Category Archives: Catatan Harian

Kedai Milky Moy


Milky Moy

Milky Moy

Taraaaaa… Saya baru buka kedai nih… Judulnya Kedai dan Tempat Baca Milky Moy. Rencananya gak cuma bikin boat kaya gini… Nanti kalau modalnya udah cukup, mau dibikin kedai beneran dengan konsep taman baca yang homie…

Harapannya bisa jadi tempat nongkrong yang asik buat mereka yang suka baca dan minum susu…

Do’ain ya, bray n sist…

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 21 April 2015
16 : 39

Insan Kamil Berduka


Innalillahi wa inna ilaiihi roji’uun…

Insan Kamil Sidoarjo berduka. Salah satu Ustadzah terbaik kami, Ustadzah Tri Wahyu Ningsih, kemarin meninggal dunia di UGD RSI Siti Hajar Sidoarjo pada pukul 08.00 WIB.

Ustadzah Tri dan Suami

Ustadzah Tri dan Suami

Awalnya, saya tak mempercayai berita itu. Beda gedung membuat kami para guru di SMP tak begitu mengetahui kabar terakhir Ustadzah Tri. Kami memang mendengar kabar bahwa Ustadzah Tri akhir-akhir ini sering ijin tidak masuk karena sakit.  Tapi sungguh, kami semua tak menduga bahwa akhirnya Ustadzah Tri dipanggil oleh Allah.

Ustadzah Tri, kami mengenalnya sebagai Ustadzah yang sangat kreatif dan telaten. Kesediaannya memberikan kebahagian dan sikap menyenangkan bagi semua orang menjadi ciri khas yang melekat dalam dirinya. Anggota ODOJ 3316 ini, seakan tidak pernah merasakan sakit yang didera ketika harus melaksanakan amanahnya di Insan Kamil. Kesabarannya yang selalu dibalut dengan senyuman tidak akan pernah kita lupakan.

Allah memanggilnya di saat amanahnya menjadi seorang ustadzah. Insya Allah khusnul khotimah.

Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anha. Selamat jalan, Ustadzah Tri… Semoga apa yang pernah  dilakukan di Insan Kamil menjadi pelapang dan penerang alam kuburnya serta menjadi amal jariyah yang selalu mengalir hingga yaumil hisab kelak. Aamiin…

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 17 April 2015
14 : 39

15 Kilometers To Ride – Hajatan


Tiga puluh kilometer (PP) itu cukup lumayan jika dilalui setiap hari. Ada saja peristiwa yang terjadi dalam perjalanan entah itu pulang, atau pun pergi. Salah satunya ini.

Hajatan

Ilustrasi : Hajatan

Ilustrasi : Hajatan

Ilustrasi : HajatanPerlu diketahui, perjalanan 30 kilometer yang saya jalani tidak melulu melawati jalan raya. 18 kilometer diantaranya, adalah jalan desa. Maklum, saat ini saya menjadi orang ‘Desa’ setelah bertahun-tahun tinggal di komplek perumahan di tengah kota Sidoarjo.

Nah, seperti halnya jalan desa lainnya, penduduk Desa sering menghalangi jalan jika mereka sedang mengadakan hajatan kawinan. Kadang-kadang  mereka memblokir separuh jalan hingga menyebabkan kemacetan luar biasa. Bahkan tak jarang mereka memasang tanda forboden yang diletakkan di tengah jalan. Itu artinya jalan tersebut tidak boleh dilalui oleh kendaraan bermotor. Kalau sudah begitu, saya dan pengendara lain terpaksa harus mencari jalan alternatif.

Malah pernah suatu hari, saat musim kawin nikah datang, saya terpaksa mengambil jalur memutar. Pasalnya, jalan yang biasa saya lalui, ada 7 lokasi pernikahan. Bahkan pernah terjadi, tiap selisih sekitar 200 meter-an ada tenda yang menghalangi jalan sepanjang satu kilometer. Luar biasa… Saya membayangkan betapa kenyangnya para tetangga di sekitarnya. Habis diundang disana, menghadiri yang disini, lalu kesana dan kesana lagi… Hmmm… Berapa kira-kira isi amplop mereka. Haha…

Yang bikin agak risih itu sebenarnya bukanlah tenda atau kemacetan, atau bahkan jalur alternatifnya. Yang agak membuat saya kesal adalah lagu yang diperdengarkan dan dikeraskan oleh seperangkat sound sistem dengan volume yang diputar maksimal. Lagu-lagu itu tak lain dan tak bukan adalah lagu dangdut yang syairnya ‘tidak kurang mendidik’. Saya malah beberapa kali menemukan panggung hiburan yang diisi oleh electone dengan penyanyi dangdut lokal dan berpakaian minim. Huwidiiiih… Kalau sudah begitu, saya jelas begidik. Gak kebayang deh… Tontonan apa yang akan disaksikan oleh anak-anak di sekitar lokasi hajatan.

Pernah suatu hari jalan desa yang sering saya lewati menjadi jalur alternatif karena jalur utama sedang macet luar biasa. Kemacetan terjadi karena adanya kecelakaan yang melibatkan truk dan posisi truk menghalangi jalan. Padahal saat itu, sedang musim nikah. Walhasil, perjalanan yang saya tempuh jadi lebih lama dan lebih panjang. ~_~

Tapi… Ada sisi positif yang bisa saya ambil dari kejadian ini. Yakni, saya jadi lebih tahu dan memahami  kota tempat saya bermukim, Sidoarjo, dengan segala jalan tikus alternatif yang ada.

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 13 April 2015
15:33

Gambar dari sini

Fullday School Bukan TPA


Fauzan AA

Fauzan AA

 

Kali ini, saya ingin menuliskan ‘3 kegemaran’ barunya yang menurut saya luar biasa.

Pertama, dia mulai menggemari melaksanakan sholat Dhuha di pagi hari. Setelah sebelumnya dia berhasil ‘menaklukkan’ dirinya untuk melazimkan sholat jama’ah di Masjid, dia menaikkan level sholatnya ke jenjang yang lebih tinggi. Kini dia sudah rutin melaksanakan sholat Dhuha 2 rakaat setiap hari. Kalaupun ada bolongnya, sebulan paling hanya 2 atau 3 kali absen.

Kedua, Fauzan mulai menggemari melakukan sholat malam. Sepekan, paling tidak dia melaksanakan sholat tahajud sebanyak 3 kali. Itu saat paling malas atau saat dia sedang tidak enak badan.

Ketiga, dia mulai mencoba beberapa kali puasa Senin-Kamis. Meski saya harus ‘tega’ melihatnya mengantuk dan berlapar-lapar ria di saat kawan-kawannya makan dan minum semau mereka.

***
Saya sangat beruntung berada di lingkungan yang mendukung setiap aktifitas anak saya. Bisa saja, habbit anak saya tidak akan terbentuk seperti ini sekarang jika dia tak bersekolah di Insan Kamil. Dan ini, akan memberatkan tugas saya sebagai orangtua untuk membiasakan anak menjalankan ibadah-ibadah sunnah.

Pada awalnya, saya yakin para ustadz/ah yang mengajar anak saya menggunakan reward untuk membangkitkan motivasi berprestasi dalam hal ibadah ini. Entah iming-iming penambahan bintang, atau iming-iming ‘dibangunkan rumah di Syurga’, atau iming-iming berupa hadiah yang akan mereka terima di dunia. Yang jelas, iming-iming itu meningkatkan motivasi Fauzan untuk beribadah.

Makanya, kadang saya agak geli ketika ada seorang teman yang saya kenal dekat, justru memilih menyekolahkan anaknya ke Sekolah Negeri yang jelas-jelas program-program seperti ini tidak dikawal dengan baik oleh para pendidiknya. Kawan-kawan saya yang saya sebutkan diatas malah berpikir sebaliknya. Anak koq dipleter dengan kegiatan fullday setiap hari. Sampai di rumah, anak capek, tak bisa bermain dan seterusnya. Padahal, kata mereka, dunia anak adalah dunia bermain.

Sepengetahuan saya, Islam adalah agama yang sempurna. Dan dengan kesempurnaannya itu, maka di usia 8 tahun, seorang Ali bin Abi Thalib bersedia menjadi binaan Rasulullah saw. Di usia 13 tahun, Abdullah bin Umar telah memiliki semangat juang yang bergelora untuk berjihad. Di usia 18 tahun Usamah bin Zaid ditunjuk oleh Rasulullah menjadi komandan untuk memimpin pasukan melakukan penyerbuan ke Syam. Dan di usia 19 tahun, seorang Muhammad Al-Fatih mampu menaklukkan Konstantinopel. Dan masih banyak lagi sejarah mencatat perjuangan dakwah Islam yang digawangi oleh para pemudanya.

Artinya, anak-anak membutuhkan stimulus yang baik dan benar agar mereka bertumbuh menjadi pemuda Islam yang siap memangku beban dakwah ini.

Fullday school sama sekali tidak bisa diartikan sebagai ‘penitipan anak’. Fullday school juga bukan sekolah yang bermaksud mengeksploitasi energy anak. Fullday school bukan juga sebuah sekolah yang memiliki beban materi yang terlalu besar bagi anak.

Fullday school terutama Insan Kamil adalah sekolah yang tidak hanya mengedepankan akademik, tapi juga mengutamakan aqidah yang lurus, akhlak yang baik, ibadah yang benar, mandiri, dan bertanggung jawab. Dan yang jelas, sekolah di Insan Kamil, anak saya tidak merasa tidak bisa bermain ketika di sekolah. Sebab, saat di sekolah pun, dia masih bisa bermain dengan teman-temannya.

Terima kasih, Ustadz/ah yang mendampingi Fauzan selama 2 tahun ini. Semoga Allah mencatat amal sholih Ustadz/ah dan melipatgandakan pahalanya.

***
Sidoarjo, 05 Maret 2015
14:52

Silvy, Sandal Swallow Merk Eiger


Sandal Swallow Silvy

Sandal Swallow Silvy

Ada saja ulah anak-anak. Meskipun sudah menginjak usia remaja, tetap saja melakukan hal-hal kekanak-kanakan.

Silvy Namanya. Seorang anak perempuan yang sekarang duduk di kelas 8 SMPIT Insan Kamil Sidoarjo. Menurut ceritanya, ‘Silvy’ adalah gabungan dari kedua nama orangtuanya, Sigit Lan Novy.

Saya pribadi mengenalnya sejak dia duduk di bangku SD. Meski dia bukan dari SDIT yang sama dengan tempat saya mengajar, saya mengenalnya saat saya masih menjadi tentor sebuah LBB franchise berasal dari Jogjakarta.

Bagi saya pribadi, dia istimewa. Kesukaannya pada artis Korea, saat awal-awal masuk SMP, membuat saya harus lebih intensif berbicara kepadanya.

Dia istimewa, karena dia sering menyapa saya di WA untuk bermain tebak-tebakan.

Dia istimewa, karena dia yang sampai sekarang sering curhat kalau di rumah kesepian karena tidak punya adik atau kakak yang bisa diajak berantem.

Dia istimewa, karena hanya dia yang memanggil saya dengan sebutan Ustadzah Ino’, sedangkan yang lain memanggil saya Ustadzah Rino.

Dia istimewa, karena cuma dia yang menggunakan buku berukurang besar untuk mata pelajaran Matematika yang saya ajar.

Dia istimewa, karena cuma dia anak kelas 8 putri dengan tulisan besar-besar dan ngawang.

Dan terakhir… Dia istimewa, karena cuma dia yang mempunyai sandal swallow ‘bermerk’ eiger.

Haha… Ini bukan PHP. Silvy, memang sangat menyukai produk eiger, sama seperti saya. Tasnya, sandal gunungnya, dan tas kecil miliknya semua bermerk eiger. Sebenarnya, dia berharap eiger juga mengeluarkan produk sandal jepit seperti yang diproduksi oleh swallow. Murah meriah dan gak eman kalau sandal itu Cuma digunakan di kamar mandi. Makanya, dia membubuhkan tulisan eiger di atas sandal japit swallow miliknya.

Sandal itu kemaren saya pinjam untuk saya pakai dalam perjalanan pulang ke rumah. Maklum saja, hujan dan kelupaan bawa sandal sendiri, membuat saya harus meminjam sandal murid istimewa itu.

Walhasil, sampai di rumah, anak-anak dan suami menertawakan sandal itu. Bahkan Syafa bertanya, “Emang murid Ummi namanya Eiger…?”

Kontan saya tertawa sambil menjelaskan bahwa itu sandal Silvy yang ditulisi eiger dengan harapan saat memakai sandal itu, dia berasa menggunakan sandal eiger.

Haha… Silvy memang lucu. Seorang anak perempuan yang sudah kelas 8, tapi kelakuan kadang masih sangat kekanakan dan polos.

 

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 03 Februari 2015
13:00

Tentor Bukanlah Guru


Berawal dari sebuah perbicangan dengan seorang sahabat tentang guru dan tentor yang saya lakukan kemarin, maka saya ingin mencoba menuliskannya disini.

Ilustrasi Guru

Ada perbedaan yang sangat antara guru dengan tentor. Apalagi jika tentor tersebut adalah tentor sebuah LBB. Apa saja bedanya, mari simak ulasan saya.

Rencana Pembelajaran

Seorang guru di sekolah formal harus menyelaraskan silabus, prota (program tahunan), prosem (program semester), untuk kemudian dijabarkan dalam bentuk RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang kesemuanya dibuat sendiri oleh sang guru dengan melihat situasi dan kondisi kelasnya. Hal ini tentu saja berbeda dengan tentor LBB yang hanya berorientasi pada materi.

Guru merancang RPP dengan sungguh-sungguh. RPP itu ibarat sebuah skenario dalam sebuah film. Skenario dibuat mulai alur, latar, dan juga dialog. Pun RPP. RPP yang benar, adalah RPP yang mampu memperkirakan pertanyaan siswa dan menjawabnya.

Bray n Sist pasti bisa membayangkan bagaimana kompleksnya isi RPP itu. Membuat RPP dengan 1 Kompetensi Dasar untuk 5 pertemuan, seorang guru bisa menghabiskan kertas hingga 70 lembar.

Beda sekali dengan tentor yang datang hanya berpacu pada timeline materi yang harus disampaikan dalam pertemuan itu. Perkara apakah indicator materi sudah dipahami siswa, seorang tentor tak berhak mengevaluasinya. Istilahnya, dia datang, mengajar, lalu pulang. Semua materi, soal-soal, dan pelaporan nilai diserahkan kepada LBB.

Wajar sih… Kan LBB punya target dan standar tertentu. Jadi tentor tak punya hak mengubah standar itu.

Membentuk Sikap Belajar

Disadari atau tidak, sekolah dan guru memiliki peran dalam membentuk sikap belajar anak. Sikap belajar inilah yang di kemudian hari mampu mengoptimalkan kecerdasan seseorang. Sikap belajar ini mengakomodir 3 ranah pembelajaran; afektif (emosi), kognitif (konseptual), dan psikomotorik (skill).

Sangat jauh berbeda dengan tentor. Seorang tentor yang pertemuan dengan peserta didiknya maksimal 120 menit per pertemuan, tak mungkin memfasilitasi itu semua. Kalaupun ada tentor atau LBB yang mengharuskan tentor memfasilitasi itu semua, jumlahnya sangat sedikit.

Apalagi jika  dibandingkan dengan guru-guru yang memiliki sikap mengakomodir semua tipe belajar anak. Tentu saja, lagi-lagi tak banyak tentor yang juga memiliki sikap ini.

Tugas dan Tanggung Jawab

Banyak sekali tugas-tugas guru yang tidak dilakukan oleh tentor. Salah satunya adalah melakukan evaluasi dan memberikan nilai yang bisa dipertanggungjawabkan. Nilai-nilai itu akan menjadi rekam jejak seseorang saat seseorang tersebut menjalani pendidikan formalnya. Walaupun saat ini, sebuah nilai diatas raport menjadi pertentangan tersendiri di kalangan pendidik.

Dan yang paling berat adalah soal tanggung jawab. Tanggung jawab seorang guru tak terbatas pada dinding-dinding sekolah dan sekat-sekat di dalam kelas. Tanggung jawab seorang guru tak hanya kepada kepada peserta didiknya, tapi juga kepada orangtuanya, kepada masyarakat di sekitarnya, kepada Negaranya, dan kepada Allah swt sebagai Penciptanya.

Sungguh… Tanggung jawab ini berbeda dengan tanggung jawab seorang tentor. Seorang tentor LBB, begitu keluar kelas, tidak akan terlintas peserta didiknya lagi. Yang penting, dia telah melaksanakan kewajibannya, memberikan materi kepada peserta didik.

Gaji

Nah… Ini nih yang paling sensitif. Soal gaji… Bukan sebuah rahasia lagi kalau gaji guru itu lebh rendah dibandingkan dengan gaji tentor. Guru, per Jam Pelajaran hanya digaji enam sampai dua belas ribu. Sedangkan tentor, per jam minimal digaji Rp 25.000 plus transport Rp 10.000. Perbandingannya cukup jauh kan…?

Maka banyak juga guru yang nyambi jadi tentor. Tapi tak jarang ditemui bahwa ada tentor yang enggan menjadi guru.

***

Tentor, bukanlah guru. Ada perbedaan mencolok diantara keduanya. Guru diberi kewajiban yang telah diatur oleh undang-undang, sedangkan tentor tidak. Guru memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar dan panjang pada kehidupan peserta didik, sedangkan tugas dan tanggung jawab tentor berhenti, ketika dia ‘tak dibutuhkan lagi’.

Tentor, bukanlah guru. Walau keduanya juga sama-sama memberikan materi pembelajaran, kendati keduanya tak hanya mengajar tapi juga mendidik, dan meski keduanya bisa menjalin.

***
..:: LaiQ ::..
Sidaorjo, 29 Januari 2015
10:40

Tulisan ini dibuat bukan untuk mengecilkan peran tentor. Tulisan ini dibuat sebagai hasil diskusi saya dengan beberapa kolega. Dan akhirnya, semua pun sepakat bahwa GURU BUKAN HANYA MENJADI TENTOR.

Gambar diambil dari sini

15 Kilometers To Ride


Fauzan And I

Fauzan Dan Saya

Pasti ada cerita dalam sebuah perjalanan. Betul gak, bray…? Apalagi sebuah perjalanan yang dilakukan SETIAP HARI selama 40 hingga 60 menit. Minimal 5 hari dalam sepekan, bersama orang yang sama, seorang anak berusia 8 tahun.

Ya… Hampir setahun ini, saya dan Fauzan menempuh jarak 15 km, pergi pulang dari rumah (Desa Suko Kecamatan Sukodono Kabupaten Sidoarjo) ke sekolah (Desa Pecantingan Sekardangan Kecamatan Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo). Kami berangkat ke sekolah maksimal pukul 6 pagi agar bisa tiba di sekolah tepat pukul 06.50. Bagi saya dan Fauzan, ini adalah sebuah perjalanan yang cukup memakan waktu. Bagaimana tidak… Sebelumnya, jarak sekolah dengan rumah papa saya hanya sekitar 3 km sehingga kami menempuh perjalanan itu maksimal 10 menit dengan motor.

Awalnya, perjalanan terasa menyiksa; mengantuk, lelah, dan monoton. Saya tak ingin kondisi ini semakin berlanjut, saya harus menyiasati keadaan ini dengan aktivitas yang lebih berarti.

Sebab, saya tak mungkin tinggal lagi di rumah papa dengan sesekali pulang ke rumah Suko. Pun saat saya ditawari untuk menitipkan Fauzan di rumah papa dengan alasan agar dia tak terlalu capek saya menolak tawaran itu.

Maka, untuk membunuh kebosanan, mengusir lelah, dan menghalau kantuk yang kerap menyeringai di tengah perjalanan, maka 2 kali 40 sampai 60 menit itu saya pergunakan untuk aktivitas-aktivitas berikut ini :

  • Muroja’ah Hafalan

Menghafal Al-Qur’an, bagi seorang anak, selain untuk senantiasa mengisi ruhiyahnya, juga untuk mengisi otaknya dengan sesuatu yang bermanfaat. Sekolah Fauzan (SDIT Insan Kamil Sidoarjo) mempunyai target hafal Al-Qur’an 2 juz (juz 29 dan 30) untuk para lulusannya. Hal ini tentu tidak akan terwujud dengan mudah jika tidak ada peran orangtua di dalamnya.

Salah satu peran yang harus diambil orangtua adalah memuroja’ah (mengulang) hafalan anak.

Memuroja’ah hafalan menjadi agenda rutin saya dan Fauzan setiap pagi saat berangkat sekolah. Sekitar setengah perjalanannya, saya harus memastikan anak saya masih menghafal ayat-ayat yang telah disetorkan kepada Ustadz/ah pembimbingnya mengaji di sekolah.

  • Bercerita Kegiatan

 Dua kali 40 sampai 60 menit itu bisa menjadi sebuah waktu yang sangat berguna untuk membangun quality connection diantara saya dan Fauzan. Kesibukan mengajar, pekerjaan rumah tangga, dan amanah lain, membuat waktu membersamai pertumbuhannya terasa terpangkas. Maka, rentang waktu ini tidak saya pergunakan dengan sia-sia.

Biasanya, saya melakukan ini pada saat perjalanan pulang. Saya memancing Fauzan untuk bercerita tentang apa yang dia lakukan seharian di sekolah. Saat itulah Fauzan telah belajar menceritakan kronologis sebuah peristiwa. Dari kronologis itu, saya menggali lebih dalam agar tak HANYA menjadi cerita lalu. Kadang saya selipkan hikmah, kadang saya meminta pendapatnya, dan seterusnya.

Dari semua cerita Fauzan, yang paling saya tunggu adalah saat dia ‘main ke perpustakaan sekolah’. Karena sepulang dari sana, dia akan bercerita banyak tentang buku-buku yang telah dibacanya serta buku yang dipinjamnya untuk dibawa pulang. Dari buku-buku itu, saya mengetahui apa kesukaan Fauzan.

  • Bercerita Kisah Fiksi

Fauzan, anak saya, memiliki daya imajinasi tinggi. Tak jarang, ketika pulang sekolah dia akan bercerita panjaaaaaang sekali. Dan ketika saya tanya dia tahu darimana, dia akan menjawab, “tau dari otakku.” Artinya, dia sedang mengarang cerita.

Saya pun dulu, semasa sekolah, sering membuat cerita-cerita fiksi di otak saya. Katika agak dewasa, saya mencoba menuliskannya dalam sebuah diary (sayangnya, diary-nya hilang). Dan saat kuliah, saya menuliskannya di computer saya yang sekarang sudah matot. Agaknya, kebiasaan ini menurun pada Fauzan.

  • Bercerita Kekonyolan

Seharian berada di sekolah, pasti ada banyak peristiwa yang terjadi. Salah satunya, peristiwa lucu dan konyol. Fauzan sendiri beberapa kali menceritakan kekonyolannya saat bermain bersama teman-temannya. Salah satu contohnya adalah cerita saat dia bermain pasir sepulang sekolah. Fauzan bercerita kalau ada salah seorang kawannya yang terpeleset sehingga badan dan muka kawannya tadi penuh dengan pasir. Sebenarnya Fauzan iba kepadanya, tapi karena wajah kawannya tadi penuh dengan pasir dia tak mampu menahan tawanya.

  • Main tebak-tebakan

Yang paling seru menurut saya adalah bermain tebak-tebakan. Saya juga pernah mengalami fase ini. Fase dimana saya sangat menyukai tanya jawab lucu-lucuan bersama orang-orang di sekitar saya. Melihat pengalaman, tentu saja saya tak terkalahkan oleh Fauzan… Tapi karena saya ingin membuat dia bangga, beberapa kali saya mengalah dengan menjawab ‘tidak tahu’ atau sengaja menyalahkan jawaban atas pertanyaan yang diajukannya.

  • Belajar berhitung

Kegiatan ini dilakukan bukan karena saya seorang guru matematika lho… Tapi justru Fauzanlah yang mengawalinya. Saat itu dia mulai menghitung ‘2 + 2 = 4’. Lalu ‘4 + 4 = 8’, dan seterusnya. Dia akan berhenti berhitung ketika jumlahnya mencapai 10.000 lebih atau ketika motor sudah sampai di sekolah. Dia mengkonfirmasikan jawabannya kepada saya. Apakah penjumlahan yang dilakukannya benar ataukah masih salah. Begitu seterusnya. Dan sekarang, kami sedang mempelajari konsep pembagian.

  • Bernyanyi

Ini adalah alternatif terakhir ketika kami jenuh dengan rutinitas sebelumnya. Ya… Bernyanyi (kadang sholawatan)… Lagu yang kami nyanyikan bisa apa saja yang pernah kami dengar. Kadang kami tertawa terbahak karena salah liriknya. Kadang saya yang justru memintanya mengulang kembali lirik yang dilantunkannya karena saya merasa tak jelas. Yang paling saya suka adalah saat Fauzan menyanyikan lagu milik Umay berjudul Tak Kan Nakal Lagi. Begini syairnya :

Kuberjanji takkan nakal lagi

Kesalahan takkan kuulangi

Tapi tolong jangan marah lagi

Tersenyumlah Mama Ummi

Biasanya, ketika memasuki lirik terakhir, kedua tangannya mencari wajah saya. Sejurus kemudian kedua tangan itu menarik ujung bibir saya agar saya tersenyum seperti pintanya yang ada dalam lagu tersebut.

Yah… Begitulah yang saya dan Fauzan lakukan saat dalam perjalanan pergi-pulang dari rumah ke sekolah. Jarak dan waktu tempuh yang panjang, tak kami sia-siakan dengan percuma. Dan kami memaknai perjalanan itu dengan aktivitas yang bermanfaat. Bagaimana dengan perjalanan Anda…?

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 28 Januari 2015
13:30

~ CERIA WISGA ~

Always welcome the new morning with a new spirit, a sime on ur face, love in ur heart n good thoughts in ur mind

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

Buzzerbeezz

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Ruang Belajar Abi

belajar 'membaca', belajar 'menulis'

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

leniaini

goresan kata konstelasi impian

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERISME

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

hendak berlari, hanya perlu melangkahkan kaki

Traveler Cilet-Cilet

| Blogging | Traveling | Adventure |

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

j4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

A FREEDOM OF WRITING

Moeljad! W!jaya

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda

Blog pindahan dari kopiradix dot multiply dot com

a submodalities

Just anothe Place....

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.001 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: