Gagap Terhadap Perilaku Anak Remaja


keluarga-ilustrasi-kartun

Ketika anak memasuki dunia SMP, apalagi si anak adalah anak tunggal, anak pertama, atau anak perempuan satu-satunya, banyak orangtua yang saya hadapi mengeluhkan hal yang hampir sama. Diantara keluhan para orangtua itu adalah: anak lebih memilih dengan teman daripada dengan keluarga, anak lebih susah disuruh mengerjakan sholat, anak lebih senang menonton tayangan di TV, anak kecanduan gadget, perilaku anak berbeda dengan di SD, anak membantah kedua orangtua, dan seterusnya.

Keluhan-keluhan ini disampaikan ke sekolah seolah-olah pihak sekolah bertanggung jawab untuk menyelesaikan semua ‘pekerjaan’ diatas.

Orangtua Gagap

Orangtua yang gagap terhadap anak yang memasuki usia remaja, setiap tahun selalu saya temui di sekolah saya (jenjang SMP). Memang harus diakui bersama, ekspektasi orangtua terhadap anak dan sekolah -yang mereka anggap mampu menyelesaikan permasalahan akhlak- cukup tinggi. Para orangtua ingin anaknya ‘baik’, nurut, patuh, mengerjakan kewajibannya, dan gak neko-neko. Gak neko-neko itu termasuk didalamnya gak naksir cowok, lho… Disamping itu mereka pun ingin pihak sekolah terus menerus memberi nasehat, mengawal, dan memberikan treatment kepada anak-anak mereka yang mereka titipkan di sekolah.

Namun terkadang bagi guru, terutama saya, tuntutan itu terasa berlebihan jika tidak diimbangi dengan kesadaran bahwa ada peran hormonal pada saat anak mulai memasuki usia remaja, ada peran lingkungan rumah yang mempengaruhi perkembangan emosinya, dan ada peran orangtua yang membentuk kepribadian anak dari kecil hingga ia memasuki usia 12, 13, 14, atau 15 tahun.

Contoh sederhana misalnya bagaimana pola pemberian tanggung jawab orangtua kepada anak. Jika anak tidak pernah dilatih untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri sejak kecil, maka jangan berharap jika dia memasuki usia remaja, ujug-ujug dia akan bertanggung jawab terhadap pakaian dalamnya sendiri. Jika sejak kecil tidak dibiasakan sholat tepat waktu, jangan berharap anak akan secara otomatis melaksanakan sholat jika terdengar adzan alias masih disuruh-suruh. Jika anak selalu dibandingkan dengan orangtuanya saat masih remaja atau dengan saudaranya atau dengan temannya yang lain, jangan harap mereka punya kepercayaan diri yang tinggi untuk menghadapi dunianya.

Masalah lain tentang kecanduan gadget. Gadget itu akan dimanfaatkan anak-anak jika fasilitasnya (gadgetnya) ada. Atau bisa jadi jika dia merasa tidak nyaman dengan lingkungan di rumahnya. Buktinya, beberapa anak yang saya tanya mengapa dia selalu berinteraksi dengan gadgetnya dibanding dengan keluarganya, mereka mengatakan “Saya kesepian,” “Mama cerewet,” “Papa pulang malam,” “Mama gak gaul,” “Gak ada teman buat curhat,” “Enak curhat sama teman,” dan sebagainya.

Nah… Dari jawaban itu sebenarnya permasalahan gadget tidak bisa disikapi dengan pelarangan oleh pihak sekolah. Jelas, permasalahan ini adalah ranah rumah bukan ranah sekolah. Kalaupun mau dihubungkan, sekolah hanya bisa memberikan imunitas tentang bagaimana menggunakan gadget dengan bijak, bagaimana berinternet dengan sehat, serta bagaimana memanfaatkan akun media sosial dengan bertanggung jawab. Hanya itu…

Lain lagi jika permasalahannya adalah pergaulan dengan teman sejenis atau lawan jenis. Menurut ilmu psikologi, ketika anak memasuki usia remaja, peran ibu harus banyak digantikan oleh ayah. Misalnya untuk menanyakan belajar apa tadi di sekolah, ayahlah yang harus bertanya. Atau ketika si anak mulai menaruh hati pada lawan jenisnya, biarkan kaum ayah yang menasehatinya. Ibu harusnya hanya menitiktekankan pada norma. Percaya deh… Jika kedekatan anak remaja dengan ayahnya cukup tinggi, insya Allah dia tidak akan ada masalah dengan perilakunya baik berteman dengan sesama jenis maupun dengan lawan jenis. Dia tidak akan menjadi pribadi yang aneh, suka cari perhatian, atau menjadi pribadi yang suka menyendiri.

Satu lagi yang tak kalah penting… Peran hormonal. Tidak dapat dipungkiri, usia remaja adalah usia dimana perubahan hormonal mulai terjadi. Ini mengakibatkan energi anak menjadi berlebih bahkan menjadi 2 kali lipat. Maka tak jarang kita mendapati anak-anak belum tidur bahkan ketika jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Saya sendiri sering kali mendapati murid saya yang masih update status, online, ngetwit, atau sekadar ganti DP di BBM diatas pukul 12 malam. Ketika saya iseng bertanya, mereka bilang belum tidur bukan karena terbangun di tengah malam.

Nah… Energi itulah yang harusnya kita salurkan ke kegiatan-kegiatan positif entah itu menunjang belajarnya atau hanya mengasah skillnya.

Butuh Proses

Ya… Semua butuh proses… dan proses membutuhkan waktu. Ada yang hanya membutuhkan waktu singkat namun ada juga yang membutuhkan waktu lama. Atau bahkan ada yang perlu momentum untuk berputar balik menjadi anak yang orangtua inginkan. Yang jelas, semua proses dan waktu dibutuhkan kesabaran. Ya… memang harus begitulah menjadi orangtua. Harus punya kesabaran seluas samudera.

Saya pribadi di sisi guru, punya tahapan penuntasan akhlak. Misalnya, bulan Agustus adalah bulan kemandirian. Bulan September adalah bulan Tanggung Jawab. Bulan Oktober adalah bulan disiplin, dan seterusnya… Yang kesemuanya dibingkai tidak hanya untuk kehidupan di sekolah namun juga dirangkai dalam kehidupan mereka sehari-hari terlebih untuk kehidupan mereka di akhirat nanti.

Nah, karena kita semua sama-sama menginginkan anak-anak kita menjaga akhlaknya, menjaga ibadahnya, menjaga lisannya, dan tak menginginkan mereka terjerumus dalam kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat, maka kita harus menjadi orangtua yang bisa menjadi sahabat, kakak, partner, sekaligus guru bagi anak-anak remaja kita. Jangan terlalu reaktif terhadap ‘perubahan’ anak-anak. Walau bagaimana pun, anak-anak tumbuh di jamannya, anak-anak memiliki keinginan, anak-anak butuh didengar dan dimengerti. Jadilah orangtua yang tanggap, bukan yang gagap.

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 18 September 2014
09:50

Gambar diambil dari sini

NB : Maaf kalau tulisannya ngawur… Basic saya hanya guru, bukan psikolog. Jadi kalau tulisan ini tidak berbasis riset yang pasti, saya jangan dimarahi ya…🙂

Tagged: , , , , , , , , , , ,

15 thoughts on “Gagap Terhadap Perilaku Anak Remaja

  1. setia1heri 6 Oktober 2014 pukul 4:40 PM Reply

    ijin menyimak..

    Suka

  2. kekekenanga 19 September 2014 pukul 4:44 PM Reply

    Assalamualaikum Mba Lai

    Keke, mengundang Mba Lai untuk melangkah bersama di http://kekekenanga.wordpress.com/2014/09/19/odop-ala-blogger/

    Salam ODOP
    KekeKenanga

    Suka

    • Lailatul Qadr 19 September 2014 pukul 6:17 PM

      Terima kasih ajakannya Mbak Keke. Saya sudah terbiasa tilawah One Day One Juz. Bahkan bisa lebih dari One Juz. ;ukan bermaksud riya’… Karena memang, bagi saya, tilawah itu sebuah kebutuhan, Bukan sekadar ‘menyisihkan’menggurui waktu… Sekali lagi, Terima kasih…

      Suka

  3. Puji Lestari 19 September 2014 pukul 9:36 AM Reply

    berat ya, jadi orang tua itu mbak…
    mengenai peran hormonal, saya baru saja membaca buku The Female Brain tentang hormon-hormon yang mempengaruhi perilaku perempuan saat masih bayi, remaja, dewasa, hingga jadi ibu. memang iya, pas fase remaja tuh paling ribet dan paling riskan

    dan satu lagi, saya tertarik sama konsep mbak sebagai pengajar mengenai bulan kedisiplinan, bulan tanggung jawab, ini sangat bagus. bolehlah nanti saya ceritakan ke teman saya yang jadi ‘guru baru’ beberapa bulan ini

    terima kasih, mbak😀

    Suka

    • Lailatul Qadr 19 September 2014 pukul 10:03 AM

      Nah… Seharusnya, para guru dan para orangtua baca juga buku itu… Hehehe

      Saya ini walikelas untuk siswi (seluruh murid saya perempuan). Jadi ya… Saya juga harus banyak belajar tentang Remaja Perempuan.

      Terima kasih atas kunjungan, komentar, dan sharingnya. Semoga bermanfaat… Insya Allah saya baca bukunya.

      Suka

  4. thetrueideas 19 September 2014 pukul 8:49 AM Reply

    tulisan yang bagus mbak Lai… *jempol

    Suka

  5. faziazen 18 September 2014 pukul 3:23 PM Reply

    masa remaja dulu pengennya memberontak saja..setelah jadi mak mak gini baru sadar..dulu begitu karena cari perhatian

    Suka

    • Lailatul Qadr 18 September 2014 pukul 3:29 PM

      Hihihihi… Begitulah…
      Kalau saya dulu gak pernah frontal memberontak, mbak… Saya berontak hanya sekali yaitu ketika saya dilarang ikut pecinta alam di SMA. Gini-gini saya penurut lho…🙂

      Suka

    • faziazen 19 September 2014 pukul 10:44 AM

      alhamdulillah

      Suka

  6. kebomandi 18 September 2014 pukul 1:47 PM Reply

    Nice info banget ini mbak🙂

    Suka

    • Lailatul Qadr 18 September 2014 pukul 3:10 PM

      Terima kasih, sudah membaca…

      Suka

  7. Iwan Yuliyanto 18 September 2014 pukul 12:48 PM Reply

    Bagus. Setiap bulan sudah mempunyai tema untuk peningkatan / perbaikan akhlak anak. Ini patut dicontoh. Ada baiknya jika tema bulanannya disesuaikan dengan adanya event-event di luar rumah, agar anak bisa mengeksplorasi diri. Anak disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk mencetak prestasi. Sehingga tidak gadget minded (orientasi).

    Suka

    • Lailatul Qadr 18 September 2014 pukul 3:10 PM

      Iya, Pak Iwan… Kadang saya revisi sendiri temanya… Terima kasih untuk masukannya…

      Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com