[Diary Guru] Mengapa Anak Saya Disuruh Jualan?


Oke… Saya tidak tahu dari mana saya harus memulai menulis artikel ini. Judul yang saya ambil diatas, jelas mengidentifikasikan bahwa saya, sebagai guru, mendapat pertanyaan seputar kegiatan enterpreneur yang dilaksanakan oleh anak-anak dalam rangka menunjang kegiatan sekolah.

Setelah berbincang dengan beliau, saya coba untuk menuliskannya disini. Semoga bermanfaat.

Sekolah kami memiliki visi dan misi yang  jelas dalam mendidik para siswanya.  Visi tersebut menjadi tagline yang sederhana namun kuat yakni sekolah berkarakter, berprestasi, berinovasi, dan mandiri. Tagline tersebut kemudian dibreakdown ke dalam indikator-indikator pencapaian pada tiap jenjangnya. Setelah diturunkan, barulah muncul kegiatan-kegiatan apa saja yang menjadi katalisator menjadikan siswa berkarakter, berprestasi, berinovasi, dan mandiri tadi.

Dalam waktu 3 tahun, jika dikurangi dengan persiapan UNAS, total jenderal mereka melakukan kegiatan pembelajaran hanya selama 5 semester alias 30 bulan saja. Tentu, tagline itu akan menjadi omong kosong belaka jika tidak ada kegiatan berkesinambungan selama kurun waktu tersebut.

Pembentukan karakter itu tentu saja tidak mudah. Seperti yang saya tuliskan pada akhir paragraf diatas bahwa pembentukan karakter haruslah berkesinambungan, terus menerus, terukur, dan terevaluasi. Dan paradigma ini pun harus dipahami oleh para orangtua. Sehingga orangtua menjadi partner sekolah dalam mewujudkan visi yang telah diketahui bersama.

http://www.dineshbakshi.com/igcse-business-studies/business-activity/revision-notes/2194-characteristics-of-successful-entrepreneurs

Entrepreneur

Nah… Salah satu cara pembentukan karakter adalah melalui kegiatan entrepreneur. Mengapa entrepreneur? Sebab, kegiatan entrepreneur mengintegrasi karakter yang ingin dibentuk di dalam diri para siswa kami.

Kira-kira apa saja sih, nilai karakter yang ingin diambil dari kegiatan entrepreneur? Berikut adalah penerawangan saya hasil dengan diskusi kecil-kecilan dengan teman guru dan para siswa :

  1. Mampu berkomunikasi dengan orang lain. Perlahan tapi pasti, anak akan belajar mengkomunikasikan produknya baik dengan pembeli, pemilik modal, maupun ketika menegosiasikan harga (tawar menawar). Bahkan saat menentukan besar margin keuntungan yang akan diambil dari dagangan yang dijual, anak belajar melakukan komunikasi yang baik dengan orang lain di sekitarnya.
  2. Mampu mengimplementasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan belajar persentase untung, persentase rugi, berapa harga jual yang realistis dari barang yang dijual, diskon, dan seterusnya. Ini adalah pembelajaran matematika realistik. Bahkan jika dikembangkan, anak akan belajar persamaan linier satu atau dua variabel, statistik, penyajian data, peluang, dan seterusnya.
  3. Gemar bersedakah. Pendapatan yang mereka peroleh harus disisihkan 2,5% untuk diinfaqkan. Berinfaq dari uang saku yang diberikan orangtua adalah sebuah pengorbanan, tapi pengorbanan itu akan bertambah maknanya jika uang yang diinfaqkan adalah hasil jerih payah mereka sendiri.
  4. Mampu berpikir alternatif (diversifikasi produk). Misalnya, kelompok A berjualan es teh, kelompok B berjualan siomay goreng, maka dia akan berpikir produk apa yang akan laris dijual dan berbeda dari kelompok yang lain. Disamping itu, dia akan mencoba berbagai jenis
  5. Menghargai orangtua. Mendapatkan uang sendiri dari hasil berjualan yang tidak seberapa menjadikan mereka berpikir lebih jauh tentang profesi orangtuanya.
  6. Bertanggung jawab. Beberapa siswa yang menjual makanan dari rumah, akan menyiapkan barang dagangannya sejak pagi. Biasanya dia bangun pukul 05.00, maka ketika berjualan, dia bisa bangun pukul 04.00 untuk menyiapkan barang dagangannya, atau minimal membantu menyiapkannya. Ini adalah suatu bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.
  7. Menghargai uang/harta. Umumnya, seorang anak dari keluarga berkecukupan dengan mudah mengeluarkan uang untuk membeli makanan, namun ketika dia mulai berjualan, justru si anak menahan diri untuk tidak jajan.
  8. Melihat peluang dan mengatur strategi. Contohnya, anak-anak memanfaatkan momen-momen tertentu untuk meningkatkan jumlah penjualan. Misalnya, mereka memanfaatkan momen car free day setiap hari Ahad, memanfaatkan momen pengambilan raport UTS, memanfaatkan momen parenting, dan seterusnya. Dari momen-momen itu mereka belajar berstrategi dalam melakukan penjualan produk yang mereka miliki.
  9. Tidak mudah putus asa. Saat dagangannya tidak laku, dia tidak lantas berhenti untuk berusaha. Dia akan mencari peluang bagaimana dia bisa mendapatkan uang dengan halal.

Nah… Dari kegiatan ini, anak-anak akan mendapatkan cukup banyak life skill sebagai bekal mereka mengarungi kehidupan ini. Belajar dari kehidupan itu tak cukup hanya duduk manis mendengarkan materi, mengerjakan soal-soal, atau ngobrol ngalor ngidul gak karuan ujungnya.

Tidak hanya aspek kognitif yang dikedepankan oleh sekolah kami, tapi sikap ilmiah, sikap sosial, dan sikap religius pun dibangun di sekolah ini. Hal ini kami lakukan, karena kami tak ingin meninggalkan generasi yang lemah.

Karena saya pribadi yakin, bahwa negara ini butuh banyak pengusaha, pengusaha-pengusaha bermental baja yang religius. Negara ini juga butuh banyak ilmuwan, intelektual-itelektual  hebat yang religius, yang membuktikan syumuliyatul Islam dalam bidang keilmuan. Negara ini juga butuh pemimpin, pemimpin-pemimpin yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunah sebagai pedoman kepemimpinannya.

Akhirnya, semoga penjelasan ini mampu menjawab pertanyaan diatas.. Semoga.

 

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 08 April 2014
15:58

 

Gambar Dari Sini

Tagged: , , , ,

14 thoughts on “[Diary Guru] Mengapa Anak Saya Disuruh Jualan?

  1. LetSpeakEnglish 16 April 2014 pukul 3:19 PM Reply

    Kegiatan entrepreneur seperti ini memang sangat bermanfaat untuk meningkatkan life skill mereka, sayangnya banyak juga orang tua yang tidak sepakat dan tidak memberi izin pada anaknya karena kekhawatiran berlebih sang anak tidak bisa fokus pada proses belajar.

    nice post,
    salam

    Suka

    • Lailatul Qadr 16 April 2014 pukul 3:49 PM

      Mindset tentang ‘belajar’ agaknya perlu diluruskan lagi. Dengan memperhatikan bahwa belajar adalah proses untuk mengetahui apa yang sebelumnya tidak tahu.

      Terima kasih sudah mampir…
      Salaam…

      Suka

  2. kebomandi 10 April 2014 pukul 8:35 PM Reply

    hmm. mamah ku kayanya perlu baca ini deh.. soalnya, adekku sekolah sd pernah minta untuk jualan tapi digakbolehin sama mamah takut ganggu pelajaran. tapi, ternyata manfaat nya banyak juga yaa🙂

    Suka

    • Lailatul Qadr 11 April 2014 pukul 9:48 AM

      Hehe… Saya dulu sejak SMP udah jualan, Yu… Meskipun orangtua saya mampu memberi uang saku, tapi saya lebih senang kalau saya jajan dari hasil saya jualan sendiri. Semoga mamanya berkenan memperbolehkan si adek untuk berjualan…🙂

      Suka

  3. niprita 10 April 2014 pukul 8:29 PM Reply

    Bu Guru… saya selalu ngefans sama metode ngajar Bu Guru yang inovatif (y) terima kasih inspirasinya. Semoga semua didikan Bu Guru berkah untuk para murid, Bu Guru sendiri, dan lingkungan🙂

    Suka

    • Lailatul Qadr 11 April 2014 pukul 9:46 AM

      Hihihihi… my secret admirer niy… Terima kasih, sudah mampir dan membaca blog ini… Insya Allah, kegiatan ini tidak hanya sekolah saya yang melakukan. Tapi sudah banyak sekolah lain yang juga menyelenggarakan kegiatan ini…

      Aamiin… Terima kasih atas do’anya…

      Suka

  4. mebigina 10 April 2014 pukul 3:37 PM Reply

    Bener juga ya, terutama meningkatkan kemampuan komunikasi. Gimana agar anak mampu berkomunikasi dengan baik tanpa perlu memaksakan produknya😀. Suka deh ulasannya🙂

    Suka

    • Lailatul Qadr 10 April 2014 pukul 3:47 PM

      Alhamdulillaah… Semoga bermanfaat…🙂

      Suka

  5. mas huda 10 April 2014 pukul 3:24 PM Reply

    Membaca ini jujur sekali saya pengen banget jadi muridnya…

    Suka

    • Lailatul Qadr 10 April 2014 pukul 3:40 PM

      Hihihi… Jadi gurunya ajha, gimana…?

      Suka

    • mas huda 10 April 2014 pukul 3:41 PM

      Kalo jadi gurunya kan sekarang saya di panti… boleh lah nanti saya terapkan di panti…

      Emang sih kalo jadi muridnya jelas g mungkin

      Suka

    • Lailatul Qadr 10 April 2014 pukul 3:48 PM

      Hehehe… Siiiipks…

      Suka

    • mas huda 10 April 2014 pukul 3:58 PM

      Hayyah… masih kampanye aja ne

      Suka

    • Lailatul Qadr 10 April 2014 pukul 4:06 PM

      Bukan kampanye, Mas. Kebiasaan… Hihi…

      Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: