Bacaanku Sudah Benar..?


Warattilil Qur’aana tartiilan.

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan/tartil/bertajwid”

Q.S Al-Muzammil : 4

Tahun 2007 ketika saya bergabung dengan SDIT Asy-Syaamil Bontang dan dites membaca Al-Qur’an serta mengurai hukum-hukum bacaan tajwidnya, saya dinyatakan lulus dengan baik. Alhamdulillah. Tapi, ada perasaan mengganjal dalam hati saya, apakah bacaan Al-Qur’an saya memang sudah benar-benar “benar”?

Lalu, tahun 2009 saya kembali dites membaca Al-Qur’an saat saya akan bergabung menjadi staf pengajar di SDIT Insan Kamil Sidoarjo. Dan lagi-lagi, saya dinyatakan lulus. Pun ketika saya ditanya hukum-hukum bacaannya. Waktu itu, Ustadz Iswahyudi langsung meminta saya bergabung dengan kelompok “Al-Qur’an” untuk pembinaan selanjutnya. Ya, di sekolah itu, guru-guru diwajibkan mengikuti pembinaan Al-Qur’an setiap hari Sabtu (malah menurut berita yang saya dapat, sekarang seminggu 3 kali ada pembinaan Al-Qur’an). Sekali lagi, meski dinyatakan lulus tes, saya masih belum merasa puas. Perasaan saya mengatakan bahwa saya masih tidak mengerti beberapa hukum bacaan gharib dan masih banyak kekurangan dalam pelafalan.

Pembinaan Al-Qur’an di hari Sabtu menjadi tidak optimal buat saya yang belum puas ini, sebab ternyata di kelompok Al-Qur’an sudah tidak dibahas lagi hukum-hukum bacaan. Melainkan fokus pada membaguskan bacaan Al-Qur’an.

Kemudian rasa kebelumpuasan ini menggiring saya mengenal Griya Qur’an. Sebuah lembaga pendidikan Al-Qur’an yang berfokus pada menghafal Al-Qur’an khusus untuk Muslim/ah yang sudah “dewasa” seperti saya. Jam belajar yang fleksible, membuat peserta didik nyaman memilih sendiri jam belajarnya disesuaikan dengan kemampuan dirinya menghadiri majelis ilmu tersebut.

Sewaktu penentuan kelas di Griya Qur’an, saya kembali dites. Alhamdulillah, saya masuk ke kelas Tartil 1B. Artinya, saya tidak langsung menghafal melainkan saya masih harus belajar mengenai tajwid dan ghorib.

Disanalah saya baru tersadarkan bahwa selama ini bacaan saya masih banyak yang perlu diperbaiki. Misalnya ; lidah saya masih “miring” saat mengucapkan lafadz Allah didahului dengan dhommah (Contoh : Dzaalikumullaahu rabbukum fa’buduuhu), bacaan saya harus lebih konsisten (Contoh : dengung pada ghunnah, ikhfa’, idzghom bighunnah, dan beberapa hukum bacaan lain harus sama 3 ketukan atau lebih lama dari mad thobi’i), makhorijul huruf saya masih salah (terutama tempat keluarnya huruf “qaf”), kurang memperhatikan sifatul huruf (terutama saat huruf tersebut mati), dan sebagainya (saya lupa apa saja kesalahan saya, hehe ).

Saya jadi kangen dengan suasana belajar di Griya Qur’an. Rindu dengan para ustadz dan ustadzah yang “telinganya jeli” mendengar kesalahan peserta didiknya. Para ustadz dan ustadzah yang sabar menghadapi lidah-lidah kami yang suka “mbleset”. Juga dengan ibu-ibu yang satu kelompok dengan saya yang umurnya sudah hampir setangah abad namun memiliki semangat untuk belajar membaca Al-Qur’an dan juga menghafalkannya (Subhanallah).

Belajar di Griya Qur’an membuat saya semakin cinta dan percaya diri dalam membaca Al-Qur’an pun mengajarkan membaca Al-Qur’an untuk (minimal) keluarga kecil saya. Sedikit memaksakan Fauzan, anak saya, untuk benar melafalkan “tsa”, “dza”, “za”, dan “sya” (ngajinya baru sampai huruf ini) kan tidak mengapa. Agar lidahnya terbiasa mengucapkan dengan benar huruf-huruf tersebut. Menurut Ustadz Mutammimul Ula pada acara launch Rumah Keluarga Indonesia hari Sabtu kemarin di Balai Kota Semarang, jika orang tua sudah terbiasa membaca Al-Quran dengan bacaan yang benar dan tartil, maka anak akan mengikuti bacaan orang tuanya.

Ah, Fauzan… Shubuh ini, saat saya melanjutkan bacaan Al-Qur’an saya dia meletakkan kepalanya di pangkuan saya, sambil membolak-balik buku Qiroatinya. Dia membaca berulang-ulang mulai halaman 9 sampai 12. Sampai tiba-tiba saya tak mendengar lagi suaranya. Ternyata dia tertidur dengan Qiroati masih di tangannya.

 

***

Semarang, 05 Agustus 2011

07:59

Dengan sebuah pertanyaan besar di kepala di pagi yang dingin menusuk tulang.