Bertemu Lagi dengan Seorang Sahabat di Zaman SMU Dulu


Nuning Lucy Rahmawati, sebuah nama yang bertahun-tahun ini kucari. Sejak kutanggalkan seragam putih abu-abuku dari sebuah sekolah Negeri di Surabaya, tahun 2002 lalu, aku benar-benar kehilangan jejaknya. Apalagi sejak Buku Tahunan-ku lenyap entah dimana, aku benar-benar tak bisa menelusuri keberadaannya.

Aku pernah cukup dekat dengan nama itu. Duduk sebangku di kelas 2. Dan itu membuatku begitu mengagumi sosoknya. Siapa sih dia?

Dia adalah perempuan yang cukup anggun di mataku. Awalnya, aku merasa ‘aneh’ dengan dandanannya. Jilbab lebar menutupi hampir separuh badan dan seragam putih abu-abu yang dijahit menyatu atas-bawah menjadi bentuk abaya. Itulah yang membuatku tak ingin duduk di sebelahnya saat kelas I. Malah saat kelas I itu, aku duduk sebangku dengan perempuan noni.

Namun saat kelas II, aku ‘terpaksa’ duduk di sebelahnya. Sebab, tak ada yang mau duduk sebangku denganku. Hehe… Walhasil, aku menjajarinya. Jadilah, 2 perempuan berjilbab di kelasku, duduk sebangku. Meski berjilbab, kami seperti air dan minyak. Tak pernah kompak.

Dia adalah teman yang sering memprovokasiku untuk selalu mengikuti kegiatan-kegiatan di SKI, sebuah sub seksi kerohanian Islam di sekolahku. Dia juga yang sering menyeretku ke masjid untuk melaksanakan Sholat Dhuha di waktu istirahat. Dia juga yang selalu mengajakku Sholat Dhuhur segera, setelah bel pulang berbunyi. Dan dialah yang sering mengingatkanku terkait pergaulanku yang slonongboy dengan lawan jenis.

Subhanallah… Meski aku sering menolak ajakannya dan mengacuhkan peringatannya (dengan berbagai alasan tentunya) dia tak pernah bosan mengajak dan mengingatkanku. Maklum lah… Saat SMA, aku masih ‘kacau’. Dia tak pernah marah meski aku menolaknya dengan kasar. Bahkan dia selalu tersenyum saat aku menampik tangannya. Keren banget kan, dia?

Ada beberapa hal yang selalu kuingat dari dia. Pertama, sebuah Al-Qur’an kecil berwarna hitam berreseleting. Dia selalu membawanya di dalam saku dibalik jilbabnya. Kalau tidak di dalam saku, maka Al-Qur’an itu pasti ada di dalam tas hitam besarnya. Saat bapak atau ibu guru belum datang, dia akan membuka Al-Qur’an itu dan membacanya, perlahan nyaris tak terdengar. Padahal saat itu, kami teman-temannya, lebih memilih bergosip atau bercengkrama satu sama lain. Sebuah hal yang wajar dilakukan anak SMA waktu itu. Tapi itu tak menyebabkannya dijuluki ‘pendiam’. Sebab dia tetap berinteraksi dengan kami, dalam kadar seperlunya, sewajarnya.

Kedua, kesederhanaannya. Ada beberapa hal unik yang bisa kita tiru dari sikap sederhananya itu. Setiap hari, saat dia tak melaksanakan shoum sunnah yang rutin dilakoninya setiap Senin dan Kamis (ditambah puasa ayyaumul bidh), dia selalu membawa air dalam botol mineral. Suatu saat aku pernah bertanya padanya tentang air dalam botol itu, dan dia hanya menjawab, “Lumayan lah… Untuk menghemat uang saku.”

Bener lho… Jarang sekali aku mendapatinya pergi ke kantin. Dia mungkin sudah kenyang dengan air putih saja. Atau mungkin, dia berpendapat bahwa saat pulang sekolah nanti, toh dia bisa makan sepuasnya di rumah. Dan dia hanya membawa uang saku yang hanya cukup untuk membayar ongkos transportasi berangkat dan pulang sekolah saja. Dan kalau pun ada sisa, dia pasti lebih memilih untuk menabungkannya dan tidak membelanjakannya kecuali untuk hal yang sangat penting.

Buku pelajaran yang dipunyainya pun tidak pernah baru. Dia lebih memilih membeli buku second. Katanya, “Sama-sama buku ini. Yang penting, bisa dibaca dan bisa dibuat untuk belajar.”

Dia hanya punya 1 tas sekolah dan sepasang sepatu. Jika tas sekolahnya jebol, asal masih bisa dipakai, dia akan menjahitnya sepenuh hati. Buku tulis yang masih bisa dipakai, akan dipakainya kembali di kelas II. Dia tidak pernah mubadzir dengan buku tulis.

Ketiga, tas hitam besar miliknya. Tinggi badannya yang lebih rendah dari aku, membuatnya tak cocok dengan tas hitam besar itu. Aku merasa dia seperti seekor kura-kura (maaf, ya mbak Ning) yang sedang ‘kewalahan’ dengan beban di punggungnya. Entahlah, apa alasannya membeli tas yang sebegitu besarnya. Ditambah lagi, dia sering membawa semua buku pelajarannya ke sekolah setiap hari. Maka benarlah jika tas hitam besar itu tidak hanya tampak berat, tapi benar-benar terasa berat. Belum lagi jika hari itu ada pelajaran olah raga. Bisa kebayang beratnya kan???

Keempat, topi sekolah. Berjilbab besar dan bertopi? Apa-apaan??? Mungkin itulah yang pertama kali kita pikirkan saat melihat ‘gaya anehnya’. Tapi aku sama sekali tidak aneh dengan model seperti itu. Sebab si pemilik topi harus meletakkan topinya diatas kepala jika ingin mengurangi sengatan panas matahari di langit Surabaya. Bayangkan jika dia tak memakai topi itu saat dia berjalan dari bawah jembatan layang Mayangkara (tempat berhenti angkot yang dikendarainya sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya ke rumahnya) ke Wonocolo pabrik kulit, pukul 1 atau 2 siang. Bisa-bisa, dia pingsan di tengah jalan. Kepala yang terkena sengatan matahari, beban di punggungnya, dan badan lelah sepulang sekolah. Hufff… Lengkap sudah.

Lagi-lagi mbak Nuning menjawab, “Untuk penghematan,” saat kutanya mengapa dia berjalan dari bawah jembatan layang itu ke Wonocolo. Hadeuuuuuh… Kalau aku, mungkin aku tak akan sanggup saat itu.

Kelima, kegemarannya membaca karya sastra. Perpusatakaan sekolah adalah tempat nongkrongnya selain masjid. Saat dia sudah melaksanakan sholat Dhuha, maka perpustakaan adalah tujuan selanjutnya. Apalagi saat dia kedatangan tamu bulanan, maka tak ada hal lain yang dilakukannya selain membaca. Dia memilih terbenam dalam buku di perpustakaan daripada bersosialita dengan beberapa kawan lainnya. Itulah sebabnya, saat penjurusan di kelas III, dia memilih masuk kelas Bahasa. Padahal sekolah kami, SMU Negeri 5 Surabaya, tak menyediakan jurusan ini. Kalaupun dia keukeuh memilih jurusan Bahasa maka dengan terpaksa dia harus pindah sekolah ke SMA Negeri 9, yang masih satu komplek dengan sekolah kami, yang menyediakan jurusan itu. Walhasil, dia mengalah… Dia lebih memilih almamaternya dan mengambil jurusan IPS di kelas III.

Keenam, sikat dan pasta gigi. Awalnya, kupikir dia gila dengan membawa 2 benda itu ke sekolah. Menurutnya, bau mulutnya tidak sedap, apalagi saat puasa. Maka tak ada salahnya membawa 2 benda itu ke sekolah dengan harapan saat dia sudah menggosok gigi, teman-teman akan ‘nyaman’ berbincang dengannya. Sungguh sikap yang patut untuk ditiru. Membuat orang lain nyaman.

Well… Keenam hal diataslah yang membuatku selalu teringat padanya. Maka, setelah Allah memberikan hidayah-Nya kepadaku 10 tahun yang lalu dan kemudian aku berhijrah menjadi diriku yang sekarang, hanya satu nama itu yang kuingat. Nuning Lucy Rahmawati. Seorang sahabat yang dengan segala ketulusannya secara tidak langsung membantuku menemukan hidayah ini. Seorang sahabat yang dengan keteladanannya secara tidak langsung terekam dalam long term memory ku untuk ‘meliriknya’. Seorang sahabat yang menjadi ‘model’ atas kecintaannya pada Al-Qur’an dan ‘model’ atas sikapnya yang tak menyia-nyiakan waktu. Seorang sahabat yang seantiasa berusaha meneladani Rasulullah dan menerapkannya dalam kehidupan kesehariannya. Sungguh, seorang yang memiliki kepribadian luar biasa.

Laa haula wa laa quwwata illa bilLaah… Tak ada kekuatan yang bisa tercipta atas izin-Nya. Selama kurun waktu 10 tahun aku ‘mencarinya’ dan tak juga menemukannya, akhirnya aku bisa berjumpa lagi dengannya. Atas izin-Nya. Ya, atas izin-Nya.

Ahad, 25 Maret kemarin adalah hari pertemuan perdanaku (kembali) dengannya. Nuning Lucy Rahmawati, dengan gelar kesarjanaan S. Psi. Ada rasa haru yang melingkupi hatiku. Membuat mataku berkaca dan pipiku terasa hangat. Finally, I meet him after 10 years. Sungguh sebuah perasaan yang tak dapat dituliskan lewat kata sekalipun.

Sahabatku dan Aku

Sahabatku dan Aku

Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja di rumah Bu Heni, markas Lembaga Psikologi Paramesti. Rupanya, mbak Nuning (begitu aku selalu memanggilnya) juga diajak bu Heni untuk proyek kali ini. Saat dia turun dari motor dan melepas helmnya, aku langsung mengenalinya. Tak sedikit pun dia berubah. Tak seperti aku yang bertambah berat badan 16 kg dibandingkan zaman SMA dulu. (Hadeuuuuh… Katehuan, deh…) Dia juga masih sama dengan jilbab lebarnya, anggunnya, dan sederhananya.

Tapi ada pemandangan lain darinya. Dia sudah ‘menggantungkan’ tas hitam besar dan menggantinya dengan tas (sedikit) mungil berwarna coklat. Ya… Tentu saja, tas coklat itu masih setipe dengan tas hitam besar yang dulu dipakainya. Sebuah backpack alias ransel atau tas yang digendong di belakang punggung. Haha… Kalau yang satu ini, kami punya pendapat yang sama. Lebih praktis.

Seharian kemarin, sebenarnya aku ingin menghabiskan waktu untuk berbincang dengannya. Seharian kemarin, aku ingin mengorek hidupnya selama 10 tahun belakangan ini. Seharian kemarin, inginnya aku melepaskan semua rinduku padanya. Tapi aku ingat bahwa pertemuan dengannya kemarin adalah dalam rangka ‘bekerja’, bukan main-main atau reunian. Maka, aku harus tahu diri meski aku curi-curi waktu untuk sejenak berbincang dengannya.

Ya… Di akhir catatan ini, aku ingin berdo’a. Semoga Allah masih mempertemukan kita kembali di lain waktu. Insya Allah. Do’aku untukmu, saudariku. Semoga kau senantiasa berada dalam lindungan-Nya.

 

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 26 Maret 2012
10:30

Tagged: , , , , , ,

4 thoughts on “Bertemu Lagi dengan Seorang Sahabat di Zaman SMU Dulu

  1. Mutia 13 Mei 2013 pukul 11:10 PM Reply

    Kemarin ammah Nuning ke rumah lo. Pas diceritain sama aku, katanya ‘lho kok aibku diceritaiin?’ hehe padahal bukan aib kan yah ._.

    Suka

    • Lailatul Qadr 20 Mei 2013 pukul 2:02 PM

      Eh, iyah… Kemarin juga ketemu, mbak… Kapan2 kalo ke rumah lagi, tolong salamin yaaaa…

      Suka

  2. titintitan 26 Maret 2012 pukul 5:18 PM Reply

    caaantik

    Suka

    • Lailatul Qadr 27 Maret 2012 pukul 6:08 AM

      Siapa yang cantik??? Saya??? Kalo itu siy, emang dari dulu saya cantik… Huehehehehe

      Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: