehe… Wajar lah… Aku kan pecinta hujan.

Apalagi soal mandi kum-kum (mandi sambil berendam). Aku suka sekali saat dia meminta untuk diperbolehkan kum-kum. Biasanya, kalau sudah begitu, dia akan membawa mainannya ikutan mandi. Sekadar untuk main perang-perangan, takar menakar air, belajar menulis di air, sampai memandikan sepedanya. Haha… Lucu banget deh…

Nah, untuk mencuci gelas dan piring, aku menyediakan piring dan gelas melamin untuknya. Piring dan gelas itu ‘lebih aman’ untuk dia cuci sembari mengajarkannya bagaimana cara mencuci piring dengan benar.

Fauzan ikut Beberes Rumah

Fauzan ikut Beberes Rumah

Seperti siang ini, dia ingin membantu saya membereskan kamar atas. Dia membawa sapu dan kemoceng. Dengan lucunya,  mulutnya mulai menceracau, “Ummi, ini masih kotor. Fauzan mau bantu Ummi.”

Aku kemudian berkata, “Ya sudah. Bagaimana bersihnya menurut Mas Fauzan…”

Lalu dijawabnya, “Begini, Ummi…” Sambil dia menyapu lantai tak beraturan.

Dalam hati, aku bergumam, “Lakukan saja, Nak. Itu sudah bagus. Biar nanti Ummi mengulang menyapu lagi. Tak mengapa.”

Ini sebenarnya adalah inisiatif-inisiatif anak yang perlu diperhatikan oleh orang tua. Keinginannya untuk membantu, keinginannya untuk tahu, dan seterusnya, dan sebaginya, perlu mendapat ‘apresiasi’ dari kita sebagai orang tua. Apalagi kalau sudah mulai bertanya soal ini dan itu. Hadeuuuuuh… Kadang perasaan tidak sabar itu muncul dengan mencoba meng-cut semua pertanyaannya. “Udah ya… Udah ya…” Padahal dia masih ingin tahu hal-hal yang tidak diketahuinya. Maafkan aku, anakku.

Ya, kita semua sependapat bahwa proses kreatif, proses imaginatif, dan proses inisiatif seorang anak bermula dari rumah. Yang mau tidak mau ini berimbas pada penilaian dirinya terhadap lingkungannya. Tapi diluar kesadaran kita, kita telah mengebiri rasa percaya diri mereka, rasa aman mereka, rasa percaya mereka kepada kita.

Di akhir tulisan ini, aku ingin mengingatkan diriku sendiri, bahwa anak adalah amanah. Dan amanah ini bukan main-main, sebab Rasulullah saw. sendiri pernah berpesan, “Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya.” Dan dalam buku SBUAK (Saat Berharga Untuk Anak Kita), Ustadz Fauzil Adhim menekankan bahwa pada hakikatnya permasalah setiap zaman itu berbeda, tapi penyikapan terhadap setiap masalah pada setiap zaman selalu sama. Mengembalikan setiap permasalahan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Dan inilah yang harus menjadi pedoman kita sebagai orang tua dalam mendidik anak.

Ya Rabb… Mudahkanlah hamba dalam mendidik anak hamba hingga ia siap menghadapi jamannya kelak… Aamiin…

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 14 Maret 2012
13:54
Hari-hari menjelang usia 5 tahun, anakku

Tagged: , , , ,

16 thoughts on “Proses Kreatif Dimulai dari Rumah

  1. Fitri Susanti 21 Maret 2012 pukul 9:58 AM Reply

    subhanallah … sudah gede aja Fauzan No … semoga menjadi anak yang sholeh .. jadi ingat beberapa tahun yang lalu, pas ibunya akan sidang meraih gelar kesarjanaannya, Fauzan udah 8 bulan di dalam perut dan ikut sidang ibu nya … hehehehe

    Suka

    • Lailatul Qadr 21 Maret 2012 pukul 3:01 PM

      Aamiin..

      Jadi pengen sekulah lagi..!

      Do’akan ya, Pit!!

      Suka

  2. Falzart Plain 16 Maret 2012 pukul 10:00 PM Reply

    Sangat berbeda dengan hukum yang berlaku di rumahku dulu… Sama sekali nggak boleh main kotor…

    Suka

    • Lailatul Qadr 17 Maret 2012 pukul 9:52 AM

      Hayayaya… Aku malah suka sekali main kotor-kotor… Ndak papa, wong sejak kecil aku udah nyuci baju sendiri… ^_^

      Suka

  3. titintitan 15 Maret 2012 pukul 5:33 PM Reply

    teteeh, itu fauzan bobo di air apa gmna?

    Suka

    • Lailatul Qadr 16 Maret 2012 pukul 6:48 AM

      itu guling-guling di lantai lapangan depan rumah…

      Suka

  4. puchsukahujan 15 Maret 2012 pukul 6:28 AM Reply

    kiranya saya ndak perlu baca buku parenting,,
    hihi baca tulisannya mbak Lai aja deh…..

    *belajar

    Suka

    • Lailatul Qadr 16 Maret 2012 pukul 6:47 AM

      tetep harus baca… apalagi Tarbiyatul Aulad… ^__^

      Suka

  5. awy' 14 Maret 2012 pukul 3:40 PM Reply

    Geluntungan hujan-hujan😀 senenge

    Suka

  6. rizalean 14 Maret 2012 pukul 3:17 PM Reply

    anak yang rajin. seumur gitu uda punya inisiatif dan mencoba berkontribusi di urusan rumah. memang sebaiknya tidak dilarang. diarahkan, tepatnya.

    waktu asisten rumah pulang dan gak balik lagi, 2 mingguan di rumah nggak ada asisten. semua wajib menyetrika baju masing-masing, tak terkecuali si bungsu yang baru 5 tahun, dan dia paling cepat selesai nyetrikanya🙂

    tapi, kalo proses kreatif, lebih ke otak kanan kan ya? bikin2 apa gitu, bayanganku sih gitu… yang terkait daya cipta dan kreasi.

    Suka

    • Lailatul Qadr 14 Maret 2012 pukul 3:25 PM

      iya… terima kasih atas koreksinya, Pak…

      postingan ini, kayanya salah judul… hehehe…

      intinya mah, gitu deh… (masih belajar nulis soalnya)

      Mohon maklum, ya Pak…

      Suka

  7. Mas Huda 14 Maret 2012 pukul 2:41 PM Reply

    saya lihat gambar yang kedua jadi penasaran itu diambil dimana? kayak di pelataran gitu…

    Memang iya ya kalau dipikir, anak-anak itu kreatif, tapi yang saya rasakan selama ini di keluarga saya belum bisa mempraktekkan itu. Berarti ini tantangan buat saya kalau nikah nanti.. he he

    Suka

    • Lailatul Qadr 14 Maret 2012 pukul 2:50 PM

      Itu di lapangan depan rumah, Om…

      Kalau orang tua kita mendidik kita dengan cara seperti itu dan jadilah nak seperti kita, maka tantangan terbesar kita adalah mendidik anak-anak kita agar ‘kualitas’ mereka jauh lebih baik daripada kita. Minimal, sama.

      (padahal kalo sampe sama, merugi namanya…)

      Suka

    • Mas Huda 14 Maret 2012 pukul 2:58 PM

      iya Bu, kalau nasehat orang tua saya juga gitu sih plus rata-rata orang desa juga gitu

      “Jangan kayak orang tuamu, walaupun orang tuamu g lulus SD kalau bisa kamu minimal SMA”

      Alhamdulillah walaupun emak sama bapakku g lulus SR tapi cita-cita mereka untuk menyekolahkan anaknya sampai minimal SMA sangat kuat walaupun harus berjuang keras. Malah aku bisa kuliah.. he he

      akhirnya ya semoga saya besok bisa mendidik anak saya jelas harus lebih baik lagi karena itu kewajiban. #jiah nikah aja belom

      Suka

    • Lailatul Qadr 14 Maret 2012 pukul 3:06 PM

      tidak hanya sekolahnya, tapi juga kepribadiannya, kematangan berpikirnya, dan sebagainya…

      Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: