Touring Ke Bromo


Kalo mo jalan-jalan ke Bromo naik motor, saran saya…. Jangan pakai motor matic. Bisa-bisa, motor Anda turun mesin sepulang dari sana. Hihihi…

Well, sebenarnya sudah lama saya ingin posting pengalaman saya touring ke Bromo ini. Tapi, yaaaaaa… Baru mood sekarang-sekarang ini. Jadi, baca dan simak aja ya… Siapa tahu bisa jadi rujukan kalo mau touring naik motor dari Surabaya ke Gunung Bromo .

Jujur saja, ini adalah pengalaman pertama saya menuju Gunung yang kata orang eksotis itu. Dari hasil googling selama beberapa hari, saya mendapatkan banyak cara menuju Roma Gunung Bromo. Salah satu jalur yang juga menjadi anjuran dari teman yang sudah berulang kali kesana adalah lewat Pasuruan. Alasannya karena jalurnya lebih ‘jinak’ dan karena saya berangkat sen-di-ri-an. Hihihi…

Hmmmm…Let’s start the adventure…!

Sabtu, 29 Juni 2013. Saya berangkat pukul 13.00. Dari rumah, saya mengenakan jaket, masker, dan membawa ransel yang berisi beberapa kaos, sarung tangan, charger, dan sleeping bag. Perbekalan itu, saya rasa cukup untuk menghalau hawa dingin di Bromo. Dengan mengucap basmalah, do’a keluar rumah, do’a naik kendaraan, dan pamit kepada Ibu, saya bawa si Jingga melaju ke arah Porong. Mmmm… Saat itu… The weather is hot-hot potatoes alias cuacanya panas ngenthang – ngenthang*.

Di daerah Lula atau lebih dikenal dengan sebutan Lumpur Lapindo lalu lintas mendadak macet. So, naluri pembalap saya timbul. Saya berusaha nyelip diantara truk-truk dan bus besar serta mobil-mobil kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Panas dan padat.

Selepas kau pergi Jembatan kali Porong, menurut beberapa literatur yang saya baca dan juga saran dari teman saya tadi, maka saya harus mengambil jalur arah kiri untuk menuju Pasuruan. Nanti dari Pasuruan menuju Tongas untuk selanjutnya ke Bromo.

Perjalanan agak menyesakkan dada; udara yang panas, monoton, dan lalin yang lumayan padat. Pukul 14.30 saya memutuskan untuk beristirahat sambil mencari pelepas dahaga di sebuah minimarket retail di daerah Pasuruan. Memakan coklat, meminum sebotol minuman vitamin, sambil meluruskan kaki, itu yang saya lakukan. Sekira 15 menit kemudian, saya bawa si Jingga kembali melaju di jalanan.

Sekitar setengah jam berikutnya, saya menemukan petunjuk jalan ke arah kanan bertuliskan “Wisata Bromo”. Ada perasaan lega bercampur haru ecieeeeeee menelisik di dalam dada. Bromoooo.. Finally, I come…

Jam yang melingkar di tangan saya menunjukkan angka 15:17 saat si Jingga membelok ke arah itu. Jalanan yang tadinya padat berubah jadi sangat lengang. Jarang sekali kendaraan yang lewat. Merasa sanksi dengan pilihan jalur tersebut, saya berhenti di depan sebuah rumah untuk bertanya apakah jalur yang saya ambil benar-benar menuju ke Gunung Bromo. Dan pria berbadan tambun yang saya temui disana mengatakan, “Iya, benar. Ikuti saja jalan ini.” Mendengar jawaban itu, hati saya lega seketika.

Si Jingga dan saya pun melaju melanjutkan perjalanan.

Jalan yang kami lewati semakin lama semakin menanjak. Gigi 2 yang saya pakai tidak mampu mengalahkan tajamnya tanjakan. Sesuatu banget saat si Jingga mulai meraung mbrebet minta ganti persneling. Antara khawatir dan yakin bahwa si Jingga tak mampu menaklukkan tajamnya tanjakan, saya tetap menggeber si Jingga untuk terus berjalan. Mulut ini tak henti berdzikir untuk menenangkan hati yang bimbang.

Alam pemandangan pun semakin lama tersaji semakin indah. Kabut yang mulai turun membuat view yang tertangkap oleh mata juga semakin menawan. Saya agak heran dengan ladang yang dibuat penduduk desa. Lereng yang tajam sekali pun bisa ditanami. Otak saya berputar memikirkan bagaimana cara mereka bercocok tanam dengan lahan yang demikian curam? Koq gak gelundung, ya? Hmmm… Entahlah…

Hawa dingin ikut-ikutan semakin menusuk tulang. Jemari saya seakan membeku merasakan suhu udara di sekitar. Tiba di Desa Sukapura, saya ditawari penginapan oleh orang-orang di pinggir jalan. Mereka menawarkan harga sewa kamar semalam sebesar Rp 100.000. Kalau naik lagi, belum tentu dapat penginapan disana. Karena menurut mereka malam ini ramai sekali tamu yang datang.

Ok… Saya terima informasi itu. Tapi saya tak suka ‘berhenti sebelum mencoba.’ Maka saya ajak si Jingga untuk melaju lebih keatas lagi. Dalam pikiran saya, kalau tak dapat penginapan diatas, saya akan turun sampai Desa terdekat. Apa susahnya..?

Pukul 17.40 an, saya tiba di loket masuk obyek wisata Gunung Bromo. Satu motor dengan satu penumpang plus asuransi, dihargai kalau tidak salah Rp 18.000.

Hawa dingin, perasaan cemas, khawatir, capek, semuanya terbayar saat saya menyaksikan sunset dari atas Bromo. Subhanallaah… Indaaaaaah… Tapi saya lupa mengambil foto karena terlalu kagum dengan keindahan alamnya.

Tak lama kemudian matahari sudah tak lagi terlihat, tapi saya sedikitpun tak mendengar suara Adzan Maghrib disana. Hmmm… Saya ingat bahwa mayoritas penduduknya beragama Hindu. Pantas saja, tak ada musholla apalagi masjid yang mengumandangkan Adzan. Sebab itu juga lah, saya putuskan untuk segera mencari penginapan agar bisa segera melaksanakan Sholat Maghrib.

Nah, saat saya akan beranjak dari tempat saya menyaksikan sunset, saya dihampiri oleh seorang penjual topi yang -maaf- bermata strabismus. Dia menawarkan kamar dengan harga Rp 150.000 kepada saya. Dengan beberapa pertimbangan, saya deal dengan harga yang dia tawarkan.

Segera si Bapak Tua itu memandu saya menuju rumahnya yang tak jauh dari lokasi saya berdiri saat itu. “Lumayan lah, besok pagi tak perlu terlalu pagi untuk mengejar sunrise di penanjakan,” begitu pikir saya.

Jangan membayangkan penginapan dengan harga segitu disebut nyaman. Tempat tidur seadanya, mepet dengan tembok, tak ada ruang yang lega untuk sholat dan meletakkan barang, warna sprei yang berbeda dengan warna sarung bantalnya, dan sebuah selimut tebal. Saya pun harus sholat di luar kamar karena saking sempitnya ruangan yang saya sewa. Ya sudahlah.. Terima saja. Tak mengapa.

Selesai sholat, saya berbincang dengan pemilik rumah. Saya bertanya dimana saya bisa mendapatkan bensin eceran sekira 1 liter saja. Saya tak mau si Jingga tiba-tiba berhenti karena kehabisan bahan bakar esok harinya. Si pemilik rumah dengan sigap membantu saya membelikan bensin sebagai service tambahan karena telah menginap di rumahnya. Alhamdulillaah…

Well, untuk makan malam, saya memilih warung yang berada di sebelah rumah itu. Warung yang cukup ramai dengan pembeli yang keluar masuk. 8 tusuk sate dan sepiring nasi dihargai Rp 19.000. Menurut saya yang pecinta kuliner ini, satenya tak terlalu sedap. Bahkan bisa dikategorikan ke dalam masakan standar.

Setelah mengisi perut ala kadarnya, saya harus segera tidur karena saya tak mau ketinggalan menyaksikan sunrise esok hari.

Ahad, 30 Juni 2013, saya terbangun pukul 02.50. Bukan karena bunyi alarm yang saya pasang, tapi karena tangan saya keluar dari sleeping bag yang membuat udara dingin menyentuh kulit.

Segera saya keluar kamar untuk mengambil air wudhu di kamar mandi. Betapa kagetnya saya saat saya menyaksikan banyak orang yang “bergelimpangan” di ruangan yang sebenarnya tak layak disebut kamar itu. Mereka menyewa ruangan tersebut sekadar untuk istirahat sejenak. Mereka juga turis dalam negeri, sama seperti saya, tapi mereka tak menyewa bilik, hanya ruang tamu saja.

Alhamdulillaah… Di tengah padatnya ruangan itu, saya masih bisa melaksanakan sholat malam disana.

Pukul 03.30 saya menyudahi sholat saya dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke lautan pasir lalu menuju ke penanjakan. Sebuah tempat yang biasa digunakan orang untuk mengambil gambar Gunung Bromo atau melihat sunrise dari gunung-gunung yang berjajar.

Si Jingga dan saya melaju perlahan. Banyak mobil-mobil hardtop yang melewati kami. Di lautan pasir, sesekali ban si Jingga selip dan membuat laju motor tidak stabil. Wuiiiih.. Seru lho, saatmenahan keseimbangan sambil tetap fokus dengan jalan dan tidak menggubris dinginnya hawa Bromo. Apalagi mengingat lampu motor saya yang kurang fokus dan tidak tajam menyorot jalan.

Bagi rider pemula yang baru pertama kali mendatangi Bromo, pasti bingung untuk mengambil arah di jalur yang bercabang. Satu jalur hanya dilalui motor, sedang jalur yang lain tetap dilalui hardtop.

Mengikuti naluri, saya mengambil jalur yang dilalui hardtop saja. Dan jalur itulah kemudian yang mengantarkan saya ke Penanjakan 2. Begitu nama yang saya tahu setiba di sebuah tempat dimana banyak sekali orang berkumpul disana. Untuk menuju penanjakan 1 dan 2, setelah melalui lautan pasir, Anda akan memasuki jalan beraspal dengan kemiringan yang sangat tajam. Entah berapa derajat. Eniwei… Saya tak menuju ke Penanjakan 1 karena sebelumnya saya mengalami kecelakaan kecil di jalan beraspal itu. Sedikit trauma juga, siy… Hehe.

Setiba di Penanjakan 2, pukul 04.30, saya melaksanakan Sholat Shubuh. Ada sebuah tempat datar yang bisa saya gunakan untuk menggelar jas hujan sebagai sajadah. Tempatnya cukup strategis karena arahnya tepat ke arah kiblat.

Selesai salam, saya melihat beberapa pasang mata memperhatikan apa yang saya lakukan. Mungkin mereka heran, di tempat seperti itu, ada orang yang ‘sempat’ melakukan sholat. Justru dalam hati kecil saya bertanya-tanya…. Masa’ orang sebanyak itu tak ada yang Muslim..? Kalau ada, mengapa mereka meninggalkan sholat hanya demi melihat sunrise yang senyatanya adalah “karya”-Nya juga..? Sebuah kenyatan yang cukup membuat hati saya menangis. Ah… Mengapa sholat harus dikalahkan dengan hal-hal yang remeh? Sebuah ironi… Menghela naas.

Puas melihat sunrise dari atas Penanjakan, si Jingga dan saya turun kembali melalui jalur yang sama. Saya hanya berani pakai gigi 1, karena curamnya turunan. Sampai-sampai saya membayangkan kira-kira, ada tifak ya, yang terjungkal atau meninggal saat menuruni bukit itu? Hiiii… sereeeem…

Tiba di lautan pasir lagi, saya menyempatkan diri untuk foto fiti sebelum menuju kawah Bromo. Ternyata, lautan pasir itu dingiiiiiin, lho… Hihi…

Ngomong-ngomong… Di samping kawah Bromo, ada sebuah Pura. Tapi saya tidak berkeinginan untuk mampir atau sekadar mengambil foto di Pura itu. Pura Bromo tak menarik perhatian saya sama sekali. Fokus saya cuma satu, kawah gunung Bromo.

Saya menyimpan si Jingga di tempat parkir motor di samping kawah. Tarif parkirnya Rp 2.000. Setelah merasa aman dengan posisi si Jingga, saya menaiki 1000 tangga yang mengantar para turis mendekati kawah gunung Bromo. Ternyata jumlah 1000 tangga itu hanya 239 anak tangga saja tak sampai 1000. Saya iseng menghitung jumlahnya sambil menunggu giliran berjalan. Hihi…

Singkat cerita, saya tiba lagi di rumah Sidoarjo pukul 13.30 dengan selamat dan mata yang mengantuk… Satu hal yang saya lewatkan dalam perjalanan kali ini adalah Air Terjun Madakaripura. Air terjun Madakaripura sebenarnya dilewati saat turun dari Bromo. Tapi saya tidak mampir karena esoknya saya sudah masuk sekolah.

Dan… Inilah oleh-oleh dari Bromo yang sudah saya edit dengan instagram.

image

Me and Bromo (Minta Fotoin Orang)

image

Pemandangan di Penanjakan

image

Nyempetin Foto Saat Turun dari Penanjakan

image

Gunung Batok and Me

image

Seribu Tangga yang Nyatanya Cuma 239 Anak Tangga

..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 13 Juli 2013
16:17

*Hawanya panas sekali.

Posted from WordPress for Android

70 thoughts on “Touring Ke Bromo

  1. Tita 24 Maret 2016 pukul 9:45 AM Reply

    Assamualaikum mba..
    saya tita, rencananya ingin ke bromo memakai motor juga, kalo tdk menginap sehabis melihat matahari terbenam di bromo langsung pulang memungkinkan ga ya? terimakasi:)

    Suka

  2. atik 15 Mei 2015 pukul 4:06 PM Reply

    saya salut sama Mba Lailatul. Blog Mba.. sangat menginspirasi saya.

    Suka

    • Lailatul Qadr 18 Mei 2015 pukul 10:56 AM

      Wah… Bisa ajha, nih… Makasih sudah berkunjung di blog abal-abal ini…πŸ™‚

      Suka

  3. w177y23 27 April 2015 pukul 2:56 PM Reply

    kalah deh saya , dari bali sih denger denger 7 jam an , ada begal ga yah ………..
    arghhhhhh bodo dehhhh berangkattttttttt

    mba bener bener menginspirasi

    Suka

    • Lailatul Qadr 27 April 2015 pukul 4:27 PM

      Hai Wilhand… Salam Kenal… Selamat nyasar di blog abal-abal ini…

      Denger2 ada begal… Tapi saya cuek ajha waktu itu… Coba ajha deh… Pasti seru… Kalau udah nyoba, ‘colek’ saya ya…πŸ™‚

      Suka

  4. ochimkediri 25 April 2015 pukul 12:17 PM Reply

    oya mbak penunjuk jalan ke bromo jelas kan ya?soale saya mau kesana am temen yang sama2 belum pernah ke bromo. rencana sih lewat purwodadi.

    Suka

    • Lailatul Qadr 27 April 2015 pukul 8:26 AM

      Kayanya sih, jelas… Kalau dulu, saya cuma mengikuti naluri… Insting seorang pengendara.πŸ™‚

      Selamat menikmati Bromo…

      Suka

    • ochimkediri 27 April 2015 pukul 8:56 AM

      hehhehe siiip suwun infonya mbak..

      Suka

    • Lailatul Qadr 27 April 2015 pukul 8:58 AM

      Sama2… Happy touring… Have a nice weekend…

      Suka

  5. ilorasyid 5 Maret 2015 pukul 1:24 PM Reply

    nice info mbak… saya Insya Allah akan ke Bromo naik ATV dari makassar… tapi start dari surabaya….. sehat selalu mbak biar bisa terus traveling….

    Suka

    • Lailatul Qadr 5 Maret 2015 pukul 3:00 PM

      Waaah… Serunya… Aamiin… Terima kasih doanya.

      Suka

  6. hans 12 November 2014 pukul 11:40 PM Reply

    hebat kamu mbak, salut seorang wanita brangkat sendirian ke bromo dengan kendaraan 110cc.

    Suka

    • Lailatul Qadr 15 November 2014 pukul 4:13 PM

      iseng-iseng berhadiah…πŸ™‚

      Suka

  7. handarek 22 Oktober 2014 pukul 1:40 PM Reply

    bromo ya ?, udah belasan kali ke bromo tapi tak pernah bosan rasanya..
    mampir ke blog saya
    handarek.wordpress.com

    Suka

    • Lailatul Qadr 23 Oktober 2014 pukul 12:45 PM

      terima kasih, untuk link nya…

      Suka

  8. ochimkediri 26 September 2014 pukul 8:26 AM Reply

    mantab mbk,touring sendirian k bromo…
    Saya jg pengen segera riding kesana bareng istri,tp msh blm sempat.

    Suka

    • Lailatul Qadr 30 September 2014 pukul 12:30 PM

      Hehehe… Seru lho… Apalagi bareng istri.

      Suka

  9. nurin 19 April 2014 pukul 9:39 AM Reply

    mbak lug bleh tau motor.na mbak si jingga itu ap ea
    kalo motor cow kayak vixion ntu bisa ndak ea mbak

    Suka

  10. heldi 30 Januari 2014 pukul 2:13 PM Reply

    setelah baca blog mbak, tekad saya tambah kuat untuk ke bromo naik motor berdua istri. insyaallah saya berangkat tanggal 1 februari 2014 ini mbak… ayo ikut lagi mbak…

    Suka

    • Lailatul Qadr 30 Januari 2014 pukul 2:18 PM

      Waaaah… Jadwal saya penuh sampe 5 minggu ke depan. Ada kursus yang digelar oleh sekolah saya untuk para gurunya.

      Selamat berjalan-jalan dan bersenang-senang, ya… Hati-hati di jalan. Cek dulu kondisi kendaraan. Lewat jalur Pasuruan sepertinya seru. Tapi kata seorang teman berbahaya kalau hanya 1 motor.πŸ™‚

      Suka

  11. Okky Ade 11 Januari 2014 pukul 3:27 AM Reply

    Loh lah iki emoy ta? Ta woco buyar sampe komentar2 baru ngeh lek awakmu moy… hari ini rencana aq ke bromo moy… rencana lewat Pasuruan. Makannya aq baca2 literatur blok orang2 yang pernah lewat pasuruan.

    Suka

    • Lailatul Qadr 11 Januari 2014 pukul 4:13 AM

      wakakakakak… iyo… iki aku, Wek.
      Mosok lali karo konco dewe, reeeek…
      Aku urung tau lewat Pasuruan. Btw, Pirang ndino mBromo?

      Suka

    • Okky Ade 11 Januari 2014 pukul 9:57 PM

      Semalam ae… abis liat suntik langsung balik ke Sby… aq jek tas ngeh lek awakmu aktif Blogger yaa

      Suka

    • Lailatul Qadr 12 Januari 2014 pukul 6:00 PM

      Of course I am. Saya memang mendedikasikan beberapa persen dari waktu saya untuk menulis di blog ini.

      Suka

  12. aphinx 10 Januari 2014 pukul 3:52 PM Reply

    hm mbak tp kl lewat tongas situ aman ya mbak? takut pemalakan mbak :p oh ya tau gak mbak jeep katanya bisa dihitung perorang kl emg cm datangnya ga rombongan,bisa share gt ya?tau infonya mbak perorang brp? thx yah mbakπŸ™‚

    Suka

    • Lailatul Qadr 10 Januari 2014 pukul 4:00 PM

      Saya baru denger ada pemalakan setelah saya turun dari Bromo. Menurut saya, aman-aman ajha. Saya kan berangkat siang. Kondisi jalan masih sangat ramai.

      Kalo Hartop, saat poeak season sampe 600 rb per mobil. Isi bisa sampe 7 orang. Kalo mo share, nyari teman dulu. Sebaiknya, Anda sendiri yang mencari.

      Suka

  13. aphinx 9 Januari 2014 pukul 12:17 PM Reply

    mbak sy mau ke bromo ni 12-14 jan 2014 ini, mohon petunjuk dong, motor sy legenda saja dan goncengan,kuat gak ya mbak😦 ketar ketir nih mbak…sangar ni mbaknya berani pula turun lautan pasir, sy pikir pas ke penanjakan sewa hardtop saja habis serem ni😦

    Suka

    • Lailatul Qadr 9 Januari 2014 pukul 12:20 PM

      HUwaduh.,… saya bukan ahli di permotoran. Gak ‘kenal’ juga dengan kondisi Legenda.

      Sewa hartop pada saat itu, kayanya bakal mahal. Sepertinya peak season tuh…

      Yah… itu juga saya lakukan dengan sedikit ‘nekad’. Hehehe…πŸ™‚

      Suka

  14. bayu kresnapati 13 Desember 2013 pukul 4:49 PM Reply

    Wah salut sama kamu mbak..

    Suka

  15. andrew 5 Desember 2013 pukul 9:24 PM Reply

    Halo mbak, merasa tertantang saya, mbak saja berani sendiri naik motor ke bromo.hebat..
    btw, klo dari penginapan menuju “Sebuah tempat yang biasa digunakan orang untuk mengambil gambar Gunung Bromo atau melihat sunrise dari gunung-gunung yang berjajar” berapa lama naik motor?
    terimakasih

    Suka

    • Lailatul Qadr 8 Desember 2013 pukul 3:04 PM

      Kalo saya jalannya pelan… Kaya keong. Sekitar 30 sampai 45 menitan lah…
      Masa gak berani ke Bromo sendiri. Hehehe…

      Suka

  16. Mia 30 November 2013 pukul 9:30 AM Reply

    amazing touring kakakπŸ™‚

    Suka

  17. 90 Km Lost From Home | Catatan Lailatul Qadr 25 November 2013 pukul 11:56 AM Reply

    […] Touring Ke Bromo […]

    Suka

  18. aris 21 November 2013 pukul 11:47 AM Reply

    mbak ke bromo naik motor dari surabaya sampai bromob kira-kira habis berapa untuk uang sakunya?

    Suka

    • Lailatul Qadr 21 November 2013 pukul 12:18 PM

      Kira2… habis 40000 untuk bensin.

      Suka

  19. vando 7 November 2013 pukul 1:41 PM Reply

    wah mantab mbak, berani touring sndirian ksana,,kalo boleh tau pake motor supra x 125 kah?trus bgaimana kndisi mesin motor stlah touring ke bromo?

    Suka

    • Lailatul Qadr 7 November 2013 pukul 3:54 PM

      Haha… 110 CC, koq. Supra fit biasa keluaran tahun 2005. Kondisi motor setelah touring gak masalah. Cuma lampu remnya mati karena sempet terjatuh saat naik ke penanjakan.

      Suka

  20. Cah Bagoes Dewe 28 Oktober 2013 pukul 6:47 PM Reply

    mau tanya..kalau ke Bromo lewat jalur Pasuruan-Warungdowo-Tebas-Pasaruapen-Tosari-Wonokitri-Dingklik-penanjakan-Bromo. Gmn menurut Anda?
    rencananya mau motoran. Terimakasih

    Suka

    • Lailatul Qadr 29 Oktober 2013 pukul 4:46 PM

      Wah… Saya belum pernah tahu, Mas… Maaf…

      Suka

  21. cah bagoes dewe 25 Oktober 2013 pukul 11:06 PM Reply

    Salam kenal …….

    Suka

  22. cah bagoes dewe 25 Oktober 2013 pukul 5:02 PM Reply

    Yang paling menarik dan memberi kesan mendalam bagi saya dari tulisan ini yaitu:
    “Setiba di Penanjakan 2, pukul 04.30, saya melaksanakan Sholat Shubuh. Ada sebuah tempat datar yang bisa saya gunakan untuk menggelar jas hujan sebagai sajadah. Tempatnya cukup strategis karena arahnya tepat ke arah kiblat.
    Selesai salam, saya melihat beberapa pasang mata memperhatikan apa yang saya lakukan. Mungkin mereka heran, di tempat seperti itu, ada orang yang β€˜sempat’ melakukan sholat. Justru dalam hati kecil saya bertanya-tanya…. Masa’ orang sebanyak itu tak ada yang Muslim..? Kalau ada, mengapa mereka meninggalkan sholat hanya demi melihat sunrise yang senyatanya adalah β€œkarya”-Nya juga..? Sebuah kenyatan yang cukup membuat hati saya menangis. Ah… Mengapa sholat harus dikalahkan dengan hal-hal yang remeh? Sebuah ironi… Menghela naas.”
    __________

    NB: Sebagai Insan Beragama, tentu hal-hal mendasar seperti ibadah adalah sebuah prioritas yg termasuk penting bukan sekedar tambahan. so, Saya setuju deh sama anda. Jadi sungguh aneh jika berniat mengunjungi tempat-tempat Ciptaan Tuhan Yang Maha Indah namun dalam saat yang sama meninggalkan kewajibaNYA. hehe. Mantap dah petualangannya…,,sendirian lagi..,, hebat.

    Suka

  23. lila 2 Oktober 2013 pukul 5:16 PM Reply

    aaarrggh iriii.. aq berencana kesana tapi msh takut bin awang-awangen😐

    Suka

  24. x-teem 22 Juli 2013 pukul 3:29 PM Reply

    kapan mas / mba touring lagi,ikut dong ?πŸ™‚

    Suka

  25. pitaloka89 15 Juli 2013 pukul 11:53 AM Reply

    wah, mantap mba…
    saya batal ke bromo juni lalu karena cuaca kurang mendukung. teman pas kesana juga ga dpt cerah.
    Semoga kapan2 bisa kesana..

    Suka

    • Lailatul Qadr 16 Juli 2013 pukul 10:27 AM

      Ajak saya, ya… Nanti saya kasih nomor kontak saya deh…

      Suka

    • pitaloka89 16 Juli 2013 pukul 10:28 AM

      Insya Allah..Boleh banget mba, tapi masih belum tau kapan. Sepertinya tahun depanπŸ˜€

      Suka

    • Lailatul Qadr 16 Juli 2013 pukul 10:29 AM

      Wah… Saya baru mo ngebaca blog anti.

      Suka

    • pitaloka89 16 Juli 2013 pukul 10:31 AM

      Tadinya turun Semeru lanjut ke Bromo dan Mandakari Pura, apadaya cuaca tidak mendukung…

      Suka

    • Lailatul Qadr 16 Juli 2013 pukul 10:34 AM

      It’s OK… Maybe next time…

      Suka

    • pitaloka89 16 Juli 2013 pukul 10:45 AM

      Siapp

      Suka

    • Lailatul Qadr 22 Juli 2013 pukul 3:31 PM

      gak..

      Suka

  26. tinsyam 14 Juli 2013 pukul 8:14 PM Reply

    akhirnya motor maticnya masuk bengkel nih.. keren kesananya..

    Suka

    • Lailatul Qadr 16 Juli 2013 pukul 10:26 AM

      Saya pake supra, mbak… Kalimat pertama itu karena saya tahu ada banyak motor matic yang ngadat. hihi…

      Suka

  27. Dinar Zul Akbar 14 Juli 2013 pukul 1:59 PM Reply

    wah,, asik nih

    saya kalo ke sana bisa abis,, uang saku 3 bulan

    Suka

    • Lailatul Qadr 16 Juli 2013 pukul 10:25 AM

      Hihi… Begitu kah? Soalnya dari Jekarda siy…

      Suka

    • Dinar Zul Akbar 16 Juli 2013 pukul 11:28 AM

      benerr tuh,, kemarenblm lama juga diajak ama Abang buat kesono,, tapi harus nyiapin ongkos sendiri,, dan itu lumanyan 800 ribuan (minimal)

      Suka

    • Lailatul Qadr 16 Juli 2013 pukul 1:12 PM

      Kalo dah kerja, segitu mah sedikit, Dinar….πŸ™‚

      Suka

  28. ayanapunya 13 Juli 2013 pukul 9:27 PM Reply

    inoooo…berani banget naik motor sendirian ke bromo. mantap euy. berapa jam jadinya perjalanan dari rumah ke bromo?

    Suka

    • Lailatul Qadr 13 Juli 2013 pukul 9:46 PM

      Ya, kalo dari perjalanan saya cukup lama, mbak… Soalnya dari perhitungan saya 4 – 5 jam an. Hihi… Padahal kalo orang lain, bica cuma 3 jam an. Maklum, pengendaranya liliput…

      Suka

    • ayanapunya 15 Juli 2013 pukul 8:57 AM

      wuih. aku naik motor 2 jam aja udah capek banget tuh

      Suka

    • Lailatul Qadr 16 Juli 2013 pukul 10:27 AM

      Itu juga banyak berhenti koq, mbak Yana…

      Suka

  29. siapa ya 13 Juli 2013 pukul 9:14 PM Reply

    kerennn….
    ikut berbahagiaa ….

    Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan β„’

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilΓ©t/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: