Saat Lelaki Akan Menentukan Pilihannya (1)


Dialog ini adalah dialog ‘semi imajinatif’ yang terjadi antara saya dan teman saya. Entah mengapa saya merasa perlu untuk membuat semacam script nya untuk kemudian saya posting di blog ini. Atas persetujuan dan ijinnya juga, saya buat cerita ini untuk Anda.

Selamat membaca…

Pilihan

Pilihan

***

“Boleh minta pendapat…?”

“Boleh saja. Apa…?”

“Kamu tahu kan keadaanku…?”

“Iya… Tau… Trus…?”

“Menurutmu, bagaimana? Kata banyak orang, aku harus mencarikan ibu pengganti untuk anakku, Selin. Apa harus?”

“Mmm… Menurutmu sendiri, bagaimana?”

“Lha… Aku nanya kamu, kamu malah nanya balik…”

“Yaaaaaa… Aku juga ingin tahu pendapatmu. Kalau pendapat orang lain kan udah aku dengar barusan dari kamu sendiri,” ujarku dengan sedikit becanda mencairkan suasana.

“Kalau aku pribadi, gak masalah melanjutkan hidupku sendiri… Aku mencintai almarhumah istriku. Sangat mencintainya… Aku tak akan pernah bisa melupakannya, No,” dia berhenti sejenak mengambil jeda. Aku yang diajaknya bicara membetulkan letak kacamataku yang sebenarnya tak melorot.

“Setiap apa yang aku lakukan selalu mengingatkanku pada dirinya, No… Contoh kecilnya, saat aku berkeringat, memoriku pasti langsung tertuju padanya… Saat aku makan sesuatu, aku juga akan selalu mengingatnya… Selalu, No… Yang jelas, aku belum bisa menerima orang lain,” jelasnya panjang lebar sambil menghela nafas berat di akhirnya.

“Yayayaya… Aku paham. Lalu…?”

“Ya itu tadi. Selin. Anakku… Anakku dan almarhumah istriku. Anak itu butuh sosok ibu. Tadinya aku berpikir bahwa Selin dan aku bisa hidup sendiri berdua, plus satu pembantu untuk mengurus pekerjaan rumah tangga. Tapi semakin kesini koq aku semakin berpikir gak bisa. Gak bisa kalo aku cuma hidup berdua hanya dengan Selin saja,” dia mengatakannya sambil memejamkan mata. Entah, apa yang berkecamuk dalam dadanya hingga ia harus berkata sambil terpejam.

“Menurut kamu, bagaimana?” lanjutnya.

“Hmmmffff… Maaf sebelumnya, kalau nantinya… Apa yang aku sampaikan terkesan menggurui. Tapi, semoga bisa diambil hikmahnya.”

It’s ok. Nevermind.”

“Menikah lagi atau tidak, itu mutlak pilihan kamu. Saat ingin menentukannya, kamu bisa berdo’a sembari belajar dari orang lain yang memiliki kondisi yang sama dengan dirimu. Hingga kamu tak akan pernah menyesal pada akhirnya.

Pertama, pilihan untuk hidup hanya berdua dengan Selin. Pilihan ini memberi konsekuensi. Yang paling utama adalah kamu harus bisa menjadi seorang ayah yang sekaligus seorang ibu. Tentu saja ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi… Jangan lupa… Di luar sana banyak ayah yang berhasil mendidik anaknya hingga ia bertumbuh dewasa dengan baik tanpa hadirnya seorang ibu.

Kehadiran sosok ibu dalam perkembangan seorang anak memang sebuah keniscayaan. Apalagi bagi anak perempuan seperti Selin. Dan ketika kamu memilih untuk hidup berdua saja dengan Selin, bagaimana dan apa peran seorang ibu mutlak harus kamu pahami sebagai seorang ayah. Waktumu mau tak mau harus banyak kamu habiskan dengan Selin anakmu. Tak cukup hanya memenuhi kebutuhannya dengan memberinya fasilitas yang dia mau.

Terkait bagaimana dan apa peran seorang ibu, mungkin kita bisa bicarakan lain waktu.

Nah, apakah kamu mampu untuk menajalaninya..? Kamu sendiri yang bisa menjawab pertanyaan itu. Saat ini kamu dituntut untuk benar-benar memahami siapa dirimu sebenarnya. Sejauh mana kepedulian kamu terhadap tumbuh kembang anakmu. Sejauh mana kamu bisa membagi waktumu antara bekerja dan mengurus kebutuhan anak; menemaninya tidur, menemaninya belajar bukan cuma antar jemput les, mengenalkannya norma, mengenalkan dirinya terhadap kewanitaannya, mengenalkannya tentang tugas dan peran wanita seiring dengan perkembangannya. Dan seterusnya,” aku diam untuk mengambil jeda.

“Hmmm… Begitu ya, No.”

“Insya Allah demikian….” aku mengangguk menyetujui kalimat terakhirnya dan untuk memberi penekanan pada penjelasan yang telah aku sampaikan sebelumnya.

Sejurus berikutnya aku menghela nafas. “Sekali lagi… Ini tentu saja tidak mudah, apalagi kamu laki-laki dan Selin perempuan. Tapi terlepas dari mudah dan tidaknya masalah yang kita hadapi hanya terletak pada cara pandang kita terhadapa masalah tersebut. Di awal tadi aku sudah bilang, kalau banyak sekali contoh seorang ayah yang berhasil mendidik anaknya tanpa kehadiran seorang ibu. Artinya… Ini soal pengelolaan jiwa kita sendiri,” lanjutku.

Dia manggut-manggut. “Bener juga, No. Seperti aku yang mendapatkan takdir seperti ini. Ada yang bilang tragis. Tapi tragis dan tidak itu kan hanya pada cara pandang. Mungkin Allah memberiku cobaan seperti ini agar aku naik kelas,” lanjutnya.

“Benar… Dan bisa jadi kamu adalah orang yang terpilih. Sebab Allah tak akan menguji seorang hamba melebihi kadarmya. Kalau kadarmu layak untuk mendapatkan takdir ini, inilah yang jalan-Nya untuk menaikkan kelasmu.”

“Tapi, No… Kalau aku tidak menikah lagi, tentu ‘pendidikan’ Selin akan diambil alih oleh orangtuaku dan atau ibu mertuaku. Itu yang aku belum bisa menerima. Aku maunya, Selin sama aku ajha.”

“Iya. Aku paham. Di usiamu yang baru 30 tahun ini, tentu saja ortumu dan mertuamu beranggapan bahwa kamu masih hijau tentang bagaimana mendidik dan mengurus anak,” aku terdiam sejenak. Mengambil jeda sambil menyusun kata yang tepat untuk kusampaikan padanya.

“Sebenarnya, anak yang dididik dalam 2 keluarga umumnya ‘bermasalah’. Hal ini terjadi karena 2 kelurga memiliki norma yang berbeda. Contoh, masalah makan. Misal di keluarga kamu Selin hanya boleh makan di meja makan tanpa jalan-jalan, sedangkan di rumah mertuamu, Selin boleh makan sambil jalan-jalan. Ini menyebabkan Selin punya standar ganda dalam menentukan sikap. Penentuan sikap berimbas pada pembentukan karakter, lho… Jangan menganggap hal yang sesepele itu tidak membekas dalam diri anak,” jelasku ringan sambil menyunggingkan senyum di ujung bibirku.

Dia mengangguk lagi untuk ke sekian kali. “Iya, No… Apalagi… Selin punya watak yang agak keras. Entah… Siapa yang ditirunya.”

“Nah… Apalagi dengan dasar watak yang keras, maka keteraturan dan kontrol adalah sebuah keharusan baginya. Anak dengan watak seperti ini jangan sampai menerima standar ganda… Etapi umumnya pada setiap anak juga berlaku demikian dink… Bukan hanya pada anak dengan watak keras standar ganda tak boleh diberlakukan. Hehe…”

“Iya juga ya… Aku merasakan hal yang sama,” katanya. Aku mengangguk mengiyakan kalimatnya lagi.

“No… Kan beda ya, No… Pendidikan dari ortu sendiri dibandingkan dengan pendidikan dari nenek atau kakeknya. Orangtuaku dan mertuaku cenderung memberi apa saja yang dia mau. What you wanna do, I will give it to you.

Aku mengulum senyum. “Semua orangtua demikian. Bahkan ada anekdot bahwa orang tua lebih sayang kepada cucunya ketimbang kepada anaknya sendiri. Ya, wajarlah jika demikian adanya. Dan itulah yang menyebabkan anak yang bertumbuh dalam keluarga yang ada nenek dan kakek di dalamnya menjadi ‘bermasalah’, seperti yang kusebutkan tadi… Apalagi untuk kasusmu. Orangtua dan mertuamu merasa iba dengan keadaan Selin, sehingga apapun keinginan Selin pasti akan dipenuhi. Dan aku pikir ini akan menjadi situasi yang tidak sehat untuk perkembangannya ke depan.”

Dia mengangguk lagi untuk kesekian kali.

“Tapi… Kembali lagi seperti yang aku sampaikan di awal… Bahwa bukan sebuah kemustahilan kalau kamu melanjutkan hidupmu sendiri tanpa ibu yang mendampingi Selin. Dengan do’a, kesabaran, dan lebih mendekat kepada-Nya, Insya Allah ini semua akan menjadi mudah.

Komunikasi yang baik dengan orangtuamu dan mertuamu juga bisa dilakukan. Sampaikan kepada mereka apa yang menjadi keinginanmu terhadap Selin. Pembentukan karakternya harus dimulai dari sekarang. Mumpung dia masih kecil. Tentu saja untuk berkomunikasi dengan mereka, kamu lebih tahu bagaimana caranya.”

(bersambung)

 

***

..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 30 Januari 2014
11:00

 

Untuk seorang teman yang menginspirasi tulisan ini, terima kasih mau berbagi dengan saya semua kisah itu. Semoga dirimu mendapatkan yang terbaik dalam kehidupan ini ke depannya.

Gambar dari sini.

Tagged: , ,

6 thoughts on “Saat Lelaki Akan Menentukan Pilihannya (1)

  1. sunarno2010 1 Februari 2014 pukul 11:25 AM Reply

    beberapa pengamatan sekilas dan juga pengalaman pribadi, memang dari orang tua cenderung lebih tegas dalam mendidik anaknya, berbeda dengan oleh nenek yang lebih mengedepankan unsur kasihan, bukan pendidikannya, apalagi pembentukan karakter

    Suka

    • Lailatul Qadr 1 Februari 2014 pukul 4:39 PM

      benar… Apalagi ada kecenderungan ‘iba’ karena si ibu sudah meninggal dunia.

      Suka

  2. Dinar Zul Akbar 30 Januari 2014 pukul 12:49 PM Reply

    kacamata itu melorot ya mba’e??
    kirain celana doang

    hha

    Suka

    • Lailatul Qadr 30 Januari 2014 pukul 1:50 PM

      ya… itu cuma pemanis cerita ajha, Dinar…🙂

      Suka

  3. Iwan Yuliyanto 30 Januari 2014 pukul 11:41 AM Reply

    *menyimak*

    Betul, hampir kebanyakan pendidikan dari ortu langsung berbeda kualitasnya dengan pendidikan dari kakek dan nenek.

    Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: