(Resensi) Buku PLAYING ‘GOD’


Playing 'God'

 

Judul Buku              : PLAYING “GOD”
Pengarang              : Rully Roesli
Penerbit                  : Qanita
Jumlah Halaman   : 198 Halaman

Playing “God” sebenarnya adalah sebuah idiom. Disebutkan dalam buku ini, penulis mendefinisikan Playing “God” sebagai ‘bertindak seolah mempunyai wewenang untuk membuat keputusan penting yang secara signifikan memengaruhi kehidupan orang lain’ (Playing “God”, hal – 28). Sebenarnya, wewenang siapa itu? Tuhan!

Sebenarnya, pada kehidupan ini beberapa profesi telah mengakrabi dan melakukan idiom itu. Selain profesi dokter yang banyak dijelaskan dalam buku ‘Playing “God”’, profesi pemadam kebakaran, hakim, bahkan ibu rumah tangga sekalipun, secara langsung maupun tidak, pernah melakukannya.

Penulis menggunakan gaya bahasa ‘aku’ sebagai tokoh utama dalam buku ini. Sehingga saat membacanya, kita seolah-olah dibuat dekat dengan sosok penulis. Bahasa yang meluncur di dalamnya sangat mudah untuk dipahami. Meskipun sebagai orang awam, istilah medis yang harus tertulis tak membuat kita mengernyitkan kening untuk memahami maknanya.  Tambahan penggalan terjemah ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, dan beberapa shiroh sahabat, menjadikan buku ini kaya dan sarat akan pengingatan diri tentang hakikat kehidupan manusia.

Di bagian awal-awal penulis menuliskan drama yang selalu terjadi pada hari Jum’at di RS Khusus Ginjal (RSKG) R.A. Habibie Bandung. Ini terjadi sekitar tahun 1998, saat awal-awal terjadinya krisis moneter. Dimana hari itu, seakan komite medik memainkan ‘peran Tuhan’. Ya. Dokter (komite medik) bukanlah siapa-siapa yang bisa menentukan umur seseorang, tapi rapat itu seolah telah mengambil sedikit ‘wewenang’ Tuhan untuk menentukan umur seseorang.

Bagaimana rapat itu menjadi sebuah rutinitas yang sangat menguras emosi penulis? Bagaimana bisa rapat komite medik menentukan umur seseorang?

Saya akan sedikit menuliskan kembali sedikit tentang ini. Krisis yang terjadi di tahun 1997, mau tak mau, berimbas pada naiknya biaya cuci darah. Kenaikan ini tentu saja sangat memberatkan mereka yang divonis harus melakukan cuci darah seumur hidup.

Pada hari itu, penulis disodori beberapa data pasien gagal ginjal yang harus melakukan cuci darah. Mereka adalah pasien atau keluarga pasien yang telah mengajukan diri untuk pembebasan biaya cuci darah kepada Yayasan. Penulis dan komite medik harus menentukan pasien mana yang ‘layak’ untuk dibebaskan biaya cuci darahnya, dan mana yang tidak. Disitulah perang batin dimulai.

Pasien hemodialisis yang berada dalam kategori ‘layak’ bisa bernafas lega, artinya umur mereka bisa ‘diperpanjang’. Dengan demikian, pasien yang dalam kategori ‘tidak layak’, tidak mendapatkan bantuan. Ini berarti umur pasien tidak akan lama lagi.

Kita semua juga mahfum, bahwa semua yang mengajukan diri untuk pembebasan biaya cuci darah adalah mereka dari kalangan ekonomi lemah. Dan untuk menentukan ‘layak’ dan ‘tidak layak’ itu sungguh suatu perdebatan yang sengit antara hati nurani, ilmu pengetahuan, dan logika nalar. Beberapa kisahnya, diceritakan dalam buku ini.

Selain menentukan nasib orang lain, dalam buku ini dibahas juga tentang kisah beberapa pasien yang menghakimi dirinya sendiri (dalam hal ini utamanya penyakit gagal ginjal ini), tentang cara Tuhan yang bertindak sangat misterius pada beberapa pasien yang pernah penulis temui, tentang sosok seorang dokter, dan tentang kematian yang mengintai setiap yang bernyawa.

Di bab terakhir, penulis menceritakan riwayat kesehatan Adik penulis yang seorang seniman besar Indonesia, Harry Roesli, di akhir hayatnya. Saya sendiri sampai merinding membacanya. Bagaimana seorang dengan tekanan darah yang hanya 60/0 mmHG mampu berjalan layaknya orang normal dari mobil ke UGD? Bagaimana orang yang mengalami  serangan infark yang sangat luas masih memiliki kesadaran yang tinggi? Padahal dengan tekanan darah dan serangan yang seperti itu, pada umumnya pasien tampak terlihat seperti orang sedang sakit berat. Ini tidak penulis temui pada adiknya Harry. Luar biasa!

Bagaimana perdebatan seru terjadi di setiap hari Jum’at? Bagaimana kisah pasien yang menghakimi dirinya sendiri? Bagaimana Tuhan bertindak atas sebuah do’a? Bagaimana sosok seorang dokter? Dan bagaimana harusnya menjadi seorang pasien yang telah divonis penyakit kronis? Semua jawaban ada dalam buku ini.

Buku ini, dalam beberapa bagian, membangkitkan memori saya pribadi akan kisah mama saya yang divonis terkena kanker kandungan pada tahun 1995. Pada saat itu, dokter memberikan isyarat kepada papa saya, bahwa keberhasilan operasi  dan pengobatan untuk mama hanya 40%. Pun ketika kanker telah metastase ke organ lain 10 tahun setelah operasi pertama itu –walau mama telah menjalani kemoterapi sebanyak 12 kali dan meminum obat alkeran dalam jangka waktu yang cukup lama–.

Buku ini, membuat saya habis melahapnya hanya dalam hitungan jam. Selain saya tertarik dengan idiom yang dipakai untuk judul buku ini, saya juga sangat tertarik dengan kisah-kisah yang disajikan penulis dari awal hingga akhir.

Sayangnya, ending yang berkisah tentang ‘darimana ruh keluar dari tubuh’ dibahas kurang nendang. Harapan saya ketika membaca judulnya, akan ada beberapa kisah tentang bagaimana orang meninggal dunia yang pernah penulis temui. Saya juga berharap ada beberapa tanda ‘non medik’ yang mengisyaratkan ruh akan meninggalkan raga. Sepertinya, ekpektasi saya terlalu besar. Ya, tentu saja. Karena penulis adalah seorang scientist, maka untuk menuliskan itu, penulis mungkin harus melakukan penelitian lebih lanjut dan membonglkar literatur ilmu kedokteran Islam.

Sebagai penutup, biarlah ruh (soul) itu menjadi hak prerogatif Allah, yang kita hanya diberi sedikit pengetahuan tentangnya. (QS. Al-Isra’ [17] : 85) Dengan sedikitnya pengetahuan kita tentang itu, kita mampu mempersiapkan kembalinya ruh kita kepada pemiliknya dengan usaha semaksimal mungkin. Aamiin.

 

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 08 April 2012
23:10

 

Tagged: , , , , , , ,

13 thoughts on “(Resensi) Buku PLAYING ‘GOD’

  1. adi 9 Agustus 2012 pukul 2:30 PM Reply

    Saya beli buku ini 2 minggu yang lalu ketika ada pengajian yang menghadirkan dr. Rully Roesli sebagai pembicara tamu.. di pengajian itu, dr. Rully membahas sedikit resensi bukunya. Sampai saat ini baru baca bab 1, semoga bisa segera menamatkannya..

    Suka

    • Lailatul Qadr 14 Agustus 2012 pukul 8:33 AM

      Sila dlanjut membacanya. Seru lho…

      Suka

  2. arie kusuma 29 April 2012 pukul 2:22 PM Reply

    saya paling kagak suka baca. hehehe
    males mbak. gini aja. mbak yang bacain aku denger. tapi kalo ketiduran maaf yak xixix

    Suka

  3. Danni Moring 24 April 2012 pukul 6:11 AM Reply

    sepertinya bukunya menarik, nanti coba saya nyari…

    Suka

  4. Falzart Plain 10 April 2012 pukul 8:17 AM Reply

    (pengen baca kalau sempat)

    Suka

    • Lailatul Qadr 10 April 2012 pukul 8:45 AM

      Sempatkan diri untuk membaca… ^__^

      Suka

  5. Marczumi Rumambay 9 April 2012 pukul 1:52 PM Reply

    wahh… baca dr referensi’a bagus nih buku.😀

    Suka

    • Lailatul Qadr 10 April 2012 pukul 8:45 AM

      Coba ajha beli bukunya trus baca deh…

      Suka

  6. Adam 9 April 2012 pukul 11:21 AM Reply

    tendang aja biar nendang

    Suka

  7. umielaine 9 April 2012 pukul 8:44 AM Reply

    hmm… menarik… secara mama saya pernah menjumpai dokter yang berkata “waktu bapak hanya 5 bulan bu”. vonis tentang umur papa saya waktu itu.
    ahh… dokter…..aneh sekali

    Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: