Category Archives: Catatan Harian

[We Be Te] Exploring Banyuwangi – 1


Puncak Tema… Nama kerennya Wisata Belajar Terintegrasi atau kami lebih suka menyebutnya dengan We Be Te. Kali ini yang menjadi objek observasi kami adalah daerah Banyuwangi. Sebuah Kabupaten di ujung timur pulau Jawa yang terkenal dengan tagline “The Sunrise of Java”.

Sidoarjo – Banyuwangi berjarak sekitar 277 km, hampir sama dengan jarak Sidoarjo ke Pacitan. Lama perjalanan yang ditempuh pun juga sama, sekitar 7 sampai 9 jam (nyantai banget ini).

Bukan tanpa alasan mengapa Banyuwangi dipilih sebagai obyek observasi kali ini. Selama setahun pembelajaran, secara garis besar semua mapel terkait membahas tentang ke-indonesia-an. Maka yang kami anggap bisa mewakili dari pembelajaran tekstual menjadi pembelajaran kontekstual, adalah Banyuwangi. Ya… Banyuwangi dengan segala keeksotisan bentang alam, budaya, dan sumber daya manusianya.

Kami berangkat dari Sidoarjo pukul 20.30 hari Ahad 10 Mei 2015. Dengan 2 bus beriringan dan bergandengan tangan (apalah… apalah…), kami menyusuri pantura, pantai utara pulau Jawa. Riuh rendah suara kicauan murid-murid di dalam bus tak menyurutkan nyali saya untuk lelap tertidur dalam gelapnya malam. Maklum… Saya ‘kerja bakti’ (nyuci baju, masak, beberes rumah, arisan) dari pagi sampai malam hari itu. Akhirnya saya tak kuasa menahan beban kelopak mata saya yang terasa 5 ton beratnya (mulai lebay deh…).

Rupanya kelap kelip lampu PLTU Paiton Probolinggo, membuat murid-murid saya histeris. Histeria itu membuat saya sempat terbangun sejenak, walau kemudian saya sukses tertidur kembali. Haha… Begitulah… Kalau kantuk dan lelah menjadi satu, seriuh apapun sekeliling saya, saya mampu terlelap.

Singkatnya, kami tiba pukul 05.45 di Sukowidi Banyuwangi, tempat camp anak putri. Dengan jam kedatangan yang terlambat 2 jam dari jadwal itu, jelas membuat kami kalang kabut… Kami dikejar waktu untuk sarapan, mandi, dan bersiap menuju Taman Nasional Baluran untuk melakukan observasi (hari pertama). Keterlambatan ini disebabkan karena sopir bis yang kami tumpangi mengantuk berat. Sehingga bis jadi sering berhenti untuk memberi kesempatan pak sopir beristirahat. Mau tak mau kami harus berlega hati atas kejadian ini. Bagaimana pun, ini semua demi keselamatan kami juga.

Setalah mandi, cuci muka, cuci kaki, gosok gigi (ya eyalah cuci muka dan gosok gigi, masak mandi gak pake cuci muka dan gosok gigi?) dan sarapan kami bergegas menuju mobil ELF yang sudah menunggu di ujung gang. Mobil Elf itulah yang mengantar kami mengekplorasi Banyuwangi selama sepekan ke depan.

Begitu naik ELF untuk pertama kali, saya dan anak-anak langsung merasa nyaman dengan Pak Sopir (entah, siapa namanya) yang ramah. Pak sopir lalu bertanya pada kami, “Mau dengerin lagu…?”

Sontak saja anak-anak menjawab, “Mauuuu…”

Saya tak mau murid-murid saya mendengar lagu-lagu ‘ajaib’ yang acap kali tertangkap (tak sengaja) oleh telinga saya. Saya pun melakukan cek dan ricek terhadap koleksi CD pak sopir yang baik hati itu. Hasil identifikasi saya menyatakan bahwa hanya CD Westlife saja yang ‘aman’ untuk dikunyah (emangnya, CD westlife itu opak, bisa dikunyah?) Jadilah selama perjalanan (tak hanya hari itu, tapi selama 5 hari) kami ditemani lagu dari album Westlife ‘Westlife’.

Kontan saja, album yang dirilis tahun 1999 itu mengingatkan saya pada masa putih abu-abu saya. Masa dimana saya masih unyu-unyu, imyut, kurus, dan belum mengaji. Masa dimana saya hafal betul lirik lagu dalam album itu. Haha…

Well… Akhirnya kami sampai juga di Taman Nasional Baluran. Di pintu masuk, para pengunjung akan disuguhi pemandangan Goa Jepang. Murid-murid tak menyiakan kesempatan untuk mengambil gambar goa yang dibuat oleh tentara Jepang itu. Konon katanya, goa itu digunanakan Jepang untuk berlindung dari kejaran orang-orang Indonesia di kala itu. Sembari menunggu panitia mengurus perijinan dan membayar tiket masuk, asuransi, dan bayar mobil, murid-murid berusaha mengambil gambar ini dan itu. Kalau saya… Ini gambar yang saya ambil…

Gak keren yak…? Hahahaha

Untuk rombongan, ini nih harganya : 5000 tiket masuk per kepala, 3000 asuransi per kepala, dan 10000 untuk tiap kendaraan roda 4.

Dari pintu masuk kami langsung masuk hutan musim. Hutan musim ini trbentang cukup panjang. Kami berhenti di sekitar 15 menit perjalanan (jalannya gak enak… semacam jalan macadam gitu deh…). Semua murid harus turun disini. Kami turun untuk melakukan observasi, mulai dari observasi cuaca, flora, fauna, hingga mengukur PH air dan tanah di hutan musim ini.

Untuk menentukan PH tanah dan air (hanya menentukan apakah asam ataukah basa), murid-murid tak hanya menggunakan indikator kertas lakmus, tapi juga menggunakan indikator alami yakni kunyit. Mereka antusias mencari sumber air disana. Bahkan sampai masuk jauh ke dalam hutan hingga mereka menemukan air untuk diteliti. Kebetulan, saya yang bertugas untuk menemani beberapa kelompok menentukan asam dan basa.

Ada cerita lucu disini. Salah satu anggota kelompok yang saya coaching, mengaku sakit perut.

“Ustadzah, saya sakit perut…”

“Hah…? Sakitnya dimana…?” terus terang saya agak panik.

“Nggak tau, Ustadzah. Pokoknya perut saya sakit.” Katanya sambil meringis.

“Lha iya… Sakitnya di sebelah mana…?” tanya saya sambil mendekat ke arahnya.

“Semuanya…”

“Ah… Masa… Coba dirasakan. Tenang dulu… Sakitnya seperti apa…?”

“Mules…”

“Oalaaaaah… Kamu mau BAB…?”

“Iya, kayanya. Gak tahan, Ustadzah…”

Sambil menahan geli, saya lalu menganjurkannya untuk BAB di dalam hutan. Gimana lagi… Daripada dia BAB di celana. Lha wong disini gak ada jamban.

“Ceboknya gimana, Ustadzah…?”

“Ambil air aq*a ajha. Bawa 2 atau 3 gelas. Ntar cebok pake air itu.”

Bergegas dia mencari kardus berisi air mineral yang saya maksud. Dia ingin segera melancarkan aksinya yang sudah tak tertahankan lagi.

Untunglah, tak ada yang tahu apa yang kami bicarakan. Pun tak ada yang ’terlalu peduli’ salah satu teman mereka menghilang jauh di tengah hutan selama beberapa saat.

Tak lama, dia muncul sambil mengatakan, “Legaaaa… Ustadzah…” dengan wajah yang jauh lebih ceria dari sebelumnya. Haha…

Sssst… Sepertinya telah terjadi ‘pencemaran’ tanah tuh. Terjadi pembuangan limbah ke tanah secara sengaja oleh seseorang.Well… Tapi… Anggap saja, ‘limbah si Bunga (nama samaran)’ di hutan musim itu sebagai pupuk penyubur tanaman. :P

Eniwei… Saya jadi teringat kejadian saat saya masih SMA dulu.. Waktu saya naik gunung… Saat itu saya juga pernah merasakan sakit perut tak terhankan. Sebenarnya saya sudah mencoba menahan agar BAB tak keluar di tempat yang salah. Sampai-sampai, saya berkeringat sebesar jagung selama beberapa waktu. Tapi apa mau dikata, untung tak dapat di raih, malang kota wisata (lho…?!). Panggilan alam itu saya selesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan di tempat sejauh-jauhnya (dari pandangan manusia, di dalam hutan).

So… Saat siswa saya mengaku perutnya sakit ingin BAB, dalam hati saya berkata… I ever been on that situation too, Bro… Memang ‘malu’ sih menghilang beberapa saat seperti itu dari pandangan teman-teman. Tapi yah… Daripada BAB di celana, malah malunya 378 kali lipat. Hehe…

To be continued

***
…:: LaiQ ::…
Sidoarjo, 21 Mei 2015
13:12

19 Tahun Bertemu Bertemu Kembali : Bu Nur


Setelah 19 tahun tak pernah bersua, akhirnya saya kembali berjumpa dengan ibunda guru yang tercinta dan sahabat-sahabat saya saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Ya, kemarin, Sabtu 25 April 2015 menjadi tanggal ‘bersejarah’ dalam hidup saya. Roudhotul Hasanah (Aan), Umu Nihaya (Umu), Zainul Arif (Zain), Ulul Azmi (Ulul), Abdur Rokib (Rokib), dan Muhammad Muntasor (Tasor), kami bertemu di Halte depan Pondok Mutiara.

Singkatnya, kami mendengar kabar bahwa guru kami, Ibu Nur Afifah, terkena stroke beberapa tahun lalu. Kami yang baru saja ‘bertemu’ kembali melalui media social Facebook, merasa terpanggil ntuk menjenguk Ibu guru kami tersebut. Jadilah kami membuat rencana untuk mendatangi rumah beliau.

Belasan tahun kami tak pernah berkunjung ke rumah Bu Nur, mengakibatkan tak satupun diantara kami yang mengingat dengan tepat dimana lokasi rumah beliau. Ditambah dengan pertumbuhan perumahan yang ada di sekitar rumahnya membuat kami semakin bingung. Disitulah saya merasa sangat bersalah… Saya merasa menjadi murid yang tak tahu balas budi.

Untung saja, ada Ulul Azmi yang masih saudara jauh dengan Bu Nur. Maka dialah yang menjadi guide kami yang mengantar kami sampai ke rumah Bu Nur dengan selamat, tanpa nyasar.

Rumah Bu Nur masih di Desa Jati, belum pindah. Bentuknya pun masih sama seperti dulu, tak ada perubahan. Namun ada yang sedikit berbeda disana. Ya… Halaman…  Halaman yang luas itu telah berubah menjadi bangunan. Halaman yang membuat kami betah berlama-lama ketika kami berkunjung ke rumah Bu Nur. Halaman yang luas itu hilang berganti dengan bangunan mewah yang ‘menutupi’ rumah Bu Nur.

Setelah menunggu sekitar 20 menit, gurunda kami akhirnya keluar dari kamar dan menemui kami. 20 menit tu kami pergunakan untuk bertanya kabar masing-masing diantara kami. Aan bercerita bahwa suaminya meninggal karena sakit ginjal setahun yang lalu. Rokib dengan rambutnya begitu cepat memutih dan rokoknya yang tak pernah lepas. Muntasor yang masih berjualan roti walau kini tak lagi berjualan di pasar Larangan. Zainul yang anaknya masih 1 tapi gak bisa diem. Dan Umu yang masih melanjutkan usaha ayahnya berjualan soto Lamongan. Dan saya dengan yang ‘nyasar’ jadi guru.

Saat Bu Nur keluar, kami langsung terdiam lalu mengucapkan salam. Seketika itu mata saya tertuju pada cara berjalan Bu Nur. Jalannya tertatih sangat berbeda dengan Bu Nur muda. Mesin waktu serasa menghapus ingatan saya bahwa manusia bertumbuh dan menua. Saya hanya ingat kalau Bu Nur adalah guru yang cekatan, Bu Nur yang kulitnya halus dan cantik, bu Nur yang jalannya tegak. Bukan Bu Nur yang saya lihat saat ini. Allah… Betapa cepat waktu berlalu…

Namun demikian, suara Bu Nur masih lantang. Gaya bicara Bu Nur masih berapi-api. Ketika Bu Nur berbicara, matanya pun masih ikut bicara. Inilah yang akan selalu saya ingat dari beliau…  Semangatnya dan cintanya kepada kami murid-muridnya.

Kemarin… Bu Nur berusaha mengingat masing-masing nama kami. Alhamdulillah, saya, Ulul, Umu, dan Zain masih tersimpan di longterm memory Bu Nur Afifah. Sisanya, beliau lupa sama sekali.

Akibat stroke itu, Bu Nur memang kehilangan kemampuan mengingatnya. Kemarin, sesekali beliau bercerita sambil memijit kepalanya sebelah kiri. Kalau dibuat berpikir keras, kepalanya akan terasa sakit. Cerita yang meluncur dari mulut beliau pun melompat-lompat. Tak jarang beliau bertanya, “Sampai dimana saya tadi bercerita?”. Hingga kami sendiri yang harus merangkai semua cerita beliau.

Kemarin, ada haru yang menyeruak hingga air di pelupuk mata meluncur begitu saja tanpa mampu dibendung. Saat beliau bilang, “Sampaikan salam saya buat Mamamu, Rin..”

Lalu saya menjawab dengan kalimat, “Mama sampun seda, Bu…” Bu Nur langsung menangis. Entah apa yang dirasakan Bu Nur… Yang jelas, hal itu juga yang membuat air mata saya meleleh dan kami pun berpelukan.

Saya dan teman-teman tak lama-lama disana. Karena hari sudah sangat sore. Kami berjanji pada beliau, bahwa kami akan datang lagi dengan formasi yang lebih lengkap, insya Allah… Semoga Allah mengijinkan kami berkumpul dan menjalin silaturrahim dengan gurunda kami tercinta. Ibu Nur Afifah.

Bersama Bu Nur

Bersama Bu Nur

Keterangan Foto Dari Kiri ke Kanan : Berdiri (Ibunda Ulul Azmi – Yang Moto), Saya (Jilbab Biru), Umu Nihaya (Jilbab Hitam), Roudhotul Hasanah (Jilbab Gold), Bu Nur Afifah (Duduk), Zainul Arif (Jongkok), Abdur Rokib (Peci Putih), Muntasor (Rambut Keriting).

..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 27 April 2015
16:07

Kedai Milky Moy


Milky Moy

Milky Moy

Taraaaaa… Saya baru buka kedai nih… Judulnya Kedai dan Tempat Baca Milky Moy. Rencananya gak cuma bikin boat kaya gini… Nanti kalau modalnya udah cukup, mau dibikin kedai beneran dengan konsep taman baca yang homie…

Harapannya bisa jadi tempat nongkrong yang asik buat mereka yang suka baca dan minum susu…

Do’ain ya, bray n sist…

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 21 April 2015
16 : 39

Insan Kamil Berduka


Innalillahi wa inna ilaiihi roji’uun…

Insan Kamil Sidoarjo berduka. Salah satu Ustadzah terbaik kami, Ustadzah Tri Wahyu Ningsih, kemarin meninggal dunia di UGD RSI Siti Hajar Sidoarjo pada pukul 08.00 WIB.

Ustadzah Tri dan Suami

Ustadzah Tri dan Suami

Awalnya, saya tak mempercayai berita itu. Beda gedung membuat kami para guru di SMP tak begitu mengetahui kabar terakhir Ustadzah Tri. Kami memang mendengar kabar bahwa Ustadzah Tri akhir-akhir ini sering ijin tidak masuk karena sakit.  Tapi sungguh, kami semua tak menduga bahwa akhirnya Ustadzah Tri dipanggil oleh Allah.

Ustadzah Tri, kami mengenalnya sebagai Ustadzah yang sangat kreatif dan telaten. Kesediaannya memberikan kebahagian dan sikap menyenangkan bagi semua orang menjadi ciri khas yang melekat dalam dirinya. Anggota ODOJ 3316 ini, seakan tidak pernah merasakan sakit yang didera ketika harus melaksanakan amanahnya di Insan Kamil. Kesabarannya yang selalu dibalut dengan senyuman tidak akan pernah kita lupakan.

Allah memanggilnya di saat amanahnya menjadi seorang ustadzah. Insya Allah khusnul khotimah.

Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anha. Selamat jalan, Ustadzah Tri… Semoga apa yang pernah  dilakukan di Insan Kamil menjadi pelapang dan penerang alam kuburnya serta menjadi amal jariyah yang selalu mengalir hingga yaumil hisab kelak. Aamiin…

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 17 April 2015
14 : 39

15 Kilometers To Ride – Hajatan


Tiga puluh kilometer (PP) itu cukup lumayan jika dilalui setiap hari. Ada saja peristiwa yang terjadi dalam perjalanan entah itu pulang, atau pun pergi. Salah satunya ini.

Hajatan

Ilustrasi : Hajatan

Ilustrasi : Hajatan

Ilustrasi : HajatanPerlu diketahui, perjalanan 30 kilometer yang saya jalani tidak melulu melawati jalan raya. 18 kilometer diantaranya, adalah jalan desa. Maklum, saat ini saya menjadi orang ‘Desa’ setelah bertahun-tahun tinggal di komplek perumahan di tengah kota Sidoarjo.

Nah, seperti halnya jalan desa lainnya, penduduk Desa sering menghalangi jalan jika mereka sedang mengadakan hajatan kawinan. Kadang-kadang  mereka memblokir separuh jalan hingga menyebabkan kemacetan luar biasa. Bahkan tak jarang mereka memasang tanda forboden yang diletakkan di tengah jalan. Itu artinya jalan tersebut tidak boleh dilalui oleh kendaraan bermotor. Kalau sudah begitu, saya dan pengendara lain terpaksa harus mencari jalan alternatif.

Malah pernah suatu hari, saat musim kawin nikah datang, saya terpaksa mengambil jalur memutar. Pasalnya, jalan yang biasa saya lalui, ada 7 lokasi pernikahan. Bahkan pernah terjadi, tiap selisih sekitar 200 meter-an ada tenda yang menghalangi jalan sepanjang satu kilometer. Luar biasa… Saya membayangkan betapa kenyangnya para tetangga di sekitarnya. Habis diundang disana, menghadiri yang disini, lalu kesana dan kesana lagi… Hmmm… Berapa kira-kira isi amplop mereka. Haha…

Yang bikin agak risih itu sebenarnya bukanlah tenda atau kemacetan, atau bahkan jalur alternatifnya. Yang agak membuat saya kesal adalah lagu yang diperdengarkan dan dikeraskan oleh seperangkat sound sistem dengan volume yang diputar maksimal. Lagu-lagu itu tak lain dan tak bukan adalah lagu dangdut yang syairnya ‘tidak kurang mendidik’. Saya malah beberapa kali menemukan panggung hiburan yang diisi oleh electone dengan penyanyi dangdut lokal dan berpakaian minim. Huwidiiiih… Kalau sudah begitu, saya jelas begidik. Gak kebayang deh… Tontonan apa yang akan disaksikan oleh anak-anak di sekitar lokasi hajatan.

Pernah suatu hari jalan desa yang sering saya lewati menjadi jalur alternatif karena jalur utama sedang macet luar biasa. Kemacetan terjadi karena adanya kecelakaan yang melibatkan truk dan posisi truk menghalangi jalan. Padahal saat itu, sedang musim nikah. Walhasil, perjalanan yang saya tempuh jadi lebih lama dan lebih panjang. ~_~

Tapi… Ada sisi positif yang bisa saya ambil dari kejadian ini. Yakni, saya jadi lebih tahu dan memahami  kota tempat saya bermukim, Sidoarjo, dengan segala jalan tikus alternatif yang ada.

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 13 April 2015
15:33

Gambar dari sini

Fullday School Bukan TPA


Fauzan AA

Fauzan AA

 

Kali ini, saya ingin menuliskan ‘3 kegemaran’ barunya yang menurut saya luar biasa.

Pertama, dia mulai menggemari melaksanakan sholat Dhuha di pagi hari. Setelah sebelumnya dia berhasil ‘menaklukkan’ dirinya untuk melazimkan sholat jama’ah di Masjid, dia menaikkan level sholatnya ke jenjang yang lebih tinggi. Kini dia sudah rutin melaksanakan sholat Dhuha 2 rakaat setiap hari. Kalaupun ada bolongnya, sebulan paling hanya 2 atau 3 kali absen.

Kedua, Fauzan mulai menggemari melakukan sholat malam. Sepekan, paling tidak dia melaksanakan sholat tahajud sebanyak 3 kali. Itu saat paling malas atau saat dia sedang tidak enak badan.

Ketiga, dia mulai mencoba beberapa kali puasa Senin-Kamis. Meski saya harus ‘tega’ melihatnya mengantuk dan berlapar-lapar ria di saat kawan-kawannya makan dan minum semau mereka.

***
Saya sangat beruntung berada di lingkungan yang mendukung setiap aktifitas anak saya. Bisa saja, habbit anak saya tidak akan terbentuk seperti ini sekarang jika dia tak bersekolah di Insan Kamil. Dan ini, akan memberatkan tugas saya sebagai orangtua untuk membiasakan anak menjalankan ibadah-ibadah sunnah.

Pada awalnya, saya yakin para ustadz/ah yang mengajar anak saya menggunakan reward untuk membangkitkan motivasi berprestasi dalam hal ibadah ini. Entah iming-iming penambahan bintang, atau iming-iming ‘dibangunkan rumah di Syurga’, atau iming-iming berupa hadiah yang akan mereka terima di dunia. Yang jelas, iming-iming itu meningkatkan motivasi Fauzan untuk beribadah.

Makanya, kadang saya agak geli ketika ada seorang teman yang saya kenal dekat, justru memilih menyekolahkan anaknya ke Sekolah Negeri yang jelas-jelas program-program seperti ini tidak dikawal dengan baik oleh para pendidiknya. Kawan-kawan saya yang saya sebutkan diatas malah berpikir sebaliknya. Anak koq dipleter dengan kegiatan fullday setiap hari. Sampai di rumah, anak capek, tak bisa bermain dan seterusnya. Padahal, kata mereka, dunia anak adalah dunia bermain.

Sepengetahuan saya, Islam adalah agama yang sempurna. Dan dengan kesempurnaannya itu, maka di usia 8 tahun, seorang Ali bin Abi Thalib bersedia menjadi binaan Rasulullah saw. Di usia 13 tahun, Abdullah bin Umar telah memiliki semangat juang yang bergelora untuk berjihad. Di usia 18 tahun Usamah bin Zaid ditunjuk oleh Rasulullah menjadi komandan untuk memimpin pasukan melakukan penyerbuan ke Syam. Dan di usia 19 tahun, seorang Muhammad Al-Fatih mampu menaklukkan Konstantinopel. Dan masih banyak lagi sejarah mencatat perjuangan dakwah Islam yang digawangi oleh para pemudanya.

Artinya, anak-anak membutuhkan stimulus yang baik dan benar agar mereka bertumbuh menjadi pemuda Islam yang siap memangku beban dakwah ini.

Fullday school sama sekali tidak bisa diartikan sebagai ‘penitipan anak’. Fullday school juga bukan sekolah yang bermaksud mengeksploitasi energy anak. Fullday school bukan juga sebuah sekolah yang memiliki beban materi yang terlalu besar bagi anak.

Fullday school terutama Insan Kamil adalah sekolah yang tidak hanya mengedepankan akademik, tapi juga mengutamakan aqidah yang lurus, akhlak yang baik, ibadah yang benar, mandiri, dan bertanggung jawab. Dan yang jelas, sekolah di Insan Kamil, anak saya tidak merasa tidak bisa bermain ketika di sekolah. Sebab, saat di sekolah pun, dia masih bisa bermain dengan teman-temannya.

Terima kasih, Ustadz/ah yang mendampingi Fauzan selama 2 tahun ini. Semoga Allah mencatat amal sholih Ustadz/ah dan melipatgandakan pahalanya.

***
Sidoarjo, 05 Maret 2015
14:52

Silvy, Sandal Swallow Merk Eiger


Sandal Swallow Silvy

Sandal Swallow Silvy

Ada saja ulah anak-anak. Meskipun sudah menginjak usia remaja, tetap saja melakukan hal-hal kekanak-kanakan.

Silvy Namanya. Seorang anak perempuan yang sekarang duduk di kelas 8 SMPIT Insan Kamil Sidoarjo. Menurut ceritanya, ‘Silvy’ adalah gabungan dari kedua nama orangtuanya, Sigit Lan Novy.

Saya pribadi mengenalnya sejak dia duduk di bangku SD. Meski dia bukan dari SDIT yang sama dengan tempat saya mengajar, saya mengenalnya saat saya masih menjadi tentor sebuah LBB franchise berasal dari Jogjakarta.

Bagi saya pribadi, dia istimewa. Kesukaannya pada artis Korea, saat awal-awal masuk SMP, membuat saya harus lebih intensif berbicara kepadanya.

Dia istimewa, karena dia sering menyapa saya di WA untuk bermain tebak-tebakan.

Dia istimewa, karena dia yang sampai sekarang sering curhat kalau di rumah kesepian karena tidak punya adik atau kakak yang bisa diajak berantem.

Dia istimewa, karena hanya dia yang memanggil saya dengan sebutan Ustadzah Ino’, sedangkan yang lain memanggil saya Ustadzah Rino.

Dia istimewa, karena cuma dia yang menggunakan buku berukurang besar untuk mata pelajaran Matematika yang saya ajar.

Dia istimewa, karena cuma dia anak kelas 8 putri dengan tulisan besar-besar dan ngawang.

Dan terakhir… Dia istimewa, karena cuma dia yang mempunyai sandal swallow ‘bermerk’ eiger.

Haha… Ini bukan PHP. Silvy, memang sangat menyukai produk eiger, sama seperti saya. Tasnya, sandal gunungnya, dan tas kecil miliknya semua bermerk eiger. Sebenarnya, dia berharap eiger juga mengeluarkan produk sandal jepit seperti yang diproduksi oleh swallow. Murah meriah dan gak eman kalau sandal itu Cuma digunakan di kamar mandi. Makanya, dia membubuhkan tulisan eiger di atas sandal japit swallow miliknya.

Sandal itu kemaren saya pinjam untuk saya pakai dalam perjalanan pulang ke rumah. Maklum saja, hujan dan kelupaan bawa sandal sendiri, membuat saya harus meminjam sandal murid istimewa itu.

Walhasil, sampai di rumah, anak-anak dan suami menertawakan sandal itu. Bahkan Syafa bertanya, “Emang murid Ummi namanya Eiger…?”

Kontan saya tertawa sambil menjelaskan bahwa itu sandal Silvy yang ditulisi eiger dengan harapan saat memakai sandal itu, dia berasa menggunakan sandal eiger.

Haha… Silvy memang lucu. Seorang anak perempuan yang sudah kelas 8, tapi kelakuan kadang masih sangat kekanakan dan polos.

 

***
..:: LaiQ ::..
Sidoarjo, 03 Februari 2015
13:00

Asmadi Tsaqib

Belajar, Berusaha, dan Berdo'a . . .

Andik Taufiq

knick knacks of my daily life

nurrosaliatahwali

kehidupan adalah belajar.

Ana Khoiruroh

Sederhana itu indah

~ CERIA WISGA ~

Always welcome the new morning with a new spirit, a sime on ur face, love in ur heart n good thoughts in ur mind

Arisan Kata

Jangan Pernah Berhenti Untuk Menghiasi Dunia Dengan Kata

catatanalia

Hidup Boleh Sekali Tetapi Sekali Hidup Harus Berarti

Sajak Demokrasi

Memaknai Hidup Sebelum Tertidur

NailahKhansa

what I want, will I get with my ability. And I would believe that

another stories.

There's nothing perfect

we are who we are

just enjoy your life

Buzzerbeezz

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Khachaunw

#JOHITZ #KITARAPOPO

Just A Little Girl

Yesterday History, Tomorrow Mystery

Muslim Forester

Konservasi tak sekedar perlindungan

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

Berbagi Motivasi dan Inspirasi

Diary Hujan ™

karena hujan senantiasa mengajarkanku tentang arti cinta dan kehidupan...

shabrina si princess

Tempatku Berbagi Kisah...^_^

rindutanahbasah

Like a fool who will never see the truth, I will keep thinking something's gonna change

leniaini

goresan kata konstelasi impian

Nurita Putranti

eNPe berbagi pengetahuan dan pengalaman

MOERISME

corat-coret di dinding revolusi

Try 2B cool 'n smart...

Akin is speaking

Suka Roda Dua

Pecinta Roda Dua

Catatan Cinta Najma

Melangitkan Cinta.. Mendekap Cita.. Menggapai Syurga..

Ransel Reot

"Ransel dipunggung dan berpetualang!!!"

Dailynomous

Bukan Buku Harian Untuk Dituliskan Bukan Diabadikan

Gelbo The Explorer

My so *not* interesting journey

Noted

once upon a time...

Traveler Cilet-Cilet

| Blogging | Traveling | Adventure |

CATATAN CADERABDUL PACKER

Doyan Kelayapan, Backpackeran, Travelling, Moto, Coretan, Celotehan

Zaydan's Room

Great place to pour Creatives Ideas

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

j4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

mysukmana

personal blog

Dapur Hangus

Catatan Chef Abal-abal

Catatan Keluarga Darmawan

....life is an adventure, never stop try and pray ....

RANISROOM

selamat datang di bilik cinta Rani

~*Catatan Perjalanan*~

Karena memori kita tak senantiasa ada di sana - menyimpan semuanya

A FREEDOM OF WRITING

Moeljad! W!jaya

catatan refleksi & pemikiran

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Secarik Motivasi Diri

Selalu ada hikmah di balik tulisan

Berbagi Kisah

Let's share and we have fun!

syifarahmp

My Passion In Life

Ghazwanie mind(ed)

sebuah catatan untuk ketiga anakku tersayang

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 3.069 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: