Jangan Menyepelekan Buku Penghubung


image

Di beberapa sekolah, buku penghubung atau buku komunikasi antara orang tua dan guru sudah lazim digunakan. Buku penghubung atau buku komunikasi ini sebagai sarana bagi guru untuk memantau kegiatan siswa di rumah dan juga bagi orang tua untuk mengetahui sikap anak ketika di sekolah. Di beberapa sekolah bahkan buku penghubung berbeda dengan buku komunikasi. Setiap siswa mendapatkan kedua buku tersebut di akhir pekan sebagai evaluasi pembelajaran selama sepekan.

Buku penghubung banyak sekali fungsinya. Sebagai orangtua sekaligus guru, saya mendapatkan manfaat dari kehadiran buku ini.

Sebagai Orangtua

Kehadiran buku penghubung membantu saya dalam memantau perkembangan sikap anak saya. Misalnya terkait dengan kehidupan sosialnya di sekolah. Mampukah anak saya menerima perbedaan, mampukah anak saya menerima masukan, mampukah anak saya menghormati orang lain, mampukah anak saya mempertahankan apa yang dia yakini benar, dan seterusnya.

Terkait adab, saya memantaunya dengan melihat bagaimana dia dengan adab makan, adab mengantri, adab ke kamar mandi, dan seterusnya.

Saya senang sekali kalau gurunya menuliskan apa yang dilakukan anak saya di sekolah. Jujur, hal itu membuat saya merasa selalu berada di sampingnya dengan membaca apa yang gurunya tulis di Buku Penghubung.

Sebagai Guru

Sebagai guru, hadirnya buku penghubung tentu saja sangat membantu. Misalnya materi taujih pagi. Biasanya, saya ambilkan dari ‘permasalahan’ yang terjadi di rumah.

‘Laporan’ dari orangtua tak membuat sikap kami berubah kepada siswa. Apapun yang terjadi adalah sebagai proses evaluasi untuk penguatan dan pengkokohan karakter yang ingin dibentuk.

Masalah yang timbul kemudian adalah ‘ketidakjujuran’ orangtua dan guru dalam mengisi buku penghubung. Keterbatasan waktu yang dimiliki guru, kemampuan personal dalam memindai perilaku siswa per kepala, dan objektifitas guru dalam menilai, ditengarai menjadi faktor terjadinya ‘ketidakjujuran’ itu. Tapi alasan-alasan diatas gugur jika diberlakukan yang sama kepada orangtua.

Masalah yang timbul berikutnya adalah, buku pengubung menjadi cara ‘mengancam’ bagi orangtua kepada anaknya bila tidak menuruti perintah orangtua. Orangtua tak belajar mendidik anak dengan baik tapi malah membebani anak dengan kehadiran buku penghubung. Tak jarang yang terjadi kemudian adalah anak tak mengumpulkan buku penghubungnya esok harinya karena orangtua menandai 0 pada beberapa aktivitas siswa di rumah.

Buku penghubung seyogyanya benar-benar menjadi buku yang memfasilitasi orangtua dan guru dalam berkomunikasi dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan siswa. Buku penghubung menjadi wadah dalam upaya memilah ketuntasan masing-masing individu di kelas. Guru dan orangtua adalah partner dalam membentuk kepribadian dan karakter anak.

Maka, seorang guru tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan mengajar tapi juga memiliki kemampuan dalam pendampingan siswa. Begitu pun orangtua. Orangtua harus memahami fungsi buku penghubung. Buku itu, bukan sekadar lembar-lembar kertas putih biasa. Buku itu akan menjadi saksi sejarah kehidupan anak-anak kita kelak ketika nanti mereka telah dewasa.

So, jangan sepelekan buku penghubung ya….

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 02 Oktober 2013
10:56

Postingan tanpa edit. (Lagi)

Posted from WordPress for Android

Tagged: , , , , ,

13 thoughts on “Jangan Menyepelekan Buku Penghubung

  1. tinsyam 3 Oktober 2013 pukul 1:12 PM Reply

    ku sempet terpesona sama guruguru yang punya tulisan indah kalu ku baca buku penghubung punya ponakan.. ga cape gitu ya nulis panjang lebar materi dan ujian juga laporan belajar murid.. padahal walikelas dari 50an murid tuh.. tiap hari ada aja buku penghubung..

    Suka

    • Lailatul Qadr 3 Oktober 2013 pukul 1:24 PM

      Hihi… huwakeh iku…

      Suka

    • Julie Utami 4 Oktober 2013 pukul 9:22 AM

      Di kelas anak saya sih nggak sebegitunya. Anak-anak disuruh nyalin pengumuman gurunya. Selebihnya hanya kalau ada yang harus disampaikan guru mengenai si murid ditulis sendiri oleh gurunya. Jadi nggak semuanya wajib diisi gurunya sih. Itu di sekolah anak saya jeng Tin, sebuah SD Negeri biasa di tengah-tengah kota.

      Suka

    • tinsyam 4 Oktober 2013 pukul 9:41 AM

      jaman saya sekolah ga ada buku penghubung begini mbak.. baru di jaman ponakan nih.. suka takjub kalu lihat tulisan gurugurunya yang rapi gitu.. laporan tiap minggu malah dikasih tahu kemajuan kaya apa, dan harus belajar apa kalu ada yang kurang, pe-er-nya juga sampe segimana, termasuk juga laporan kalu ibunya kudu rapat.. kumplit deh fungsi buku penghubung..

      Suka

    • Lailatul Qadr 4 Oktober 2013 pukul 9:42 AM

      Setuju.

      Suka

  2. Julie Utami 3 Oktober 2013 pukul 11:14 AM Reply

    Aih maaf banyak typo nih. Yang ngetik masih sakit sih hihihi…….

    Suka

    • Lailatul Qadr 3 Oktober 2013 pukul 12:04 PM

      Tidak apa2, Bunda. Santai saja…

      Suka

  3. Julie Utami 3 Oktober 2013 pukul 11:12 AM Reply

    Numang jawabkan untuk nak Yana ya bu guru Inno. Di SD Neferi tempat anak-anak saya sekolah dulu buku penghubung ada. Di situ kita bisa memantau apa PR anak, apa tugas yang harus dikerjakan, kapan libur, juga kapan masuk. Sebagai orang tua saya memanfaatkan buku prnghubung ini untuk menyetorkan uang sekolah anak saya, sehingga kalau uangnya hilang di jalan atau diselewengkan saya tahu sebab tidak ada balasan dari wali kelasnya bahwa setoran uang sekolah sudah sampai di tangan beliau.

    Juga ketika anak saya kesulitan memahami suatu materi pelajaran, saya sampaikan lewat buku penghubungnya untuk jadi perhatian dan catatan gurunya. Gitu lho…..

    Apa kabar ananda semua? Salam kangen.

    Suka

    • Lailatul Qadr 3 Oktober 2013 pukul 12:04 PM

      Wah… keren juga SD negerinya.

      Iya, Bunda. Saya jiga demikian memaknai BP.

      Ananda Fauzan sudah mulai bagus tulisannya. Bunda, apa kabar?

      Suka

  4. mujitrisno 3 Oktober 2013 pukul 12:24 AM Reply

    tempat anakku nggak ada…sayang

    Suka

  5. ayanapunya 2 Oktober 2013 pukul 12:43 PM Reply

    Kalau di sekolah umum buku penghubung ini ada juga nggak ya, no?

    Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: