[9 Hari di Rumah Sakit] PULANG


“Assalaamu’alaikum, Ibu.”

“Wa’alaikumsalaam, dokter,” Jawabku sambil menilik papan nama di dada kanannya, ‘dr. ATIK’. Pasti ini dokter internist itu.

“Nama saya, dokter Atik. Dokter Umira yang merujuk ibu kepada saya,” katanya tegas memperkenalkan diri.

“Iya, Dokter.”

“Saya periksa dulu ya…” Stetoskop coklat segera bersarang di telinganya dan bagian ujungnya menyentuh dadaku. “Ibu… Ibu ini kondisi sedang beristirahat, tapi jantung ibu seperti orang berlari 15 km.” ujarnya menerangkan.

Ya Allah… Dokter Atik mendeskripsikan sedemikian ekstrimnya. “Iya, dokter. Nafas saya juga tersengal.”

“Kalau melihat status ibu, menurut dokter Umira jantung ibu bocor. Nah… Untuk mengetahui penyebab kebocoran itu, kita akan lakukan beberapa test. Besok pagi petugas lab akan mengambil darah. Bagaimana…?”

“Baik, Dokter. Apakah saya perlu puasa?”

“Tidak… Tapi darah akan diambil pagi-pagi sekali. Sekitar jam 5.”

“Baik, Dokter.”

“Baik, itu saja dulu dari saya. Insya Allah besok kita ketemu lagi.”

“Terima kasih, Dokter.”

“Ya, Assalaamu’alaikum.” Pamitnya tegas. Perempuan berjas putih panjang, berjilbab, dan bertubuh agak padat berisi itu, meninggalkanku.

“Wa’alaikumsalaam.”

Cek darah…? Manusia-manusia drakula pemburu darah itu pasti akan datang. Lengan mana lagi yang akan ditusuk…? Pagi ini, infus sudah bocor dan nanti harus ganti tangan. Artinya, ditusuk lagi. Nah, besok… Sudah harus ambil darah juga. Pasrah saja… Berapa luka tusukan yang akan mendera lengan-lenganku.

Tak lama, perawat laki-laki bertubuh tinggi dan tambun menghampiriku untuk mengganti infus yang sudah bocor sejak semalam.

Waduuuh… Mengapa Bapak ini…? Menurutku, beliau agak kasar kalau menangani pasien. Beberapa kali obat injeksi yang diberikan di tangan, membuat daerah sekitar tanganku nyeri beberapa menit. Padahal sudah kuminta padanya, untuk memasukkan obat dengan perlahan. Bahkan 2 malam sebelumnya, aku sampai menangis kesakitan setelah obat dimasukkan. Aku trauma padanya.

Pindah Infus

Pindah Infus

Bapak itu cukup cekatan. Dengan cepat dia memindahkan selang infus yang tadinya ada di tangan kiriku ke tangan kananku. Setelahnya, beliau kembali menginjeksikan obat dari selang infus.

“Pelan-pelan ya Pak,” pintaku kepadanya memelas.

“Kalau masih baru begini, biasanya gak sakit koq, Bu.” Jawabnya tegas.

Aaah… Sama saja. Bukankah cairannya memiliki kekentalan yang berbeda dari larutan infus yang biasa? Bukankah saat dimasukkan ada tekanan yang tiba-tiba masuk ke dalam pembuluh darah? Walaupun masih baru atau sudah lama, tetap saja ada rasa nyeri.

Mungkin karena beliau laki-laki, jadi perasaannya tidak peka. Tidak seperti perawat perempuan pada umumnya.

“Nanti ada obat yang ditebus, ada keluarganya?” Tanyanya sebelum menyudahi seluruh kegiatannya pagi itu.

“Tidak ada.”

“Ya sudah, pakai jasa layan antar saja.” Setelah berkata demikian, dia meninggalkan ruanganku.

Ya… Enaknya di Rumah Sakit ini, obat pun bisa diantar oleh petugas apotek ke ruang perawat atau ke kamar pasien. Eh, mungkin di RS lain juga ya…. Kita tinggal tanda tangan saja. Jadi, meskipun ada pasien seperti aku yang hanya pada saat-saat tertentu saja ditunggui oleh keluarga, aku tak perlu risau kalau sewaktu-waktu dokter memberiku resep. Karena obat akan datang padaku pada saat itu juga.

Sore harinya, dokter Umira melakukan visite.

“Bagaimana keadaannya, ibu…?”

“Alhamdulillah… Lumayan… Tapi gini, Dok. Kalau abis dikasih vitamin, enakan. Vitamin abis, lemes lagi. Jadi kalau pagi, enak gitu badan rasanya. Menjelang malam, malah sakit semua.”

“O… Kalau gitu, dripnya dikurangi saja, Mas.” Kata dokter Umira pada perawat laki-laki yang menemaninya visite. “Sudah gak ndrodok?” tanyanya padaku sejurus kemudian.

“Lumayan berkurang, Dok. Kalau ke kamar mandi masih ngos-ngosan, sih. Tapi ada bedanya dengan sebelumnya.”

“Pipis di pispot saja.”

“Ndak bisa, Dok…”

“Pakai diapers…?”

“Sama juga. Kemarin sudah dicoba…”

“Ya sudah, pokoknya hati-hati kalau ke kamar mandi. Dan minumnya jangan banyak-banyak.” Pesannya kepadaku.

“Baik, Dok… Terima kasih.”

“Oia… tadi dokter Atik sudah kesini, ya… Besok diambil darah lagi untuk mengetahui penyebab jantung bocornya…” Ujarnya sambil hampir berlalu dari hadapanku.

“Iya, Dokter.”

“Oke. Assalaamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalam.”

Dan kembali malam itu menjadi malam yang sangat panjang dan mendebarkan. Kira-kira apa lagi yang di teskan ya…? Dan apa nanti hasilnya.

Meja Pasien Iseng Moto Menunggu Pagi

Meja Pasien Iseng Moto Menunggu Pagi

Esok pun tiba. Pukul 5 pagi seorang perempuan berjilbab, berjas lab, bermasker, dan berhandscoon mendatangiku. Kali ini lengan kiri jadi sasaran hisapannya. Agak kasar, sehingga lipatan lenganku membekas kebiruan setelahnya.

“Ini hasilnya gak bisa langsung, Bu. Karena harus dikirim dulu ke Surabaya. Tapi ada 1 tes yang bisa cepat keluar hasilnya. Mungkin nanti sore.”

“Ooo… Gitu. Ada berapa tes…?”

“Dokter Atik minta dilakukan 3 tes.”

“Yang paling lama, kapan jadinya?” Tanyaku.

“Mungkin Selasa atau Rabu.”

“Hah…? Lama amat. Gak pulang-pulang donk…”

“Ya, nanti nanya sama dokter saja, nggih.” Katanya menjelaskan. “Sudah ya, Bu.”

“Iya, Mbak. Terima kasih…” Ujarku.

Lha… Kalau hasilnya masih lama, kapan aku pulang…? Aku udah capek banget di Rumah Sakit. Se empuk-empuknya kasur disana, masih lebih atos kasur di rumahku. Walaupun atos tapi aku merasa jauh lebih nyaman di rumah. Sedingin-dinginnya AC di Rumah Sakit, masih lebih panas hawa di rumah karena cuma pakai kipas angin, tapi aku lebih senang berada di rumah karena disana aku dibesarkan. Seenak-enaknya makanan di Rumah Sakit, aku tetap memilih makanan buatan ibuku meskipun cuma telor ceplok dan tahu setiap hari. Aaaaaah… Aku pengen pulang.

Pukul 7 lebih dokter Umira datang melakukan visite kembali.

“Bagaimana keadaan ibu…?”

“Alhamdulillaah… Saya sudah merasa jauh lebih baik. Boleh pulang, ya Dok…”

“Kalau saya sih… Besok, ya Bu. Karena Dokter Atik juga belum mendapatkan hasil labnya.”

“Yaaaaaaah…” Jawab saya lesu.

“Sabar… Insya Allah, besok saya perbolehkan pulang.”

“Alhamdulillaah… Terima kasih, Dokter.”

“Tapi sudah gak ngongsrong lagi kan…?”

“Masih, tapi tidak terlalu.”

“Ya sudah, sambil rawat jalan saja. Insya Allah sembuh…”

Kemudian Dokter Umira dan perawat meninggalkanku kembali sendirian di kamar.

Tak lama kemudian, Dokter Atik pun melakukan visite.

“Sudah diambil darahnya, ya…?”

Sampun, Dok.”

“Hasilnya memang tidak bisa cepat. Tapi nanti bisa kita lihat sambil ibu kontrol saat rawat jalan.”

Inggih, Dok.”

“Saya belum bisa banyak berkomentar. Itu dulu dari saya.”

Inggih, Dokter.”

Apakah ini pertanda aku boleh pulang…? Alhamdulillaah… Besok aku pulang. Tepat 9 hari berada di Rumah Sakit Siti Hajar.

Proses Kepulangan

Ahad pagi, lagi-lagi selang infus bocor. Kalau tidak dipindah, sayang sekali karena cairan terakhir ini berupa vitamin. Jadi, mau tidak mau, tanganku harus ditusuk lagi dengan jarum.

Dokter Umira kembali melakukan visite pukul 9 pagi dengan mengenakan celana denim biru muda dengan kaos bergaris-garis lebar dan ditutupi jas putih lengan panjangnya. Seperti biasa, tanpa riasan wajah, rambutnya dibiarkan terurai. Ketika kulongok kakinya, sepatunya lucu. Sewarna dengan salah satu garis kaos yang dikenakannya.

“Baik, Ibu. Hari ini ibu boleh pulang,” katanya kepadaku. “Jum’at besok kontrol ya…” Lanjutnya tanpa menyebutkan pantangan-pantangan yang harus aku hindari untuk sementara waktu.

“Jadi, jam berapa saya boleh pulang…?” tanyaku pada beliau penasaran.

“Nanti nunggu Dokter Atik visite.”

“Dokter Atik visitenya jam berapa?”

“Kalau hari Minggu begini… Biasanya malam, Bu.” Kata perawat menjawab pertanyaanku.

Apa….? Malam….? Hiks… Padahal aku udah siap mau pulang pagi ini. Yaaah…. Minimal siang nanti. Begitu perawat dan dokter Umira meninggalkanku, aku langsung lemas. Tak selera makan. Tak selera minum. Pikiranku kosong.

Ibu yang menemaniku pun tak mampu menghiburku.

Salah Satu Geng Murid-Murid yang Menjenguk (Kelompok Penjenguk Terakhir)

Salah Satu Geng Murid-Murid yang Menjenguk (Kelompok Penjenguk Terakhir)

Diambil positifnya sajalah… Ternyata masih ada beberapa teman dan siswa yang berkunjung. Jadi, aku ‘tak mengecewakan’ mereka.

Setelah pukul 13, barulah perawat meminta sisa obat dikembalikan. Ibu menyiapkannya dalam tas plastic lalu menyerahkannya di meja perawat. Tak lama, Ibu kembali dipanggil untuk urusan administrasi. 30 menit kemudian, keluarlah angka yang harus kami bayarkan diluar tanggungan asuransi.

Alhamdulillaah… Tidak banyak. Kalau aku hitung, jumlahnya sesuai dengan harga vitamin dari Sanbe yang telah masuk ke tubuhku.

Administrasi selesai, tapi cairan belum habis. Aku bilang pada perawat, “Bolehkan dripnya dipercepat…?” Dan perawat menyetujuinya.

10 menit kemudian, aku terbebas dari selang infus.

Alhamdulillaah… I am coming home… Dengan membawa obat sebagai berikut :

  1. Spironolactone 25 mg
  2. Rantin 150 mg
  3. Digoxin 0,25 mg
  4. Blopress 8 mg
  5. Lasix 40 mg
  6. Dorner 20 µg
  7. Inpepsa 500 mg

 

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, Selesai ditulis pada 19 November 2014

 

Tagged: , , , , , ,

6 thoughts on “[9 Hari di Rumah Sakit] PULANG

  1. bunda4R 20 November 2014 pukul 10:15 AM Reply

    Syafakillah mbak ino..

    Suka

    • Lailatul Qadr 20 November 2014 pukul 10:54 AM

      Aamiin… Jazakillaah, Mbak…

      Suka

  2. ayanapunya 19 November 2014 pukul 6:50 PM Reply

    Penasaran sama hasil tesnya..

    Suka

    • Lailatul Qadr 20 November 2014 pukul 6:49 AM

      Insya Allah Jum’at besok akan diketahui….

      Suka

  3. nengwie 19 November 2014 pukul 5:12 PM Reply

    Semoga hasilnya bagus dan segera pulih kembali ya mbak Ino…

    Soal ditusukin jarum mah, emang ngga enak sekaliiii… Saya juga suka pengen nangis kalau nadinya ngga ketemu, jdnya tusuk sana sini😦

    Suka

    • Lailatul Qadr 20 November 2014 pukul 6:48 AM

      Aamiin… Terima kasih, Teh Dewi…

      Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: