[AK-20] Mata Redup sang Naga


Pasir Putih Situbondo sore hari…

“Kapan mama meninggal…?”

“Waktu usiaku 9 tahun. Yaah… Sebesar dia…” Cerita itu meluncur dari mulutnya sambil menunjuk lelaki kecil dengan rambut acakacakan tertiup angin laut.

“Lalu…?”

“Lalu bapak juga meninggal setelah mama tiada…” Lanjutnya seketika.

“Kapan…?”

“Mungkin sekitar 3 bulan setelahnya…”

“Koq bisa, Bapak dimakamkan di Situbondo sedangkan Mama di Jember?” tanyaku penuh selidik. Kubenahi tempat dudukku sambil tetap menatap ke laut lepas.

Lelaki itu gamang. Diam… Tak langsung menjawab. Aku memberinya waktu beberapa saat untuk berpikir. Aku tahu… Mungkin ini berat bagi dia. “Waktu itu, Bapak sedang ditugaskan di Jember. Disanalah mama mulai sakit sampai kemudian mama meninggal,” katanya dengan mata nanar dan kalimat yang limbung.

“Kamu sendiri sudah paham waktu itu…? Apa yang kamu rasakan…?” Tanyaku ingin tahu.

”Hmmmmfff…” Dia menghela nafas panjang dan berat. “Waktu itu… Aku tidak tahu. Aku tidak paham mengapa mama tak pulang-pulang dari rumah sakit. Aku bingung ketika mama dikubur dalam tanah. Aku cuma tahu penyebab mengapa mama meninggal dunia… Mama sakit.” Kedua tangannya diletakkannya di bangku panjang itu. Seolah menyangga tubuh jenjangnya.

“Kau bisa menerima…?”

“Tak semudah itu, Rin… Aku saat masih kecil, sering bertanya dalam hati. Mengapa mama tega meninggalkan kami…? Kakakku yang terbesar masih berusia 12 tahun. Bahkan aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa mama meninggalkan adik kecilku yang baru berusia 1 tahun. Koq mama tega…?” Ujarnya gamang.

“Lalu… Siapa yang menyadarkanmu…?”

“Kematian Bapak.”

“Koq…?”

“3 bulan setelah mama meninggal, Bapak dipindahtugaskan kesini, ke Situbondo.”

Ilustrasi : Pantai Pasir Putih Situbondo Saat Senja

Ilustrasi : Pantai Pasir Putih Situbondo Saat Senja

“Resty, ikut siapa…?” Sahutku tak sabar lalu menyebutkan nama adik terkecilnya.

“Resty… Restyku yang manis dibawa sama Eyang putri… Eyang kasihan sama Bapak. Mbak Wita, Mbak Yani, Aku, Agung, dan Guntur sudah cukup membuat Bapak repot.”

“Trus…?”

“Trus kami pindah kesini,” ujarnya sambil menolehkan kepalanya ke arahku. Aku yang sedari tadi memperhatikannya, terkejut dan pura-pura membetulkan kacamataku.

“Lalu… Bagaimana Bapak meninggal…?” Tanyaku untuk mengatasi keterjutanku.

“Tiba-tiba…” Dia diam sejenak. “Bapak meninggal dengan tiba-tiba. Orang-orang dulu bilang, Bapak kena angin duduk,” katanya menjelaskan. Aku mencari kebenaran kalimatnya, aku melihat jauh ke dalam matanya. Mata yang biasanya menyala bagai mata pendekar naga itu, meredup. Seakan sakitnya belum terobati benar.

“Padahal… paginya, Bapak masih main badminton denganku… Siang, saat aku masih di sekolah, aku tiba-tiba dijemput oleh tetanggaku. Katanya, Bapak sakit dan sekarang sedang di rumah sakit… Seketika itu juga, aku takut… Sangat takut. Lintasan peristiwa kematian mama masih jelas dimataku. Aku takut Bapak juga menemui ajalnya sama seperti mama,” lanjutnya. Tangan kanannya tiba-tiba mengambil karton bekas minuman gelas di sampingnya. Dia mengibaskan karton itu seperti kipas.

Aku tahu… Itu hanya pelariannya untuk tak menitikkan air mata. Bergerak sedikit, akan mengubah konsentrasinya dari kisah yang baru saja diuraikannya kepadaku.

“Lalu…?”

“Aku tidak tahu bagaimana Bapak meninggal. Tetanggaku saat itu mengajakku berjalan-jalan mengelilingi Situbondo. Aku dibawa ke pantai ini, makan, minum, bermain pasir sesukaku. Sebenarnya aku juga bingung, kenapa aku tidak diantar ke rumah sakit dan malah diajak jalan-jalan…”

“Entahlah… Mungkin tetanggaku dulu, ingin mengalihkan perhatianku. Dan ketika aku pulang ke rumah, disana sudah banyak sekali orang. Para tetangga dan anak buah Bapak. Aku langsung tahu saat Mbak Wita, Mbak Yani, Agung, dan Guntur yang sudah ada disana menangis sesenggukan ditenangkan oleh orang-orang. Aku tahu, Rin… Aku tahu saat itu juga kalau… Bapak juga meninggal dunia. Bapak menyusul mama.”

Tak kuasa aku untuk menahan air mataku. Aku yang hanya mendengar cerita darinya, merasa remuk redam di dalam dada. Aku bisa membayangkan perasaan Mbak Wita sebagai kakak tertua, seorang perempuan yang baru saja baligh. Dia pasti seperti layanglayang yang putus dari benangnya, limbung.

“Lalu…?”

“Lalu, malam harinya saudara-saudara Bapak banyak yang datang. Eyang juga. Saudara-saudara mama juga. Restyku yang manis digendong Eyang putri memasuki rumah dinas Bapak. Agung dan Guntur sudah tidur, mungkin kelelahan karena terus menerus menangis, sedang Mbak Wita dan Mbak Yani masih tak bisa menghentikan tangisnya… Kasihan mereka…”

“Kamu…?”

“Aku… Aku saat itu tersadar. Di usiaku yang baru 9 tahun, aku mengerti bahwa kematian adalah suatu yang tak pernah kita duga sebelumnya. Aku akhirnya memahami… Jika Mama dan Bapak meninggalkan kami bukan karena mereka tak mencintai kami, tak mencintai Resty…” hening sejenak.

“Mama dan Bapak meninggal karena memang Allah menakdirkan hidupnya hanya sampai disitu… Tak pernah sempat melihat kami dewasa apalagi menyaksikan dan becanda dengan cucu-cucunya…” Dia kembali mengambil jeda.

“Kau tahu, Rin… Sesungguhnya… Mama dan Bapak sedang menguatkan jiwa-jiwa kami yang masih hidup di dunia ini. Mama dan Bapak sedang mengajarkan kepada kami betapa hidup yang berat harus berani diperjuangkan, bukan hanya dilewatkan. Mama dan Bapak sedang mengajarkan kepada kami untuk hanya mengandalkan Allah pada seluruh aspek kehidupan. Dan bagiku… Mama dan Bapak telah mengajarkan kepada kami tentang cinta dan kesetiaan. Bagiku… Cinta Bapak kepada Mama sangat romantis… Bapak mencintai Mama sampai mati. Mama juga hebat… Tak ada yang bisa menggantikannya di hati Bapak…” katanya melirih sambil menunduk melihat pasir pantai yang putih.

“Dan satu hal lagi… Kematian Bapak membuat kami tak pernah bertengkar karena hal-hal yang sepele meski kami masih kanak-kanak. Keluarga Mama dan Bapak bahu membahu membantu kami yang sudah yatim piatu ini. Kami tak pernah dibiarkan sendiri. Aku salut dengan mereka,” lanjutnya optimis.

“Yah… Mama dan Bapakmu memang romantis… Kau sendiri bagaimana…?”

“Ah, Rin… Aku tak mau meninggal seperti Bapakku… Yah… Kau tahu lah… Walau istriku memiliki takdir yang sama seperti mamaku. Aku mau membesarkan anak-anakku dulu, Rin… Memberi mereka bekal yang cukup untuk mengarungi persinggahan sementara di dunia. Membimbing mereka mengenal Rabbnya, hingga mereka tahu mana yang haq dan mana yang bathil…”

“Dan kau sedang melakukannya sekarang…”

“Yah… Dan aku sedang melakukannya sekarang,” ujarnya dengan senyum optimis.

“Hmmm… Satu lagi… Kau tak menangis saat Bapak meninggal…?”

“Aku menangis setelah Bapak dikuburkan…”

“Mengapa…?”

“Karena… Tak ada lagi yang membuatkanku teh di pagi hari.”

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 07 Januari 2015
13:10

Dalam rangka meramaikan Arisan Kata disini

Maaf kalau tulisannya jelek begini. Baru nulis fiksi lagi nih….🙂

Gambar diambil dari sini

Tagged: , , , ,

15 thoughts on “[AK-20] Mata Redup sang Naga

  1. Ceria Wisga 29 Januari 2015 pukul 2:48 PM Reply

    Mbaaaakk tak kiro cerita nyata tiwas ate mewek😀

    Suka

    • Lailatul Qadr 29 Januari 2015 pukul 2:49 PM

      Mewek ae gak popo, Cer… Sangar yo tulisanku…. #nyengir

      Suka

    • Ceria Wisga 29 Januari 2015 pukul 2:52 PM

      iyoh mbak swangar tenan critane,mengharu biru…langsung eleng anak😀

      Suka

    • Lailatul Qadr 29 Januari 2015 pukul 2:54 PM

      Biasane gak eling tah…?😀

      Suka

    • Ceria Wisga 29 Januari 2015 pukul 2:56 PM

      Hahaha yo eleng rek,ben isuk nggandoli ora oleh krjo😛

      Suka

  2. Roro Wilis 8 Januari 2015 pukul 9:02 AM Reply

    waah.. kirain real story td.. keren mb🙂

    Suka

    • Lailatul Qadr 8 Januari 2015 pukul 10:42 AM

      Hehehe… Makasih. Masih baru belajar nulis cerpen, Mbak… Terima kasih sudah berkunjung…

      Btw, coba ikutan deh…

      Suka

  3. musayka 7 Januari 2015 pukul 7:19 PM Reply

    panjang euy tapi tetep suka dengan penasaran disetiap paragraph nya

    Suka

    • Lailatul Qadr 8 Januari 2015 pukul 7:21 AM

      panjang, ya…?
      Maaf ya, Moes…🙂

      Suka

  4. ayanapunya 7 Januari 2015 pukul 2:54 PM Reply

    bagus, no🙂

    Suka

    • Lailatul Qadr 7 Januari 2015 pukul 4:09 PM

      Makasih, Mbak…🙂

      Ini coba-coba ajha… Btw, Mbak Yana gak ikutan Arisan Kata juga…?

      Suka

    • ayanapunya 8 Januari 2015 pukul 6:20 AM

      kemarin kukira puisi jadi nggak diklik link-nya😀

      Suka

    • Lailatul Qadr 8 Januari 2015 pukul 7:21 AM

      Di MP gak pernah ikutan arisan kata, Mbak…?

      Suka

    • ayanapunya 8 Januari 2015 pukul 7:22 AM

      nggak. hehe

      Suka

    • Lailatul Qadr 8 Januari 2015 pukul 7:24 AM

      oooh… Pantesan…

      Suka

Monggo bagi yang ingin menambahkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The True Ideas

(Ideas...don't die!)

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERI ABDUH

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Ika Wulandari (Gelbo)

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Blogger Cilet-Cilet

cilet /cilét/ a, cilet-cilet a 1 tidak sungguh-sungguh; 2 pura- pura; 3 ecek-ecek: blogger ~; traveler ~

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

D Sukmana Adi

weekEndTraveller, Culinary, Lifestyle and Daily

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

expareto.wordpress.com/

A FREEDOM OF WRITING

Moel

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

%d blogger menyukai ini: